Sorotan

Machfud Arifin Bukan Lawan Mudah bagi PDI Perjuangan

Ribut Wijoto

TENSI POLITIK DI KOTA SURABAYA mulai menghangat. Ajang demokrasi berupa Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Surabaya tahun 2020 sudah di depan mata. Nama-nama kandidat calon wali kota satu per satu undur diri. Realistis. Kandidat lantas mengerucut pada beberapa tokoh saja.

Banyak tokoh yang semula bersemangat sosialisasi, memajang gambar di berbagai sudut kota dan rajin memosting kegiatan sosial, tetapi ternyata tidak dilirik partai, mereka tampak sadar diri dan pelan-pelan menghilang. Kini tinggal tersisa kandidat yang memang berpotensi maju di Pilwali Surabaya.

Salah satu tokoh yang sudah hampir pasti bakal bertarung di Pilwali Surabaya adalah Machfud Arifin atau kerap disapa Cak Machfud. Dukungan 5 partai telah dipegang Cak Mahfud saat deklarasi pencalonan bulan Januari lalu.

Sedangkan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan sebagai pemilik kursi terbesar di DPRD Kota Surabaya, di permukaan, terlihat tenang-tenang saja. Empat nama terus dikaitkan dengan PDI Perjungan. Mereka adalah Wawali Whisnu Sakti Buana, anggota DPRD Jatim Armuji, mantan Calon Gubernur Jatim Puti Guntur Soekarno, dan Kepala Bappeko Surabaya Eri Cahyadi.

Dari keempat tokoh itu, semuanya belum mendapat jaminan untuk ketiban rekomendasi dari partai berlogo banteng moncong putih. Peluang kemunculan tokoh lain tetap terbuka. Konon kabarnya, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri menaruh perhatian sangat serius terhadap Pilwali Surabaya. Kabarnya, nama calon akan ditentukan sendiri oleh Megawati. Dan sejauh ini, belum ada kode-kode khusus dari putri Presiden Pertama RI tersebut.

Yang pasti, PDI Perjuangan percaya diri untuk maju sendirian di Pilwali Surabaya 2020. Meski tak menutup pintu bagi partai lain yang merapat, PDI Perjuangan tidak memaksakan diri untuk berkoalisi.

Ya, PDI Perjuangan layak untuk percaya diri. Partai yang senantiasa berjargon membela wong cilik ini memiliki 15 kursi di legislatif. Sesuai aturan, partai pengusung Calon Wali Kota Surabaya minimal harus memiliki jumlah 10 kursi, itu artinya PDI Perjuangan berhak mengusung calon tersendiri.

Mesin partai PDI Perjuangan juga kokoh dan gemuk di Kota Pahlawan ini. Tercermin dari kelengkapan kepengurusan mulai dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC), Pengurus Anak Cabang (PAC), Pengurus Ranting, Pengurus Anak Ranting. Bahkan, PDI Perjuangan memiliki tim Regu Penggerak Pemilih (Guraklih).

Merujuk pada hasil empat Pilwali Surabaya sebelumnya, PDIP tidak pernah sekalipun kalah. Dua kali berhasil mengantarkan Bambang DH sebagai Wali Kota Surabaya, dua kali pula sukses mengantarkan Tri Rismaharini menjadi orang nomor 1 di kota Pahlawan ini.

Dalam 10 tahun kepemimpinan Risma, tingkat kepuasan warga Surabaya juga sangat tinggi. Risma berusaha keras mengurai kemacetan lalu lintas, mengatasi banjir, menyuguhkan beragam kemudahan pelayanan publik. Walau belum 100 persen, usaha keras Risma bisa dibilang sangat berhasil.

Namun PDI Perjuangan juga mesti paham, situasi Pilwali Surabaya 2020 jauh berbeda. Risma tidak bisa lagi diusung sebagai calon sebab telah dua periode mimimpin.

Di pihak lain, mantan Kapolda Jatim Irjen Pol (Purnawirawan) Machfud Arifin menunjukkan sikap tidak main-main dalam mempersiapkan maju di pertarungan Pilwali Surabaya. Saat deklarasi maju pilwali, Minggu (26/1/2020) lalu, Cak Machfud telah mengantongi modal dukungan 18 kursi di legislatif.

Jumlah 18 kursi dari lima partai politik. Terdiri dari dukungan Partai Kebangkitan Bangsa (5 kursi di DPRD), Partai Gerindra (5), Partai Demokrat (4), Partai Amanat Nasional (3), dan Partai Persatuan Pembangunan (1).

Belakangan satu lagi partai turut mendukung Machfud Arifin, yaitu Partai Nasional Demokrat (NasDem). Total sekarang 21 kursi dipegang oleh Cak Machfud. Tidak tertutup kemungkinan pula, ada susulan partai lain yang datang merapat.

“Kita harus kerja keras untuk meraih kursi wali kota. Saya yakin ke-6 partai ini juga semangat, karena sudah lama tidak memiliki calon yang diusung menjadi wali kota,” kata Machfud Arifin.

Kerja keras pria kelahiran Ketintang, Surabaya, 6 September 1960 (usia 59 tahun) itu tidak berhenti di wilayah partai. Organisasi kemasyarakatan dan komunitas-komunitas rajin disambangi. Maka, dukungan dari simpul-simpul masyarakat terus mengalir.

Tidak tanggung-tanggung, Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqiel Siradj dibuat terpikat oleh Machfud Arifin. “Pak Machfud itu sahabat saya sejak masih dinas sebelum kapolda dan ketika jadi kapolda. Yang saya tahu beliau punya integritas yang maksimal, muslim yang taat beribadah, secara umum orangnya baik,” kata KH Said Aqiel Siradj usai silaturrahim di kediaman Machfud Arifin di Surabaya, Jumat (6/3/2020).

Ketika menghadiri undangan Pimpinan Daerah Aisyiyah Surabaya di Aula gedung rektorat Universitas Muhammadiyah Surabaya, Machfud Arifin mendapat dukungan dari Bendahara Umum Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya Marzuki. “Cak Machfud sudah paham Surabaya, peduli Muhammadiyah dan Aisyiyah,” ujar Marzuki.

Soal pengalaman mengarungi kerasnya pertarungan politik, itu bukan barang baru bagi Machfud Arifin. Dalam ajang Pemilihan Presiden 2019 lalu, Machfud Arifin adalah Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) pendukung Jokowi-Ma’ruf di Jatim. Kinerja Cak Machfud dibuktikan dengan kemenangan Jokowi di Jatim.

Kerja keras dan bejibunnya dukungan memberi kode kuat bahwa Machfud Arifin bukanlah lawan mudah bagi calon PDI Perjuangan. Salah sedikit dalam PDI Perjuangan mengambil strategi politik, kursi Surabaya 1 bisa lepas.

Terlebih, sebagai warga kota metropolitan, masyarakat Surabaya cenderung rasional dalam pilihan politik. Bukan tipe pemilih tradisional seperti di masyarakat daerah pedalaman. Calon yang terbukti bekerja keras dan visi kuat dalam membangun kota sangat mungkin bakal mendulang kepercayaan besar dari masyarakat Surabaya. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar