Sorotan

Larry King Wawancara dengan Sejarah

Larry King Presenter kondang CNN TV meninggal di Usia 87 tahun

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, “Intervista con la storia”, himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang paling menonjol di paruh kedua 1970an. Tapi yang lebih tepat dilekati predikat “Pewawancara Sejarah” adalah Larry King. La storia pada King lebih lengkap daripada sekadar kisah para pemimpin politik.

Selain mewawancarai para presiden Amerika — dari Nixon hingga Obama — ia berbincang dengan Gorbachev dan Putin, Arafat dan Ahmadinejad, Mandela, Benazir Bhutto, Dalai Lama; ia mengobrol dengan ikon budaya pop dari Frank Sinatra, Marlon Brando, hingga Angelina Jolie, rapper Snoopy Doggs dan pebasket Michael Jordan.

Ia bahkan menginterviu Oprah Winfrey, tanpa kuatir acara Oprah di stasiun TV saingan semakin terkenal. Ia memperlakukan Oprah sebagai fenomenon budaya, sebagai “sejarah”, dan penampilannya di acara King ditaksir menangguk satu juta suara untuk pencalonan Obama dalam primary Partai Demokrat. Tulisan ini hanya akan berisi nama-nama jika names dropping dilanjutkan — sebab King seolah bersahabat dengan semua orang.

Lebih dari 50.000 wawancara yang dikerjakannya selama enam dekade, 25 tahun di antaranya di CNN, membuat nama televisi kabel itu terangkat tinggi, sekaligus nama King pun kemudian mendominasi talk show serius televisi.

Ia mencetak 6.120 interviu di “Larry King Live”; dan salah satu tonggaknya justeru laporan King dari lapangan, yang mengikuti mobil polisi yang mengejar aktor O.J Simpson dalam kasus pembunuhannya terhadap mantan isteri dan pacarnya; persidangan kasusnya memakan waktu setahun lebih dan membelah rakyat Amerika menjadi pro kulit putih (eks isteri OJ dan kekasihnya) dan simpati pada kulit hitam.

Dan penonton hapal dengan gaya busana King yang warnanya tak selalu serasi. Ia bisa memakai baju biru tua, dasi polkadot terang dan, ini yang kemudian menjadi signature: suspender klasik dengan warna yang lebih sering menabrak yang lain. (Ketika ia pensiun dari CNN, stasiun itu memasang foto besar: kursi King yang kosong dan hanya “diduduki” oleh suspender merahnya).

King menyarankan empat syarat bagi sukses wawancara TV: gairah besar, rasa humor, pemahaman atas duduk perkara agar mampu mengajukan pertanyaan kuat, juga dosis rasa jengkel dan penasaran pada isu yang sedang dibahas. Selama puluhan tahun, sejak di radio, di CNN, kemudian selama 8 tahun di OraTV, ia bukan hanya menunjukkan keempat unsur itu secara mengesankan, tapi menambahkan satu aspek teknis: ia bergaya informal, tanpa mengurangi kesungguhan dan hormatnya pada narasumbernya, membuat mereka toleran bahkan ketika King menusuk dengan pertanyaan tajam.

Ia berhasil menarik Richard Nixon dari “persembunyiannya” selama puluhan tahun pasca mengundurkan diri setelah terancam impeachment (1974). Sambil tersenyum kecil, dengan sikap rileks dan tangan di dagu, King tiba-tiba menikam: “Ketika peristiwa itu terjadi, apakah Anda sedang berada di Watergate?”

Nixon dengan cepat menutupi kekagetannya ditodong dengan pertanyaan yang sangat sensitif itu, dan menjawab: “Tidak. Saya tidak ada di sana.” Lalu buru-buru menindihnya dengan menyatakan bahwa semua itu masa lalu dan dia hanya ingin hidup di masa kini dan masa depan.

Skandal Watergate adalah pencurian dokumen-dokumen Partai Demokrat di hotel di Washington itu pada 1972, dan diduga dilakukan atas perintah Presiden Nixon. Setelah diberitakan dua tahun penuh oleh reporter Carl Bernstein dan redaktur Bob Woodward di Washington Post, Nixon memilih melimpahkan jabatannya pada wakilnya, Gerald Ford, yang juga pernah diinterviu oleh King.

Ia pasti mampu mencecar Nixon, ataupun semua tamunya, dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang sangat mungkin membuat mereka tersudut; ia selalu memiliki arsenal pertanyaan melimpah berkat penguasaan masalah, hasil riset timnya. Tapi ia tahu batas — dan tahu diri. Ia sadar ia bukan hakim, jaksa atau apalagi pengacara. Meski pilihan isu dan pilihan narasumber bagaimanapun banyak diwarnai oleh subjektifitasnya, ia menghormati tamunya — bahkan ketika ia mengundang seorang pembunuh — dan dengan cara itu ia menghormati pemirsanya. Ia tak berpretensi menjadi penguasa forum.

*

Bagi King, mikrofon adalah pelindung dirinya dari aneka masalah hidup. Ia beberapa kali terkena serangan jantung, hingga dioperasi, lalu mendirikan yayasan untuk membantu kaum miskin yang tak mampu membiayai operasi jantung. Ia lolos dari cengkeraman kanker paru dan diabetes kronis.

Ia juga selalu selamat dari serial kawin-cerainya. King menikah delapan kali dengan tujuh perempuan. Ia tak pernah menyesali perkawinan dan perceraiannya. “Saya senang jatuh cinta,” katanya. “Dan toh dari perkawinan-perkawinan itu lahir anak-anak yang hebat.” Seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuannya meninggal karena penyakit jantung dan kanker tahun lalu. Anak-anaknya memberinya sembilan cucu dan empat cicit.

Pensiun dari CNN pada 2010, dua tahun kemudian ia tak tahan berpisah dari mikrofon. Ia membuat “Larry King Show” di OraTV, juga “Politicking with Larry King” dan sebuah lagi di stasiun lain. Mengapa ia berhenti dari CNN jika kemudian kembali aktif? Ia hanya menjawab: “Diri saya berubah. Teknologi pun berubah.”

Ia baru benar-benar berhenti beberapa bulan lalu dari mikrofon yang, katanya, “tak pernah mengecewakan saya.”

Tahun 2019 ia menggugat cerai isterinya sejak 1997 dan memberinya dua anak, Shawn, seorang seniman dan persona televisi. Proses perceraian masih berjalan ketika King terdiam untuk selamanya, di usia 87.

Anak Yahudi Brooklyn bernama asli Lawrence Harvey Zeiger ini sebuah tonggak besar dalam jurnalisme televisi. Ia lebih mengglobal, dengan membahas rentang isu yang lebih luas daripada legenda-legenda TV Amerika seperti Dan Rather, Tom Brokaw, bahkan Walter Cronkite dan Barbara Walters — yang pernah diundang ke “Larry King Live” pada ulang tahun ke-20 acara itu untuk mewawancarai King.

Wendy Walker, produsernya selama 18 tahun, menyukai ciri lain King yang menonjol: “Ia selalu mampu mengajukan pertanyaan penting dengan ringkas.” Dengan kata lain: King tahu bahwa yang ditunggu pemirsa adalah ucapan literal narasumbernya.

Ia hanya bertugas merumuskan pertanyaan. Lalu, seperti pemirsanya di jutaan rumah, ia akan tertib menyimak jawaban tamunya. Biarlah sejarah bicara sendiri. *


Apa Reaksi Anda?

Komentar