Sorotan

Lelaki yang Tak Dikenang dalam Dongeng

Meriam di Benteng Oranye, Ternate (karya: Heru Putranto)

Saya menempuh perjalanan udara dari Surabaya ke Ternate untuk menjadi saksi bagaimana jejak sejarah seorang pahlawan telah dihancurkan dengan hampir sempurna dalam ingatan: Sultan Mahmud Badaruddin II.

Saya bertemu Raden Rachmat Mas Agus di Bandara Sultan Baabullah Ternate, medio akhir Desember 2018. Dia seorang pegawai negeri Pemerintah Provinsi Maluku Utara, dan salah satu zuriah Mahmud Badaruddin II. “Rencananya hendak ke mana?” tanyanya.

Saya sampaikan keinginan untuk menulis cerita-cerita rakyat atau folklore selama Sultan Mahmud Badaruddin II dan pengikutnya dibuang di Ternate oleh Belanda. Mahmud Badaruddin II adalah sultan Palembang Darussalam yang paling masyhur, karena perlawanannya terhadap Belanda dan Inggris sebelum diasingkan.

Thomas Stamford Raffles, seorang letnan gubernur Inggris di Jawa, menyebut Mahmud Badaruddin II sebagai salah satu pemimpin Melayu terkaya dan memiliki gudang yang dipenuhi dolar dan emas yang ditimbun raja-raja Palembang sebelumnya. Matanya kecil. Tatapannya tajam. Gramberg, seorang penulis Belanda, menyebut gerak-gerik Mahmud Badaruddin II menunjukkan sosok yang terbiasa dipatuhi perintahnya tanpa syarat.

Rachmat tersenyum mendengar ucapan saya. Belakangan, saya baru tahu arti senyum itu. Problem terbesar para keturunan Mahmud Badaruddin II di Ternate hari ini adalah kurangnya pengetahuan terhadap nenek moyang mereka. Susuhunan Mahmud Badaruddin II terasing di Ternate, dibuang, dan terlupakan dalam lipatan waktu.

Mungkin ini kekalahan terbesarnya: orang hanya mengenang pertempuran-pertempuran heroik yang dipimpinnya dan epik yang menjadi hikayat di Palembang. Tapi tak ada kisah bagaimana Mahmud Badaruddin II menua, jatuh sakit, dan kemudian mati.

Ternate tak menyisakan banyak cerita mengenai Mahmud Badaruddin II. Bahkan dalam memori para zuriah yang hari ini tersebar di Maluku Utara. Sebuah kompleks pekuburan tak bisa menceritakan dirinya sendiri. Juru kunci hanya merawat apa yang lapuk pada makam dan bukan apa yang lapuk pada ingatan. Tak ada yang banyak diceritakannya kepada para peziarah yang jarang datang.

Orang hanya mengingat apa yang lazim diketahui: Mahmud Badaruddin II diasingkan ke Ternate pada 1821, diletakkan di Benteng Oranje, menjadi tahanan kota di Kampung Palembang, dan meninggal pada 26 November 1852. “Tak ada dongeng. Nenek bilang, kami keturunan Sultan Mahmud Badaruddin II yang dibuang ke Ternate,” kata Nur Santi Bahtiar, salah satu zuriah yang bekerja di Pemerintah Kota Ternate.

Pembuangan ke Ternate sebenarnya rencana penghancuran yang sempurna oleh Belanda terhadap Mahmud Badaruddin II. Di sebuah negeri yang dipisahkan jarak ribuan kilometer dari Palembang, tak akan ada yang mengenang dan mengenalnya.

“Kami dibuang ke Ternate karena ini daerah pendudukan Belanda. Dulu Ternate bekerjasama dengan Belanda. Rivalnya adalah sultan Tidore dan Bacan. Di Tidore, Belanda mendapat perlawanan luar biasa dari Sultan Nuku. Perang Hongi adalah sejarah perang terbesar setelah wafatnya Sultan Nuku. Tentara Ternate dengan dibantu VOC menduduki Tidore. Sultan Nuku memang susah ditumbangkan. Armada lautnya luar biasa,” kata Omar Kayam, seorang politisi yang juga keturunan keluarga besar Mahmud Badaruddin II.

“Empat orang sultan ini pada dasarnya bersaudara. Bacan lebih netral. Dia tidak membantu Belanda, tapi juga tidak melawan. Keluarga Mahmud Badaruddin II diterima dengan luar biasa di Bacan. Sementara Jelolo berada di bawah kekuasaan Ternate,” kata Omar.

Tak banyak cerita yang diketahui Santi, selain bagaimana Mahmud Badaruddin II bersama guru spiritualnya Sayyid bin Umar bin Muhammad Asegaf hidup sebagai rakyat biasa di Kampung Palembang dan mengajarkan agama Islam.

Namun dia ingat bagaimana neneknya, Raden Ayu Halimah Binti Raden Tji, menyimpan jubah, keris, dan sapu tangan milik Susuhunan Mahmud Badaruddin II. Benda-benda pusaka itu dirawat dan dibersihkan dengan sangat hati-hati oleh Raden Arman Bahtiar, kakak Santi. “Kainnya sudah lapuk, sehingga harus hati-hati.”

Lalu pada suatu hari, seorang perwakilan Pemerintah Kota Palembang datang dan meminta semua benda itu. Mereka hendak menaruhnya di museum. Halimah mengikhlaskannya. Tugasnya sebagai penjaga warisan Mahmud Badaruddin II sudah selesai.

Mahmud bin Raden Abdurrahman, zuriah yang tinggal di Kastela, hanya mendapat cerita tentang silsilah keluarga. Raden Man, ayahnya, hanya bercerita bahwa mereka adalah keturunan Pangeran Adipati Abdurrahman, saudara Mahmud Badaruddin II. Usia Mahmud waktu itu baru 10 tahun, dan dia tak mengerti untuk apa segala urusan silsilah tersebut.

“Pengetahuan kami soal Susuhunan Mahmud Badaruddin II umum saja, seperti di buku-buku sejarah nasional. Saat masa pembebasan, Susuhunan Mahmud Badaruddin II dan Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu tidak pulang ke Palembang dan memilih menetap di Ternate. Mungkin karena orang Ternate dari sisi kepercayaan agama ada kesamaan dengan Palembang. Jadi beliau betah,” kata Santi.

“Beliau sepertinya juga legawa dengan Palembang, karena saudara beliau di sana berpihak kepada Belanda. Jadi lebih baik di sini daripada pulang, malah jadi masalah. Beliau bijaksana. Daripada pulang ke Palembang, Belanda marah, lebih baik di sini, rakyat aman.”

Santi menduga minimnya folklore tentang Mahmud Badaruddin II dan keluarganya yang diasingkan tak lepas dari kehidupan para zuriah terdahulu yang sederhana dan tak pernah memikirkan pentingnya sejarah untuk diceritakan. Dia dan Rachmat tengah berusaha mengumpulkan informasi apapun soal keberadaan dan hikayat Mahmud Badaruddin di pengasingan.

“Kami harus menghimpun bukti-bukti dulu. Biasanya Rachmat yang menulis silsilah. Silsilah kan ada banyak. Rachmat kawinkan silsilah, dilihat sejarahnya. Cuma sebenarnya masih ada keturunan kami di Bacan. Di sana ada pekuburan Palembang, dan di sana ada keturunan Raden Bachtiar dan Raden Tji,” kata Santi.

Saat mendapat tugas ke Kantor Arsip Nasional Republik Indonesia, Santi memfotokopi dua dari delapan surat Mahmud Badaruddin yang biasa disebut sebagai Surat Emas. “Kalau kami punya dana dari zuriah, saya dan Rachmat punya keinginan besar untuk menelusuri sejarah sultan terakhir kami: Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu. Tapi kami memiliki keterbatasan dana,” katanya.

Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu, putra mahkota Mahmud Badaruddin II, tak banyak terceritakan. Berposisi sebagai sultan di pengasingan tak menguntungkannya. Rakyat tak tahu wajahnya dan kemudian melupakannya. “Waktu masih ramai-ramai anggota zuriah kumpul, saya tanya ke anggota: siapa punya catatan dan cerita soal Susuhunan Mahmud Badaruddin II dan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu. Tapi ternyata tak punya cerita,” kata Rachmat.

Literasi dan referensi tertulis diperlukan untuk mempertahankan sejarah, walau kebenarannya tak absolut. Namun penulisan sejarah tak boleh terhenti pada sumber-sumber tertulis yang stabil. Pada dasarnya garis kesinambungan yang merekonstruksi masa lalu tak selamanya ajeg dan memang harus selalu dipertanyakan ulang. “Filsafat Inggris bilang, tulislah sejarah walau salah, karena nanti akan ada yang memperbaiki, daripada tak ada yang menulis sama sekali,” kata Omar.

“Kami kehilangan literasi dan referensi. Ini membuat Kami kehilangan jati diri. Kami tidak memahami secara hirarki keturunan kami seperti apa. Kalau sejarah ditulis, kami tahunya pahlawan. Kalau bilang kita punya darah pejuang, kami di Ternate merasakan. Hampir semua pergolakan modern di Ternate didominasi peran keluarga Palembang walau mereka tak menyandang gelar,” kata Omar. [wir]





Apa Reaksi Anda?

Komentar