Sorotan

Membicarakan Karya 42 Pelukis

Ribut Wijoto

MEMBICARAKAN lukisan adalah suatu pengalaman yang baru bagi saya. Apalagi saya bukan orang yang bisa melukis. Dalam bidang seni, saya lebih sering terlibat di sastra, kadang teater.

Makanya, saya agak heran ketika M Anis meminta saya untuk membantu menyiapkan katalog Indonesia Art Mart atau Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) ke-11, yang berlangsung pada tanggal 12 – 21 Oktober 2018, di JX International Surabaya. Oleh sebab hubungan baik dan serunya untuk menjalani pengalaman baru, saya menerima tawaran dari M Anis.

Saya pun satu per satu mulai menulis tentang lukisan-lukisan yang bakal diikutkan dalam PSLI. Tentu saya tulis sebisanya.

Oleh sebab bukan orang seni rupa, tulisan mungkin tampak canggung. Mungkin pula ada kesalahan dalam pemakaian teknis istilah. Yang jelas, tulisan saya hanya sepintas lalu.

Yang pasti, saya mengucapkan terima kasih kepada M Anis yang telah memberi kesempatan. Terima kasih pula para pelukis yang bersedia telah berkoordinasi secara baik.

Saat ini, setelah hampir 3 tahun dari PSLI 2018, saya tiba-tiba ingat tulisan-tulisan tersebut. Entah mengapa, saya ingin menerbitkan ulang.

Lukisan Abdul Basit

Abdul Basit

Burung merak pada dasarnya memang burung yang ‘syantik’ (sedikit meminjam pengucapan biduan Siti Badriah). Apalagi bila bulu ekornya dikembangkan, warna-warni tersusun rapi berlapis-lapis, indah dan semarak.

Tapi bagaimana bila tiba-tiba warna seluruh tubuh merak berubah putih (albino)? Ternyata tetap syantik. Jika tidak percaya, lihat saja lukisan Abdul Basit atau biasa disapa Usit.

Mengambil latar warna hitam legam, pelukis asal Bandung itu menampilkan burung merak warna putih. Sekujur tubuh putih. Kepala, badan, bulu, tangkai bulu, dan juntaian serabut-serabut halus di ujung. Merak justru lebih anggun dan elegan dalam balutan warna putih. Sebab Usit menggarapnya secara detail.

Sebenarnya, Usit tanpa sengaja menemukan kepiawaian melukis merak. Dia seorang otodidak di seni rupa. Modalnya hanya bakat dan ketekunan. Maka, dia gemar mendengar pendapat orang. Suatu ketika, dia bertemu teman. Sang teman kagum dengan lukisan merak yang Usit ciptakan. Sejak saat itu, Usit pun mendalami syantiknya merak beserta karakternya. Dan terus mengeksplorasi keanggunan yang dianugerahkan Tuhan kepada merak.

Lukisan Agus Yusuf

Agus Yusuf

Lukisan Agus Yusuf selalu terkesan rapi. Komposisi warna, gradasi, dan sapuannya lembut. Ada kesan, Agus senantiasa mempertimbangkan efek artistik secara terukur.

Begitu pula dalam hal pemilihan obyek lukisan. Misalkan melukis bunga, Agus memilih bunga yang sedang mekar. Semisal buah, dia buah yang ranum dan siap dikunyah. Agus tampak selalu membangun dunia ideal melalui lukisan. Dunia yang dia munculkan serba sempurna.

Siapa sangka, lukisan itu ternyata tidak dikerjakan melalui tangan-tangan terampil. Agus mendapat ujian dari Tuhan dengan lahir tanpa kedua tangan. Dan Agus berhasil melewati ujian dengan nyaris sempurna. Walau tanpa tangan, Agus masih bisa mencipta lukisan-lukisan indah. Caranya adalah menggigit kuas, ujungnya dicelupkan ke cat, lalu dioleskan ke kanvas. Kadang, Agus memegang kuas dengan dua kakinya.

Berkat perjuangannya itu, Agus menjadi anggota tetap Association of Mouth and foot Painting Artist (AMFPA) yang berpusat di Sweetderland. Dan Agus mendapat bayaran tetap tiap bulan dari AMFPA.

Tentu saja perjalanan proses kreatif pelukis asal Madiun Jawa Timur ini tidak dijalani dengan mudah. Agus selalu mengasah kemampuan dan sensitvitas artistik. Dia bahkan pernah mendalami ilmu seni rupa dengan dipandu oleh dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

Lukisan Alex Sambodo

Alex Sambodo

Melihat lukisan kembang mekar dari Alex Sambodo yang didominasi warna jingga (orange), suasana hati menjadi tersentuh. Ada rasa kehangatan, kenyamanan, keceriaan, optimisme.

Kuatnya pesona warna jingga di lukisan itu tidak hanya mencipta keindahan. Lebih dari itu, jingga sanggup merangsang emosi. Perpaduan antara bentuk (kembang) dan warna (jingga). Di lukisan itu, entah jingga yang membentuk mahkota kembang ataukah wujud mahkota kembang memanggil jingga. Yang jelas, keduanya menyatu.

Mahkota kembang yang membikin gemas. Tiga masih kuncup dan dua telah mekar. Berpadu dengan sapuan gradasi warna merah dan warna kuning yang membentuk jingga, suasana pun kian hangat. Kehangatan yang menumbuhkan semangat.
Namun, kehangatan itu disusupi dengan sapuan warna ungu tipis-tipis di beberapa bagian helai mahkota kembang. Ungu juga pada benang sari dan putik di tengah mahkota. Kehadiran warna ungu ini membuat suasana hangat menyisakan sedikit imajinatif. Ungu yang menyedot orang ke ruang spiritualitas dan sedikit misterius.

Gambaran kehidupan mungkin memang seperti kembang jingga yang dilukis Alex Sambodo. Bahwa di antara gebyar semangat dan kehangatan, selalu ada sisi lain yang tidak boleh ditinggalkan, yakni sisi spiritualitas.

Lukisan Amor Saputra

Amor Saputra

Kuda adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna, setelah manusia. Itu menurut saya. Banyak seniman, penyair pujangga, musisi, pematung, pengusaha, penguasa yang menjadikan kuda sebagai sebagai objek karya karyanya. Ada juga yang menjadikan kuda sebagai lambang atau simbol. Kecepatannya, kekuatanya, keanggunannya, keperkasaannya, kemewahannya.

Dan saya juga, sebagai pelukis, rela meninggalkan objek yang lain. Karena terinspirasi oleh sosok kuda.
Sudah 20 tahun saya melukis dengan objek kuda. Dengan melukis kuda, saya bisa menuangkan ide-ide tentang sosial, politik, budaya, adat religi, kemesraan, kemarahan, dari perkara dunia sampai akhirat.

Yang saya lukis itu sosoknya memang kuda. Tapi sebenarnya itu bukan kuda. Itu adalah kita. Ispirasi yang saya tuangkan lewat lukisan kuda.

Kalimat-kalimat indah dan mendalam di atas diungkapkan oleh Amor Saputra, pelukis asal Brebes, kelahiran 18 Juli 1962. Pelukis yang aktif di Sanggar Lukis Pandawa Lima, Taman Sari Lippo Kawaraci Tangeran banteng.

Lukisan Anggik Suyatno

Anggik Suyatno

Keindahan itu mungkin tidak cukup terletak pada objek, pada alam. Keindahan menjadi lebih bermakna berkat orang-orang yang memiliki perasaan sensitif. Orang yang mampu memaknai alam dengan segala keunikan sekaligus kemegahannya. Dan salah satu orang itu adalah pelukis asal Surabaya, Anggik Suyatno.

Melalui lukisannya, Anggik menularkan keindahan yang dialaminya, yang dirasainya, ketika melihat alam di Nusantara. Tentang sawah membentang, tentang hutan lebat, tentang masyarakat pedesaan dengan segala kesederhanaannya.

Suatu ketika, Anggik melukis suasana hutan yang masih liar. Tidak ada manusia di lukisan itu. Hanya pepohonan, rerumputan, kembang-kembang kecil, bebatuan, dan sungai yang mengalir tidak terlalu deras. Cahaya menerobos di sela kelebatan daun dan dahan.

Sebatang pohon tumbang. Patah. Patahannya sebagian menggantung, patahan lainnya tergeletak begitu saja di pinggir dan tengah sungai. Tak ada manusia di situ. Tampaknya pohon tumbang bukan karena ditebang namun oleh sebab tak tahan dimakan usia. Lapuk. Dan air sungai terus mengalir di sela-selanya.

Entah itu kejadian sebenarnya atau rekaan, Anggik menggambarkannya dengan cukup detail. Sapuan halus cat dari pelukis yang karyanya telah dimiliki kolektor dalam maupun luar negeri itu membuat suasana hutan tampak nyata. Akar pohon yang menembus bibir sungai, ranting-ranting kering jatuh, semak belukar. Semuanya tampak alamiah. Anggik seperti ingin membagikan pengalaman merasakan keindahan hutan kepada siapapun yang melihat lukisannya.

“Alam Nusantara ini sejuk dan indah. Membentang luas. Keindahan ini wujud rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa dalam anugerah-Nya,” tutur Anggik Suyatno yang sempat menjalani hidup sebagai petani.

Lukisan Aprilisfiya Handayani

Aprilisfiya Handayani

Ditakar dari usianya yang masih remaja, lukisan Aprilisfiya Handayani sangat menjanjikan. Apri berani bermain warna. Langit yang biasa berwarna putih, biru, hitam dirombak total menjadi ungu, merah, biru.

Pada lukisan lain, langit lukisan siswi SMAN 1 Singosari ini seperti dilumuri pelangi. Bukan sekadar garis pelangi melengkung, di sini pelangi yang secara total meluas memenuhi langit.

Sapuan kuas dari murid asuhan dari Sadikin Pard ini memadukan warna-warna secara tegas. Memantulkan terang gelap yang tajam. Namun harmoni. Keharmonisan langit yang menguatkan karakter hamparan bunga tulip di bawahnya.

Sebagai remaja milenial, Aprilisfiya memang gemar berlayar di internet. Dari situ, hatinya terpikat pada pesona taman tulip di negeri Belanda. Berbekal hobi menggambar yang ditekuni sejak SMP, Aprilisfiya lantas mencurahkan daya imajinasinya melalui perwujudan beragam kembang tulip.

Dan di tengah lautan kembang tulip, dia bahagia karenanya. Sekaligus berusaha menularkan rasa bahagia kepada orang-orang lain melalui lukisan.

Lukisan Aries Maulana

Aries Maulana

Sekilas, lukisan bambu Aries Maulana sangat mirip cetak foto. Bahkan lebih. Memakai akrilik yang cepat kering, Aries dengan tabah membikin sapuan-sapuan lembut. Gradasi dan blanding digarap dengan sangat sabar. Sebuah kerja kesabaran dan ketabahan hasil dari pengalamannya selama 5 tahun merantau di Bali.

Begitulah, secara otodidak, Aries memang mempelajari teknik melukis dari banyak pelukis Bali. Tidak hanya teknik sebenarnya, Aries juga belajar tentang filosofi hidup. Belajar menyerap ilmu-ilmu dari alam sekitarnya. Dan, Aries terkesima pada bambu. Maka, Aries memilih untuk terus melukis bambu. Melukis sekaligus menyelaminya. Sebab dari bambu, dia mendapat beragam pelajaran hidup.

Dari bambu, pelukis asal Banyuwangi yang kini menetap di Blitar itu bisa mengetahui bahwa hidup tidak bisa sendirian. Hidup harus berkelompok, bersosial, saling membutuhkan. “Bambu adalah penyeimbang alam,” begitu katanya.

Ketika angin datang, bambu akan merunduk. Lalu kembali tegak begitu angin usai. “Ini laksana perjalanan hidup seorang manusia. Yang tidak pernah lepas dari cobaan dan rintangan,” imbuhnya.

Akhirnya, berbekal teknik dan ketabahan, Aries ingin membagi ilmu bambu melalui lukisan-lukisannya.

Lukisan Aris Koneng

Aris Koneng

Aris Koneng bilang lukisan-lukisannya sederhana. Baik dari segi warna maupun segi goresan, kesemuanya sederhana. Tema-tema yang digarap oleh pelukis asal Jember yang berdomisili Bali ini juga sederhana.

Sederhana yang bagaimana? Aris Koneng tidak menjelaskan. Dia hanya bilang: “Karya saya adalah sederhana”.
Ya sudahlah, mari kita tengok saja perwujudan ‘sederhana’ itu melalui lukisannya. Semisal lukisan yang berjudul ‘Malaikatku’. Di situ Aris Koneng menampilkan seorang bocah (mungkin usia sekitar 10 tahun) yang sedang jongkok.

Bocah yang memakai kaos ungu. Oleh sebab terlalu lusuh, warna ungunya bukan lagi manis seperti nyanyian lagu-lagu grup band Ungu. Kaos itu ungu yang kusam. Lebih kusam lagi celana yang dikenakannya. Dan yang paling kusam adalah tatapannya.

Sebuah tatapan yang seperti tidak memahami maksud dunia. Tatapan susah. Tatapan bocah yang mungkin telah kenyang dengan menderita, tak punya solusi, menghiba namun tidak yakin akan mendapat simpati, protes tapi tak punya power, sehingga dia terpaksa pasrah.

Rambut kumal turut mencerminkan nasib si bocah itu. Ditambah lagi lilitan rantai di kaki. Ditambah lagi, Aris Koneng memberikan latar dengan dominasi warna gelap. Abu-abu, kuning, coklat, biru dove. Kemalangan si bocah semakin lengkap. Dan Aris Koneng memberi judul ‘Malaikatku’.

Dalam lukisan-lukisan yang lain, Aris Koneng hampir selalu menampilkan sosok orang-orang berwajah susah. Wajah orang tidak bahagia. Dan dia mengatakan bahwa lukisan-lukisannya sederhana.

Lukisan Ary Indrastuti

Ary Indrastuti

Ary Indrastuti ternyata lihai juga melukis burung. Tujuh burung pipit kecil di rerimbun alang-alang kering. Lukisan itu tampak sangat alamiah. Terutama bentuk burungnya.

Lima burung hinggap di dahan, dua mengepakkan sayap lebar-lebar. Dua di antaranya berkicau. Lihat pose mereka masing-masing di lukisan itu. Ary Indrastuti menggambarkannya secara natural. Tidak berlebihan. Tidak menambahkan warna-warni lain (yang mungkin agar burung tampak lebih molek).

Dan justru karena tampil dengan warna apa adanya, burung di lukisan Ary Indrastuti menjadi sangat alamiah. Dia seperti burung-burung yang bisa ditemui di alam sekitar kita.

Padahal selama ini, pelukis asal Sidoarjo itu terkenal dengan lukisan-lukisan bunga. Terbiasa bermain dengan keberagaman warna. “Spesialis saya lukisan bunga. Sejak kecil saya suka bunga. Karena kaya bentuk dan warna,” ujarnya.

Tetapi ternyata, di antara lukisan-lukisan bunga, wanita yang cukup kreatif ini mahir pula melukis objek-objek lain. Termasuk melukis burung, melukis serangga, melukis pohon kopi. Bahkan mencoba menggunakan media berbeda. “Saat ini saya mendalami lukisan sutra,” imbuhnya.

Lukisan Azam Bachtiar

Azam Bachtiar

Banyak makna bisa ditafsirkan dari lukisan Azam Bachtiar yang menggambarkan 4 nelayan mendorong perahu. Lihat saja, perahu itu seakan tidak menyentuh air laut. Dia lebih tampak mengambang di udara. Mengapa seperti itu? Entahlah.

Juga tiga ikan yang besarnya seukuran manusia. Mengapa dibikin sebesar itu? Entahlah. Begitu pula posisi kepala ikan yang berada di bawah, seakan-akan terjun. Apakah Azam ingin memberi pesan bahwa hasil tangkapan ikan nelayan merosot drastis? Bisa jadi.

Yang jelas, Azam memberi warna kelam pada langit di atas aktivitas nelayan tersebut. Langit berwarna hitam yang mungkin memberi gambaran nasib nelayan. Kelam. Kontras dengan kekecerahan warna warni air laut di lukisan itu. Biru, putih, kuning, dan kehijauan.

Kedalaman makna tampaknya menjadi kekuatan karya pelukis asal Malang yang sempat mengenyam pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (sekarang ISI) Yogyakarta dan jurusan psikologi Wisnu Wardhana Kota Malang itu. Terlebih, perihal memaknai hidup, Azam juga telah 20 tahun mengurusi kematian (maklum profesi sebenarnya adalah Modin). Klop. Sehingga lukisan Azam meskipun sekilas mengabaikan bentuk, tetapi begitu dicermati, kilatan-kilatan cahaya dan komposisi warnanya mengundang orang untuk mempertanyakan kembali nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan.

Bahkan kini, melalui lukisan, Azam mendedahkan falsafah ‘cacing anil’ atau cacing yang bersiul. “Cacing anil merupakan falsafah hidup. Bahwa, setinggi apapun pencapaian hidup, derajat, kesuksesan, kekayaan, akan dihentikan oleh mati. Lalu cacing akan memakan jasad kita,” tutur pria asal Malang kelahiran 28 Februari 1961 itu.

Lukisan Bangun Asmoro

Bangun Asmoro

Bangun Asmoro adalah contoh kesetiaan menjalani profesi seniman. 30 Tahun lebih, hidup warga Wonoayu Sidoarjo ini dihabiskan dengan berteman cat dan kanvas. Otodidak. Berguru pada kehidupan. Jumlah lukisannya, Bangun Asmoro sendiri, justru tidak bisa mengingat. Mungkin sekitar 5 ribu lukisan. Termasuk hampir 1.000 lukisan yang dibawa ke Australia dan Belanda.

Apa resep Bangun Asmoro sehingga bisa tahan ditempa zaman? Ternyata simpel saja. Dia tidak risih dengan sebutan ‘orang pasar’. Melukis baginya, yang terpenting, karyanya enak dipandang. Dan ‘pasar’ bisa menerima.

Tapi tunggu dulu. Bukan berarti pisau paletnya asal mengoleskan cat pada kanvas. Pada tiap lukisan yang dia cipta, Bangun Asmoro selalu menyelami obyek. Agar ada nilai-nilai filosofi ketika obyek telah mengejawantah dalam lukisan.

Lukisan Budi Bi

Budi Bi

Dibanding media cat minyak di atas kain kanvas, lukisan cat air di atas kertas tidak terlalu populer di kalangan pelukis profesional. Namun sesuatu yang tidak populer itu justru kini sedang digeluti oleh Budi Bi, pelukis asal Surabaya.
Mungkin Budi Bi tertantang untuk membuktikan bahwa cat air tidak kalah keren daripada media-media lain. Bisa jadi juga Budi Bi punya pertimbangan berbeda. Yang pasti, pria lulusan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Surabaya ini nyaman dengan pilihannya.

Dalam sebuah obrolan ringan di media sosial whatsapp, Budi Bi memberi beberapa bocoran proses kreatifnya. Menurut pelukis berwawasan luas ini, bermain cat air pada media kertas sama saja seperti media lukis lain.

Cat air juga memiliki keunikan, karakter, dan kesulitan tersendiri. Unik karena dapat dibilang hasil dari mbloboran cat air bisa di luar dugaan. Tiap goresan lukisan cat air mencerminkan karakter pelukisnya. Dan, cat air termasuk sulit untuk direpro sama persis.

Budi Bi menandaskan bahwa melukis di zona figuratif dan portrait adalah favorit. Itu karena bisa menangkap dan menafsirkan ulang berbagai karakter dan model. Dan berkat ketekunan menggeluti media kurang populer itu, karya lukis Budi Bi diberi kesempatan untuk dipamerkan di Korea Selatan.

Satu hal lagi yang ditemui oleh Budi Bi dari kelebihan media cat air pada kertas adalah perihal tempaan waktu, lebih awet dibanding cat minyak pada kanvas. Dituturkannya, Albrecht Durer (1471–1528) melukis dengan media cat air. Dan sampai kini, lukisan itu masih utuh. Tidak perlu jauh-jauh, Presiden Soekarno pun mencipta lukisan berjudul ‘Pantai Flores’ dengan media cat air di atas kertas. Artinya, persoalan awet adalah hal ihwal tata cara penyimpanan dan perawatan.

Lukisan Buset

Buset

Kesan kental tercermin dari lukisan Boedi Setiyono berjudul ‘Muara dan Hutan Tropis Indonesia’. Perahu dan tempat sandar kayu yang sedang ditinggal nelayan. Hanya ditemani bunga-bunga teratai dan gerumbul tumbuhan liar. Langit senja yang jingga turut menyaksikan.

Panorama senja yang membawa orang ke suasana sublim. Suasana pergantian waktu. Peralihan dari sore ke malam. Melalui lukisan itu, Boedi Setiyono atau biasa disapa Buset seperti mengajak orang untuk merenungkan sesuatu yang lebih mendalam dari dunia fana ini. Sublim dan transenden. Mendekatkan orang pada hal-hal keilahian, ketuhanan.

Lukisan tersebut hasil torehan cat minyak di atas kanvas dengan alat palet. Namun sebenarnya, Buset sampai saat ini masih melukis dengan dua media berbeda, kuas dan palet. Menurut pria kelahiran Malang (23 April 1959) dan sekarang menetap di Surabaya itu, dua-duanya memiliki getaran yang berbeda, kepuasan yang tidak sama.

Dengan kuas, lukisannya cenderung naturalis dan dia senang karena objek terlihat alamiah. Dengan palet, lukisan bersifat impresif dan lebih menyentuh perasaan. Maka, dua-duanya tetap dipakai tergantung pada suasana hati.

Sebagai orang yang bertahun-tahun bergulat di institusi BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan sekarang pensiun, lukisan menghadirkan kekayaan pengalaman bathin. Berdampingan dengan dua hobi lainnya, yaitu bersepeda dan touring motor gede (moge). Bahkan, guna mengasah kemampuan dan menebalkan pengalaman, Buset rajin mendatangi pelukis lain. Kadang terlibat dalam percakapan serius perihal wacana seni rupa, kadang sebatas silaturahmi.

Lukisan Camil Hady

Camil Hady

Pelukis asal Lamongan Camil Hady bakal memeriahkan ajang Pasar Seni Lukis Indonesia (Indonesia Art Mart) Tahun 2018, 12 – 21 Oktober, nanti.

Membawa sekitar 10 lukisan, Camil Hady siap memamerkan hasil karya yang mengejawantahkan perspektif dan kepeduliannya terhadap lingkungan. Ada lukisan tanah yang gersang, lelaki tua yang resah, atau lembaran kain yang tampak kesepian.

Menurut orang-orang, lukisan Camil Hady bisa memunculkan kesan eksotis terhadap obyek bebatuan dan kayu.

Lukisan Daniel De Quelyu

Daniel De Quelyu

Yang pasti, lukisan adalah perwujudan perspektif pelukis terhadap realitas. Melihat lukisan Daniel de Quelyu berjudul ‘Nyanyian Walet di Atas Kalimas’ (oil on canvas, 110 x 140 cm), yang terdiri dari mosaik bidang warna warni; sang pelukis tentu sedang menyorongkan perspektifnya atas kota Surabaya, utamanya situasi di sungai Kalimas. Mosaik sungai Kalimas, mosaik kota Surabaya, dengan nyanyian burung walet di atasnya.

Melalui lukisan itu, Daniel seperti ingin menunjukkan bahwa kota Surabaya dibangun melalui perpaduan beragam perbedaan (mosaik). Masing-masing memiliki warna sendiri, memiliki batas-batas sendiri, lantas membentuk kehidupan kota secara keseluruhan.

Ada sikap optimisme dalam lukisan Daniel. Warna-warna yang ditampilkan cenderung lembut dan cerah. Tampak Daniel ingin menyampaikan pesan bahwa perbedaan justru membuat kota Surabaya menjadi lebih damai dan bergairah. Kedamaian yang dilengkapi dengan nyanyian burung (walet).
Dalam sebuah percakapan, pelukis asal Surabaya yang pernah 25 tahun bekerja di pabrik mesin ini menyebut, lukisannya masuk kategori Urban Myth. Sebuah aliran lukisan yang berkembang sejak abad 19 di Perancis. Lukisan ini memakai bentuk dan pola seperti mosaik. Dan melalui mosaik itulah, melekat misi maupun makna tersembunyi.

Penasaran dengan lukisan Urban Myth Daniel de Quelyu, saksikan nanti dalam Indonesia Art Mart atau Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) ke-11, pada tanggal 12 – 21 Oktober 2018, di JX International Surabaya.

Lukisan Daniel Lie

Daniel Lie

Pesan protes sosial tidak selalu dituangkan dalam tanda-tanda berwujud keras. Kadang tanda terlihat lembut tetapi sebenarnya mengandung muatan fakta tentang tajamnya ketimpangan sosial. Pola lembut tetapi tajam itulah yang tampaknya dipegang oleh Daniel Lie, pelukis asal Kalimantan Selatan.

Melalui lukisan berjudul ‘Terkepung di Dalam Gerombolan’, Daniel menggambarkan bebek kecil yang terjebak di tengah ikan-ikan koi yang sedang lapar. Dua-duanya simbol keindahan. Bebek mainan kecil dari plastik (warnanya kuning cerah) adalah benda kesukaan anak-anak. Biasanya di kolam taman, warna-warni ikan koi (walau sedang lapar) adalah pemandangan yang bikin nyaman.

Namun ketika dua simbol itu dipadukan, ada pesan ketimpangan sosial di situ. “Bebek plastik saya lambangkan manusia biasa atau kecil yang tidak berdaya, yang menghadapi masalah persoalan yang menghadang berbagai sisi. Terjepit tetapi tetap tegar dan kuat,” papar Daniel Lie, pelukis yang pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Surabaya dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Lukisan Djoko Sutrisno

Djoko Sutrisno

Banyak lukisan Djoko Sutrisno yang menampilkan gaya hidup kelas atas. Pesta dansa atau entah apa istilahnya (saya tidak terlalu paham dengan kehidupan orang-orang super kaya).

Si lelaki berpakaian celana panjang dan jas yang resmi (berdasi pula). Berdansa dengan wanita yang pakaiannya tidak meninggalkan kesan mewah (khas sosialita). Ada pula tarian balet. Mereka diiringi orkestra.

Karya pelukis yang berdomisili di Ubud Bali itu cukup konsisten dalam menjaga karakter. Warna didominsi oleh biru, baik biru tua maupuan biru muda, yang mencolok. Ciri khas orang yang ditampilkan pun cukup terjaga. Sosok orang-orang yang berbadan besar namun berkepala kecil.

Cukup aneh sebenarnya. Mengapa pelukis yang pernah berpameran di Australia, Rusia, Amerika ini suka menampilkan sosok berbadan besar dan berkepala kecil dalam gemerlap hidup orang super kaya? Apakah Djoko Sutrisno sedang melontarkan kritik melalui lukisan? Apakah Djoko Sutrisno menyindir orang-orang kaya yang makmur secara materi (badan besar) namun rendah dalam pemikiran (kepala kecil)?

Saya hanya bisa menduga-duga. Namun apapun makna yang diembannya, melihat lukisan Djoko Sutrisno itu, menggugah banyak kesan bagi saya. Gemerlap kehidupan mewah kelas atas yang membikin iri. Cara hidup disiplin (kombinasi musik, tarian, dan pakaian formal) yang elegan (juga bikin iri). Terakhir, cibiran karena di balik tubuh tambun mereka, ternyata ditopang oleh kepala kerdil.

Lukisan Edy Sugianto

Edy Sugianto

Melihat lukisan-lukisan Edy Sugianto, atau biasa disapa Edot, sekilas saja orang teringat dengan ajang Jember Fashion Carnaval (Karnaval Busana Jember) atau sering disebut JFC. Ingatan itu merujuk pada busana dan aksesoris yang dipakai oleh tokoh-tokoh dalam lukisan Edot.

Ada tokoh wanita cantik berias (make up) tebal. Alis tebal, lipstik tebal, dan body painting (seni melukis tubuh) yang warna-warni. Riasan itu ditambah pula dengan mahkota berumbai-rumbai. Tubuh yang semarak serta selalu dilumuri senyuman.
Ajang JFC memang berhasil mengangkat nama Jember ke level nasional, bahkan manca negara. Jadi ikon Jember.

Menginspirasi banyak orang. Karnaval serupa kini banyak ditemui di belahan kota manapun. Maka wajar saja, sebagai warga Jember, JFC turut menginspirasi Edot dalam melukis. Karakter tokoh-tokoh dalam JFC mendominasi karakter tokoh di lukisan Edot.

Tentu saja Edot tidak begitu saja memindahkan perwujudan wanita-wanita cantik yang melangkah menyusuri jalan utama kota Jember sepanjang 3,6 kilometer di ajang JFC. Sebagai seorang pelukis atawa kreator, Edot kerap mencipta sendiri karakter tokohnya. Artinya, spirit JFC diambil lantas diolah menjadi kreasi sehingga terciptalah karakter tersendiri dari lukisan-lukisan Edot. Bahkan yang terjadi kini justru sebaliknya, lukisan Edot menginspirasi untuk diwujudkan menjadi karakter tokoh JFC.

Walau mendapat cobaan Tuhan terlahir dengan kondisi tuna rungu, Edot dianugerahi bakat keluwesan melukis. Dia terbiasa dan bisa melukis wajah dalam beragam karakter.

Lukisan Hartono

Hartono

Hartono cukup pintar memilih metode dalam melukis. Sebuah metode mirip surealisme. Beberapa orang menyebutnya ‘kontemporer’. Objek-objek yang tidak saling berkaitan dikombinasikan.

Lihat saja lukisan Hartono yang berjudul ‘Spirit’. Di situ banyak objek digabung-gabungkan. Parade objek, karnaval realitas, seperti dunia mimpi.

Ada naga yang membuka rahang lebar-lebar. Ada enam orang naik egrang, ada bocah suntuk bermain android, ada tokoh wayang yang tampak agung, ada puluhan atau ratusan orang di ruang bagian bawah.

Kesemua objek, tumpukan realitas itu, berkelindan menjadi sebuah realitas baru. Realitas yang dibangun dari realitas-realitas kecil yang tidak selalu berkaitan. Hartono memberi judul ‘Spirit’.

Dengan metodenya dalam melukis tersebut, Hartono menjadi memiliki kebebasan luas memasukan objek. Bahkan objek pun ditampilkan tidak selalu utuh, kerap kali objek diamputasi. Sekaligus, pelukis asal Semarang itu memproduksi keberagaman makna. Jalinan makna-makna kecil yang lantas membangun makna besar. Dengan logika terbalik, sebuah makna besar dibangun oleh makna-makna kecil yang tidak selalu berhubungan.

Bisa jadi, lewat lukisan, Hartono sedang mendedahkan pandangan bahwa realitas itu tidak tunggal. Makna ‘spirit’ itu jamak.

Lukisan Hendrik We De

Hendrik We De

Hendrik We De memberi judul ‘Tiga Perempuan’ kepada lukisannya. Di mana wujud perempuannya? Entah. Yang justru tampak hanya lelehan cat akrilik yang meluber memenuhi luas kanvas. Tanda-tanda tubuh keperempuanan (semisal payudara, rambut panjang terurai, lentik alis, dll) sulit ditemukan (mungkin memang tidak ada).

Sekali lagi, hanya ada luberan cat akrilik. Warna hijau yang ditimbun warna pink, ditabrak warna biru, ditumpuki lagi dengan pink, dan hadir semburat warna ungu. Semuanya terkesan tak beraturan. Abstrak.

Lantas bagaimana mendapatkan makna dari lukisan Hendrik We De ini? Entahlah. Mungkin pelukis kelahiran 4 September 1963 yang sehari-hari bekerja di Dinas Pendidikan Pemprov Jatim itu membebaskan penikmatnya untuk memproduksi makna sendiri.

Ibaratnya, Hendrik sekadar menyediakan ruang dan papan nama bertajuk ‘Tiga Perempuan’. Perihal kamar tidur, kamar mandi, perabotan masak, dan kaca riasnya silakan bawa sendiri. Artinya, makna diproduksi penikmat setelah mendapatkan kesan dari lukisan.

Yang pasti, kombinasi warna dari lukisan Hendrik tersebut cukup menggairahkan. Warna-warna yang cerah. Lelehan atau percikan cat juga tampak muncul secara spontan. Cat seperti mengalir tidak digerakkan oleh pikiran, namun perasaan. Dan mungkin dunia perempuan seperti itu: bergairah, cerah, spontan, dan baper (bawa-bawa perasaan).

Lukisan Indahsari

Indahsari

Masa kecil yang ceria dan menggemaskan tidak pernah habis untuk dikenang. Dalam pandangan anak kecil, dunia tampak indah semata. Dunia anak kecil juga dikenal sebagai dunia yang polos tanpa dibebani hal ihwal kerumitan ambisi duniawi.

Keceriaan masa kecil itulah yang dituangkan Indahsari melalui lukisan. Pelukis cantik asal Probolinggo ini seperti menyentuh kembali sisi sensitif orang dewasa yang mungkin dilupakan, yakni keceriaan. Maka, memasuki lukisan Indahsari, orang seperti dituntun untuk melihat dunia secara berbeda. Kaca mata kanak-kanak.

Dan sebagai pelukis otodidak yang sehari-hari mengajar di TK, Indahsari secara apik mampu menyelami dunia anak secara utuh. Itu terlihat ketika dia mengambil obyek dolanan layangan, menari padi, maupun pergi ke mall.

Lukisan anggota Kawulo A-Lit

Kawulo A-Lit

Sebuah gerakan seni rupa anyar terlahir di Surabaya, 18 Mei 2018 lalu. Kawulo A-lit. Punggawanya adalah 5 perupa yang rata berusia di kisaran 30 tahun. Anin Naim, Alifiman Eratama, Adi Setiawan Ardo Rico, dan Khairul Suyanto.

“Kawulo A-lit adalah hamba-hamba yang berusaha menyajikan, sedikit, keindahan,” ujar Alifiman, mewakili teman-temannya.
Dipaparkan oleh Alifiman, kata ‘kawulo’ merujuk pada makna bahwa seluruh manusia adalah ‘hamba’ dari Tuhan Yang Maha Indah. Sedangkan kata atau pelafalan ‘a-lit’ merujuk pada beberapa makna. Dalam bahasa Jawa dimaknai sebagai kecil atau ‘sedikit seni’, dalam bahasa Inggris bisa berarti ‘kecil’ atau ‘ringan’.

“Kita bukan siapa-siapa, yang mencoba berkesenian semampu kita. Menomor-satukan kejujuran. Kejujuran itu indah. Dan indah itu fitrah,” begitu Alifiman menandaskan semacam kredo Kawulo A-lit.

Kredo boleh sederhana, rendah hati, ataupun seakan dikesankan sebagai ‘sedikit seni’ tapi karya lukis 5 perupa yang tergabung dalam Kawulo A-lit ternyata menunjukkan gejala berbeda. Dilihat dari karyanya, lukisan kelima perupa menampakkan sebuah kegelisahan estetik maupun kegelisahan tematik.

Lukisan Alifiman bersifat sangat abstrak. Sekilas seperti tumpahan lumpur yang tidak beraturan. Lukisan Anin Naim menampakkan seorang lelaki yang menengadahkan kepala dengan tangan disatukan. Pose yang seperti orang berdoa atau mengharap pertolongan. Warna-warna yang mendominasi lukisan itu sangat kelam.

Lukisan Ardo berupa tokoh kartun dengan warna-warna ceria. Si tokoh juga melemparkan senyuman. Tapi di balik itu, tampaknya, ada kejanggalan yang ditampilkan oleh Ardo. Kaki tokoh kartun yang tersenyum itu terbelenggu. Di lengannya juga ada lebah yang siap menyengat. Ada juga siput, yang entah mengapa, dia mendongak.

Lukisan Khairul menampilkan tokoh dengan telanjang dada. Wajahnya menampakkan ketidak-puasan. Tangannya memegang senjata tajam. Psikologis ketidak-nyamanan sang tokoh dikontraskan oleh garis-garis miring yang justru memakai dominasi warna cerah, yakni biru muda.

Adapun lukisan Adi sekilas tampak sederhana. Mungkin itu sepasang suami istri di pedesaan. Warna kelam lagi-lagi dipilih oleh anggota Kawulo A-lit ini. Sehingga, secara pesan, lukisan Adi pun lebih dekat pada protes sosial.

Begitulah, dalam kredonya, Kawulo A-lit mengusung kejujuran dan ‘sedikit seni’ tetapi dalam karya, lukisan kelimanya menunjukkan adanya sebuah kegelisahan bahkan ketidak-nyamanan.

Bisa jadi, kejujuran yang dimaksud oleh Kawulo A-lit adalah justru kejujuran dalam melihat realitas secara apa adanya. Yakni, realitas itu tidak selalu nyaman. Kehidupan itu kerap kali pahit.

Lukisan Ki Samudera Biru

Ki Samudera Biru

Melihat lukisan Ki Samudera Biru yang mengambil obyek Kanjeng Ratu Kidul, sekilas saja aura mistisnya sudah terasa. Semakin diselami, lukisan bisa membawa orang yang melihat seperti terbang menyusuri misteri Laut Selatan Jawa.

Untuk mendalami karakter Ratu Kidul, Pengelola Dewi Kadita Galeri ini bahkan kadang mengangkut kanvas ke pantai Karang Hau Pelabuhan Ratu.

Ki Samudera Biru melukis di sebuah senja di pinggir pantai, menghadap debur ombak lautan.

Lukisan anggota Komunitas Pelukis Merdeka

Komunitas Pelukis Merdeka

Empat pelukis dari Komunitas Pelukis Merdeka asal Jakarta bakal memamerkan karyanya di Indonesia Art Mart atau Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) ke-11, pada tanggal 12 – 21 Oktober 2018, di JX International Surabaya. Keempatnya adalah Tony Laisina, Depi Irawan, Yusup, Novadi Pras.

Salah satu lukisan yang dibawa Tony Laisina tentang kesejukan panorama alam. Aliran sungai yang airnya dilumuri cahaya matahari. Sungai yang berhulu air terjun. Tiga burung bersayap merah dan biru melintas di atasnya. Tampak pula sekeluarga rusa tengah beristirahat sembari meminum air. Suasana di lukisan itu semakin sejuk dengan rindang pepohon.

Yusup, salah satunya, membawa lukisan tentang empat batang bunga mawar berduri. Bunga yang tumbuh di dekat tembok. Mahkota mawar dalam lukisan Yusup ini cukup aneh. Warnanya agak kusam. Bahkan salah satu batang, warna mahkota mawarnya justru putih kehitaman. Berbeda dengan mahkota bunga mawar pada umumnya, yakni merah menyala. Meski begitu, oleh sebab komposisi yang harmonis dan natural, lukisan Yusup tetap sedap dipandang.

Adapun salah satu lukisan yang dibawa Depi tentang wanita berpakaian tradisional. Berkebaya. Bagian atas wanita itu terbuka lebar. Dengan penuh penghayatan, dia meniup karinding (alat musik tradisional Sunda dari bambu). Gestur si wanita memainkan karinding itu seakan orang turut mendengar merdu alunan suaranya.

Lukisan kaligrafi berbunyi ‘alhamdulillahi robbil alamin’ (segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam semesta) adalah salah satu karya yang dibawa Novadi. Lukisan dengan media cat akrilik di atas kanvas ini tampak megah sekaligus teduh. Sekilas seperti tiga dimensi. Mungkin Novadi ingin menunjukkan bahwa mensyukuri kemegahan Allah SWT bakal membawa orang pada kesejukan batin.

Dalam salah satu obrolan, Tony Laisina menuturkan bahwa Komunitas Pelukis Merdeka mengusung spirit kemerdekaan dan kebebasan berkarya. “Yang artinya tanpa ditunggangi oleh hal-hal seperti politik, kepentingan golongan, dan tekanan dari pihak manapun. Dan kita mengangkat tema-tema seperti alam, budaya, dan transendensi,” papar Tony.

Lukisan Kuat Casmoro

Kuat Casmoro

Pelukis Kuat Casmoro asal Purwokerto dikenal mampu mengadaptasi keindahan alam Indonesia. Melalui teknik palet, warna warni cat minyak menyatu dalam kanvas membentuk panorama menawan.

Sungai mengalir yang membelah sawah, rindang pepohonan, orang-orang merawat padi, atau rumah sederhana yang dikelilingi rerumputan hijau.

Di tangan kreatif Kuat Casmoro, keindahan alam seperti benar-benar ditangkap lalu dipindahkan dalam wujud lukisan. Bila tentang sungai, melihat lukisan Kuat Casmoro, orang bisa merasakan sejuk dan mendengar gemericik airnya. Bila tentang desa di pinggir hutan, rasanya seperti diajak tamasya dan turut menyelami kebersahajaan kehidupan warganya.

Lukisan M Nasruddin

M Nasruddin

Ikan-ikan kerap kali membawa rasa teduh dan adem ketika dipandang. Rasa yang berpengaruh pada kenyamanan suasana hati. Kesan itulah yang bergelibat ketika melihat lukisan dengan obyek ikan arwana dari M Nasruddin.

Terlebih, melalui lukisannya, M Nasruddin tidak sekadar mengejar keindahan. Dia mengusung pesan filosofi yang patut untuk direnungkan.

Pesan dari pelukis asal Sidoarjo ini bahwa manusia harus menjaga ekosistem. Salah satunya menjaga ikan-ikan tenang dalam habibatnya.

Lukisan MB Santoso

MB Santoso

Lukisan ‘Ayam Tarung’ dari MB Santoso sangat ekspresif. Pilihan warna tajam. Goresan-goresan liar maupun lelehan cat dalam kanvasnya menambah kekentalan efek artistik. Sangat kentara, pelukis asal Lawang-Malang dan menetap di Ubud Bali ini mengutamakan kebebasan berekspresi. Terlebih, obyek yang dilukis adalah duel ayam jago. Antara teknik dengan obyek menjadi lebih menyatu. Saling mendukung.

Bagi MB Santoso sendiri, pertarungan ayam jago bukan sebatas menang kalah. Menurutnya, ketika 2 ayam jago bertarung, di situ ada kobaran semangat. Ada perjuangan keras mengejar cita-cita. “Ini bisa sangat panjang kalau diceritakan,” katanya.

Walau lukisannya ekspresif, MB Santoso ternyata termasuk orang rendah hati. Ditanya keistimewaan dari lukisannya, MB Santoso memilih menjawab singkat: “Ngga ada kelebihan. Saya masih belajar”. Dan salah satu tempat dia belajar adalah lukisan-lukisan Affandi.

Tidak hanya mengambil obyek tarung ayam jago yang sengit, MB Santoso juga melukis sesuatu yang religius, transendensi. Misalnya ketika mengambil obyek ibadah khusuk jemaah haji di Mekah. Di lukisan itu, warna warna pilihan MB Santoso terkesan lembut dan membawa suasana kontemplatif.

Lukisan Mochtar Wibowo

Mochtar Wibowo

Tampaknya Mochtar Wibowo memiliki bakat besar untuk melukis realis. Bakat yang selalu diasah dengan teknik sehingga hasil yang diraih sangat maksimal. Lihat saja lukisannya tentang Michael Jackson. Sangat mirip dengan aslinya (kalau tidak salah, itu konser Michael Jackson tahun 1986).

Gestur dan karakter Jackson di lukisan pria asal pulau Bali itu tidak membuang sama sekali. Bentuk mata, arah sudut mata, garis lipat atas mata, kantong mata sangat tipikal Michael Jackson. Wujud bibirnya juga. Ukuran lebar yang memperlihatkan Jackson sedang bernyanyi, tarikan jarak bibir dengan mata, jarak dengan pupil sangat pas. Begitu pula dengan bentuk pipi, cekungan dan sedikit bayangan ketika Jackson menunduk. Termasuk lekuk alisnya. Mochtar Wibowo menggarap secara detail dan cermat.

Detail wajah dan gestur Michael Jackson itu ditunjang dengan dinamika pencahayaan yang proporsional. Mochtar Wibowo tampaknya cukup lihai dalam mengombinasi akrilik. Sehingga menghasilkan efek warna dan pencahayaan yang maksimal. Tekstur yang semakin memperkuat performance Michael Jackson.

Tidak hanya berhasil melukis karakter Michael Jackson secara tepat, bakat Mochtar Wibowo juga teruji ketika melukis sosok Gus Dur (Abdurrahman Wahid), Elvis Presley, Jokowi (Joko Widodo) dan lain-lain.

Lukisan Mpu Harrys Poerwa

Mpu Harrys Poerwa

Mpu Harrys Poerwa semula dikenal sebagai pelukis human interest. Melukis kehidupan sehari-hari. Coraknya natural-realis. Tetapi pelukis asal Mojokerto Jatim ini tidak menggunakan kuas. Dia memilih pisau palet.

Walau pakai pisau palet, Mpu Harrys Poerwa berbeda dengan pelukis kebanyakan yang mengandalkan teksture tebal. Dia lebih suka berupaya mengejar detail. Jadi meski terkesan kasar, hasil lukisannya sangat detail.

Berkat upaya gigihnya, pegawai negeri sipil (PNS) yang mengawali karier di ranah seni rupa melalui pelukis poster film (bioskop) ini bisa berkeliling Indonesia. Hampir seluruh kota-kota besar di tanah air pernah disinggahi karya lukisnya. Bahkan tahun kemarin, Mpu Harrys terlibat dalam pameran lukisan di Show Please Galery-Dallas Texas Amerika.

Uniknya, banyak kalangan kini mengenal Mpu Harrys Poerwa sebagai pelukis spiritual. Itu karena dia mendapat tugas melukis 6 petinggi kerajaan Majapahit. Sebuah tugas yang baginya penuh tantangan. Semisal untuk melukis Mahapatih Gajah Mada, Mpu Harrys Poerwa memerlukan waktu 7 malam Kamis dan 7 malam Jumat. Dia juga menjalani laku spiritual. Termasuk mendatangi petilasan-petilasan.

Lukisan Mukhiban

Mukhiban

Mukhiban melukis bunga kana atau dalam bahasa Jawa sering disebut ‘kembang ganyong’. Dengan cat akrilik di atas kanvas, lukisan Mukhiban tampak cukup ekspresif. Mahkota kembang berwarna merah menyala. Ada paduan warna kuning sehingga sekilas mirip kobaran api.

Di tempat Mukiban berdomisili, yaitu kota Surabaya, bunga kana memang sedang trend. Banyak menghiasi taman-taman kota dan ruang fasilitas umum (fasum). Maklum, bunga kana (yang konon bunga kesukaan Andre Breton, tokoh pendiri aliran Surelisme) sangat mudah ditanam dan tahan terhadap polusi.

Tanpa ditutup-tutupi, Mukhiban mengakui sangat suka dengan bunga. Keindahan bunga mampu menggugah munculnya inspirasi dan ide-ide baru. “Saya suka keindahan bunga, mulai kecil sampai sekarang, dari tekstur dan warnanya yang sangat indah,” tuturnya.

Selain bunga, Mukhiban mengaku sangat suka sawah. “Saya melukis sejak kecil. Saya dulu pernah tinggal di desa. Saya sangat menyukai alam desa, pemandangannya bagus terutama sawah-sawah dengan hamparan padi yang luas menguning,” tutur pelukis yang sudah sejak tahun 1990-an aktif di berbagai pameran itu.

Lukisan Robert Santari

Robert Santari

Ketika melukis pohon siwalan, Robert Santari sudah seperti menggambar anggota tubuh sendiri. Hapal luar kepala. Tidak hanya hapal, pohon siwalan dalam lukisan Santari seakan bernyawa. Hidup. Sebagaimana siwalan yang berdiri berjajar-jajar di daerah pesisir pantai Tuban.

Hijau helai daunnya yang tebal menunjuk ke atas langit. Serupa kipas. Sedang daun-daun yang lebih tua, berwarna hijau kecoklatan, tangkainya melengkung ke arah bawah. Dari kejauhan, gigir duri yang berujung dua masih samar-samar terlihat.

Daun-daun yang ditopang oleh kekokohan batang. Batang kehitaman yang memperlihatkan ketabahan ditempa puluhan tahun usia. Batang yang tampak berdiri tegas, keras, serta berat. Lukisan Robert Santari menempatkan pohon siwalan seolah menjadi pusat tumbuhan lain di sekitarnya.

Begitulah, lukisan-lukisan pria kelahiran Tuban, 16 Februari 1972, ini seperti mengajak orang untuk berpetualang keliling desa-desa di pesisir utara pulau Jawa. Mengajak orang untuk lebih mengenal pohon siwalan atau kadang disebut lontar. Pohon yang batangnya, pelepahnya, daunnya, buahnya sanggup memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Bisa untuk kerajinan tangan, untuk perabotan rumah tangga, untuk legen yang segar itu, dan juga (dulu) untuk menulis babad-babad sejarah Jawa.

“Pohon siwalan ini memang sebagai pohon kehidupan,” tutur Robert Santari yang bulan Agustus 2018 ini barusan kelar berpameran di Jakarta, di mana hampir seluruh lukisannya sold out.

Lukisan Ruslan

Ruslan

Bocah-bocah mencari ikan di sungai biasa ditemui di pedesaan. Bukanlah peristiwa luar biasa. Namun di tangan Ruslan, pelukis asal Kediri, peristiwa yang biasa itu menjadi lebih bermakna. Yakni ketika dipindahkan ke atas kanvas.

Lukisan Ruslan seakan mengabarkan sebuah kisah. Tentang keceriaan 2 bocah yang mengagumi ikan hasil tangkapannya. Tentang 3 bocah yang harap-harap cemas melihat ikan terjaring cikrak bambu (keranjang tempat untuk membuang sampah). Seorang bocah yang tersenyum entah mengapa. Dan seorang bocah lagi dengan tekun menyusuri pinggir sungai. Kesemuanya seakan alamiah. Keceriaan yang tanpa ditata atau rekayasa.

Tapi tunggu dulu. Hasilnya memang tampak alamiah namun proses melukisnya tentu saja butuh sikap kebersahajaan.

Lukisan Ruslan menjadi tampak berkisah karena di dalamnya ada sisi humanisme. Sisi kemanusiaan. Tentang keceriaan kanak-kanak. Sebuah keceriaan yang tidak terbebani oleh kerumitan hal ihwal duniawi. Semisal politik, hukum ekonomi, maupun ambisi keserakahan. Ruslan menampilkan realitas imun, di mana kepolosan kanak-kanak mendominasi gerak kehidupan. Orang yang melihat pun turut terbawa oleh suasana kepolosan di situ.

Tidak itu saja. Secara skil, Ruslan tampak telaten pada detail. Cat sapuan Ruslan secara rapi membentuk anyaman cikrak, membentuk gelombang air sungai, rumput liar yang tumbuh di tanah basah, bahkan gunung yang samar-samar terlihat di kejauhan.

Lukisan Rusli Anam

Rusli Anam

Sebuah lukisan yang belum sempat dikasih judul oleh Rusli Anam memperlihatkan seorang bocah perempuan, mungkin seusia SD (sekolah dasar), menggendong kucing warna belang. Gendongan yang intim. Berlatar belakang rerumput hijau, pepohon rindang, dan langit kebiruan; keintiman antara sang bocah dengan kucing dalam gendongannya semakin terasa kental. Terlebih ada bunga-bunga ungu bermekaran di depannya.

Si bocah itu, Rusli Anam menggambarkannya dengan tampilan yang kian sublim. Bertopi bundar coklat muda, rambutnya panjang terurai, berpadu baju panjang warna putih. Matanya terpejam. Seakan si bocah sedang benar-benar menghayati pelukannya terhadap si kucing. Dan si kucing ditampilkan tak kalah mesranya. Lihatlah, si kucing menengadahkan kepala sembari turut memejamkan mata.

Dari lukisan itu, kucing tampaknya bukan sekadar hewan peliharaan. Antara manusia dan kucing tersaji hubungan karib.

Dugaan itu ternyata benar. Rusli Anam sang pelukisnya mengakui, dia memiliki memiliki beberapa ekor kucing di rumah. Kucing-kucing yang dianggap dan diperlakukan sebagai anggota keluarga. “Saya suka kucing dan saya memeliharanya. Ada hubungan psikologis manusia dan naluri hewan seperti kucing yang nyambung dengan keseharian manusia. Bahkan seperti ada hubungan batin,” tutur pelukis yang namanya tercatat dalam Rekor ORI (Original Record Indonesia) saat menggambar 70 wajah dalam waktu 70 menit itu.

Pria kelahiran Bandung, 2 Mei 1973 ini, menambahkan bahwa dia pernah memiliki kucing yang sangat disayangi keluarga. Eceu namanya. “Dulu sampai makan sahur saja, dia bangunin. Dia bangunin dengan cara mengetukkan cakar di kaca jenela kamar saya. Makanya, ketika dia mati, kami sekeluarga benar-benar merasa kehilangan,” tutur pelukis murah senyum yang karyanya telah dibeli oleh kolektor dalam maupun manca negara itu.

Berkat hubungan intim Rusli Anam dengan kucing, beragam ide dan inspirasi terbuka lebar. Ide yang lantas dituangkan dalam wujud lukisan.

Lukisan S Istiyono

S Istiyono

Situasi di pasar kaget tersaji dalam lukisan S Istiyono. Pedagang sayur dikerubuti oleh tiga pembeli wanita, salah satunya membawa anak kecil. Kita bisa membayangkan betapa serunya bila wanita berkumpul. Apalagi berkumpul untuk belanja sayur. Terlebih penjualnya seorang laki-laki. Debat publik calon presiden pun belum tentu mampu menyaingi kehebohannya.
Beberapa jengkal di dekat momentum ‘kehebohan’ itu ada penjual ayam, ada wanita menyunggi keranjang, dan orang-orang lain lagi di sekitarnya. Coba cermati wujud badan seluruh orang di pasar kaget tersebut.

Sosok orang dalam lukisan S Istiyono itu memiliki keunikan tersendiri. Manusia-manusia berleher panjang. Manusia yang cenderung menjulurkan kepala. Mengapa seperti itu?

Ternyata S Istiyono punya penjelasan yang bermuatan kritik sosial. Menurut pelukis kelahiran Nganjuk (27 September 1963) itu, manusia sekarang cenderung suka menonjolkan diri. Kecenderungan kurang elok tersebut lantas disimbolkan oleh Istiyono dengan leher panjang dan menjulurkan kepala.

Keberadaan manusia berleher panjang (bukan leher jenjang loh) tidak hanya muncul di lukisan pasar kaget. Istiyono memunculkan juga di lukisan-lukisan lain. Dimunculkan dalam lukisan sabung ayam, lukisan upacara adat, lukisan panen padi. Artinya, manusia berleher panjang hadir dalam segala situasi. Lebih verbal lagi, kecenderungan suka menonjolkan diri selalu melekat dalam diri setiap manusia.

Lukisan Sadikin Pard

Sadikin Pard

Lukisan dan pelukis kerap kali dua entitas yang menyatu, tak terpisah. Karakter keseharian pelukis tercermin dalam karakter lukisan, demikian sebaliknya, karakter objek dan ramuan komposisi warna pada lukisan mewakili personalitas pelukisnya. Setidaknya, kebulatan entitas itu terlihat pada karakter Sadikin Pard dengan karakter lukisannya.

Pada lukisan ‘Rindu Kampung Halaman’, Sadikin Pard mengumbar beragam paduan warna. Sebuah lukisan yang mirip karnaval warna. Sampai-sampai warna awan di langit pun tidak sebatas putih, abu-abu, atau hitam. Perayaan warna cat di tembok dan atap rumah-rumah memantul langsung ke langit. Jadi warna langit.

Penuh warna dan menghormati kebebasan, karakter itu ternyata juga tercermin dalam kehidupan Sadikin. Di kesehariannya, pria kelahiran Malang, 29 Oktober 1966, ini terbiasa bicara terbuka, bahkan tak gentar berolok-olok. “Olokan saya jadikan motivasi luar biasa untuk saya pantang menyerah. Tanpa tantangan, kita tidak bisa lebih baik,” ujar pengajar melukis khusus mahasiswa asing di UMM dan Unibraw itu pada suatu ketika.

Begitu pula dalam berkarya, yakni melukis. Sadikin awalnya terjun ke dunia seni rupa dengan mengusung aliran naturalisme. Namun lama-kelamaan, aliran itu ternyata dirasa mengekang. Tidak cocok dengan karakternya yang suka kebebasan dan eksperimen. Maka, pelukis yang sejak lahir mendapat cobaan dengan tanpa dua tangan ini pun beralih ke impresionisme. Ternyata di aliran ini, dia menemukan ruang yang sesuai karakternya.

“Pada dasarnya, semua karya lukisan itu bagus. Dan lebih baik lagi apabila seorang seniman berani mengekspresikan jiwanya itu pada karya-karyanya. Baik itu berupa bentuk, warna, maupun pada goresan. Jadi intinya berkarya itu harus lebih berani memasukan karakter pelukisnya,” papar anggota tetap Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA) yang berpusat di Swiss itu.

Lukisan Samsul

Samsul

Pelukis Samsul kelahiran Lamongan, 5 Juli 1972. Artinya, Samsul sekarang memasuki usia 46 tahun. Walau berbakat dan hobi menggambar sejak kecil, Samsul tidak terlalu serius memasuki dunia seni rupa. Baru setelah menginjak usia 40 tahun lebih, Samsul tekun mengembangakan bakat melukisnya.

Entah karena masih baru atau entah gemar berpetualang, lukisan Samsul tidak fokus pada tema atau gaya tertentu. Keberagaman tema dan gaya Samsul setidaknya tercermin dari 5 foto lukisan yang dikirimkan ke panitia PSLI 2018. Ada lukisan tentang pasar burung, lukisan potret Gus Dur, lukisan laut dihajar badai, lukisan tentang mewahnya kehidupan kota, dan lukisan gajah.

Apakah pelukis harus memeluk atau konsisten pada satu tema dan gaya? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Bisa jadi, Samsul masuk dalam barisan pelukis-pelukis yang tidak terlalu mementingkan konsistensi tema. Namun, bisa jadi pula, keberagaman tema 5 lukisan Samsul adalah suatu kebetulan.

Mungkin saja dalam rentang 5 tahunan proses kreatif Samsul melukis, ada satu gagasan tertentu yang sedang ia kejar, ia perjuangkan. Yang pasti secara teknik, oleh sebab didukung oleh hobi dan bakat, Samsul berhasil dengan apik melukis beragam tema.

Lukisan Syaiful Amin

Syaiful Amin

Lukisan Syaiful Amin berjudul ‘Bunga Keberuntungan’ menyajikan sosok wanita bertubuh sintal dan tinggi semampai tiduran dengan balutan kain yang longgar. Tangan kanannya memegang bunga warna kuning. Ada pula bunga-bunga lain di atas kaki sang wanita.

Berlatar warna merah tua,walau tanpa senyum, tampilan sosok wanita tersebut sudah cukup menggoda. Tubuh. Syaiful Amin tampak seperti sedang berusaha memaknai pesona tubuh wanita. Pesona yang bercampur antara keindahan dan misteri. Semakin diselami, kehadiran sosok wanita tersebut seperti sebuah mimpi, ilusi, sensual, membikin gelisah, sekaligus menginspirasi.

Dalam lukisan yang lain, berjudul ‘Dekat di Mata Jauh di Hati’, Syaiful Amin lagi-lagi menampilkan sosok wanita. Tiga wanita yang duduk-duduk di batang pohon sakura. Perbaduan antara wanita dan bunga tersebut terasa sublim.

Dalam sebuah percakapan, Syaiful Amin tidak menutupi bahwa dia kagum dengan sosok wanita. “Ada banyak keindahan dan misteri tentangnya, tentang wanita,” tutur pelukis asal Tuban yang telah berpameran di berbagai kota ini.

Lukisan Tamban Arif

Tamban Arif

Keindahan tidak perlu dikejar terlalu jauh. Sebab, keindahan ada di mana-mana. Termasuk di sekitar kita. Prinsip keindahan ada di sekitar kita itulah yang tampaknya dipegang oleh Tamban Arif Maulana, pelukis asal Kota Batu.

Melalui lukisan, Tamban Arif menyuguhkan keindahan dari burung-burung yang biasa ditemui di sekitar kita. Empat burung gelatik yang bersijingkat di dahan, empat burung pipit yang tampak bercengkerama dengan akrab, lima burung perci kuning yang menggemaskan. Semua ditampilkan lewat sapuan yang halus. Sehingga terkesan elok dan sedap dipandang. Kehalusan yang tetap terjaga walau yang dilukis adalah elang jawa.

Tamban Arif menyatakan, keindahan alam (termasuk burung-burung) telah mulai tergantikan. “Burung elang itu dulu sering dijumpai di sekitar rumah. Sekarang entah pergi ke mana,” katanya.

Lukisan Tedjo Konte

Tedjo Konte

Tiga wanita itu, jika dilihat dari pakaiannya, mereka bukan dari kelas sosial menengah ke atas. Dengan sikap cukup berlebihan (baca: norak) mereka seperti terperangah oleh sesuatu, entah apa. Tapi yang jelas, mereka kompak melihat ke arah yang sama, dengan ekspresi yang sama: kepo!

Selain tatapannya yang sok kepo (rasa ingin tahu yang besar), ada satu kesamaan lain yang menonjol dari ketiga wanita itu, yaitu bibirnya. Adalah bibir-bibir yang dower. Bibir dower yang bikin gemas.

Lihat juga, begitu penasarannya mereka melihat (entah apa), sampai-sampai mereka mengabaikan bayi yang tengah disusui. Si wanita membiarkan payudaranya menggelantung bebas tanpa penutup sama sekali. Dan si bayi tampak dengan sangat nyaman menyedot puting payudara ibunya.

Gambaran hidup dan ekspresi wanita-wanita kelas bawah yang mungkin kocak, jenaka, menggelikan sekaligus inspiratif itulah yang kerap kali ditampilkan Tedjo Konte melalui lukisan-lukisannya. Meskipun kocak, banyak unsur edukasi (pendidikan) dan kritik sosial-budaya melekat di situ.

Lukisan Triyoso

Triyoso

Seorang dalang yang tua. Wajahnya penuh keriput, baju batik, dan blangkon biru; dia sedang asyik masyuk memainkan wayang. Sang dalang seakan tenggelam dalam dunianya, dunia wayang.

Lukisan Triyoso tentang pergelaran wayang itu mengumbar beragam kesan. Keriput-keriput di wajah dalang adalah tanda perihal kesetiaan terhadap dunia wayang. Sebuah dunia penuh kompleksitas. Sama halnya dengan kompleksitas dunia batin orang-orang Jawa.

Namun Triyoso memberikan warna biru cerah di pada blangkon sang dalang. Apakah mungkin, Triyoso melontarkan pesan bahwa, meski tua, sang dalang tetaplah kekinian (kontemporer)? Sama seperti wayang, yang walau telah berumur ribuan tahun, dia mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Sama seperti kehidupan pribadi Triyoso sendiri.

Dalam keseharian, meski hidup di kota metropolitan Surabaya, Triyoso penyuka seni tradisional Jawa. Mulai wayang, ludruk, jaranan; semuanya dia suka. Pelukis yang telah berulangkali ikut pameran ini mengaku bahwa bapak dan kakeknya juga penggemar seni tradisional Jawa. “Sudah turunan mungkin,” ujarnya singkat.

Kegemaran itulah yang lantas dituangkan Triyoso dalam lukisan. Tentu saja dituangkan melalui olah kreativitas. Triyoso memilih dekoratif. Pilihan itu bisa jadi dipakai dengan alasan lebih bisa mewadahi kebebasan menuangkan ide. Wujud manusia dan wayang disederhanakan Triyoso melalui distorsi.

Lukisan Virgorina Hendrianti

Virgorina Hendrianti

Dengan memilih dominasi warna putih, abu-abu, dan kuning; Virgorina Hendrianti melalui lukisan berjudul ‘Morning in Paris’ menampilkan kota di suatu pagi yang berkabut. Suasana kota yang romantis dan sensual. Paris.

Virgorina -kadang disapa Henny kadang dipanggil Hence- sepertinya ingin membagi pengalaman menikmati kesejukan pagi di ibukota Perancis itu. Bus umum membelah jalan, deretan kendaraan pribadi yang mewah, orang-orang berjalan di trotoar, pohon-pohon meranggas.

Dan yang lebih mengesankan, bangunan-bangunan kuno yang kokoh berdiri di sepanjang jalan. Abad lampau dan zaman kekinian seperti dimampatkan di kota Paris.

Kota dan bangunan. Dua objek itu memang akrab dalam lukisan-lukisan Hence. Cityscape. Dia sendiri tidak memungkiri, hatinya mudah terkesan pada suasana kota. Apalagi kota yang berciri klasik. Penuh bangunan-bangunan kuno. Entah kota Surabaya, Yogyakarta, maupun Eropa.

Lukisan Yudi Dogol

Yudi Dogol

Suasana khidmat terasa kental dalam lukisan Yudi Dogol yang berjudul ‘Menuju Upacara’. Tampak wanita-wanita Bali serempak berjalan menuju pura. Beragam buah, kue, bunga disunggi di atas kepalanya. Mereka hendak mengikuti upacara Odalan. Sebuah upacara peringatan berdirinya pura.

Melalui lukisan, Yudi Dogol menggambarkan persiapan upacara Odalan dengan dominasi warna kuning, coklat, hijau. Kombinasi warna yang tidak terlalu kontras atau meledak-ledak. Suasana khidmat menjadi lebih mistis karenanya.

Penggarapan berbeda ditunjukkan Yudi Dogol dalam lukisan lain, yaitu tentang pesta panen. Di situ, dia memilih warna-warna yang lebih berani. Dan tampaknya memang cocok dengan objek pilihannya. Kombinasi warna yang dinamis selaras dengan semangat ibu-ibu petani yang sedang memanen padi.

Begitulah, goresan pisau palet dan komposisi warna dari pelukis kelahiran Lamongan yang kini menetap di Gresik itu senantiasa menampilkan kesan dari momen-momen tertentu. Menjadikan peristiwa bukan sekadar peristiwa. Tetapi karya cipta yang memperkaya pengalaman bathin. Kadang membawa suasana khidmat, kadang ceria, kadang suasana tenang yang mengajak orang merenung.

Lukisan Yusswantoro

Yusswantoro

Lukisan ayam hutan dari Yusswantoro ini mengindikasikan, karya seni rupa tidak sekadar memindahkan apa-apa yang terlihat di realitas ke atas kanvas. Bahwa, lukisan bukan semata tiruan realitas. Tetapi, pelukis (baca: kreator) punya kewenangan untuk mengolahnya.

Bermain dengan gradasi warna dari gelap ke terang, objek dalam lukisan Yusswantoro bisa lebih hidup dilihat. Malahan lebih hidup dari kehidupan itu sendiri. Warna ayam hutan dalam lukisan tampak lebih menyala dibanding ayam hutan yang sebenarnya. Melampau realitas.

Tidak hanya ayam hutannya, daun-daun kering yang berserakan di tanah pun warnanya lebih menyala. Juga hijau daun yang menjuntai. Termasuk beberapa batang pohon yang berada di barisan muka.

Melalui permainan warna, pelukis asal Jepara ini seperti memberi fokus pada objek tertentu. Sehingga keberadaan objek tersebut lebih menonjol dibanding objek-objek lain di sekitarnya. [but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar