Sorotan

Masalembu dengan Fasilitas Memprihatinkan

Masalembu merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Sumenep, yang terletak di lepas pantai pulau Jawa. Secara adminiatratif terdiri dari empat desa dari tiga kepulauan berbeda, yakni Desa Masalima, Desa Sukajeruk (satu pulau), Desa Masakambing, dan Desa Keramian.

Kepulauan terluar dengan total luas wilayah 40,85 Kilo MeterĀ² merupakan kepulauan dengan jumlah penduduk yang relatif padat, di mana total penduduk hampir mencapai angka 22 ribu yang tersebar di empat desa berbeda di kepulauan yang kerap disebut Pulau Thamphomas II.

Kepadatan penduduk sebagian besar didominasi warga yang bekerja sebagai buruh nelayan, terlebih keberadaan Pulau Masalembu secara geografis terletak hampir di tengah Pulau Madura di sisi selatan dan Pulau Kalimantan di sisi utara.

Hanya saja kepadatan penduduk dengan aneka ragam Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiki, terdapat sejumlah kekurangan berbagai fasilitas yang semestinya harus disiapkan khususnya oleh pemerintah daerah, dalam hal ini Pemkab Sumenep.

Salah satunya yaitu infrastruktur, di mana dalam beberapa tahun terakhir justru tidak ada perubahan maupun perbaikan dari aspek infrastruktur. Bahkan kondisi tersebut cenderung memunculkan asumsi jika kepulauan yang memiliki salah satu kekayaan alam Burung Kakak Tua, selalu “diajak tirikan” dibandingkan kepulauan lain di wilayah Sumenep.

Semisal di Desa Masalima dan Desa Sukajeruk, hampir tidak ditemukan satu ruas jalan yang dapat dikatagprikan baik khususnya untuk ruas jalan kabupaten (kecamatan). Kondisi tersebut bertahan cukup lama, tidak hanya satu atau dua tahun. Bahkan puluhan tahun dibiarkan tanpa ada perbaikan.

Termasuk juga fasilitas telekomunkasi, sekalipun terdapat PT Telkom justru sebagian besar masyarakat beralih menggunakan telpon genggam alias handphone (Hp) karena keberadaan saluran seluler di wilayah setempat. Namun dari dua tower telekomunikasi yang tertancap di Bumi Masalembu, hanya tower saluran Telkomsel yang beroperasi. Sedangkan towel XL belum beroperasi sekalipun sarana penunjang sudah terpasang sejak beberapa tahun terakhir.

Beroperasinya saluran Telkomsel memang menjadi oase bagi masyarakat Masalembu, sekalipun terdapat aneka ragam keluhan dari masyarakat sejak resmi beroperasi. Terlebih jaringan Telkomsel yang beroperasi justru tidak memberikan “layanan” yang memuaskan bagi masyarakat khususnya para pengguna jasa.

Memang keberadaan jaringan Telkomsel sempat beroperasi normal dengan jaringan 3G, khususnya saat Bupati Sumenep, Abuya Busyro Karim bersama rombongan sempat melakukan kunjungan ke Masalembu. Namun saat orang nomor satu di lingkungan Pemkab Sumenep, kembali ke “Madura Daratan”, jaringan yang semestinya dirasakan masyarakat justru ikut “kembali” ke Madura Daratan.

Tidak ayal kondisi tersebut justru memunculkan berbagai asumsi jika pihak Telkomsel sengaja melakukan hal itu karena masyarakat hanya bergantung pada satu jaringan semata, bahkan tidak menutup kemungkinan jika jaringan XL juga beroperasi dan menjadi sebuah kemungkinan jaringan telekomunkasi berjalan normal seperti di daerah lain.

Hal tersebut mengakibatkan masyarakat cenderung kekurangan informasi seputar informasi terbaru yang semestinya mereka dapat seperti di daerah lain, termasuk seputar wabah virus corona alias Covid-19 yang semestinya harus diwaspadai masyarakat.

Sebab sekalipun para aparat dari jajaran pemerintah kecamatan, desa, TNI-Polri hingga tenaga kesehatan gencar melakukan sosialisasi seputar bahaya Covid-19, masyarakat justru sebaliknya dan cenderung “santai” menghadapi pandemi. Hal tersebut tentunya tidak lepas dari minimnya fasilitas bagi masyarakat. [Bersambung]





Apa Reaksi Anda?

Komentar