Sorotan

Bagaimana Jika Wabah Corona Berakhir 2 Tahun Lagi?

Ribut Wijoto.

Kapan wabah virus Corona (Covid-19) berakhir? Bertebaran prediksi sejak wabah bergulir pertama kali di Wuhan, negeri China, akhir tahun 2019 lalu. Ada yang memprediksi wabah berakhir di bulan Maret, bulan April, bulan Mei, bulan Juni, dan akhir tahun 2020. Bahkan ada yang memprediksi wabah akan bertahan hingga satu atau dua tahun ke depan.

Di Indonesia sendiri, pasien positif virus Corona pertama kali diketahui tanggal 2 Maret 2020. Oleh sebab jumlah pasien terus bertambah, untuk mengurangi persebarannya, sekolah-sekolah diliburkan.

Awalnya hanya diliburkan hingga 23 Maret 2020. Waktu itu, mungkin Dinas Pendirikan memprediksi, tanggal 24 Maret 2020, wabah virus Corona sudah bisa teratasi sehingga siswa bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar secara normal. Tetapi prediksi meleset. Libur siswa lalu diperpanjang 29 Maret 2020. Meleset lagi. Saat ini, ada wacana, libur sekolah (istilah resminya adalah ‘belajar di rumah’), diperpanjang lagi hingga 1 Juni 2020.

Banyaknya prediksi dan rentang waktu yang berbeda-beda mengindikasikan, wabah ini masih bersifat misterius. Memang semakin banyak pasien yang telah berhasil sembuh tetapi pasien baru juga terus bermunculan. Wilayah pandemi pun semakin luas.

Mungkin, prediksi yang mendekati valid baru akan bisa dikeluarkan jika obat dan vaksin dari virus Corona telah berhasil diciptakan. Kita tentu berharap, kerja keras dari para ilmuwan di laboratorium segera menemui titik terang.

Selagi obat dan vaksin belum diciptakan, kita tetap hanya bersandar pada angin. Tanpa kepastian.

Sembari menunggu kabar gembira dari para ilmuwan, pandemi wabah virus Corona ini harus kita terima sebagai fakta. Sebagai kenyataan sehari-hari. Maka, kita harus beradaptasi. Menyesuaikan diri. Beradaptasi sekaligus berkembang.

Kita tidak bisa sekadar menunggu. Sedangkan yang ditunggu ibarat Godot dalam naskah drama Samuel Becket, ia tak kunjung datang.

Kita tidak bisa sekadar menunggu. Roda kehidupan tidak boleh berhenti berputar. Peradaban seperti waktu, ia tidak pernah berhenti dan berulang. Itu terus bergerak. Ia seperti perut kita, harus selalu diisi makanan. Ia seperti pikiran dan imajinasi kita, senantiasa menganalisa dan mengembara ke peristiwa-peristiwa baru.

Kita percayakan perawatan pasien virus Corona kepada para tenaga medis. Kita serahkan penciptaan obat dan vaksin pada para ilmuwan. Tetapi, sekali lagi, kita sendiri tidak boleh sekadar menunggu.

Kita tidak bisa membiarkan para buruh kehilangan pekerjaan karena pabrik berhenti beroperasi. Kita tidak bisa membiarkan siswa terganggu pelajarannya karena sekolah libur. Suami yang hanya menundukkan kepala saat dimintai uang belanja istri. Atau istri yang matanya berkaca-kaca karena mendengar anak meminta lauk yang lebih lezat. Momentum kepedihan itu tidak boleh terjadi.

Kita harus bertahan sekaligus berkembang. Kita beradaptasi sekaligus berinovasi. Semangat jangan sampai kendor. Kita ambil prediksi terburuk bahwa wabah virus Corona hanya akan berakhir dua tahun lagi. Atau mungkin lebih lama.

Dalam berinovasi, rambu-rambu pemerintah tentu tak boleh dilanggar. Pertama, kita dianjurkan lebih banyak bertahan di dalam rumah. Kedua, kita dianjurkan keluar rumah hanya untuk kebutuhan mendesak. Ketiga, saat keluar rumah, kita wajib memakai masker, menjaga jarak dengan orang lain.

Kita bangun sebuah dunia baru. Sebuah peradaban baru. Kebiasaan-kebiasaan yang bersandar pada situasi pandemi wabah virus Corona.

Kita tatap lingkungan dengan mata terbuka, pikiran terbuka, imajinasi terbuka. Lingkungan yang sangat terbatas. Keterbatasan yang tentu saja tidak bolah membatasi pikiran dan imajinasi. sebaliknya, keterbatasan bakal merangsang penciptaan peradaban istimewa.

Nenek moyang kita adalah para pelaut ulung, karena sadar, Nusantara terdiri dari banyak pulau. Orang di tengah hutan membangun rumah nyaman dan kokoh di atas pohon sebab mereka harus menghindar dari ancaman binatang buas. Masyarakat di dataran rendah membuat rumah panggung yang terlihat indah sebab banjir bisa sewaktu-waktu datang melanda.

Kita tentu tidak boleh kalah dengan orang-orang di masa silam. Mereka yang berhasil mencipta peradaban dari keterbatasan lingkungan. Terlebih, kita telah terbantu oleh banyak benda-benda teknologi dan kemajuan ranah cyber.

Jika kita perhatikan, bibit-bibit dari adaptasi dan inovasi itu sebenarnya telah datang. Guru sekolah dasar (SD) sekarang membikin grup whatsapp. Anggotanya siswa dan orang tua siswa. Hampir tiap hari, tugas sekolah disampaikan melalui grup. Siswa juga diminta menonton televisi yang menyiarkan pelajaran.

Perusahaan menggelar rapat melalui aplikasi zoom. Tatap muka antara pimpinan dengan staf bisa dilakukan meski berada di tempat yang berbeda-beda. Koordinasi lancar. Perencanaan dan evaluasi jalan terus.

Sebuah toko buku melaporkan. Tingkat penjualan mereka di gerai mengalami penurunan. Gejala yang dinilainya wajar sebab orang cenderung bertahan di dalam rumah dan wegah datang ke toko buku. Tetapi di balik itu, tingkat penjualan melalui online melonjak hingga 300 persen.

Seorang pengusaha grosir barang pecah belah mengaku telah membelokkan setir bisnisnya. Dia semula menjual barang-barang impor dari China. Tetapi sejak bulan Februari lalu, importir tempat dia mengambil barang sudah berhenti membongkar kontainer. Impor barang dari China macet. Maka, pengusaha tersebut lantas mengalihkan pada penjualan barang-barang produksi lokal. Hasilnya di luar dugaan, dia sampai kuwalahan memenuhi permintaan dari pelanggan.

Begitulah, kita perlu mencari peluang baru, perencanaan baru, dari keterbatasan akibat wabah virus Corona. Kita cari berbagai kemungkinan usaha yang bisa dikerjakan dari dalam rumah. Kita cari bentuk bisnis yang tidak membutuhkan terlalu banyak interaksi langsung dengan orang lain.

Kita juga harus memaksimalkan benda-benda teknologi. Kita maksimalkan keluasan ranah online. Kita ciptakan kebiasaan baru, cara bisnis baru, cara hidup baru.

Jika kita bisa bertahan sekaligus berkembang pada saat sekarang, maka, nanti bila wabah virus Corona benar-benar berakhir; kita menjadi orang sangat beruntung. Sebab kita telah berdiri pada kekokohan pondasi. Kita tidak memulai hidup dari situasi babak belur. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar