Sorotan

Memahami Jawa Timur dalam Perspektif Budaya

Ribut Wijoto

SECARA KEPENDUDUKAN, bersama-sama dengan Jawa Barat dan Jawa Tengah, Jawa Timur masuk dalam 3 provinsi paling gemuk di Indonesia. Tetapi secara budaya, relatif berbeda dengan keduanya, Jawa Timur memiliki keterpecahan. Sebuah pluralitas.

Bila beberapa orang Jawa Timur dikumpulkan dan saling membangkitkan keidentitasannya, kejiwaan yang tertangkap adalah keterbelahan. Tradisional kesilamannya berasal dari tradisi Jawa. Utopia kedepanannya beranjak lurus ke tradisi anti Jawa. Persoalan yang bukannya sukar ditebak.

Tata hidup dan kehidupan dibentuk oleh kejawaan. Hanya saja, Jawa sebagai pusaran tradisi, pusatnya ada di Yogyakarta. Mataram. Jawa Timur, dulu memang, wilayah Mataram, kini, pusat Jawa Timur adalah Surabaya. Ada penolakan yang bersumber dari identitas kejawaan yang telah mapan.

Diskontinuitas muncul dalam benak. Keterputusan antara masa silam dan kekinian. Lebih terputus lagi, kesilaman dengan kedepanan. Padalah untuk menciptakan tradisi budaya sangat membutuhkan keakaran dan keidentitasan yang sama. Satu acuan yang dapat dipakai untuk menciptakan karya budaya yang merupakan gambaran impian format masa depan.

Mungkin, Jawa Timur akan mendapatkan keidentitasannya jauh sebelum Mataram. Dua kerajaan besar pernah hadir di propinsi ini: Singasari (1222-1292) yang menguasai hampir seluruh pulau Jawa, Majapahit (1293-1528) yang justru menguasai hampir seluruh Nusantara. Singasari, kini hanya menyisakan ceceran candi-candi kecil, sulit menjadi simbol Jawa Timur.

Candi Jago yang telah kehilangan separuh badannya, patung Ken Dedes yang kini ada di Leiden, candi Kidal yang hanya berupa bangunan kecil, candi Singasari yang telah rompeng, dan candi-candi lain lebih parah nasibnya. Majapahit pun tidak meninggalkan bangunan megah yang layak menjadi simbol keidentitasan Jawa Timur.

Kecuali dua kerajaan besar tersebut, Jawa Timur pernah dihuni beberapa kerajaan kecil. Darmawangsa, Panjalu, Jenggala, Sumenep, Blambangan, Kahuripan, Dhaha, dan lain-lain. Tragisnya, tradisionalitas (hal-hal yang menjadikannya tradisi) hanya berhenti pada jamannya an sich. Aziz Manna, sejarawan dari Unair Surabaya, dalam sebuah diskusi sempat menyatakan, “masyarakat Jawa termasuk masyarakat yang gemar perang”.

Risiko ada pada kini, warisan yang dapat dijadikan sandar kesatuan simbolik tidak ada. Masing-masing kerajaan telah saling menghancurkan dan menghapus tradisi. Terakhir yang terjadi, kebesaran Majapahit terhapuskan oleh Mataram. Tradisi Majapahit hanya tersisa di masyarakat Tengger, sebuah masyarakat terasing yang primitif bagi ukuran modern, atau di masyarakat Bali.

Keidentitasan Jawa telah direbut Mataram. Tanda-tanda ke arah perebutan itu bukannya tidak kentara, sampai sekarang. Mitologi acuan yang hidup dan mengikat kejawa-timuran tidak terbaca dari masa silam, justru masa mendatang.

Kesejarahan yang tidak mendukung komunalitas diperparah oleh perubahan-perubahan terkini. Masyarakat Jawa Timur tengah bergerak menuju masyarakat ekonomik. Sebuah masyarakat rasional yang mengutamakan perkembangan ekonomi dan teknologi.

I Ketut Nehen dan Glan Iswara, dua dosen Udayana Bali, melihat pertautan yang saling berlawanan antara nilai ekonomi dan nilai seni. Kedua ilmuwan tersebut menuliskan dalam majalah Prisma no 3 tahun XIX 1990, “peningkatan nilai ekonomi berpengaruh terhadap penurunan nilai seni”. Jawa Timur dengan perkembangan bidang ekonominya semakin bersifat individual. Keperluan dan prosesi seni yang berskala masyarakat semakin kekurangan alasan untuk dikerjakan, atau mungkin tidak dibutuhkan.

Dua fakta, kesejarahan dan perkembangan ekonomi, membuat Jawa Timur kehilangan dunia simbolik, sebuah simbol yang universal. Simbol yang bisa diterima atau sedang melandasi aksi dan kreasi menyeluruh bagi masyarakatnya.

Dunia simbolik (symbolik universe) menurut pengertian Peter Berger dan Thomas Luckman dalam buku The Social Contruction of Reality “badan-badan atau bagian tradisi secara teoretis yang membakukan berbagai makna propinsi dan meliputi tatanan institusional dalam suatu totalitas simbolik” tidak terpenuhi di Jawa Timur.

Secara spekulatif dapat ditegaskan, apakah mungkin, “orang-orang Jawa Timur bukan suatu masyarakat melainkan mengacu kepada kerumunan atau organisasi bentukan”.

Pergeseran pusat tradisi masyarakat Jawa Timur sangat penting untuk dicatat. Jawa Timur, dahulu, merupakan bagian kerajaan Mataram, pusatnya ada di Yogyakarta. Kini, Jawa Timur merupakan sebuah provinsi baru, pusatnya ada di Surabaya. Yogyakarta = kejawaan. Surabaya = perekonomian. Golongan bermartabat dalam pandangan Jawa adalah pamong praja (baca: pegawai) dan agamawan (baca: kyai). Pedagang bukan orang terpandang.

Padahal Surabaya, sebagai kota yang sedang bergerak dengan motivasi perekonomian, pedagang sukses mendapat kehormatan besar dari masyarakat.

Orang-orang Jawa Timur berada dalam keakutan pergeseran pusat budaya. Satu sisi menyandang keagungan mitologi kejawaan, di sisi lain menghadapi godaan ekonomi yang glamour.

Surabaya sebagai kota perekonomian juga membuat kehidupan menjadi banal. Komunalitas masyarakat Jawa Timur dibentuk oleh sistem yang bersifat non-spiritual. Desakralitas lembaga agama. Spiritualitas tersisa terdapat dalam seorang perseorang. Individu bebas memilih dan menjalani keagamaan tertentu, wujud transendensi, hubungan personal dengan Tuhan.

Tetapi tunggu dulu, keterpecahan dan ketiadaan dunia simbolik bukan berarti sebuah kelemahan. Kondisional itu bisa pula dimaknai dalam pemahaman positif.

Berada di antara masyarakat Jawa Timur, seseorang akan merasa berada di rumah sendiri. Setiap orang boleh menjadi dirinya sendiri, diperlegalkan menjalani tradisi independen. Kondisi yang tercipta oleh sebab di Jawa Timur tiada dunia simbolik. Berada di Yogyakarta, seseorang dari luar daerah akan terkondisikan untuk beradaptasi dengan tradisi Jawa, pengaruh keraton Yogyakarta terlalu sulit diabaikan.

Jawa Timur merupakan provinsi terbuka. Inilah sebuah kondisi yang bisa disebut puitis. Wilayah yang representaatif untuk datangnya tradisi luar dan gagasan baru. Tradisi dari luar tersebut, dalam skala minimal, dipakai dan dikembangkan oleh lingkup kecil masyarakat pembawanya.

Ada hal penting lain yang patut dicatat, pemahaman masyarakat Jawa Timur terhadap alam. Sebagian besar wilayah Jawa Timur dialiri sungai. Dua sungai yang besar adalah Brantas, sepanjang 317 km, dan Bengawan Solo, sepanjang 540 km. Keberadaan sungai-sungai tersebut, selain untuk pengairan dan transportasi antara daerah, didayagunakan untuk bendungan, pembangkit tenaga energi, perikanan, dan wisata. Selain sungai, ada juga rawa-rawa, telaga, waduk, mata air, dan sumur bor. Berbeda dengan masyarakat Bali, alam di Jawa Timur bersifat profan. Alam kurang dikaitkan dengan ritual-ritual mistis.

Perendaman di dalam alam tidak terjadi pada masyarakat Jawa Timur. Alam tidak dipuja-puja atau diagung-agungkan. Keaslian alam bisa sewaktu-watu diubah, disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Potensi alam didayagunakan untuk kepentingan manusia. Alam sah untuk digali dan diperjual-belikan. Manusia ada di depan alam. Ini mirip dengan gejala antroposentrisme dalam pengertian Nicholas Alexandrovicth Berdyaev, seorang filsuf peletak dasar filsafat eksistensialisme, “manusia adalah pusat alam semesta”. Manusia menentukan bertahan atau terkurasnya nasib alam.

Begitulah Jawa Timur. Provinsi ini bukan sekadar berisi ‘santri dan abangan’ seperti yang ditulis Clifford Geertz pada buku The Religion of Java. Jawa Timur tidak bisa dipahami dari satu sisi. Ada keterpecahan, ada kompleksitas. Memahami Jawa Timur harus masuk dalam ranah spiritualitas kebudayaan, sebuah spiritualitas yang dibangun dari keterpecahan latar masa silam dan utopia masa depan. [but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Resep Nasi Aladin Khas Timur Tengah

Resep Sup Kikil, Gurih dan Empuk

Sup Ikan, Menu Berbuka Puasa Bergizi Tinggi