Sorotan

Gajah Ijo Hingga Maling Gorengan: Ledekan dan Sarkasme dalam Sepak Bola

Saling ledek atau di Inggris disebut ‘banter’ adalah bagian dari kultur suporter sepak bola. Kultur ini di Eropa tak hanya melibatkan suporter, tapi klub. Bahkan ledekan atau banter ini bisa membangun suasana dan tensi jelang pertandingan.

Akun resmi twitter Barcelona dan Bayern Munchen pernah terlibat adu ledek sebelum pertandingan semifinal Liga Champions musim 2014-15. Semua diawali saat akun Bayern Munchen mengunggah video pendek aksi individu pemainnya yang juga eks Barcelona, Thiago, melakukan aksi ‘juggling’ bola. Akun Barcelona membalasnya dengan mengunggah aksi yang sama yang dilakukan Messi dan Neymar. “Bawa ini. Pemain kami juga bisa.”

Akun Munchen membalasnya dengan mengunggah foto jumlah trofi yang dimiliki klub itu, dengan pesan: ‘Cukup adil, tapi kamu tidak memenangkan pertandingan dengan skill saja’. Barca membalasnya dengan mengunggah foto jumlah trofi klub juga, dengan pesan: ‘Skill juga pasti tidak membuatmu kalah juga’.

Di kalangan fans, adu ledek juga terjadi. Sebagian berkelas, sebagian lagi bodoh dan melecehkan kemanusiaan. Saat fans lain memelintir lagu YNWA (You’ll Never Walk Alone) menjadi You’ll Never Win Anymore, kita tahu itu cara cerdas untuk meledek Liverpool, karena klub berseragam merah-merah tersebut sudah hampir 30 tahun tak menjuarai Liga Inggris.

Tapi ketika fans rival memelintir lirik ‘walk on walk on with hope in your heart’ menjadi ‘sign on sign on with a pen in your hand, and you’ll never work again’, ledekan itu sudah melewati batas. ‘Sign on’ adalah ledekan terhadap kaum pengangguran dan angka kemiskinan di Kota Liverpool yang meningkat karena kebijakan pemerintahan Tory atau Partai Konservatif.

Saat suporter lain meledek Liverpool dengan sebutan ‘Next Year Team’, bahkan suporter The Reds masih bisa tertawa. Suporter Liverpool memang sering menertawakan kesialan klub mereka sendiri. ‘Next Year Team’ adalah ledekan terhadap optimisme fans Liverpool yang percaya bahwa klub mereka akan juara liga pada musim berikutnya. Optimisme ini bergaung sejak terakhir juara pada 1990. Namun ketika suporter lawan menjadikan Tragedi Hillsborough (meninggalnya 96 suporter Liverpool dalam semifinal Piala FA 1989) dan Tragedi Munich (peristiwa jatuhnya pesawat tim Man United pada 1958) sebagai bahan ledekan, maka tak ada lagi yang lucu.

Setiap ledekan bagi kultur sepak bola yang beradab dan adiluhung adalah upaya untuk menertawakan lawan sekaligus diri sendiri. Sarkasme adalah bagian dari sepak bola itu sendiri. Suporter lawan selalu menyanyikan ‘Who the fuck are Man United’ yang memelintir lagu ‘Glory Glory Man United’. Fans United akan membalasnya dengan menyanyikan lagu yang sama dengan sangat lantang, saat pemain Setan Merah menjebol gawang tim lawan.

Ledekan juga bisa sangat berbau sosial politik seperti terlihat pada rivalitas dua klub raksasa di Argentina, River Plate dan Boca Juniors. River Plate dikenal sebagai klub masyarakat kelas menengah ke atas, punya julukan resmi Los Millonarios atau Tim Jutawan. Sementara Boca identik dengan pendukung dari kalangan masyarakat miskin. Julukan resmi mereka Los Xeneizes.

Rivalitas fans dua klub sangat tajam dan mereka saling ledek tanpa ampun. Fans Boca menyebut River Plate tak lebih dari ‘Las Gallinas’ atau ‘the chickens’ (pengecut atau ayam secara harfiah). Sementara fans River Plate menyebut Boca sebagai Bosteros atau manure handler alias kain gombal atau bisa juga gembel, mengacu pada mayoritas kelas sosial pendukung Boca.

Masalah kemiskinan menjadi bahan ledekan suporter Dundee United saat melawan Glasgow Celtic atau Glasgow Rangers dalam Liga Skotlandia. Suporter Dundee merevisi lagu ‘You are My Sunshine’ menjadi lagu yang meledek suporter Glasgow sebagai pengangguran miskin yang mendapat bantuan sosial dari pemerintah dan tak lebih dari sekelompok kriminal yang suka mencuri plastik penyelubung kendaraan.

You are a weegie
A smelly weegie
You’re only happy on Giro Day
Your mum’s out stealing
Your dad’s a dealer
Please don’t take my hubcaps away

Ledekan antar fans tak selamanya melibatkan dua klub yang memiliki rivalitas tajam. Tidak selamanya hanya suporter Manchester United meledek suporter Liverpool dengan keras. Suporter West Ham di London juga punya ledekan yang sangat tajam untuk fans Liverpool, kendati dua klub tidak memiliki sejarah rivalitas. Saat West Ham United masih bermarkas di Stadion Upton Park, lagu ledekan favorit mereka saat pertandingan adalah soal ‘Scouser maling stereo mobil’. Scouser adalah sebutan untuk warga Liverpool.

‘We’ve got Di Canio
You’ve got our car stereos
Hey Scousers
I wanna know where my stereos?

Entah bagaimana asal-muasal fans West Ham tak menyukai fans Liverpool. Namun suporter Liverpool yang dicap pengangguran dan miskin, membalas chant itu dengan chant ucapan terima kasih yang cerdas.

‘Thank you very much for paying our giro
Thank you very much
Thank you very much, very much
You’re welcome

Ledekan dalam sepak bola memerlukan kecerdasan emosional dan intelejensi, karena ada batasan-batasan yang tak boleh dilampaui. Ledekan tidak boleh mengandung rasisme, berisi anjuran kekerasan, dan menertawakan tragedi kemanusiaan.

Sejumlah pemain Manchester City pernah dihujat ramai-ramai oleh fans Liverpool karena mengganti lirik lagu ‘Allez Allez Allez’ dengan kalimat yang menyebut soal ‘dipukuli ramai-ramai di jalanan’. Kalimat itu dianggap mengacu pada Sean Cox, fans Liverpool berusia tua, yang dikeroyok fans AS Roma. Gara-gara ini, situs resmi Manchester City harus mengeluarkan klarifikasi.

Kultur ledekan atau banter dalam sepak bola di Indonesia diawali oleh surat kabar Jawa Pos. Saat frase ‘Sepak Bola Gajah’ diarahkan publik sepak bola nasional kepada Persebaya Surabaya karena kekalahan 0-12 dari Persipura di Gelora 10 Nopember pada 1988, Jawa Pos mengkapitalisasi ledekan itu.

Jawa Pos memberikan julukan resmi Green Force kepada Persebaya. Namun setelah peristiwa main mata dengan Persipura, julukan di koran diubah menjadi ‘Gajah Ijo’ atau Gajah Hijau. Julukan ini dipakai hingga beberapa tahun kemudian. Saat tim Persebaya diperkuat pemain-pemain muda dalam kompetisi perserikatan, Jawa Pos menjuluki mereka ‘Bledug Ijo. Bledug adalah sebutan untuk anak gajah dalam bahasa Jawa.

Tak ada satu pun suporter Persebaya tersinggung hari itu. Malah mereka merestui julukan tersebut dengan memasang sebutan ‘Gajah Ijo’ dan ‘Bledug Ijo’ di spanduk-spanduk dukungan.

Namun selanjutnya ledekan cerdas susah ditemui di Indonesia. Ledekan berubah menjadi saling cela berbau kebencian dengan pilihan kata yang jauh dari beradab. Penonton di stadion-stadion di Indonesia, terutama di Surabaya, Malang, Bandung, dan Jakarta, masih memperdengarkan penyebutan ‘anjing’ dan ‘dibunuh saja’ untuk suporter lawan mereka.

Sebelum chant ‘anjing’ dan ‘dibunuh saja’ terdengar di stadion, suporter Aremania punya cara yang sebenarnya jenaka dalam meledek Bonek, yakni melambaikan uang kertas Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu sambil bernyanyi tentang ‘gembel-gembel Surabaya’. Ledekan ini tak lepas dari kebiasaan Bonek yang masuk stadion tanpa mau membeli tiket, sesuatu yang sebenarnya juga menjadi kebiasaan sebagian penonton sepak bola Indonesia di mana pun.

Biasanya, Bonek akan membalasnya di stadion dengan menyanyikan lagu yang sama dengan yang dinyanyikan Aremania, dengan lirik yang diubah. ‘Gembel-gembel Surabaya’ diubah menjadi ‘arewaria’ yang merupakan akronim dari ‘aremania waria’.

Ledekan paling banyak tentu saja diarahkan ke Bonek, suporter Persebaya. Tak cukup dengan julukan ‘gembel’, kelompok suporter lawan memberikan sebutan maling gorengan, ultras wadimor, pasukan cekeran, hingga terbaru ‘sego elek’.

Sebutan ‘maling gorengan’ mengacu pada perilaku sebagian suporter Bonek yang menjarah pedagang makanan di jalan. ‘Ultras wadimor’ adalah sebutan bagi kebiasaan sebagian Bonek menggunakan sarung sebagai selimut saat bepergian menonton pertandingan tandang Persebaya. ‘Pasukan cekeran’ dikarenakan sebagian Bonek memilih tidak beralas kaki. Terbaru adalah sebutan ‘sego elek’, yang muncul setelah viralnya video yang menayangkan salah satu Bonek meminta nasi yang sudah tidak dimakan atau hendak dibuang kepada warga di Blitar.

Semua sebutan itu mengacu pada strata sosial ekonomi masyarakat bawah yang diidentikkan dengan Bonek. Di luar dugaan, Bonek memiliki cara sendiri untuk merespons semua ledekan itu dan menjadikannya ‘dark jokes’ atau humor gelap untuk menertawakan diri sekaligus menetralisasinya. Mereka memproduksi massal kaos bertuliskan ‘Maling Gorengan’.

Bahkan, toko resmi ‘Persebaya Store’ ikut memproduksi dan menjualnya. Kaos itu dibanderol dengan harga Rp 130 ribu dan sudah terjual habis. Situs Persebaya Store mendeskripsikan produk itu sebagai kaos dengan desain sarkas. Situs itu menjelaskan bagaimana sebutan ‘maling gorengan’ adalah sebuah keanehan, karena Persebaya memiliki jumlah penonton terbanyak dengan harga tiket tergolong paling tinggi di Indonesia.

Cara meledek dengan cerdas dan bagaimana meresponsnya dengan tenang dan santai menjadi alternatif yang lebih baik, daripada melontarkan chant atau nyanyian berisi hinaan ‘binatang’ dan ajakan membunuh. Itu bukan hal yang mustahil.

Saat Arema mengalahkan Persebaya 4-0 di Kanjuruhan dalam Liga 1 2019, sebuah spanduk hitam bertuliskan ‘Kami Masih di Atas Kalian’ dibentangkan Aremania di tribun belakang gawang. Akhir musim, saat Persebaya menduduki posisi runner-up dan Arema tercecer di posisi ke-9, Bonek membalasnya dengan mengedit foto spanduk itu menjadi ‘Kami Sekarang di Bawah Kalian’ dan memviralkannya di media sosial. Selesai. [wir]





Apa Reaksi Anda?

Komentar