Sorotan

Esai Hari Buku

Madilog di Kalibata dan Marx yang Mati di Kursi

Dari sebuah buku, saya belajar untuk tidak terlalu percaya diri dalam menghadapi anomali dan kemungkinan: bahwa kehendak orang banyak tak pernah bisa ditebak. Dan karenanya sebuah buku tak pernah sederhana.

Ditemani sebotol bir hitam, kawan saya itu (dia seorang penerbit) mulai menyinggung salah satu buku saya. “Belum sampai 500 eksemplar, Mas,” katanya. Angka 500 eksemplar adalah angka aman bagi penerbit untuk meraih keuntungan.

Dia sendiri mengaku belum menemukan formulasi buku yang laku. Naskah yang bagus tentu saja masih jadi syarat utama. Berikutnya perwajahan dan promosi. Namun, memenuhi semua syarat itu dengan baik dan benar belum menjamin sebuah buku bakal laku. Bahkan jika nama penulisnya terkenal sekalipun.

Kawan saya itu mencoba menerbitkan buku berisi kumpulan kutipan atau kata-kata menarik salah satu selebritas media sosial yang memiliki jumlah pengikut melimpah. Tampilan buku dibikin semenarik mungkin. Begitu pula promosinya. Hasilnya? Jeblok. Tak sesuai harapan. Padahal buku sejenis dari penulis yang berbeda justru sudah memasuki masa cetak ulang.

Jadi buku yang bagus tak selalu berbanding lurus dengan penjualan. Ada buku best seller yang justru isinya lebih banyak ilustrasi gambar dan kutipan-kutipan daripada topik yang lebih naratif dan serius. Ini terjadi bukan hanya pada buku fiksi, tapi juga non fiksi.

Seorang penulis di Indonesia (terutama jika Anda belum mengikuti penggemar) harus pandai-pandai pula menjadi pemasar yang baik. Itu jika ingin bukunya laku. Penerbit memang punya kewajibam untuk mempromosikan dan menjual buku itu. Namun bergantung pada penerbit belaka tak cukup. Penulis menghadapi pasar ribuan judul buku dengan pembeli yang berdaulat dan kadang tak sepenuhnya peduli.

Pembaca, atau tepatnya pembeli, buku di Indonesia bukan tipe loyalis atau ‘ideologis’. ‘Ideologis’ yang saya maksud di sini adalah tipe pembaca yang membeli buku karena menyukai ide-ide dan kreativitas dalam buku-buku, apapun itu dan siapapun penulisnya. Sebagian pembeli buku adalah trend follower. Pengikut tren. Mereka membeli buku karena tak ingin ketinggalan zaman dan agar bisa dipamerkan swafoto di akun media sosial. Tren buku adalah bagian dari penanda gengsi dan gaya hidup.

Dari buku, saya belajar untuk tidak berharap kaya raya. Dalam mata rantai industri buku, royalti penulis memang terbilang minim. Jika royalti untuk seorang penulis buku hanya 10 persen dari harga buku, maka diperlukan penjualan sepuluh eksemplar bagi seorang penulis untuk bisa memperoleh pendapatan senilai satu bukunya sendiri. Itulah kenapa meminta sebuah buku gratis kepada seorang penulis dengan alasan perkawanan sama saja ‘memaksanya’ bekerja menjual sepuluh buah bukunya sendiri. Bahkan seorang sosialis dan humanis tak akan tega melakukannya.

Memang ada cara lain bagi seorang penulis buku untuk bisa memaksimalkan keuntungan: mencetak dan menerbitkan dengan modal sendiri. Tentu saja, dengan cara ini, sang penulis tak ubahnya seorang entrepreneur. Dia tak hanya berhenti pada proses kreatif, tapi berlanjut pada proses ekonomis untuk memasarkan buku-bukunya. Dia berada pada dua tekanan kepentingan: kepentingan penyebaran sebuah gagasan kreatif dan kepentingan profit. Lagi-lagi idealnya, seorang penulis independen lebih mengutamakan kepentingan diseminasi daripada profit, karena tentu akan lebih menguntungkan berjualan kue daripada buku jika keuntungan material menjadi motif primer.

Karl Marx adalah contoh sempurna bagaimana karya-karya luar biasa dan legendaris tak bisa menghidupi penulisnya. Dia lebih banyak menghabiskan hidupnya di perpustakaan dan menulis buku-buku maupun artikel kritik terhadap kapitalisme. Marx adalah ‘nabi kaum buruh’ yang tak pernah sekalipun menjadi buruh.

Mark Skousen dalam buku The Making of Modern Economics menyebut Marx enggan bekerja rutin untuk menafkahi keluarga. Alih-alih membawa barang segobang dua gobang atau kabar yang bisa memperbaiki kondisi dapur, Marx mengabarkan keberhasilannya menemukan ide-ide besar soal ekonomi kepada Jenny, istrinya. Ide besar itu kelak dirangkum dalam buku berjudul Das Capital (bahasa Jerman) atau Capital.

Awalnya, Capital hanya dicetak seribu eksemplar dan diabaikan pasar. Namun Marx beruntung punya Friederich Engels, seorang industrialis yang tertarik dengan ide-idenya dan ikut mempopulerkannya. Engels pula yang memberikan sejumlah uang kepada Marx untuk bertahan hidup. Capital diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia pada 1872 dan mengilhami Vladimir Lenin untuk bergerak.

Marx tak pernah mendapatkan kekayaan dari Capital. Dia teralienasi dari karyanya sendiri. Setelah ditinggal mati Jenny lebih dulu karena kanker pada 1881, putrinya yang juga bernama Jenny meninggal pada 1883. Marx mati dalam keadaan terduduk di kursi pada 17 Maret 1883, dan dimakamkan di Highgate Cemetery, London.

Buku adalah anak kandung intelektual seorang penulis yang lahir dalam kesunyian, yang kadang mencekam, seperti di dekat pabrik sepatu Kalibata, Cililitan Jakarta. Tan Malaka membutuhkan waktu delapan bulan untuk menyelesaikan magnum opusnya ‘Madilog’. Dia menulis spartan selama tiga jam sehari di tengah pelarian. “Madilog ikut lari bersembunyi ke Bajah, Banten, ikut pergi mengantarkan romusha ke Jawa tengah dan ikut menggeleng-gelengkan kepala memperhatikan proklamasi Republik Indonesia,” tulisnya.

Tan Malaka harus meninggalkan peti-peti berisi buku referensi di kampung Wang Pan Chao, Shanghai, China, karena Jepang hanya memberikan kesempatan lima menit untuk pergi dan menyelamatkan diri. Setiap kali ia berusaha mengumpulkan lagi buku-buku referensi, setiap itu pula mereka bercerai karena kejaran tentara Jepang. Maka satu-satunya jalan adalah menghapal isi buku-buku itu dengan metode ‘jembatan keledai’. “Saya anggap ‘jembatan keledai’ itu penting sekali…buat seseorang pemberontak pelarian,” katanya.

Tan Malaka menggunakan sebagian gajinya sebagai guru bahasa Inggris di Nanyang Chinese Normal School untuk mencetak buku-buku sendiri. Madilog dan buku-buku lainnya didistribusikan di kalangan terbatas, kendati Tan Malaka percaya permintaan pasar bisa lebih besar. “Tetapi rakyat Indonesia belum lagi sanggup mengatasi tamparan reaksi Belanda. Percumalah kalau buku itu dicetak, walaupun semua alat pencetak dan ongkosnya bisa didapat,” tulisnya dalam halaman pendahuluan Madilog.

Tan Malaka mati di ujung bedil tentara Indonesia sendiri. Kuburannya misterius selama puluhan tahun. Kematian Tan Malaka menyisakan tragedi seorang penulis yang tak hanya dirampas jiwanya, tapi juga dihapuskan dari buku-buku sejarah resmi negara. Dia nyaris tak dikenal oleh anak-anak sekolah selama 32 tahun Orde Baru. Namanya kembali dikenal dan dikenang setelah buku-bukunya seperti Madilog, Dari Penjara ke Penjara, dan Gerpolek dicetak ulang oleh sejumlah penerbit.

Tan Malaka tidak akan menikmati royalti buku-bukunya itu. Namun dari sebuah buku, saya belajar, bahwa gagasan memang tak selamanya bisa berharap dari pasar. Setiap buku tak pernah sederhana, dan karenanya akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk menjadi catatan kaki dalam sejarah kendati diabaikan. [wir]





Apa Reaksi Anda?

Komentar