Iklan Banner Sukun
Sorotan

Misteri Dewi Kili Suci, Misteri Sri Sanggramawijaya

Ribut Wijoto

Satu hal yang harus kita sepakati sejak awal, tokoh Dewi Kili Suci bukanlah tokoh nyata. Dia tokoh rekaan. Fiksi. Tetapi memiliki sandaran kuat pada realitas, pada kenyataan. Yakni tokoh Sri Sanggramawijaya.

Tokoh Dewi Kili Suci diciptakan lebih dari seratus tuhun setelah kehidupan Sri Sanggramawijaya. Tafsir. Jadi penciptaan tokoh Dewi Kili Suci merupakan tafsir atas realitas, atas kenyataan, tafsir atas tokoh Sri Sanggramawijaya. Sebuah tafsir yang cerdas, bermanfaat, dan mulia.

Begitu cerdas bermanfaat dan mulianya sehingga banyak yang menyakini tokoh Dewi Kili Suci benar-benar nyata. Dewi Kili Suci dibuatkan patung, tarian, lukisan, dikaitkan dengan lokasi goa tertentu, dibuatkan ritual mistis. Ia seakan lebih nyata dibanding kenyataan.

Mengapa bisa begitu? Jawabnya mudah saja, itulah hebatnya sastra, kehebatan kisah.

Pada kisah Dewi Kili Suci termaktub tuntunan. Tauladan untuk berbuat kebajikan, suci, dan patuh terhadap Sang Pencipta. Di situ tergelar liku-liku kehidupan manusia, ada konflik berkepanjangan, ada bahagia, ada kecemasan. Dan kisah Dewi Kili Suci menjawab rasa penasaran orang atas peristiwa-peristiwa di balik kesamaran sejarah. Selebihnya, kisah Dewi Kili Suci sangat inspiratif. Merangsang orang untuk mengeksplorasi dalam karya lain.

Lalu siapakah sebenarnya tokoh Sri Sanggramawijaya? Ini tokoh memang inspiratif. Bukan inspiratif sebatas kehebatannya tetapi karena kesamarannya. Ia hadir seperti bayang-bayang. Nyata tetapi tidak bisa dipegang. Bertukar tangkap dengan lepas. Ia sosok yang selalu menolak didefinisikan. Sehingga ia membuka ruang tafsir yang teramat luas. Seperti ruang kosong. Siapapun boleh memasuki. Meski begitu, tetap saja, Sri Sanggramawijaya tokoh penting. Teramat penting malahan. Sebab dia adalah orang kedua setelah Raja Airlangga.

Identitas Raja Airlangga cukup jelas. Airlangga keturunan wangsa Isyana dari garis ibu (Mahendradatta cucu Pu Sindok) dan keturunan wangsa Warmadewa dari garis bapak (Raja Udayana).

Lalu siapa sebenarnya Sri Sanggramawijaya? Dewi Kili Suci sudah menjawabnya. Pada salah satu versi Dewi Kili Suci, Sri Sanggramawijaya adalah putri dari Resi Gentayu (baca: Raja Airlangga). Kakak dari Lembu Amiluhur (baca: Sri Samarawijaya) dan Lembu Peteng (baca: Mapanji Garasakan). Pada versi yang lain, Dewi Kili Suci punya 4 adik. Versi lain lagi, adik Dewi Kili Suci berjumlah 3 orang. Yang pasti, Dewi Kili Suci adalah anak dari Raja Airlangga.

Mungkin memang benar Dewi Kili Suci, eh Sri Sanggramawijaya, adalah anak dari Raja Airlangga. Pembenaran dari kemungkinan itu, Sri Sanggramawijaya ditunjuk sebagai mahamantri i hino. Dalam tradisi pemerintahan kerajaan Jawa Kuna, posisi mahamantri i hino kerap kali disandang oleh putra mahkota atau putri mahkota.

Tetapi mungkin juga Sri Sanggramawiya bukan anak Raja Airlangga. Perlu dicatat, dari seluruh prasasti, tidak ada satu pun yang menyebut Sri Sanggramawijaya sebagai anak Raja Airlangga.

Terlebih, secara usia, misalkan Sri Sanggramawijaya adalah anak Raja Airlangga, dia terlalu kecil untuk jabatan mahamantri i hino. Prasasti Cane (1021 M) menyebutkan: “Sri maharaja rakai halu sri lokeswara dharmawangsa airlangganta wikramatonggadewa tinadah rakryan mahamantri i hino sri sanggramawijaya dharmawangsadotunggadewi umningsor i rakryan padang pu dwija”. Terjemahan bebasnya, perintah Raja Airlangga diterima (tinadah) Sri Sanggrawijaya dan diteruskan (umningsor) kepada Pu Dwija.

Merujuk pada prasasti Cane, pejabat yang menerima perintah Raja Airlangga adalah Sri Sanggramawijaya. Perintah itu lalu diteruskan kepada Pu Dwija. Nah, ini sulit untuk diterima akal sehat. Bayangkan seorang anak kecil, mungkin malah balita, menerima perintah raja.

Secara hitung-hitungan, pada saat prasasti Cane dikeluarkan, usia Sri Sanggramawijaya baru 5 atau 6 tahun. Dihitung mulai peristiwa Airlangga datang dari Bali ke Medang, yaitu tahun 1016 Masehi. Sedangkan prasasti Cane dikeluarkan tahun 1021 masehi. Misalkan Airlangga punya anak di tahun 1016 atau tahun 1017 maka di tahun 1021, usia anaknya baru 5 atau 6 tahun. Masak anak sekecil itu ditugasi menerima perintah raja? Terlebih, dalam pemerintahan, mahamantri i hino adalah jabatan tepat satu tingkat di bawah raja.

Jika bukan anak berarti Sri Sanggramawijaya wanita dewasa. Jika wanita dewasa, ia mungkin istri dari Raja Airlangga.

Mungkin Sri Sanggramawijaya, selain cakap juga bijaksana, sehingga diberi jabatan mahamantri i hino. Diberi kewenangan turut menjalankan pemerintahan Raja Airlangga. Menerima perintah dari raja untuk diteruskan kepada pejabat di bawahnya. Bahkan sewaktu-waktu Raja Airlangga wafat atau turun tahta, tampuk pimpinan kerajaan berada di tangan Sri Sanggramawijaya.

Terlebih, memang, Airlangga datang ke Medang untuk menikah. Kebetulan yang dinikahi adalah putri dari Raja Dharmawangsa. Kebetulan pula, saat pernikahan, datang serangan dari Raja Wurawari. Pralaya.

Prasasti Pucangan (bahasa Sansekerta) mencatat: “Pralaya rin yawadwipa I rikan sakakala 939 ri pralaya haji wurawari maso mijil sanke lwaram, ekarnawa rupanikan sayawadwipa rilan kala”. Kiamat pulau Jawa yang terjadi tahun 939 Saka (1016 M) karena serangan raja Wurawari yang datang menyerbu dari Lwaram. Seluruh pulau Jawa pada waktu itu tampak bagai lautan.

Raja Dharmawangsa tewas dalam pralaya itu. Otomatis, tahta jatuh kepada anaknya. Sedangkan anaknya dinikahi Airlangga. Sangat mungkin, tahta lantas diserahkan kepada suami. Sedangkan Sri Sanggramawijaya sendiri (yang seharusnya jadi putri mahkota) cukup sebatas sebagai orang kedua.

Mungkin pula Sri Sanggramawijaya adalah anak dari Raja Dharmawangsa tetapi bukan gadis yang hendak dinikahkan kepada Airlangga. Jika memang pengantin, suami-istri, Sri Sanggramawiya harusnya ikut Airlangga saat melarikan diri dari pralaya.

Catatan lebih lanjut dari prasasti Pucangan (bahasa Jawa Kuna): “Atha bhasmasad abhavad asu tat puram puruhutarastram iva madya taṃsiram talina akhalena khalu kinkarair visa sa narottame sahito vanany agat”. Kemudian kota yang berkilau seperti kerajaan Indra yang menyenangkan itu dengan cepat telah musnah dimakan api diselimuti oleh kepala pembunuh yang paling hina, kemudian dia (raja Airlaṅga) bersama-sama dengan Narottama tanpa dengan para abdi telah pergi ke hutan-hutan.

Di situ jelas tertulis, Airlangga melarikan diri hanya ditemani Narottama. Sehingga mungkin, mempelai yang disiapkan kepada Airlangga turut tewas dalam pralaya.

Tetapi masih terbuka kemungkinan, Sri Sanggramawijaya adalah anak yang lain dari Raja Dharmawangsa. Anak gadis yang turut selamat dari pralaya. Ia lalu dinikahi Airlangga. Lantas diberi jabatan mahamantri i hino. Sekaligus melegitimasi tahta yang diduduki Airlangga. Yakni, status Airlangga sebagai menantu dari Raja Dharmawangsa.

Terbuka pula kemungkinan Sri Sanggramawijaya adalah gadis dari kerajaan Sriwijaya. Kemungkinan ini ditopang oleh tradisi perang di masa Jawa Kuna. Tradisi bahwa gadis-gadis atau istri-istri dari kerajaan yang kalah bakal diboyong oleh kerajaan yang menang sebagai harta rampasan. Seharusnya, jika ada anak Raja Dharmawangsa yang hidup saat kalah perang dari Wurawari, pilihannya paling realistis hanya dua. Dibunuh atau dibawa ke Wurawari. Tidak mungkin dibiarkan selamat lalu dinikahi oleh Airlangga.

Secara nama, Sri Sanggramawijaya sangat mirip dengan raja Sriwijaya, yaitu Sri Sanggramawijayottunggavarman. Mungkin saja Sri Sanggramawijaya adalah anak Sri Sanggramawijayottunggavarman.

Jika itu benar, maka, perkawinan Raja Airlangga dengan Sri Sanggramawijaya boleh dibilang perkawinan politik. Mutualisme. Medang – Sriwijaya. Perkawinan saling menguntungkan.

Sebelum Airlangga naik tahta, kerajaan Medang dengan kerajaan Sriwijaya kerap bermusuhan. Prasasti Anjuk Ladang (859 Saka – 937 Masehi) mengindikasikan serangan Sriwijaya saat Medang dipimpin oleh Pu Sindok. Sebaliknya, Raja Dharmawangsa pun pernah mencoba menyerang Sriwijaya.

Ketika Airlangga naik tahta, posisi Sriwijaya sedang berkonflik dengan penguasa Tamil Rajendrachola. Sekali lagi, pernikahan Airlangga dengan Sri Sanggramawijaya (jika benar ia putri Sri Sanggramawijayottunggavarman) menguntungkan ke dua belah pihak. Sriwijaya bisa fokus menghadapi Rajendrachola sedangkan Raja Airlangga fokus menghadapi sesama kerajaan di Jawa (Wurawari, Wengker, Hasin, dan sebagainya). Keduanya tidak saling mengganggu. Fokus menghadapi lawan masing-masing.

Lalu siapakah sebenarnya Sri Sanggramawijaya? Kita tetap tidak tahu pasti. Mungkin benar Kili Suci, ia adalah anak Raja Airlangga. Tetapi tetap terbuka kemungkinan lain.

“Maumit tka ri parawadwa haji wadwa rakryan parajuru, hamba rakryan ryyawan, hamba rakryan rajaputra rajaputri, rakryan strihaji, makadi hamba rakryan mahamantri mwaŋ hamba rakryan sri parameswari”.

Kutipan prasasti Baru (1030 M) ini memastikan bahwa Raja Airlangga memang memiliki anak laki-laki, anak perempuan, prameswari alias ratu, dan memiliki selir. Tetapi kepastian yang tanpa nama-nama. Sebatas penyebutan status.

Mungkin satu di antara status itu adalah Sri Sanggramawijaya. Atau mungkin bukan sama sekali. [but]

 


Apa Reaksi Anda?

Komentar