Sorotan

Makrun, Gus Nur dan Zainudin

Dr H Dhimam Abror Djuraid

Tiga nama itu lagi viral dan menjadi trending topik dunia. Emmanuel Macron, Presiden Prancis, Zinedine Zidane, pelatih Prancis di klub sepakbola Real Madrid, Spanyol, dan Khabib Nurmegamedov, juara dunia tarung bebas kelas ringan asal Rusia.

Ketiga nama itu kebetulan sangat mirip dengan nama-nama Indonesia. Macron, dalam ejaan Prancis dibaca “Makrong”, tapi di Indonesia dibaca Makrun. Zinadine Zidane, dalam lidah Indonesia akan berbunyi Zainudin Zidane.

Nama Khabib Nurmegamedov di Indonesia menjadi Habib Nurmuhammad, karena Megamedov adalah sebutan “Muhammad” dalam bahasa Rusia. Kalau Khabib tinggal di Jawa Timur mungkin panggilannya menjadi “Gus Nur”

Ketiga tokoh itu secara kebetulan dan bersamaan menjadi cerminan wajah Islam di dunia internasional beberapa hari terakhir ini.

Khabib menjadi juara dunia tarung bebas UFC (Ultimate Fighting Championship) tak terkalahkan dan pantas dinobatkan menjadi salah satu petarung terbesar sepanjang masa.

Dalam pertandingan Minggu (25/10/2020) Khabib secara sensasional menghentikan perlawanan Justin Gaetjhe dari Amerika Serikat di ronde kedua dengan jepitan kaki “triangle choke” yang membuat Gaetjhe lemas menyerah tak berdaya.

Khabib tidak melakukan selebrasi. Dia melakukan sujud syukur dan menangis emosional. Ini adalah pertandingan fenomenal karena menjadi pertandingan terakhir Khabib.

Segera setelah itu Khabib, dengan berurai air mata, mengumumkan pengunduran dirinya dari arena tarung UFC. Khabib sangat terpukul karena Juli lalu ayah dan sekaligus pelatihnya Abdulmanap Nurmegamedov meninggal dunia karena Covid 19.

Ibu Khabib memintanya untuk membatalkan pertarungan melawan Gaetjhe. Khabib meminta izin supaya diperkenankan melawan Gaetjhe dan berjanji akan mengundurkan diri dari dunia tarung UFC setelahnya.

Dari atas panggung octagon Khabib menyerukan kepada Gaetjhe dan semua audiens untuk menyayangi dan mengasihi ibu. “Sayangilah ibu kalian selagi ia masih hidup, kita tidak tahu apa yang akan terjadi”.

Khabib adalah singa kutub tak kenal takut. Pertarungan Khabib selalu membawa warna “clash of civilization”, tarung peradaban, karena Khabib adalah representasi muslim.

Ia berasal dari Rusia, dari negara bagian Dagestan yang muslim. Ia bangga dengan latar belakang agama dan etnisnya. Ia selalu mengenakan topi khas Papakha dari bulu domba.

Khabib santun dan khusyuk. Selalu mengucapkan salam sebelum masuk arena dengan mengatupkan kedua tangan di dada. Ia selalu mengucap hamdalah dalam setiap pidato kemenangan.

Tubuhnya yang liat dan berotot bersih dan jenggotnya terpangkas rapi. Tak ada satu titik tato di badannya. Sangat kontras dengan jagoan UFC yang umumnya bertato di sekujur tubuh dan bersikap berangasan.

Musuh terbesar Khabib adalah jagoan tak terkalahkan dari Irlandia, Conor McGregor. Sangar, mengerikan, seluruh tubuhnya penuh tato yang membuat nyali lawat mengerut. Tapi Khabib meladeni McGregor tanpa rasa takut. Dalam dua ronde Khabib bisa menghentikan perlawanan McGregor dengan membantingnya ke lantai dan mengunci lehernya dengan cekikan. McGregor menyerah.

Nama Khabib sejajar dengan legenda tinju muslim seperti Muhamad Ali dan Mike Tyson.

Zinadine Zidane, biasa dipanggil Zizou, adalah legenda hidup sepakbola. Ia lahir di Prancis dari orangtua imigran asal Aljazair. Zidane membawa timnas Prancis juara dunia dan merajai Eropa. Bersama Real Madrid, Zidane menjadi juara Liga Champions Eropa. Sekarang Zidane melatih Madrid dan menjadi satu-satunya pelatih yang sanggup memenangkan Liga Champions tiga kali berturut-turut.

Pesepakbola top muslim bertebaran di berbagai klub papan atas Eropa. Karim Benzema di Real Madrid, Ousmane Dembele di Barcelona, Paul Pogba di Manchester United, Mesut Ozil di Arsenal, Mohammad Salah dan Sadio Mane di Liverpool, Riyadh Mahrez di Manchester City, Hakim Ziyech dan N’golo Kante di Chelsea, dan masih banyak lagi.

Mohamad Salah asal Mesir dan Sadio Mane asal Senegal dipuja bak dewa di Liverpool. Setiap akhir pekan 50 ribu suporter fanatik The Reds Liverpool bergemuruh menyanyikan “chant” untuk Salah. “Jika Islam adalah agamamu biar saja aku menjadi muslim”, begitu gemuruh di Anfield.

Dua puluh tahun Liverpool tidak bisa menjadi juara English Premier League. Berkat Salah dan Mane puasa gelar itu berakhir dan Liverpool menjadi juara tahun ini.

Islam pun harum di Liverpool, di Inggris, dan di Eropa. Bersama dengan Firmino striker asal Brazil, Mane, dan Salah disebut sebagai “Trio Firmansah”, Firmino, Mane, Salah, yang amat ditakuti di Eropa. Musim kompetisi 2019 Liverpool menjadi The King of Europe, Raja Eropa, setelah menjadi juara Liga Champions.

Wajah Islam di kalangan pesepakbola Eropa juga melekat pada megabintang Cristiano Ronaldo. Meskipun bukan muslim Ronaldo adalah donatur tetap Palestina.

Ronaldo yang sekarang bermain di klub Italia Juventus adalah sangat bersimpati terhadap Islam dan tekun mempelajari Islam. Ronaldo tak segan mengucapkan “Insya Allah” dalam beberapa kali wawancara. Ronaldo juga pendukung setia Khabib Nurmegamedov.

Kalau pesepakbola muslim di Eropa itu dikumpulkan dalam satu kesebelasan lalu dilatih oleh Zizou akan mampu menjadi juara Eropa atau bahkan juara dunia.

Para konglomerat muslim Timur Tengah sekarang menjadi owner klub-klub besar di Eropa. Nasser Alkhalefi di Paris Saint German, Syaikh Mansour Zayed Al Nahyan di Manchester City, Farhan Moshiri di Everton. Belum lagi Mohammad Bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi, yang masih terus mengincar Manchester United.

Di dunia basket MBA banyak atlet muslim legendaris mulai dari Kareem Abdul Jabbar, Hakim Olajuwon, Shaquile O’Neil. Di dunia tinju Muhammad Ali dan Mike Tyson menjadi petinju muslim terbesar sepanjang zaman.

Wajah-wajah Islam yang cerah dan menyegarkan itu tak terlihat di mata Macron. Padahal ia menyaksikannya di depan mata kepalanya. Ia masih melihat Islam dalam gambaran keterbelakangan, kemiskinan, barbarisme, dan terorisme.

Macron politisi muda cemerlang. Sekarang usianya 42 tahun dan sudah menjadi presiden ad interim Prancis dalam usia 39 tahun. Ia menikahi gurunya di SMA, Brigitte Macron yang sekarang berusia 67 tahun.

Macron dianggap masih dihinggapi Islamofobia dan tidak sensitif terhadap Islam. Ketika wali murid yang marah membunuh guru yang mamamerkan kartun bergambar Nabi Muhammad di kelas, Macron mengecam keras dengan pernyataan yang mendiskreditkan Islam.

Seluruh dunia Islam bereaksi keras. Presiden Turki Tayep Recep Erdogan yang selama ini selalu berseteru dengan Macron menyerukan boikot total terhadap produk Prancis.

Ironis memang. Prancis yang melahirkan semboyan kebebasan, keadilan, persaudaraan, liberté, égalité, fraternité, melalui Revolusi 1789 malah memperlakukan warga muslimnya secara diskriminatif.

Konsep kebebasan, keadilan, dan persaudaraan digagas oleh Jean Jaques Rosseau yang menjadi inspirasi utama rakyat Prancis untuk menghancurkan kezaliman penguasa feodal dengan menyerbu penjara Bastille yang menjadi simbol rezim.

Raja Louis XVI lambang feodalisme terakhir dipancung lehernya di bawah guilotine pada 1792 dan lahirlah Republik Prancis.

Revolusi demi kebebasan tidak selamanya melahirkan kebebasan. Prancis malah dikuasai diktator Kaisar Napoleon yang menebar perang di penjuru Eropa dan Afrika sejak berkuasa sepuluh tahun sejak 1804 sampai 1814.

Prancis menjadi republik yang lebih demokratis pasca Napoleon. Tetapi warisan revolusi Prancis yang sekuler membuat negara itu melakukan pemisahan yang sangat keras antara negara dan agama. Semangat revolusi Prancis yang sekuleritis itu menjalar ke seluruh Eropa.

Prancis dan Eropa, kata Ben Saphiro dalam “The Right Side of History” (2020) berada pada sisi sejarah yang salah karena menghilangkan peran agama dalam demokrasi.

Menurut Saphiro revolusi Amerika Serikat 1776 berada pada sisi sejarah yang benar, the right side of history, karena memberi tempat yang tepat terhadap agama.

Deklarasi kemerdekaan Amerika, menurut Saphiro, didasarkan pada dua poros, “Poros Athena” dan “Poros Jerusalem”. Poros Athena, Yunani, adalah poros akal dan rasionalitas, dan Poros Jerusalem adalah poros agama dan iman.

Sampai sekarang, menjelang Pilpres Amerika 3 November, tarik-menarik antara konservatisme agama vs liberalisme-sekuler masih tetap sangat kuat. Konservatisme diwakili oleh kubu inkumben Donald Trump-Mike Pence dari Partai Republik berhadapan dengan penantang Joe Biden-Kamala Harris dari Partai Demokrat yang liberal.

Kemenangan Trump akan diwarnai dengan menguatnya peran agama dalam politik, dan sebaliknya kemenangan Biden akan membawa kebebasan individual lebih besar dan meminimalkan peran agama.

Di Indonesia Habibie berbicara mengenai “Imtak” paduan iman dan takwa. Jargon Habibie “Otak Jerman, Hati Mekkah” sama dengan konsep dua poros Ben Saphiro.

Pancasila adalah adonan yang pas antara dua poros itu. Pancasila yang memberi peran yang penting pada agama tanpa harus menjadi negara agama akan menempatkan Indonesia pada “the right side of history”, sisi sejarah yang benar.

Karena itu reaksi keras pemerintah dan masyarakat Indonesia terhadap kasus Makron bisa dipahami, meskipun ada juga reaksi yang rada emosional dengan menyerukan boikot terhadap produk Prancis.

Tanpa seruan boikot pun kita sudah melakukan boikot alamiah terhadap beberapa produk Prancis karena harganya yang tidak terjangkau kantong.

Mungkin boikot “endek-endekan” dengan tidak membeli produk Danone, seperti air kemasan atau roti biskuit, kita masih boleh tahan.

Tapi untuk produk-produk high-end Prancis kita sudah otomatis boikot seumur hidup karena tidak mampu beli Louis Vuitton, Hermes, Chanel, Peuggeot, Citroen. (*)





Apa Reaksi Anda?

Komentar