Sorotan

Mengapa Pecat Djanur adalah Sebuah Pertaruhan bagi Persebaya?

Djajang Nurjaman, mantan pelatih Persebaya Surabaya

Lupakan drama soal bagaimana Djajang Nurjaman dipecat dari kursi pelath Persebaya. Dia sudah pergi. Namun benarkah pemecatan Djajang Nurjaman adalah solusi, dan bukannya justru menempatkan Persebaya dalam sebuah pertaruhan berisiko tinggi?

Djanur, sapaan akrab Djajang, dipecat setelah kegagalan membawa Persebaya meraih hasil sempurna dalam 13 pekan Liga 1. Persebaya hanya mencatatkan empat kemenangan, enam hasil imbang, tiga kekalahan, mencetak 20 gol, dan kebobolan 16 gol. Persebaya berada di peringkat 7 klasemen sementara dengan nilai 18.

Djanur dianggap gagal memaksimalkan laga-laga kandang. Dari delapan pertandingan, Persebaya hanya menang atas Persela 3-2, Persib 4-0, dan Persipura 1-0. Sisanya berakhir imbang. Laga tandang menjadi neraka. Persebaya hanya menang 2-1 atas Borneo dan imbang 0-0 melawan juru kunci Semen Padang. Tiga pertandingan lainnya berakhir dengan kekalahan.

Namun cukupkah semua hasil itu menempatkan Djanur di kursi terpidana dalam mahkamah sejarah Persebaya? Benarkah sejak menggantikan Alfredo Vera pada paruh musim 2018, tidak ada perubahan positif yang dibawa legenda Persib Bandung tersebut? Membaca capaian Djanur tak bisa berhenti pada statistik klasemen, namun juga aspek lainnya.

1. Benarkah kondisi Persebaya dalam 13 pekan sama buruknya dengan kondisi saat dilatih Vera?
Saya adalah salah satu orang yang getol menyuarakan pemberhentian Vera saat gagal membawa hasil positif selama putaran pertama Liga 1 musim 2018. Saat itu saya melihat Persebaya sedang terjebak dalam lubang hitam hasil negatif.

Tak ada yang bisa memastikan apakah pergantian pelatih saat itu akan lebih baik atau justru membuat semakin buruk. Namun Vera tak bisa memberikan rasa aman di kandang dan tandang. Persebaya sudah dua kali ditumbangkan Barito Putra dan Persib Bandung di Gelora Bung Tomo. Total dari 18 pertandingan, Persebaya menelan enam kali kekalahan, tujuh hasil imbang, dan menang lima kali.

Saat itu, hingga pekan 18, Persebaya berada di peringkat 15 dari 18 kontestan. Dengan berbekal 22 angka, klub ini hanya terpaut empat poin lebih banyak daripada PSMS Medan yang menjadi juru kunci dan terpaut 10 angka lebih sedikit dengan Persib Bandung yang menjadi pemuncak klasemen. Catatan golnya pun tak cukup impresif: 26 gol memasukkan dan 26 gol kemasukan. Rata-rata poin per pertandingan 1,22. Dengan kondisi ini, Vera berada dalam tekanan hebat untuk menyelamatkan Persebaya dari jurang degradasi.

Hari ini, saya tak melihat Persebaya berada dalam situasi yang dihadapi Vera. Persebaya bersama Djanur hingga 13 pekan pertandingan, menempati peringkat tujuh klasemen. Mereka terpaut sembilan angka lebih banyak daripada Perseru Badak Lampung yang menempati peringkat 15, posisi tertinggi dari tiga tim terbawah. Green Force juga terpaut 11 angka lebih sedikit daripada PS Tira yang menjadi pemuncak klasemen.

Dengan kata lain: Persebaya aman dari posisi degradasi dan masih memungkinkan mencapai papan atas. Putaran pertama menyisakan empat pertandingan: melawan Persija di kandang, dan bertandang melawan Arema, Perseru, dan Bhayangkara. Djanur masih berpeluang menambah pundi-pundi angka untuk mengamankan posisi Persebaya di papan tengah dan atau bahkan menyodok papan atas. Peluang ini terbuka lebar, karena pada pemain tidak mengalami tekanan sehebat musim 2018.

Rekor Djanur selama melatih Persebaya di Liga 1 juga cukup memberikan harapan sebenarnya. Sejak menggantikan Vera pada pertengahan Liga 1 2018, ia sudah menjalani 27 pertandingan, dan mencatatkan 12 kemenangan, tujuh hasil imbang, dan delapan kekalahan. Persentase kemenangan Persebaya di bawah Djanur juga lebih baik dibandingkan Vera: 44,44 persen melawan 27.8 persen. Rata-rata raihan poin per pertandingan Djanur adalah 1,59.

Bersama Djanur, Persebaya lebih ganas dan sulit ditembus. Rata-rata gol yang dicetak Persebaya per pertandingan Liga 1 adalah 1,81 gol dan rata-rata kebobolan 1,26 gol. Sementara di bawah Vera, rata-rata setiap pertandingan, Persebaya memasukkan dan kemasukan masing-masing 1,44 gol.

Bagaimana dengan laga kandang? Gelora Bung Tomo menjelma menjadi benteng di bawah Djanur. Persentase kemenangan Persebaya di kandang selama dua musim Liga 1 adalah 56,25 persen. Bersama Vera, Persebaya hanya mencatatkan persentase kemenangan di kandang 50 persen. Dari 16 pertandingan kandang bersama Djanur, Persebaya mencatatkan rata-rata poin per pertandingan 2,0. Hasil ini melompati Vera yang mencatatkan rata-rata poin kandang 1,75.

Bersama Djanur, Persebaya lebih nyaman bermain di GBT. Tercatat dari 16 pertandingan kandang pada musim 2018 dan 2019, Green Force mencetak 31 gol dan kebobolan hanya 13 gol, atau rata-rata 1,94 gol memasukkan per pertandingan dan 0,81 gol kemasukan per pertandingan. Lagi-lagi lebih baik daripada Vera yang mencatatkan rata-rata memasukkan 1,375 gol per pertandingan dan kemasukan 1 gol per pertandingan kandang.

Catatan tandang Djanur bersama Persebaya juga membaik jika dibandingkan saat dilatih Vera. Bersama Vera, dari 10 pertandingan tandang, Persebaya hanya menang sekali, lima kali imbang, dan empat kali kalah dengan produktivitas 15 gol memasukkan dan kebobolan 18 kali. Rata-rata poin tandang Persebaya hanya 0,8 per pertandingan.

Bersama Djanur, Persebaya melakoni 11 laga tandang, dan memetik tiga kemenangan, dua hasil imbang, dan enam kekalahan dengan produktivitas 18 gol memasukkan dan 21 gol kemasukan. Rata-rata poin tandang Persebaya bersama Djanur adalah 1,0 per pertandingan.

Dengan semua angka statistik di atas, kita melihat Persebaya sebenarnya menuju ke arah yang lebih baik bersama Djanur sejak menggantikan Vera. Angka statistik ini akan lebih baik jika memasukkan hasil dalam Piala Indonesia dan Piala Presiden. Prestasi di Piala Indonesia (mencapai perempat final) dan Piala Presiden (runner-up) juga bisa menjadi indikator perbaikan Persebaya.

2. Transisi Djanur dan Vera pada Liga 1 2018
Djanur maupun Vera memiliki kesamaan filosofi permainan. Mereka sama-sama memakai formasi dasar 4-3-3 dan membangun serangan dengan permainan operan dari belakang. Djanur dan Vera sama-sama seorang ‘diktator’ yang menghendaki penguasaan bola selama mungkin untuk mendikte permainan.

Dengan formasi 4-3-3, saat menyerang, mereka memilki sokongan dari dua bek sayap yang naik ke zona pertahanan lawan, sehingga memungkinkan dua sayap memiliki opsi untuk mengiris masuk ke kotak penalti. Sementara itu, dua bek tengah bisa bermain melebar dan membentuk segitiga dengan kiper. Dengan mendominasi bola, dua bek tengah bisa saja ikut naik ke atas untuk ikut menyerang, dan inilah yang beberapa kali dilakukan Otavio Dutra.

Kiper dalam konteks filosofi permainan Djanur dan Vera sama-sama dibutuhkan untuk terlibat dalam permainan dan membangun serangan. Itulah kenapa keduanya mempertahankan Miswa Saputra, karena di luar semua kelemahannya, kiper asal Aceh itu paling memungkinkan memainkan peran sweeper keeper. Miswar pula yang bisa menentukan kapan serangan dibangun dari bawah atau langsung mengirimkan umpan langsung ke daerah pertahanan lawan. Sebagai catatan, Miswar mencatatkan satu assist untuk David da Silva saat Persebaya mengalahkan Mitra Kukar 4-1 di Gelora Bung Tomo pada pekan 23 Liga 1 2018.

Bek kiri dan kanan dalam taktik Djanur dan Vera sama-sama diandalkan unruk melakukan overlap. Contoh sempurna bagaimana formasi 4-3-3 mengandalkan dua bek yang melesat ke daerah pertahanan lawan adalah Liverpool. Trent Alexander Arnold di kanan dan Andy Robertson di kiri sama-sama rajin naik dan memberikan assist untuk trio penyerang The Reds.

Namun di Persebaya, Ruben Sanadi lebih memiliki kemampuan naik di sisi kiri dan memberikan umpan-umpan akurat ketimbang sekondannya di sisi kanan. Itulah kenapa pemain Papua ini memiliki posisi istimewa dalam taktik permainan Djanur dan Vera. Agresivitasnya membuat pemain yang akrab disapa Kakak Ruben ini bisa bertahan di posisi inti dalam dua rezim pelatih. Sementara posisi bek kanan sudah diisi tiga pemain dari semula Abu Rizal Maulana, yang kemudian diisi Syaifuddin jelang akhir musim 2018 dan Novan Setya pada musim 2019. Tak heran jika Andi Peci, salah satu dedengkot Bonek, pernah menyebut Ruben pembelian terbaik Persebaya di akun Twitternya.

Vitalnya posisi Ruben bisa dilihat dari jumlah assist (umpan matang) sepanjang Liga 1 2018. Statistik mencatat ada tujuh umpan matang diciptakannya sepanjang 2018. Terpaut satu umpan lebih sedikit dibandingkan Rendi Irwan Saputra yang bermain sebagai gelandang serang. Musim 2019, dalam 13 pertandingan, ia sudah mencetak empat assist, sama dengan yang dibukukan gelandang Manu Jalilov.

Namun intensitas keterlibatan Ruben dalam gol-gol Persebaya lebih menyolok di bawah rezim kepelatihan Djanur. Sebagai mantan winger Persib, Djanur tahu betul bagaimana memaksimalkan serangan dari sisi sayap yang berangkat dari overlap pemain bek. Ruben terlibat dalam 10 gol Persebaya (1 gol dan 9 assists). Ini artinya 20 persen gol Persebaya di Liga 1 semasa Djanur berasal dari keterlibatannya. Bandingkan dengan saat masih dilatih Vera, ia hanya mencetak dua assist.

Gol-gol Persebaya di masa Vera lebih banyak dikreasi oleh pemain tengah dan depan. Dari 26 gol dalam 18 pertandingan, Pahabol dan Oktafianus Fernando yang berposisi sebagai penyerang sayap masing-masing mencetak 3 assist. Sementara dua assist masing-masing dicatatkan oleh Nelson Alom (gelandang bertahan), Pugliara (gelandang), Irfan Jaya (penyerang sayap), David da Silva (striker). Fandi Eko Utomo, Rendi Irwan, Misbakus Solikin, Raphael Maitimo, dan Izaac Wanggai masing-masing mencetak satu assist.

Di bawah rezim Vera, dua gelandang Persebaya lebih banyak diisi pemain bermental ofensif. Rendi Irwan dimainkan delapan kali, Pugliara 15 kali, Misbakus Solikin enam kali, Fandi Eko Utomo empat kali, Nelson enam kali, Muhammad Hidayat lima kali, dan Sidik Saimima empat kali.

Pugliara menempati posisi nomor 10 yang lebih banyak berduet dengan Rendi Irwan di tengah yang bermain sebagai pendobrak serangan Duet Pugliara-Rendi diturunkan enam kali dan menghasilkan dua kemenangan dan empat hasil imbang. Tak sekalipun Persebaya menelan kekalahan saat keduanya diturunkan di era Vera.

Jika keduanya diturunkan berbarengan sejak awal, ada tiga opsi gelandang bertahan, yakni Misbakus Solikin, Nelson Alom, dan Sidik Saimima. Namun secara keseluruhan tiga gelandang yang sering dimainkan di era Vera adalah Pugliara, Rendi, dan Nelson Alom. Namun ketiganya hanya dua kali diturunkan bersama-sama.

Sementara di lini depan, Irfan Jaya menjadi langganan starter era Vera. Pemain asal Sulawesi Selatan ini sebelas kali diturunkan dari awal. Selain Irfan, Vera memiliki empat opsi untuk dikombinasikan: Oktafianus Fernando (7 kali dimainkan sejak awal), Yohanes Pahabol (9 kali), Rishadi Fauzi (9 kali), dan David da Silva (7 kali).

Kendati hanya diturunkan tujuh kali sebagai starter, Da Silva justru mencetak delapan gol atau 30,76 persen dari total gol Persebaya di era Vera. Irfan Jaya mencetak lima gol, dan posisi terdekat hanyalah Osvaldo Haay yang mencetak dua gol. Dari data ini terlihat, bagaimana Vera gagal memaksimalkan Da Silva sebagai penyerang, terlepas apakah pemain tersebut tak bisa diturunkan sebagai pemain inti karena cedera atau faktor taktik lainnya.

Sementara di barisan belakang, Ruben Sanadi dan Abu Rizal lebih banyak diturunkan sebagai bek kiri dan kanan. Sementara untuk posisi bek tengah Fandry Imbiri menjadi pelanggan posisi inti. Bek tengah lainnya, Vera memilih Dutra (8 kali) dan M. Syaifuddin (7 kali).

Dengan jumlah gol memasukkan dan kemasukan yang sama (26 gol), komposisi Persebaya di era Vera sama sekali tidak seimbang. Mereka tercatat 174 kali melakukan tembakan dalam 18 pertandingan (80 kali tepat sasaran dan 94 kali meleset). Ini artinya rata-rata Persebaya melakukan 9,67 tembakan per pertandingan. Jika dibandingkan dengan jumlah gol yang dicetak, maka persentase keberhasilan ikhtiar serangan hanya 14,94 persen.

Di sisi lain, Persebaya menghadapi 165 kali tembakan ke arah gawang dari lawan dan 26 kali kebobolan. Ini artinya persentase kebobolan gawang Persebaya mencapai 15.75 persen, lebih tinggi daripada persentase keberhasilan mereka mencetak gol.

Apa yang menyebabkan ini terjadi? Filosofi ofensif Vera mengharuskan dua hal: memasang garis defensif tinggi dan melakukan pressing ketat. Ini menjelaskan kenapa Persebaya mudah kebobolan sekaligus lebih banyak melakukan pelanggaran akumulatif ketimbang lawan (271 berbanding 265) kendati dominan dalam penguasaan bola. Bahkan Persebaya mencatatkan tiga kartu merah dan 33 kartu kuning semasa Vera melatih. Pelanggaran sering terjadi karena para pemain Persebaya harus merebut bola sesegera mungkin untuk memulihkan penguasaan permainan.

Ini pekerjaan rumah Djanur saat menggantikan Vera: membuat lini serang dan bertahan seimbang. Dia memfungsikan bek sayap untuk lebih rajin menyerang, terutama Ruben Sanadi yang memiliki kecepatan. Permainan operan alias passing play dikurangi dan pemain ditekankan banyak melakukan ‘direct football’ sebagai variasi serangan dari sayap. Konsekuensinya, penguasaan bola menjadi berkurang. Dalam 14 pertandingan Liga 1 2018, persentase penguasaan bola Persebaya pada era Djanur hanya 50 persen. Menurun jauh dibandingkan penguasaan bola saat Vera melatih.

Passing play juga berkurang. Rata-rata per pertandingan Liga 1 2018, Persebaya era Djanur melakukan 321 operan. Itu pun jumlah operan yang sukses hanya 74,79 persen. Jika dibandingkan era Vera, ada penurunan, dari rata-rata 345 per pertandingan dan 78 persen operan sukses. Penurunan jumlah operan sukses ini dikarenakan ‘direct football’ melalui umpan terobosan dan umpan-umpan panjang lebih rentang diintersep atau tidak akurat dibandingkan passing play pendek dari lini ke lini.

Namun dengan kombinasi ‘direct ball’ dan tak hanya mengandalkan ‘passing play’, Djanur berhasil meningkatkan jumlah serangan ke gawang lawan. Rata-rata jumlah tembakan Persebaya ke gawang lawan era Djanur pada Liga 1 2018 adalah 11,64 kali per pertandingan. Sementara saat era Vera hanya 9.67 tembakan per pertandingan. Peningkatan jumlah tembakan ini membuat potensi untuk mencetak gol pun meningkat. Sepanjang 14 pertandingan Liga 1 2018, Persebaya di bawah kepemipinan Djanur mencetak 29 gol atau rata-rata 2,07 gol per pertandingan. Jauh lebih baik daripada Persebaya era Vera yang mencetak rata-rata 1,44 gol per pertandingan.

Sementara untuk pertahanan, para pemain Persebaya lebih memilih menanti pemain lawan di garis pertahanan, sehingga persentase penguasaan lawan pun meningkat dibandingkan era Vera. Pelanggaran mengalami peningkatan dari 15 kali pelanggaran per pertandingan menjadi 17 pelanggaran. Namun, jumlah kartu kuning yang diperoleh jauh berkurang menjadi 20 lembar dan tak ada satu pun kartu merah melayang dari kantong wasit.

Kendati membiarkan lawan menguasai bola, taktik pressing Djanur sebenarnya memaksa pemain lawan melakukan kesalahan sendiri. Para pemain Persebaya diharuskan cerdas membaca serangan lawan untuk melakukan intersep. Statistik menunjukkan bahwa kendati persentase rata-rata penguasaan bola Persebaya era Djanur mengalami penurunan pada paruh putaran kedua Liga 1 2018, ada peningkatan jumlah kesalahan oper yang dilakukan lawan dibandingkan era Vera: dari 80 kesalahan menjadi 90 kesalahan. Taktik pressing Djanur lebih berhasil memaksa lawan melakukan kesalahan ketimbang Vera.

Namun taktik Djanur bertahan tak sempurna, karena gawang Persebaya lebih banyak menghadapi tembakan langsung dari lawan dibandingkan saat dilatih Vera, yakni 9,78 tembakan berbanding 9,16 tembakan per pertandingan. Ini tak lepas dari kinerja lini tengah. Djanur lebih banyak memasang Misbakus Solikin daripada gelandang bertahan murni seperti Hidayat. Ini membuat lini belakang tak terkover, karena Misbakus lebih bertipe flamboyan daripada tukang jagal. Hidayat hanya dipasang empat kali menjadi double pivot dengan Misbakus, yakni saat menghadapi Sriwijaya (3-3), Mitra Kukar (4-1), Arema (0-1), dan Borneo (0-1). Namun taktik bertahan ini secara keseluruhan menurunkan jumlah kebobolan Persebaya dari 1,44 gol per pertandingan pada era Djanur menjadi 1,28 per pertandingan pada era Vera.

Semua aspek statistik di atas menunjukkan bagaimana Djanur sukses melewati masa transisi pada Liga 1 2018. Kesuksesan tersebut diperkuat dengan kemenangan-kemenangan telak atas lawan-lawan klasik seperti PSM (3-0), Persija (3-0), maupun Persib (4-1). Posisi Persebaya pada klasemen akhir sudah berbicara bagaimana keberhasilan Djanur: posisi kelima dengan nilai 50, dan menjadi tim terproduktif dengan 60 gol.

Apa kunci Djanur? Dia mengubah posisi Syaifuddin yang biasa ditempatkan sebagai bek tengah menjadi bek kanan, menggantikan Abu Rizal yang rajin menyerang namun lemah dalam bertahan. Setelah Pugliara cedera, ia memberi kepercayaan kepada Fandi Eko Utomo untuk membantu serangan bersama Rendi Irwan dan menempatkan Misbakus Solikin sebagai nomor 6. Di lini depan David da Silva lebih sering dimainkan bersama Irfan Jaya dan Osvaldo Haay.

Taktik Djanur yang lebih ‘direct’ sesuai dengan gaya main Da Silva yang punya kemampuan lari dan menggiring bola yang bagus. Djanur juga berhasil mengeluarkan potensi terbaik Osvaldo. Pemain muda itu berhasil mencetak tujuh gol di bawah asuhan Djanur, setelah hanya dua gol saat dilatih Vera.. Begitu pula Da Silva yang rajin mencetak gol dan menjadi peringkat kedua pencetak gol terbanyak musim 2018 dengan total 20 gol.

3. Kepergian Da Silva
Persebaya sebenarnya tidak berada dalam kondisi berbahaya atau genting. Djanur memang gagal menyajikan kemenangan dan lebih banyak menghadirkan hasil seri. Namun dia belum bisa dikatakan gagal jika melihat tren permainan Persebaya. Sebagian persoalan yang dihadapi Persebaya hari ini bukan hanya tanggung jawab Djanur.

Kepergian da Silva membuat situasi berubah. Pemain Brasil itu memiliki andil terhadap 23 (20 gol dan 3 assist) dari 60 gol Persebaya selama Liga 1 2018. Kehilangan da Silva bagi Persebaya tak ubahnya kehilangan Suarez bagi Liverpool atau Cristiano Ronaldo bagi Real Madrid. Manajemen memang mendatangkan pemain-pemain baru seperti Damian Lizio, Manu Jalilov, dan Amido Balde. Pertanyannya: apakah mereka sesuai dengan taktik yang dikembangkan Djanur selama Liga 1 2018.

Dari tiga pemain itu, tak ada satu pun yang memiliki kemiripan gaya bermain dengan Da Silva. Inilah yang membuat Djanur melakukan penyesuaian taktik. Bola-bola panjang atau umpan daerah tak sesuai dengan Balde yang lebih suka menanti bola matang di kotak penalti. Kemampuan drible Balde tak sebagus Da Silva. Ini sebenarnya sudah terlihat pada delapan pertandingan awal Liga 1 2019.

Rata-rata tembakan Persebaya ke gawang lawan turun jadi 10,375 per pertandingan dibandingkan paruh kedua Liga 1 2018 saat ditangani Djanur. Sementara Miswar Saputra menerima rata-rata 12 tembakan lawan per pertandingan, meningkat dibandingkan paruh musim lalu. Dengan kata lain, Djanur sudah mulai merombak taktik ‘direct football’ dan kembali menggunakan ‘passing play’ yang sering dianggap Bonek berputar-putar. Dalam delapan pertandingan awal Liga 1 2019, Persebaya rata-rata melakukan 355 operan dengan tingkat akurasi 77,31 persen. Angka ini lebih tinggi daripada paruh kedua Liga 1 2018. Passing play ini mengandalkan Damian Lizio untuk mengatur serangan dengan aksi-aksi individunya.

Perubahan ini menandakan bahwa rekrutmen pemain yang dilakukan Persebaya tidak sinambung dengan taktik yang sudah ditetapkan Djanur saat pertama kali menangani Persebaya. Ada dua kemungkinan: Djanur tak jeli memilih pemain-pemain untuk menggantikan peran Da Silva atau dia tak terlibat dalam pertimbangan teknis pemilihan pemain baru. Aksi Lizio, Jalilov, dan Balde belum mampu menggantikan gol dan peran Da Silva yang hilang. Sementara di lini belakang, Hansamu Yama Pranata sudah menjadi pengganti Fandri Imbiri.

Sementara untuk lini tengah, Lizio dan Misbakus tak bersenyawa. Saat Lizio maju merangsek, Misbakus gagal memainkan peran untuk melapis pertahanan di tengah. Di sinilah Djanur bereksperimen dan menemukan peran baru untuk Rachmat Irianto, yang semula bek tengah ditarik menjadi gelandang bertahan. Beberapa kali Djanur memasang Rachmat bersama Hidayat menjadi double pivot, sehingga formasi Persebaya bisa berubah menjadi 4-2-3-1.

4. Siapakah Pelatih Baru yang Tepat?
Masa transisi dari Vera ke Djanur terhitung sukses pada Liga 1 2018. Akankah ini terulang? Petir tak menyambar di tempat yang sama dua kali. Persebaya kini tengah bertaruh. Transisi Vera ke Djanur berhasil karena dua pelatih ini bertipe sama dan mengandalkan 4-3-3. Filosofi bermain mereka tak berbeda jauh. Maka pelatih baru Persebaya juga harus memiliki tipe dan filosofi yang kurang lebih sama dengan Djanur.

Persebaya bisa belajar dari Frank Lampard yang melatih Chelsea. Saat datang, dia merombak formasi Chelsea menjadi 4-2-3-1 dari formasi 4-3-3 yang biasa digunakan Sarri. Dia juga tak menurunkan pemain-pemain yang biasa menjadi andalan Sarri seperti Kante dan Willian. Chelsea pun kehilangan Eden Hazard yang menjadi nyawa lini depan mereka. Hasilnya: Chelsea dihajar 0-4 oleh Manchester United.

Jika Persebaya memaksakan pelatih dengan tipe yang bertolak belakang 180 derajat dengan Djanur, maka ada proses adaptasi oleh pemain. Ini bukan urusan sepele. Apalagi jika kemudian manajemen Persebaya panik dan membuang pemain-pemain yang dinilai suporter tak bermutu atau tak memiliki kontribusi sebagai konsekuensi perombakan tim.

Satu hal yang harus dicatat di sini: suporter tak selalu benar. Sebelum ditangani Djanur, Osvaldo Haay adalah pemain yang paling banyak dihujat Bonek dan dinilai tak layak memperkuat Persebaya. Namun di bawah Djanur, ia menjelma sebagai salah satu pemain kunci.

Manajemen perlu mendengarkan suara Bonek. Namun setiap pengambilan keputusan harus dilakukan melalui pertimbangan matang dan tanpa kepanikan. Dalam hal ini, divisi statistik Persebaya bisa mengambil peran untuk ‘mengaudit’ performa para pemain dengan lebih detail. Jangan ulangi kesalahan sebagaimana memecat Djanur di tengah perjalanan yang justru berujung ambrolnya performa Persebaya saat tandang ke Malang.

Satu hal yang harus dipahami: sepak bola membutuhan proses. Tak ada pelatih yang bisa menciptakan keajaiban sekali jadi. Mungkin hanya Mourinho yang bisa bersama Chelsea. Bahkan seorang Pep Guardiola harus babak belur pada musim pertamanya bersama Man City di Liga Inggris. Dalam konteks ini, manajemen Manchester United layak ditiru: mempertahankan Alex Ferguson saat semua suporter menuntut pemecatan. Bisa dibayangkan, jika hari itu manajemen klub menyerah terhadap tuntutan suporter, mungkin United tak akan menikmati masa-masa paling gemilang dalam sejarah panjang mereka. [wir/but]

Catatan: data-data statisik yang digunakan dalam esai ini diolah dari statistik pertandingan dari bolanusantara.com

Apa Reaksi Anda?

Komentar