Iklan Banner Sukun
Sorotan

Menggali Potensi Alam Indonesia untuk Bahan Antiseptik/Disinfektan

Retno Sari

Wabah Covid-19 telah berlangsung hampir dua tahun sejak ditemukan kasus pertama kali di tahun 2019. Dampak yang luar biasa telah dirasakan oleh bangsa Indonesia, dan juga bangsa-bangsa lain di dunia.

Perubahan cara pandang, gaya hidup, perilaku baik, peraturan serta penggunaan teknologi dalam sektor formal dan informal di berbagai bidang harus disesuaikan agar manusia tetap dapat hidup dan beraktivitas, produktif dan bermanfaat.

Pandemi Covid 19 dapat dikatakan yang terbesar terjadi di dunia dalam 100 tahun terakhir ini dan telah menginfeksi sebanyak 175 juta orang serta menyebabkan kematian sampai 3,7 juta jiwa. Penyakit infeksi yang menyerang sistem pernafasan ini bisa mengenai siapa saja baik bayi, anak-anak, orang dewasa dan lanjut usia.

Tindakan pencegahan sangat diperlukan agar kita tidak terinfeksi oleh virus Covid 19. Pengetahuan mengenai virus serta bagaimana virus dapat diinaktivasi atau dirusak sangat diperlukan dalam upaya pencegahan penularan.

Virus dapat dihancurkan oleh bahan antiseptik/disinfektan dengan cara merusak struktur selubung serta proteinnya sehingga virus menjadi tidak aktif. Bahan yang banyak digunakan sebagai antiseptik/disinfektan untuk kulit adalah bahan kimia seperti etanol, isopropil alkohol, iodin, klorheksidin, triclosan dan tersedia dalam berbagai bentuk sediaan.

Etanol merupakan bahan yang paling banyak digunakan dalam berbagai produk antiseptic, seperti hand sanitizer. Etanol bisa diperoleh dari proses sintetik/buatan dari dari proses fermentasi. Etanol buatan banyak digunakan sebagai pelarut, sedangkan etanol produk fermentasi disebut bioethanol lebih sering digunakan untuk keperluan kesehatan. Di saat awal pandemik di Indonesia, sempat terjadi peningkatan kebutuhan antiseptik untuk hand sanitizer sehingga sempat terjadi kelangkaan dipasaran dan lonjakan harga.

Padahal disamping bahan antiseptik dari bahan kimia buatan, bahan antiseptik dapat juga diperoleh dari bahan alam. Sebagai negara yang berada di daerah tropis, Indonesia sangat terkenal dengan keanekaragaman hayatinya, bahkan merupakan pusat keanekaragaman hayati dunia.

Potensi tumbuhan di Indonesia yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan, khususnya dalam bidang kesehatan telah diketahui sejak zaman dahulu. Dari 30.000 spesies tumbuhan, sebanyak hampir sepertiganya mempunyai khasiat obat. Dan beberapa tumbuhan yang banyak dikenal masyarakat mempunyai aktivitas sebagai antiseptik antara lain lidah buaya, kunyit, bawang putih, bawang merah, cengkeh, kayuputih, kayu manis, jahe, kapulaga, adas, jeruk nipis dan sirih.

Sirih merupakan tanaman yang mudah dijumpai di halaman rumah dan dikenal oleh masyarakat adalah sirih. Ada beberapa jenis sirih seperti sirih hijau, sirih hitam, sirih kuning dan sirih merah. Senyawa fitokimia yang terkandung dalam daun sirih adalah minyak atsiri yang terdiri dari hidroksi kavikol, kavibetol, estargiol, eugenol, metileugenol, karvakrol, terpen, seskuiterpen, fenilpropan dan saponin, tanin. Secara tradisional, daun sirih digunakan untuk membersihkan luka, dengan berbagai cara misalkan ditumbuk, direbus, atau dikunyah.

Penelitian aktivitas antibakteri telah banyak dilakukan dan diketahui bahwa ekstrak etanol sirih dapat menghambat pertumbuhan bakteri antara lain Escherichia coli (ATCC 8739), Salmonella sp. (ATCC 14028), Staphylococcus aureus (ATCC 6538) and Pseudomonas aeruginosa (ATCC 9027).

Sediaan perasan, infus, ekstrak air-alkohol, ekstrak heksan, ekstrak kloroform maupun ekstrak etanol daun sirih diketahui mempunyai aktivitas antibakteri terhadap gingivitis, plak dan karies. Penelitian juga membuktikan bahwa ketinggian tanah lokasi penanaman juga berpengaruh terhadap kandungan sirih dan aktivitas antibakterinya.

Dengan potensi aktivitas yang dimiliki oleh sirih, maka tanaman tersebut sangat menarik untuk dikembangkan dalam berbagai bentuk sediaan. Ekstrak daun sirih telah dikembangkan dalam beberapa bentuk sediaan misal pasta gigi, sabun, obat kumur karena daya antiseptiknya.

Pengembangan sediaan gel hand sanitizer ekstrak air daun sirih diketahui efektif menurunkan jumlah mikroorganisme/flora normal pada telapak tangan dan sama efektifnya dengan sediaan hand sanitizer etanol dan triklosan pada kadar daun sirih 7,5 – 12,5%.

Diawal pandemik, kekhawatiran terhadap penularan dan penyebaran virus Covid 19 menyebabkan melonjaknya kebutuhan hand sanitizer di masyarakat dan sempat menyebabkan kelangkaan di pasaran. Sebagai salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut maka penggunaan daun sirih sebagai alternatif pengganti bahan antiseptik kimia seperti etanol menjadi sangat diminati masyarakat.

Daun sirih yang dapat dengan mudah dijumpai di pekarangan rumah atau dibeli di pasar menjadi salah satu kelebihan. Peran sosial media dalam memberikan informasi mengenai pembuatan sediaan antiseptik yang sederhana juga membantu masyarakat terutama di daerah jauh dari perkotaan. Video DIY ‘do it yourself’ tentang pembuatan hand sanitizer daun sirih juga mendapat atensi luar biasa dari masyarakat baik di kota maupun di desa.

Berkaca dari hal tersebut serta mengingat masih banyak penduduk Indonesia yang belum tersentuh pengetahuan mengenai potensi alam Indonesia yang dapat bermanfaat bagi kesehatan, maka sangat perlu dilakukan pendekatan agar keilmuan lebih dapat dimanfaatkan masyarakat.

Perguruan Tinggi yang diharapkan tidak hanya menjadi Menara gading tetapi menjadi Menara air harus mampu menghasilkan karya bukan saja karya canggih dan ‘novel’ namun juga karya inovatif – aplikatif yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Pendekatan keilmuan dan teknologi kefarmasian untuk pengolahan dan peningkatan kegunaan bahan alam secara sederhana serta dapat langsung diterapkan sangat diperlukan untuk pemberdayaan masyarakat.

Ilmu pengetahuan selayaknya tidak hanya menyentuh kaum berpendidikan dan warga perkotaan tetapi juga warga non perkotaan. Mengingat potensi jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 270 juta dengan hampir separuhnya tinggal di wilayah non perkotaan maka pendekatan kearifan lokal dengan pemanfaatan keanekaragaman hayati di Indonesia sangat perlu dilakukan bukan hanya untuk pencegahan penularan Covid-19 tetapi juga penyakit infeksi/penyakit lainnya. []

* Penulis adalah Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya
Email : [email protected]


Apa Reaksi Anda?

Komentar