Sorotan

Membaca Peluang Dhimas Anugrah di Pilwali Surabaya 2020

Ribut Wijoto.

NAMA MICHAEL DHIMAS ANUGRAH hampir selalu muncul dalam pembicaraan bursa Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Surabaya tahun 2020. Kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu dinilai merepresentasikan kaum muda, milenial, cerdas, dan toleran.

Siapakah Dhimas Anugrah?

Sekilas, Dhimas Anugrah bukan tipe orang mudah mencuri perhatian. Berbeda misalnya dengan Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) atau Tri Rismaharini yang suka berbicaraka blak-blakan dan meledak-ledak, gaya bicara lelaki kelahiran Surabaya (5 September 1981) ini cenderung kalem. Dia lebih mirip Jokowi.

Dhimas Anugrah seperti mewarisi tradisi kebanyakan intelektual Katolik, perspektifnya atas setiap masalah sangat mendalam. Menyelam ke dasar dan mempertimbangan beragam segi. Wawasannya luas. Dhimas Anugrah tidak mudah kaget oleh sebuah peristiwa namun dia cermat terhadap detai fenomena.

Karakter pribadi, cara berbicara, dan perspektifnya atas masalah membuat orang lantas bersimpati. Dhimas Anugrah pintar meyakinkan orang lain.

Dia juga seorang pekerja keras. Juga tekun. Cerdas pula. Dhimas Anugrah bersekolah sambil bekerja. Dia bisa kuliah di Oxford Center for Religion and Public Life, Inggris, berkat beasiswa.

Kelebihan lain dari Dhimas Anugrah adalah jiwa seni dan jiwa sosial. Dhimas pernah memimpin dan mengelola komunitas band indie di Surabaya sejak 2006-2011. Ia juga melayani para tuna wisma di daerah Kembang Kuning Surabaya pada tahun 2001-2010.

Lalu bagaimana peluangnya di Pilwali Surabaya 2020?

Sebenarnya, masih cukup jauh untuk melihat peluang Dhimas Anugrah di Pilwali. Dalam internal PSI sendiri, Dhimas Anugrah bukan satu-satunya kandidat. Ada Andy Budiman yang pernah menjadi caleg DPR RI nomor urut 1 dan ada Gunawan yang pernah menjadi caleg DPRD Jatim. Kedua tokoh itu sama-sama siap bila dipercaya untuk maju di Pilwali. Gunawan malahan sudah mendaftar sebagai Bacawali di PDI Perjuangan.

Sampai saat ini, internal PSI masih dinamis. DPP belum menentukan sikap tegas. DPP terkesan memberikan peluang kepada kader-kadernya untuk membangun pencitraan, membangun jaringan, sekaligus menaikkan elektabilitas. Maka, Dhimas Anugrah harus mampu meyakinkan DPP PSI di Jakarta agar mau menjatuhkan rekomendasi bagi dirinya.

Jangan sampai Dhimas Anugrah terlalu sibuk membangun jaringan di bawah tetapi lupa konsolidasi ke atas, ke elit partai. Sebab bisa saja DPP PSI memberikan rekomendasi pada kandidat lain. Kandidat yang lebih rajin berkomunikasi dan memiliki kedekatan dengan DPP. Artinya, kunci utama saat ini dipegang oleh DPP.

Posisi PSI sendiri cukup sulit dalam mengajukan calon di Pilwali Surabaya. Itu karena perolehan kursi di DPRD Surabaya hanya 4 kursi (8 persen). Untuk bisa memenuhi syarat mengajukan calon, PSI harus berkoalisi dengan, minimal, dua partai.

Mengacu pada pasal 40 UU 10/2016 tentang Pemilihan Kepala Daerah. Bahwa, partai politik atau gabungan partai politik bisa mengajukan pasangan calon bila memenuhi akumulasi 20 persen suara di DPRD atau 25 persen dari suara sah pada pemilu.

Adapun hasil Pemilihan Umum 2019 lalu untuk DPRD Kota Surabaya, PDI Perjuangan memenangi dengan 15 kursi (30 persen). PKB, Partai Gerindra, PKS, dan Partai Golkar masing-masing 5 kursi (10 persen). Sementara itu, Partai Demokrat dan PSI masing-masing 4 kursi (8 persen). Kemudian, PAN dan Partai Nasdem masing-masing 3 kursi (6 persen). Satu kursi sisanya direbut PPP (2 persen).

PDI Perjungan paling diuntungkan karena sudah langsung bisa mengajukan calon sendiri. PKB, Partai Gerindra, PKS, dan Partai Golkar cukup beruntung karena memiliki masing-masing 5 persen. Dengan berkoalisi 2 partai saja, mereka sudah memenuhi syarat 10 persen.

Sedangkan PSI, karena hanya 4 persen, berkoalisi dengan 1 partai manapun tidak mencukupi jumlah 10 persen. Jadi harus 3 partai. Kecuali PSI merapat ke PDI Perjuangan.

Pada posisi ini, Dhimas Anugrah bisa mengambil inisiatif untuk menjalin komunikasi dengan partai-partai lain. Atau, komunikasi dengan tokoh yang palng berpeluang mendapatkan rekomendasi dari partainya. Sebab biasanya, kandidat yang berhasil mendapat rekan koaliasi, dia hampir pasti mendapat rekomendasi dari partainya sendiri.

Saat ini, Dhimas Anugrah beberapa kali dihubungkan dengan kandidat kuat dari partai Golkar, yakni Wakil Ketua DPD Golkar Jatim K.H. Zahrul Azhar As’ad atau Gus Hans. Kombinasi Gus Hans – Dhimas Anugrah dinilai tepat untuk memimpin Kota Surabaya. Keduanya masih muda dan sama-sama orang cerdas. Gus Hans usia 43 tahun dan Dhimas umur 38 tahun.

Keduanya juga dinilai mewaliki latar budaya masyarakat Surabaya. Gus Hans mewaliki kalangan umat Islam dan Dhimas Anugrah merepresentasikan kalangan nasionalis. Hasilnya menjadi kombinasi Santri-Nasionalis. Hijau – Merah.

Terkait wacana ini, Dhimas Anugrah menanggapi dengan sangat hati-hati. Bahwa, sebagai kader, dia tunduk pada kebijakan partai. Namun secara pribadi, dia menaruh hormat pada sosok Gus Hans.

“Saya pikir gagasan itu masih dalam relung kerinduan. DPP PSI tentu punya hikmat dan keputusan yang perlu diindahkan oleh semua kader, termasuk saya. Tapi secara pribadi saya menilai Gus Hans adalah seorang yang hebat. Saya yakin beliau akan menjadi pemimpin yang amanah, baik untuk kota Surabaya maupun skala nasional,” kata Dimas Anugrah beberapa waktu lalu.

Satu hal lagi yang penting dimiliki oleh Dhimas Anugrah sebelum terjun dalam Pilwali Surabaya. Yakni, kesiapan dana. Bagaimanapun juga, perhelatan Pilwali membutuhkan biaya besar. Terutama biaya kampanye, menggerakkan mesin partai, dan membayar saksi. Tidak mungkin semua biaya ditanggung oleh partai pengusung. Calon pasti dimintai kontribusinya.

Jika memang Dhimas Anugrah tidak siap dengan dana besar, tentu saja, masih ada jalan lain. Jalan keluarnya adalah mencari sponsor. Caranya, Dhimas Anugrah harus mampu meyakinkan bahwa dia berpeluang besar mendapatkan rekomendasi partai dan berpeluang besar pula memenangi Pilwali Surabaya 2020.

Surabaya adalah kota besar. Malah terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Banyak pihak atau investor yang ingin masuk ke Surabaya. Belum lagi pengusaha yang telah mengakar di Surabaya sendiri, mereka dipastikan ingin menjaga hubungan baik dengan calon pemangku pemerintahan. Nah, situasi psikologis itu bisa dimanfaatkan oleh Dhimas Anugrah. Hanya saja, Dhimas Anugrah perlu memilih pihak-pihak yang sesuai dengan visinya dalam membangun Surabaya. Terlebih, bentuk kerja sama harus tetap dalam koridor aturan alias jangan sampai menabrak Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU).

Jalan masih panjang bagi Dhimas Anugrah. Jika benar ingin maju dalam Pilwali Surabaya, dia wajib berhitung secara matang. Yang pasti, melihat kepribadian dan kapasitas intelektualnya, Dhimas Anugrah merupakan sosok yang pantas dipertimbangkan untuk menjadi pemimpin Kota Surabaya. [but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar