Sorotan

Makna Haji di Mata Ali Syariati (3)

Ainur Rohim, Penanggung Jawab beritajatim.com dan Ketua PWI Jatim

Satu bangunan penting yang menjadi perhatian seluruh umat Islam sedunia, khususnya yang sedang beribadah haji dan umrah, adalah Ka’bah. Properti ini terbangun dari batu hitam yang di sela-selanya diisi dengan kapur putih dan tersusun secara sederhana.

Ka’bah hanya sebuah bangunan berbentuk kubus yang kosong, namun engkau (muslim dan muslimin) bisa tergetar dan terhenyak dengan apa yang engkau saksikan. Ka’bah menjadi pusat keyakinan, salat, cinta, dan kematian kita, kata Dr Ali Syariati, intelektual Islam Iran yang berperan besar dalam mematangkan latar sosiologis, politik, dan kultural masyarakat Iran sebelum revolusi Islam bergerak ke titik puncak pada bulan Februari 1979.

Terletak di tengah-tengah Masjidil Haram di Kota Makkah, Ka’bah yang dibangun di masa Nabi Ibrahim AS tersebut, menurut Syariati, adalah properti sederhana, yang tidak merefleksikan kepiawaian arsitektural bersifat mewah.

“Tapi, Ka’bah merupakan rambu penunjuk jalan, pedoman arah, dan bukan tujuanmu. Ka’bah yang ingin engkau terbangi agar dapat berhubungan dengan Yang Maha Mutlak dan Maha Abadi adalah atap untuk perasaanmu. Ini adalah sesuatu yang tak dapat engkau capai di duniamu yang terfragmentasi dan relatif,” tambah Ali Syariati.

Sebagai ritual ibadah teologis yang diwarnai dengan banyak gerakan dan mobilitas, haji, kata Syariati, menjadi ibadah yang bergerak menuju keabadian. Menurut dia, pergerakan ini bersifat abadi menuju Allah SWT dan bukan menuju Ka’bah. Ka’bah menjadi awal pergerakan, bukan akhir pergerakan.

“Ka’bah adalah tempat bertemunya Allah SWT, Ibrahim AS, Muhammad SAW, dan umat manusia. Engkau akan hadir di sana hanya jika benakmu tidak terpikat oleh pikiran-pikiran bersifat egosentris. Engkau tidak diizinkan memasuki rumah suci ini jika engkau masih memikirkan dirimu sendiri (egois). Pemilik Kota Makkah adalah Allah SWT, sedang manusia yang ada di sana sekadar menghuni,” tegas Ali Syariati.

Bangunan berbentuk kubus bernama Ka’bah ini tidak punya arah. Syariati menguraikan, dengan menghadap Ka’bah bagi umat Islam yang sedang menjalankan salat, maka manusia telah memilih arah Allah SWT dan menghadap kepada-Nya.

“Ka’bah melambangkan ketidakberubahan dan keabadian Allah SWT. Lingkaran yang bergerak menunjukkan aktifitas dan transisi yang berkesinambungan dari makhluk-Nya. Ketidakberubahan plus gerakan plus disiplin menghasilkan tawaf,” jelas Syariati.

Sebagai seorang intelektual yang berbaur dengan masyarakat yang banyak mewarnai pencerahan latar sosial, politik, ekonomi, kultural, dan antropologi bangsanya (Iran), Ali Syariati menaruh perhatian besar pentingnya intelektual pemikir yang bersentuhan langsung dengan problem praktis dan obyektif warga. Seorang intelektual muslim tak sepatutnya berperilaku layaknya seorang rahib: berdiam diri di dalam biara.

“Jalan Allah SWT adalah jalan umat manusia,” tukas Ali Syariati. Maksudnya, untuk mendekati Allah SWT, manusia harus lebih dulu mendekati manusia. Untuk mencapai kesalehan manusia harus benar-benar terlibat dalam berbagai problem manusia lainnya.

“Aktiflah terjun ke lapangan melakukan kedermawanan, ketaatan, dan mengorbankan kepentingan diri sendiri (egoisme), menderita dalam tahanan dan pengasingan, menahan rasa sakit siksaan dan menghadapi berbagai macam bahaya. Beginilah caranya engkau bersama umat manusia sebagai arena untuk engkau dapat mendekati Allah SWT. Dengan bersikap dermawan, baik hati kepada orang lain, dan mengabdi kepada ummah, engkau akan menemukan jati diri dan realitasmu,” ungkap Ali Syariati.

Sumbangsih terbesar Ali Syariati dalam konteks perubahan sosial, politik, dan pemikiran sosiologi keagamaan di banyak negara Dunia Ketiga adalah dia menyadarkan bahwa kesadaran agama itu penting dan mampu menggerakkan revolusi damai, bukan sekadar kesadaran kelas dan kesadaran politik palsu.

Dibandingkan dengan revolusi Perancis yang digerakkan Liberalisme-Sekulerisme dan revolusi Bolshevik (Rusia) yang diilhami nilai-nilai Marxisme, Leninisme, dan Komunisme, revolusi Islam Iran yang merujuk nilai-nilai spritualitas Islam, lebih spesifik Islam Syiah, jauh lebih kecil korbannya.

Revolusi yang inheren dengan perubahan secara fundamental dan menyangkut seluruh aspek kehidupan sebuah negara, seringkali menelan ongkos politik, ekonomi, sosial, dan kemanusiaan begitu mahal.

Hal demikian tak terjadi pada revolusi Islam Iran, di mana revolusi yang digerakkan dengan pandangan dunia berupa nilai-nilai religiusitas-spiritualitas itu berjalan lebih smooth dan tenang dibanding dengan revolusi yang dilandasi pemikiran Sekulerisme-Materialisme seperti pada revolusi Perancis dan Rusia.

Tentu saja kesadaran agama dalam konteks ini bukan agama dalam pemahaman umum, yang sekadar menekankan pada aktifitas ritual dan rigid menyangkut hubungan antara makhluk dengan sang Khaliq.

Tapi, agama dalam perspektif ini adalah nilai-nilai spiritualitas dan religiusitas yang telah mengalami ideologisasi, sehingga mampu memberikan kekuatan revolusioner dan progresif. Karena itu, dalam melihat revolusi Islam Iran bisa dikatakan sebagai double movement atau gerakan ganda revolusi.

Pertama, revolusi nasional yang bertujuan mengakhiri imperialisme Barat di negara itu. Kedua, revolusi sosial dengan target normatif untuk menghapus segala bentuk penindasan, kesenjangan kelas, dan kemiskinan di lingkungan warga Iran. Kedua, revolusi itu mampu berjalan baik di Iran, karena kaum rausanfikr (intelektual pemikir) mampu jadi agen dan artikulator tangguh.

Jiwa Syariati sadar menjalankan misi suci ini, karena jiwanya telah tertanam teologi Islam pembebasan. Dalam konteks ini Islam Syiah Merah, bukan Syiah Hitam.

Buah pemikiran Ali Syariati yang berkonten sosiologi agama, politik, dan termasuk tentang makna haji, memberikan pengaruh dan sentuhan penting bagi konsolidasi dan penguatan ukhuwah umat Islam di tataran global. Ibadah haji jadi pilar penting doktrin Islam, selain tauhid dan jihad. Banyak hikmah dan spirit ummah yang bersumber dari ibadah haji sebagaimana dimaknai Ali Syariati. [air/habis]


Apa Reaksi Anda?

Komentar