Sorotan

Megawati dan SBY, 2 Rival yang Banyak Kesamaan

Ribut Wijoto

MEGAWATI Soekarno Putri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Dua tokoh yang pernah mendapat kepercayaan besar dari rakyat Indonesia. Kepercayaan di era masing-masing. Dua tokoh yang sama-sama pengendali partai besar, sama-sama membangun dinasti, dan kurang begitu akur.

Jika saja Pemilihan Presiden tahun 1999 memakai sistem coblos langsung oleh rakyat, hampir pasti, Megawati adalah pemenangnya. Ketika itu memang belum musim lembaga survei, belum terlalu dikenal istilah elektabilitas atau tingkat keterlipilhan, belum ada tradisi debat capres. Tetapi, nama Megawati atau kerap disapa Mbak Mega begitu dielu-elukan.

Sayangnya ketika itu Pemilihan Presiden masih dilakukan melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Meski PDIP berhasil memenangi Pemilu, Megawati kalah dari Abdurrahman Wahib (Gus Dur) dan hanya bisa menempati posisi Wakil Presiden Republik Indonesia. Mbak Mega baru bisa menjabat Presiden RI setelah Gus Dur dilengserkan.

Lima tahun berselang, giliran Susilo Bambang Yudhoyono atau biasa disapa SBY menjadi tokoh paling dielu-elukan pada Pilpres 2004. Beberapa kalangan menilai, kemenangan SBY oleh sebab keberadaannya sebagai tokoh yang melas alias tokoh yang tersakiti. Penilaian ini jelas tidak tepat.

SBY diidolakan oleh rakyat Indonesia dan berhasil memenangi Pilpres karena performanya yang karismatik. Dia sosok tentara yang bertubuh gagah, gaya bicara rapi terstruktur, intelektual cerdas, dan tidak grusa-grusu. Saat itu SBY dinilai mampu membawa Bangsa Indonesia tegap melangkah ke depan menuju kemajuan. Kemenangan di Pilres 2004 yang diulangi lagi pada Pilpres 2009.

Walau dua kali gagal memenangi Pilpres, Megawati tetap sebagai politikus paling sukses dalam hal mengelola partai. Saat Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan dideklarasikan pada tahun 1999, Megawati terpilih sebagai ketua umum. Posisi ketua umum itu belum pernah tergantikan sampai sekarang. Megawati tercatat sebagai ketua umum partai terlama di Indonesia, yakni sejak tahun 1999 hingga nanti tahun 2024. Rentang waktu 25 tahun dan sudah dijalani selama 22 tahun.

Tidak terlalu mengherankan Megawati selalu terpilih menjadi Ketua Umum PDI Perjuangan. Selama dalam kepemimpinan Megawati, PDI Perjuangan memang senantiasa mendapat kepercayaan besar dari rakyat Indonesia. Pemilu 1999, PDI Perjuangan menang. Pemilu 2004, PDI Perjuangan berhasil menempati peringkat 2 dalam perolehan suara terbanyak. Pemilu 2009 menempati posisi 3 besar. Lantas pada Pemilu 2014 dan Pemilu 2019, PDI Perjuangan kembali menjadi pemenang.

Sebagai politikus kepartaian, SBY berbeda dengan Megawati yang selalu menjabat posisi ketua umum. Meski menjadi pemprakarsa sekaligus pendiri Partai Demokrat, SBY awalnya justru tidak masuk dalam struktur kepengurusan. Dia memosisikan dirinya sebatas calon presiden dari Partai Demokrat. SBY masuk dalam struktur baru tahun 2005 ketika adik ipar istrinya, yaitu Hadi Utomo, menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Jabatan SBY ketika itu Ketua Dewan Pembina.

Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat yang diadakan di Bali tanggal 30 Maret 2013 menetapkan SBY sebagai Ketua Umum menggantikan Anas Urbaningrum. Posisi Ketua Umum berlanjut untuk periode tahun 2015 – 2020.

Pencapaian Partai Demokrat memang tidak sesukses PDI Perjuangan yang dibesut oleh Megawati. Walau begitu, prestasi Partai Demokrat tidak bisa dianggap sepele. Partai Demokrat pernah memenangi Pemilu 2009. Pemilu selebihnya adalah peringkat kelima di tahun 2004, peringkat empat di tahun 2014, dan peringkat ketujuh di tahun 2019.

Lantas bagaimana hubungan pribadi Megawati dengan SBY?

Tampaknya hanya Megawati dan SBY sendiri yang tahu persis hubungan pribadi antara keduanya. Publik cuma dapat menilai dari luarnya. Yang pasti, sebagai sesama politikus, hubungan Megawati dengan SBY kerap kali dihadapkan dalam situasi rivalitas.

Tanggal 10 Agustus 2001, Presiden Megawati melantik SBY menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam). Dua hari setelah pelantikan, yaitu 12 Agustus 2021, SBY menggelar pertemuan dengan beberapa tokoh di apartemen Hilton. Laman DPD Partai Demokrat Daerah Istimewa Yogyakarta menuliskan, pertemuan di apartemen Hilton dimaksukan untuk menyusun strategi pencalonan SBY di Pilpres 2004. Pertemuan ini pula yang menjadi cikal bakal berdirinya Partai Demokrat.

Partai Demokrat dideklarasikan pada 17 Oktober 2002. Begitu dideklarasikan, Partai Demokrat secara terus terang bakal mengusung SBY maju dalam Pilpres 2004. Kebijakan Partai Demokrat ini secara jelas memoposisikan SBY sebagai rival Megawati yang juga bakal diusung oleh PDI Perjuangan. Artinya, walau dalam satu pemerintahan, Megawati menjabat Presiden dan SBY menjabat Menko Polkam, keduanya adalah rival.

Lalu menjelang Pilpres 2004, SBY mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam dengan alasan merasa tidak dipercayai lagi oleh Presiden Megawati. Pengunduran diri itu terjadi tanggal 11 Maret 2004.

Rivalitas Megawati dan SBY secara formal benar-benar terjadi di Pilres 2004. Megawati maju berpasangan dengan Hasyim Muzadi. Sedangkan SBY maju bersama Jusuf Kalla. SBY menang dan dilantik menjadi Presiden RI.

Ada kisah tersendiri perihal pelantikan SBY sebagai Presiden RI yang digelar 20 Oktober 2004. Megawati enggan datang. Padahal sebelumnya Ketua MPR Hidayat Nur Wahid dan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie sudah berusaha membujuk Megawati untuk datang ke pelantikan. Kubu PDI Perjuangan berargumentasi bahwa tidak ada aturan konstitusional yang mewajibkan presiden sebelumnya menghadiri pelantikan presiden yang baru. Lagi pula, Megawati sudah memberikan ucapan selamat secara formal kepada SBY.

Kemenangan SBY atas Megawati berlanjut di Pilpres 2009. Ketika itu SBY berpasangan dengan Boediono sedangkan Megawati berpasangan dengan Prabowo Subianto.

Pada pelantikan kedua SBY sebagai Presiden RI, tanggal 20 Oktober 2009, Megawati lagi-lagi tidak datang. Tidak hanya itu, selama SBY menjadi Presiden RI, Megawati juga selalu absen dalam acara kenegaraan yang menghadirkan para mantan presiden, seperti perayaan HUT RI di Istana Negara.

Sama-sama sukses, bahkan sama-sama pernah menjadi Presiden RI, Megawati maupun SBY ternyata kompak membangun dinasti. Mendidik dan memberi peluang kepada anak-anaknya untuk menduduki jabatan politik.

Puan Maharani berlari paling kencang di antara kakak-kakaknya. Alumni FISIP Universitas Indonesia (UI) Jurusan Komunikasi Massa ini terpilih sebagai anggota DPR RI periode 2009 – 2014. Di gedung dewan, Puan didaulat menjadi Ketua Fraksi PDI Perjuangan. Selesai dari kursi legislatif, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik Puan menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia untuk periode 2014 dan 2019. Dan selesai di eksekutif, Puan kembali ke legislatif. Putri bungsu Megawati ini terpilih menjadi Ketua DPR RI hingga sekarang.

Dua anak lelaki Megawati memiliki cerita berbeda terkait dunia politik. Prananda Prabowo tidak duduk di kursi dewan atau masuk di pemerintahan. Dia aktif di internal PDI Perjuangan sebagai Ketua Bidang Ekonomi Kreatif periode 2015-2020. Sebelumnya, di PDI Perjuangan, ia malah sebatas Kepala Ruang Pengendali dan Analisis Situasi. Sedangkan putra tertua Megawati, Mohammad Rizki Pratama, memilih menjadi pengusaha dan enggan masuk di dunia politik.

SBY memiliki dua putra dan kedua-duanya terjun di dunia politik. Agus Harimurti Yudhoyono atau kerap disapa AHY dan Edhie Baskoro Yudhoyono yang biasa disapa Ibas.

AHY semula meniti karier di Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tetapi baru berpangkat Mayor, AHY mengundurkan diri dan memilih jadi politikus, yakni ketika dia didaulat menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta tahun 2016. Gagal memang di Pilgub DKI, AHY masuk Partai Demokrat dan langsung ditunjuk menjadi Komandan Komando Tugas Bersama (Kogasma) untuk pemenangan Pileg 2019. Pada Kongres ke-5, secara aklamasi, AHY terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat periode 2020–2025.

Ibas masuk ke dunia politik mendahului kakaknya. Tahun 2009, Ibas sudah terpilih menjadi anggota DPR RI. Setahun kemudian, Ibas dipercaya menduduki posisi Sekretaris Jenderal Partai Demokrat. Ketika Anas Urbaningrum mundur dari jabatan Ketua Umum Partai Demokrat di tahun 2013, partai ini kian lengkap berada di genggaman keluarga SBY. Di mana saat itu, SBY menjadi Ketua Umum sedangkan posisi Sekjen dipegang oleh Ibas. Dan saat ini, di Partai Demokrat, SBY memegang posisi Ketua Majelis Tinggi, AHY sebagai Ketua Umum, Ibas menduduki posisi Wakil Ketua Umum.

Dalam rentang waktu 20 tahun terakhir, kubu Megawati dan kubu SBY seakan bergiliran memegang kendali pemerintahan di Indonesia. Begitu Megawati selesai menjadi Presiden RI tahun 2004, tampuk pemerintahan selama 10 tahun dipegang oleh SBY. Sedangkan begitu selesai menjadi Presiden RI tahun 2014, selama 10 tahun, tampuk pemerintahan di bawah kendali kader PDI Perjuangan, yakni Jokowi.

Megawati mengambil sikap oposisi selama Pemerintahan Presiden SBY. Sebaliknya, SBY juga memilih berada di luar kabinet selama Pemerintahan Presiden Jokowi.

Lantas bagaimana hubungan pribadi Megawati dengan SBY?

Puan Maharani pernah memberi jawaban. Menurut Puan, hubungan Megawati dan SBY baik-baik saja.

Mungkin jawaban Puan benar, mungkin pula tidak benar. Tetapi faktanya, baik Megawati maupun SBY, keduanya saling menghormati. SBY menjadi inspektur upacara saat pemakaman suami Megawati, yaitu Taufiq Kiemas, hari Minggu (9 Juni 2013). Megawati juga datang ke TMP Kalibata Jakarta saat pemakaman istri SBY, yaitu Ani Yudhoyono, hari Minggu (2 Juni 2019). [but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar