Iklan Banner Sukun
Sorotan

Melawan Covid-19 dengan Nurani dan Akal Sehat

Ribut Wijoto

Pria usia 43 tahun yang biasa disapa Hans akhirnya memilih untuk menutup sementara kafe miliknya. Pilihan itu, utamanya, bukan perkara sepi atau patuh pada aturan PPKM Darurat. Perkara yang utama, Hans tidak ingin kehilangan teman atau pelanggan.

“Saya akan merasa sangat berdosa kalau sampai mendengar kabar, ada teman atau pelanggan yang sakit bahkan lalu meninggal akibat tertular Covid-19 di kafe saya. Nurani saya yang menuntun saya untuk menutup sementara kafe,” ujar Hans, Sabtu (10/7/2021).

Hans bukanlah pengusaha besar. Yang pasti hidupnya kecukupan. Bisnis utamanya membikin kerajinan tangan. Dia mempekerjakan beberapa beberapa orang. Sejak awal tahun 2021, dia membuka kafe di kawasan Surabaya Timur. Sebenarnya keinginan membuka kafe itu sudah direncanakan tahun-tahun sebelumnya. Tetapi selalu tertunda.

Awal tahun 2020, persiapan sudah sangat matang. Tempat, bangunan, peralatan, dan perlengkapan telah siap. Tinggal menunggu persiapan akhir. Namun tiba-tiba pandemi Covid-19 datang melanda. Rencana Hans kembali tertunda. Hans menunggu pandemi Covid-19 berakhir.

Ditunggu berbulan-bulan ternyata pandemi belum berakhir juga. Setelah semakin paham bahwa pandemi entah kapan berakhir dan merebak wacana tentang new normal alias kehidupan dengan kebiasaan-kebiasaan baru, Hans membulatkan niat membuka kafe. Tentu dengan beberapa penyesuaian dibandingkan dengan rencana awal.

Berbeda dengan kafe-kafe lain yang lebih dulu buka, Hans memulai usaha kafe ketika Covid-19 telah mewabah. Maka, bisa dibilang, kafe milik Hans memang didesain dengan situasi new normal. Pelanggan diwajibkan menerapkan protokol kesehatan. Kafe Hans dilengkapi kran air di 3 titik, hans sanitizer, poster informasi Covid, dan dia menyediakan masker secara gratis.

Meski tidak ramai benar, kafe Hans juga tidak sepi-sepi amat. Hans menjalankan kafe dengan dibantu beberapa karyawan kerajinannya. “Sekitar setengah tahun buka, kita sudah hampir kembali modal,” ujarnya.

Awal Juli 2021, Pemerintah mengumumkan pemberlakukan PPKM Darurat. Terhitung mulai 3 – 20 Juli 2021. Hans tidak kaget. Di akhir Juni 2021, kasus Covid-19 di Surabaya memang melonjak tajam.

Kebijakan PPKM Darurat juga tidak terlalu membawa pengaruh terhadap usaha kafe miliknya. Toh, kafe termasuk usaha makanan dan minuman yang memang masih diperbolehkan beroperasi. Terlebih, kafe Hans hanya buka menjelang siang sampai sore hari.

“Kalaulah ada razia, kafe saya pasti lolos. Di sini kita menerapkan protokol kesehatan. Tapi ada hal lain yang membuat saya memilih untuk sementara menutup kafe,” katanya.

Dengan mimik sedih, Hans bercerita bahwa hati nuraninya terketuk ketika mendengar kabar buruk. “Saya mendengar kabar beberapa pelanggan saya sakit kena Covid. Ada satu yang meninggal. Saya tidak tahu pasti, apakah mereka tertular Covid saat berada di kafe saya. Saya tidak ingin kafe saya menjadi tempat penularan. Memang di sini sudah protokol kesehatan. Tapi itu tidak cukup. Varian Delta ini benar-benar mudah menular. Biarlah saya tutup dulu kafe saya sampai kasus Covid ini menurun,” tutur Hans.

Cerita dan sikap yang disampaikan Hans tidak berlebihan. Sikap Hans justru sesuai dengan suara hati nurani dan pertimbangan akal sehat. Akhir bulan Juni 2021 dan awal Juli 2021, kasus Covid-19 di Surabaya memang merajalela. Banyak warga Surabaya yang terserang virus Corona. Tidak sedikit pula yang meninggal.

Pelayanan antar jenazah serta pasien yang dirujuk ke rumah sakit sudah overload. Kondisi itu membuat penanganan covid-19 di Surabaya cukup membuat kewalahan petugas.

Terhitung pada hari Senin (12/7) akumulasi infeksi covid-19 di Kota Surabaya mencapai 26.101 orang , dengan pasien aktif dalam perawatan sebanyak 963 Orang.

Pemakaman jenazah bahkan menjadi permasalahan tersendiri bagi pemerintah Kota Surabaya karena cukup banyak warga yang isoman di rumah lalu meninggal , di sisi lain keterbatasan jumlah armada ambulans dinsos beserta tenaganya.

Komisi D DPRD Surabaya pun menyarankan Pemkot Surabaya menambah armada ambulans jenazah lonjakan penularan covid-19 yang terus terjadi di Kota Pahlawan.

“Hampir setiap hari kami mendapatkan banyak keluhan terkait penjemputan oleh ambulans jenazah Dinsos melalui Call Center 112 dimana waktu tunggunya bisa sampai empat jam lebih”, kata Ketua Komisi D DPRD kota Surabaya Hj.Khusnul Khotimah, Senin (12/7).

Kenaikan jumlah kematian akibat Covid-19 terlihat pula dari pesanan karangan bunga di sepanjang Jl Kayoon Surabaya. Terjadi peningkatan pesanan 4 kali lipat. “Penjualan memang meningkat. Kalau biasanya sehari sekitar 5 karangan bunga, sekarang pesanan bisa mencapai 15 hingga 20 dalam sehari,” terang Purwanto, pegawai salah satu kios karangan bunga di Kayoon.

Untuk mendapatkan isi ulang oksigen, warga Surabaya juga harus rela antre. Hal itu terlihat dari antrean panjang di Ruko Ngagel Jaya Indah Blok D Surabaya. “Ramai orang mengantre sejak dua minggu ini. Kalau hari ini sejak tadi pagi jam 7 sudah ramai orang antre,” ujar Son, juru parkir setempat, Kamis (15/7/2021). Ditambahkan oleh Son, ruko sebelumnya melayani penjualan tabung tapi saat ini stok tabung sampai kehabisan.

Pemerintah Kota Surabaya pun tidak tinggal diam terhadap peningkatan jumlah pasien Covdi-19. Untuk mengatasi warga yang tidak mendapatkan kamar di rumah sakit, Pemkot Surabaya lantas mendirikan Rumah Sakit Lapangan Tembak.

Pemkot juga membangun rumah sakit darurat di setiap kelurahan. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta jajaran Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRKP CKTR) untuk membantu menyiapkan berbagai fasilitas kesehatannya.

Eri Cahyadi mengeluarkan kebijakan, puskesmas di Surabaya sudah beroperasi selama 24 jam nonstop. “Nanti setiap puskesmas disiapkan petugas kelurahan/kecamatan dan Satpol PP, sehingga apabila sewaktu-waktu warga membutuhkan pertolongan medis maupun penjemputan pasien hingga jenazah, bisa langsung dibantu. Ini harus ditangani secara bersama-sama. Kita maksimalkan untuk menyelematkan warga Surabaya,” kata Wali Kota Eri, Selasa (13/7/2021).

Begitulah, seluruh komponen perlu bersama-sama bergerak melawan pandemi Covid-19. Baik warga maupun pemerintah. Jika mau membuka diri dengan mendengar suara hati nurani sekaligus berpikir dengan akal sehat, pandemi Covid-19 bakal bisa dilewati dengan lebih baik. [but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar