Sorotan

Lebih Aneh dan Kuat daripada Fiksi

Oryza A Wirawan

Menulis cerita fiksi tak pernah mudah. Saya merasa lebih susah menulis berdasarkan imajinasi dibandingkan menulis berita yang berbasiskan fakta. Dalam penulisan nonfiksi, seorang penulis memang dituntut untuk bekerja keras melakukan prosedur penggalian data melalui wawancara dan perburuan dokumen. Tidak ada celah bagi khayalan untuk masuk.

Cerita direkonstruksi berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh. Penulis nonfiksi bekerja seperti menata puzzle dengan kepingan-kepingan fakta dan data. Satu kekurangan kepingan fakta dan data membuat cerita tidak sempurna dan menimbulkan lubang besar pertanyaan bagi pembaca.

Ini pernah saya alami saat menulis buku ‘Pembunuhan di Ladang Tebu’. Ini cerita tentang kisah seorang petani tebu kaya raya di Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang mati dibunuh kawanan perampok. Saya mewawancarai sejumlah orang, menyusun kembali kisah hidupnya sampai hari kematiannya.

Ada beberapa kekurangan fakta dan data yang memicu pertanyaan dari pembaca. Saya tidak berani menambahkan cerita khayali untuk menutup lubang itu, karena dalam jurnalisme yang menjadi bagian dari genre nonfiksi, fakta adalah sakral. Fact is sacred. Jangan diutik-utik. Satu persen unsur khayali akan meruntuhkan 100 persen bangunan cerita. Orang membaca nonfiksi karena percaya bahwa itu faktual adanya. Unsur kepercayaan (trust) menjadi penting.

Baca Juga:

    Dalam kisah nonfiksi (terutama karya jurnalistik, biografi, memoar, kisah nyata, dan sejenisnya), seorang penulis menghadapi tiga tantangan: menggali data dan fakta itu sendiri dan kemungkinan narasumber berbohong atau lupa. Itulah kenapa kemudian dalam kisah nonfiksi ada disiplin verifikasi yang melibatkan banyak wawancara.

    Tantangan berikutnya adalah menunjukkan bagaimana fakta itu diperlihatkan kepada pembaca. Saat menuliskan biografi tentang Presiden Amerika Lyndon B. Johnson, Caro tak hanya berpegang pada data dokumen dan setumpuk bibliografi. Dia melakukan kerja reportase, menempuh jarak ratusan kilometer menuju pedalaman Texas hanya untuk mencari tahu apa yang dilakukan Johnson dalam mobil, saat berhenti di tengah perjalanan kampanye.

    Menulis nonfiksi melelahkan. Apalagi para penulisnya memiliki keterbatasan. Tracy Kidder, salah satu jurnalis naratif mengatakan, penulis nonfiksi memang memotret peristiwa dan tokoh-tokoh sesungguhnya. Namun, seberapapun setianya seorang penulis pada fakta, tulisannya tidak akan pernah bisa sepadan dan seluas hal yang dia tulis.

    Dengan kata lain, tak ada yang bisa mendeskrispikan realitas secara utuh. Kita bukan Tuhan yang serba melihat semua secara berjarak dengan umat manusia. Kita lebih mirip seseorang yang berhadapan dengan sebuah bangunan besar namun tak cukup waktu dan keterbatasan daya upaya untuk menggambarkan bentuk bangunan itu. Itulah kenapa seorang penulis nonfiksi tidak dituntut mencari kebenaran, melainkan hanya fakta yang diperlukan.

    Menulis fiksi mungkin tak semelelahkan itu. Seorang penulis fiksi punya kuasa atas tokoh-tokoh dan konstruksi peristiwa dalam ceritanya. Namun sebuah kekeliruan besar, jika kemudian Anda menganggap itu membuat seorang penulis fiksi bisa seenaknya menulis, bahkan dengan gegabah.

    Tak ada yang membatasi daya khayal. Tak ada yang bisa mengurung imajinasi. Cerita tentang peri-peri. Kisah para dewa. Kejenakaan kancil. Perkelahian hidup mati antara Superman dengan Batman. Atau kisah biasa saja tentang seorang nelayan tua dan seorang bocah yang pergi memancing di laut. Imajinasi hidup seluas isi kepala kita.

    Namun imajinasi tetap harus taat asas. Batman boleh saja membunuh Superman. Tidak ada yang bisa melarang seorang penulis menghidupkan dan mematikan tokohnya. Juga tidak ada yang bisa mencegah tokoh dalam cerita keluar dan menemui penulis dalam cerita yang berbeda. Cerita dalam cerita. Tapi dia harus masuk akal dalam semesta cerita yang dibentuknya.

    Sefiksi dan sekhayali apapun sebuah cerita, ia tetap harus mengikuti alur sebab dan akibat untuk bisa dipercaya pembaca. Orang memang ingin dihibur. Namun dia tak ingin dibodohi dan ditipu mentah-mentah dengan jalan cerita yang melompati nalar. Itulah mungkin kenapa, setiap cerita dongeng selalu berakhir bahagia sepotong saja. Ketika seorang pangeran mencium seorang putri, kita menutup dongeng itu dengan ‘mereka hidup bahagia selama-lamanya’.

    Dan saya bersyukur, setiap kali ada dongeng demikian, anak-anak saya tidak pernah bertanya lebih lanjut: pangeran dan putri itu punya anak berapa setelah menikah. Kebahagiaan tak perlu dijelaskan dalam fiksi, karena penjelasan berpotensi merusak struktur ideal dalam kepala penulis. Para pendongeng tak akan sanggup bercerita, bahwa mungkin saja si putri menjadi gemuk setelah punya anak lima dan sang pangeran selingkuh. Dengan kata lain, tak ada bahagia selamanya.

    Besarnya kuasa atas jalan cerita, tokoh, dan peristiwa, membuat seorang penulis fiksi mudah tergoda untuk menulis di luar fokusnya. Poles sana. Poles sini. Membuat cerita sekinclong sepatu yang baru disemir, dan justru kemudian kehilangan maknanya atau membuat pembaca kebingungan dengan maunya. Ini berbeda dengan penulis nonfiksi yang memiliki godaan untuk menutup lubang fakta dengan fiksi, namun tidak keluar dari jalur cerita yang sudah direkonstuksi dengan kepingan fakta yang ada.

    Jadi, singkat kata, menulis fiksi itu susah. Lebih susah daripada menulis nonfiksi. Jika tidak percaya, cobalah sesekali melihat artikel siaran pers penguasa yang bicara tentang keberhasilan pembangunan dan program-program lainnya. Penguasa memperlakukan jalan cerita sebuah negara dengan semaunya dengan mengingkari nalar dan akal sehat masyarakat yang menjadi pembacanya.

    Siaran pers resmi menjejalkan data-data untuk bercerita tentang keberhasilan penguasa menciptakan kesejahteraan melalui pembangunan. Namun kita tahu, saat dipertautkan dengan realitas, ini hanya fiksi yang menghibur di tengah kisah lainnya yang mencekam: tentang lolosnya tersangka korupsi dari jerat hukum di negeri yang dipenuhi retorika supremasi hukum.

    Stronger than fiction. Stranger than fiction. Lebih kuat dan lebih aneh daripada fiksi. Tapi, tunggu dulu. Apakah Anda terhibur? [wir/kun]



    Apa Reaksi Anda?

    Komentar