Sorotan

Menyongsong Malam Kemuliaan

Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan, dan tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bukan. Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. QS Al-Qadr: 1-5.

Berdasar firman di atas, Lailatul Qodar merupakan malam yang memiliki nilai lebih baik dibandingkan seribu bulan. Serta banyak tafsir yang menggambarkan turunnya malam kemuliaan tersebut, namun tidak dijelaskan secara gamblang tentang kapan diturunkan hingga bagaimana keadaan dari malam penuh berkah.

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa malam kemuliaan tersebut diterunkan pada 10 hari terakhir Ramadan, yakni pada bulan penuh berkah dan nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla. Hanya saja tidak satupun para ulama yang dapat memberikan memberikan gambaran secara gamblang tentang waktu turunnya rahmat dari Sang Khalik.

Memang jauh sebelum memasuki pembahasan tentang Lailatul Qodar, perlu dipahami secara utuh tentang kemuliaan Ramadan. Hal tersebut tidak lepas dari sejarah para sahabat yang sangat bergembira menyambut kedatangan bulan puasa, bahkan kegembiraan terpancar di wajah dan ucapan mereka. Salah satunya dengan ucapan Marhaban ya Ramadan.

Kenapa mereka sangat bergembira menyambut Ramadan, apa yang akan mereka temui dan dapatkan selama bulan tersebut. Dan tampaknya kegembiraan tersebut disebabkan oleh pengetahuan mereka bahwa Ramadan adalah bulan penuh berkah dan manfaat buat kehidupan manusia, sehingga mereka juga merasa sedih dan kehilangan ketika memasuki masa akhir Ramadan.

Setidaknya terdapat empat manfaat yang bisa diperoleh umat Islam melalui Ramadan, yakni manfaat yang bersifat lahiriah berupa kesehatan dan ketajaman serta kejernihan berpikir, manfaat batiniyah yang bersifat peneguhan keyakinan dan pengendalian diri, manfaat sosial yang berfungsi menbangun kembali sendi kehidupan sosial yang kolektif, serta manfaat spiritual yang berkaitan dengan kedekatan kita kepada Sang Pencipta.

Empat manfaat tersebut tentunya hanya bisa dirasakan langsung oleh orang yang beribadah pada bulan Ramadan dengan penuh ketekunan dan bersungguh-sungguh. Tentunya melalui ‘kesungguhan’ dalam menjalankan puasa dan bukan sekedar ikut-ikutan belaka, sehingga kita terhindar dari sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; ‘Begitu banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan haus belaka’.

Mengacu pada QS Al-Baqarah: 183, untuk merubah kualitas seseorang dari iman menjadi takwa selama Ramadan dibutuhkan tiga tahapan berbeda dalam waktu sekitar 30 hari selama Ramadan. Sesuai sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa puasa Ramadan selama sebulan dibagi menjadi tiga tahap, yakni 10 hari pertama berisi rahmat, 10 hari kedua berisi maghfiroh alias ampunan, dan 10 hari terakhir berisi nikmat.

Terlepas dari itu, momentum Ramadan juga terdapat sebuah peristiwa yang tidak kalah penting, yakni diturunkannya al-Qur’an al-Karim atau wahyu pertama yang diterima oleh Sang Revolusioner Dunia, Muhammad bin Abdullah pada 14 abad silam.

Bersamaan dengan momentum tersebut, sudah semestinya sebagai muslim kita harus senantiasa memotivasi diri untuk terus meningkatkan ghiroh beribadah di bulan penuh berkah. Sekaligus berharap agar ibadah yang dilakukan bersamaan dengan malam kemuliaan (Lailatul Qadr). Wallahu A’lam. [pin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar