Sorotan

Membangun Pesimisme

Lukman Winarno

Pesimis merujuk pola pikir individual. Pemikiran ini menjelaskan semua peristiwa akan berakhir negatif atau kurang baik. Kontradiksi dengan optimis, yang menggambarkan pemikiran positif seseorang. Peristiwa buruk bersifat sementara, karena pada akhirnya akan berujung pada kebaikan.

Pesimis dan optimis, sebagai sebuah paham, nyata dalam kehidupan masyarakat. Paham ini, sebenarnya merujuk pemikiran Descartes, yang menyatakan,  tidak ada jiwa yang lemah, yang tidak dapat diarahkan pada kebaikan. Konsep pemikiran ini membongkar dogma lama, yang meyakini manusia adalah jiwa lemah yang dapat dikalahkan oleh nasib.

Membangun optimisme adalah keniscayaan bagi seorang pemimpin. Dua hal penting yang mempengaruhi optimisme, etnosentris dan egosentris. Faktor etnosentris merujuk pada pengaruh lingkungan sosial, politik dan budaya. Sebaliknya, egosentris, menganggap dirinya sebagai faktor dari segala hal.

Dalam kontek Jember, Bupati baru, Hendy Siswanto sebenarnya sedang dalam proses membangun optimisme. Berbagai situasi buruk, dampak dari pemerintahan sebelumnya, coba dijelaskan dengan gayanya (explanatory style). Tampaknya, ia ingin menjadi faktor dari segala hal perbaikan yang dijanjikan. Perbaikan jalan yang dijanjikan selesai dalam satu tahun, langkah percepatan APBD dengan menunjuk semua pejabat menjadi pelaksana tugas, maupun wacana pemindahan pusat pemerintahan, adalah materi membangun optimisme Jember lebih baik.

Di sisi lain, pesimisme atas sikap optimistis Bupati pun berjalan linear. Secara normatif, upaya membangun optimisme itu riil harus termaktub dalam APBD. Tahun 2020, terbukti Jember tidak punya APBD, dan potensi besar tahun 2021 kembali tidak sukses menetapkan APBD. Selain sudah sangat terlambat, Bupati Hendy Siswanto harus menyadari pula kalau belum punya RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah). RPJMD yang berlaku sekarang masih milik bupati sebelumnya.

Pertanyaannya, mampukah sikap optimis bupati terpilih menjelaskan situasi buruk Jember saat ini, pada perubahan baik masyarakat? Atau sebaliknya, sikap optimis ini justru nyata-nyata membangun pesimisme kebaikan, mengingat faktor egosentris Bupati. Ekspektasi rakyat akan munculnya Bupati baru atas perbaikan Jember, pasti akan terkubur. [ted]

Lukman Winarno, Wakil Ketua Bidang Komunikasi DPC PDI Perjuangan Jember



Apa Reaksi Anda?

Komentar