Sorotan

Memoar Gandrung

Ini memori masa kecil. Tentang kecintaan seumur hidup seorang anak laki-laki terhadap gandrung di sebuah dusun bernama Lemarang di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Wowok Meirianto mengajukan permintaan kepada ayahnya menjelang khitan. “Pak, aku ingin nanggap paju gandrung,” katanya. Usianya baru sebelas tahun. Kelas lima sekolah dasar. Namun dia terobsesi gandrung.

Buyut Pujan, seorang sesepuh Dusun Lemarang, memperkenalkannya dengan tarian itu. Wowok dan kedua orang tuanya tinggal di rumah miliknya. Sesekali waktu, Buyut Pujan menabuh kendang dan meminta Wowok menari. “Hei, njoget, njoget karo isun. Menari denganku.”

Gandrung menyatukan orang-orang yang selamat dari Perang Banyu pada 1772. Kerajaan Blambangan saat itu dikalahkan gabungan pasukan Belanda, Mataram, dan Madura. Mereka yang setia kepada Blambangan dan menolak tunduk memilih mundur teratur, masuk hutan untuk bertahan. Lalu mereka menemukan penghiburannya pada gandrung, sebagaimana orang-orang berkulit hitam di perkebunan menemukannya pada musik jazz yang dimainkan padsa malam hari.

Konon, penari gandrung pertama bukanlah seorang perempuan, tapi laki-laki yang berdandan menyerupai perempuan bernama Marsan. Dia berkeliling dari hutan ke hutan yang dihuni para penyintas perang yang hidup terpisah-pisah untuk menari dan menghibur mereka. Dia hanya berharap sejumput beras sebagai imbalan untuk performanya yang memukau.

Ini bukan hanya perkara menari demi makanan agar bertahan hidup. Beras dan gandrung memiliki keterikatan spiritual. Gandrung adalah refleksi kecintaan warga terhadap Dewi Sri, dewi pembawa kesejahteraan yang menyuburkan padi. Tarian ini syahdan bagian dari ritual rasa terima kasih yang digelar setelah panen.

Tradisi penari gandrung lelaki hilang di Banyuwangi setelah Marsan mati pada 1914. Namun sebelumnya pada 1895, seorang perempuan berusia 10 tahun bernama Semi menjadi penari seblang, karena sumpah ibunya yang ingin melihatnya sembuh dari sakit parah. Seblang semacam ritual tolak bala dengan menempatkan seorang perawan menjadi penari hingga bisa kesurupan.

Setumpuk teori feminisme dan seksisme tak mempan saat berhadapan dengan realitas penari gandrung. Ada kesepakatan tak tertulis bahwa penari gandrung haruslah sosok yang cantik, tinggi semampai. Kulitnya putih. Dia menari anggun dengan balutan baju merah, melambaikan kipas dan menyabetkan selendang yang juga berwarna merah. Penari gandrung adalah bagian dari imaji tentang sosok Dewi Sri yang menjadi simbol pembawa kemakmuran.

Namun hari itu, ayah Wowok tidak terlalu makmur hidupnya. Dia hanya seorang guru sekolah dasar di desa. Menyewa dua penari gandrung papan atas, Temuk dan Dartik, jelas tak murah. Apalagi Temuk, yang belakangan pernah merekam sebelas lagu gandrung pada medio 1980-an yang dikompilasi dalam satu album berjudul ‘Songs Before Dawn’ oleh Philip Yampolsky, dari Smithsonian Folkways.

Air mulai mengambang di pelupuk mata Wowok. “Pokok harus ada.”

Ayahnya tak ingin Wowok menangis, dan seperti kata orang bijak: selalu ada jalan. Seorang kawan di Desa Kemiren, desa orang-orang suku Osing, memperkenalkannya dengan penari gandrung bernama Suryati. Tarif pentasnya separuh tarif Temuk dan Dartik. Setelah ritual pangkas ‘burung’ beberapa jam sebelumnya, para tetangga dan orang-orang dari dusun sebelah berdatangan, memadati halaman rumah Wowok, menyaksikan Suryati.

Malam itu, Suryati berhasil menjadi personifikasi Dewi Sri. Kepalanya mengenakan mahkota yang terbuat dari kulit kerbau yang disebut omprok, dengan ornamen kuning emas, warna merah, dan ekor Antasena, putra Bima yang bertubuh separuh ular. Emas menyimbolkan padi. Bau wangi menyembur dari hio yang dipasang di mahkota itu.

Diiringi musik gamelan Osing yang dimainkan rancak, Suryati menari berpasangan dengan beberapa lelaki yang bergiliran maju. Para lelaki ini disebut pemaju, yang diharuskan maju setelah kena sabet selendang Suryati malam itu.

Wowok tumbuh dengan kenangan terhadap tarian Suryati malam itu. Rasanya baru kemarin dia melihat Suryati menari. Dan dia mengabadikan memorinya dengan membangun sebuah patung omprok setinggi tiga belas meter di dekat rumah makan miliknya, Waroeng Kemarang, Banyuwangi.

Patung itu bagian dari panggung berdiameter sepuluh meter pada bagian luar dan delapan meter pada bagian dalam. Ada tiga buah segmen tribun untuk penonton yang berjenjang meninggi. Atapnya berbentuk setengah lingkaran menyerupai kipas gandrung. Wowok mempersembahkan patung omprok ini untuk Semi.

Waroeng Kemarang rutin mementaskan tarian paju gandrung untuk para tamu, dan salah satu cicit Semi pernah menari di sana. Mereka ingin bisa meletakkan benda-benda peninggalan buyut mereka di rumah makan tersebut sebagai bentuk penghormatan.

Wowok mengembalikan pemaknaan gandrung sebagai tarian penghormatan terhadap dewi kesuburan dengan mementaskannya di sawah sebelah Waroeng Kemarang. Orang mengecamnya. Namun seorang budayawan lama menyebut itu memang selayaknya dilakukan. “Sira memang benar. Gandrung itu asalnya dari sawah dan dalam bahasa Banyuwangi artinya disenangi, dipuja. Nah, siapa sosok perempuan yang dipuja ini? Dewi Sri. Gadis cantik berpakaian keemasan adalah sosok Dewi Sri yang dipercaya membawa kesuburan di Banyuwangi,” katanya.

Sawah dan kesenian di Banyuwangi memiliki relasi kuat. Pertunjukan angklung paglak mudah ditemui hampir di semua sawah saat musim panen, dan diperdengarkan saat warga menggelar selamatan mitoni padi. Padi bunting tua. Sementara saat pagi, angklung paglak memanggil warga untuk berkumpul dan bekerja di sawah.

Tarian gandrung yang dipentaskan di sawah menunjukkan relasi yang sama: sebuah penanda bahwa ekonomi Banyuwangi baik-baik saja. Kultur berkesenian yang tumbuh subur berbanding lurus dengan suburnya sawah dan warga bisa mencukupi kebutuhan sandang, pangan, papan. Pagi mereka di sawah, dan berkesenian selepas kerja. Tidak akan ada kesenian dan orang yang berkesenian dengan khusyuk jika Banyuwangi adalah daerah gersang. Mungkin itulah kenapa seni tradisi seperti gandrung dan angklung paglak tetap dirawat dengan rasa syukur di sana. [wir]

Artikel ini ditulis untuk merayakan Hari Tari Internasional, 29 April 2021


Apa Reaksi Anda?

Komentar