Sorotan

Makna Haji di Mata Ali Syariati (2)

Ainur Rohim, Penanggung Jawab beritajatim.com dan Ketua PWI Jatim

Pemikiran Islam Dr Ali Syariati bersifat revolusioner dan progresif. Bagi Syariati, Islam Syiah di Iran selama 7 abad sampai Dinasti Safavi, Syi’isme (Alavi) merupakan gerakan revolusioner dalam sejarah, yang gigih berjuang menentang otoriterisme Dinasti Umayyah, Abbasiyah, Mongol, Saljuk, Ghaznawiyah, dan lainnya.

“Islam Syiah Merah sebagai kelompok revolusioner gigih berjuang membebaskan kelompok yang tertindas dan pencari keadilan,” kata Syariati, yang meraih gelar doktor (S-3) bidang sosiologi dari Sorbonne University Prancis.

Ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima menjadi pilar penting doktrin Islam selain tauhid dan jihad. Banyak hikmah dan spirit ummah yang bersumber dari haji.

Bagi Ali Syariati, ibadah haji sebagai pilar penting doktrin Islam tak sekadar berupa ritual teologis yang digariskan dalam Al Qur’an dan Al Hadits. Lebih dari itu, haji menyatukan umat Islam dalam perspektif ukhuwah yang mengarahkan pada konsolidasi kekuatan Islam di tataran global. Nilai-nilai keakuan hancur lebur dan berubah menjadi ‘kita’ sebagai umat Rasulullah SAW. Kita adalah satu dan satu adalah kita.

Sebelum seorang muslim itu menjalankan ibadah haji, menurut Syariati, yang bersangkutan mesti membersihkan dirinya secara rohani dan jasmani secara kaffah. Maknanya, seorang muslim harus melunasi utang-utangnya, dan membersihkan dirinya dari rasa benci, marah terhadap sanak saudara dan kerabat keluarganya.

“Jangan lupa tulislah surat wasiat untuk keluarga yang ditinggalkan,” tukasnya. Sebab, perjalanan ibadah haji menempuh jarak jauh, temponya lama, resikonya besar, dan lainnya.

Terlebih di masa lalu, misalnya, seorang jemaah haji dari Indonesia harus berlayar dengan kapal laut berbulan-bulan untuk sampai Pelabuhan Jeddah. Lantas menunaikan ibadah haji di Makkah dan berziarah ke makam Rasulullah Muhammad SAW di Kota Madinah.

Bagi Syariati, seorang jemaah haji hakikatnya menjalankan langkah-langkah persiapan menuju kematian (yang entah kapan menimpa seorang umat Muhammad SAW) dan menjamin kesucian pribadi serta finansial dan melambangkan detik-detik perpisahan dan masa depan manusia dengan dunia yang fana ini.

Pertunjukan haji diawali dengan Miqat (tempat mengenakan pakaian ihram). Dalam paparannya, Syariati mengemukakan bahwa pakaian manusia itu menunjukkan pola dan menggambarkan variasi diferensiasi manusia yang didasarkan pada jenis kelamin, ras, suku, bangsa, agama, status sosial, tingkat akses kekayaan, dan lainnya. “Preferensi, status, dan perbedaan itu bisa ditunjukkan dari pola pakaian yang dikenakan manusia,” katanya.

Semua perbedaan yang bersumber dari pakaian tersebut, tambah Syariati, menciptakan batas-batas palsu yang menyebabkan pemisahan di antara manusia. Sebagian besar pemisahan di antara manusia melahirkan politik diskriminasi.

“Diskriminasi yang diwarnai status sosial berbeda melahirkan tuan dengan hamba, penindas dengan yang ditindas, penjajah dengan yang dijajah, pemeras dengan yang diperas, yang kuat dengan yang lemah, yang kaya dengan yang miskin, yang terhormat dengan yang terhina, kaum ningrat dengan kaum jelata, yang beradab dengan yang tidak beradab, dan seterusnya,” tegas Syariati.

Saat memulai ibadah haji, seorang muslim yang sedang Miqat menanggalkan semua pakaian yang merepresentasikan aneka ragam perbedaan tersebut. Seorang muslim hanya mengenakan dua helai kain putih polos. Semuanya sama. Tak ada perbedaan antara si kaya dengan si pas-pasan, yang ningrat dengan yang jelata, yang berkulit putih dan kuning dengan yang berkulit hitam dan sawo matang, serta dimensi diferensiasi lainnya.

Ali Syariati memberikan eksplanasi lebih dalam tentang potret seorang muslim saat Miqat. Menurutnya, di Miqat tidak peduli dari ras dan suku apapun, seorang muslim harus mengangkat semua penutup yang dipakainya dalam kehidupan sehari-hari yang bagaikan serigala (lambang kekejaman dan penindasan), tikus (lambang kelicikan dan kerakusan), rubah (lambang tipu daya), dan domba (lambang penghambaan).

“Karena itu, ibadah haji merupakan gerakan. Manusia memutuskan kembali kepada Allah SWT. Semua ego dan kecenderungan kepentingan kehidupan duniawi ditinggalkan dan dikubur di Miqat. Manusia menyaksikan mayatnya sendiri dan menziarahi kuburannya sendiri. Dengan peristiwa ini, manusia diingatkan kepada tujuan akhir kehidupannya yang sejati,” ingatnya.

Dengan potret seperti itu, menurut Syariati, ibadah haji menggambarkan prinsip satu adalah semua dan semua adalah satu. Semua orang sama. Masyarakat politeis (musyrik) berganti jadi masyarakat monoteis (tauhid) atau umat tauhid.

“Inilah umat atau masyarakat yang berada di atas jalan yang benar. Inilah ummah yang harus sempurna, aktif, dan dipimpin oleh pemimpin Islam (Imam). Kumpulan jutaan manusia itu menjadi satu bangsa atau ummah. Segala keakuan telah mati di Miqat dan yang ada kini hanyalah ‘kita’,” tegas Ali Syariati. [air/bersambung]


Apa Reaksi Anda?

Komentar