Iklan Banner Sukun
Sorotan

Kyai Miftah, Rais Aam PBNU Paling Ideal

KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum MUI

Menjelang muktamar Nahdlatul Ulama di penghujung tahun 2021 ini perbincangan mengenai sosok Rois Am dan ketua umum PBNU menjadi sangat menarik.

Menurut hemat penulis sosok calon Rois Am sebetulnya lebih penting daripada ketum PBNU, karena Rais Aam menurut AD/ART Nahdlatul Ulama merupakan pemimpin tertinggi NU, segala petuah dan keputusannya harus dihormati oleh warga NU.

Dengan demikian, tugas yang diembannya menjadi sangat berat. Karena itulah, dibutuhkan figur yang mumpuni untuk mengemban amanah tersebut.

Memperbincangkan sosok ideal Rois Aam mengingatkan saya kepada 4 pokok pikiran dari KH Makruf Amin di tahun 2015 sebelum muktamar NU ke 33 di Jombang, Rais Aam terpilih di muktamar Jombang yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden RI itu pernah dawuh tentang kriteria yang perlu dimiliki oleh seorang Rais Aam, karena Rais Aam itu bukan hanya sekedar jabatan kepengurusan tertinggi di jam’iyah Nahdlatul Ulama, tapi menurut Kyai Ma’ruf merupakan maqam atau kedudukan khusus untuk seseorang yang memiliki kualifikasi yang memadai.

Dan menurut beliau jabatan ini tidak boleh diperebutkan, tapi harus dicari seseorang yang memiliki kualifikasi seperti itu, yang menurut beliau layak disebut sebagai Shahibul Maqam.

Empat kriteria pokok pemikiran KH Ma’ruf Amin tentang Rois am itu adalah ,
Pertama FAQIH .

Artinya seorang Rais Aam harus mendalam penguasaan keagamaannya, terutama dalam ilmu fiqh. Karena Rais Aam-lah yang mengarahkan jalannya organisasi tertinggi, termasuk dalam hal keagamaan.

Bagaimana seseorang bisa menjadi pengarah kalau tidak seorang faqih. Kedua MUNADZIM atau manajerial.

Artinya seorang Rois Am harus faham dalam tata cara mengelola organisasi. NU merupakan organisasi besar dan Rais Aam merupakan nahkoda yang membawa organisasi ini ke mana arahnya.

Penulis bersama Kyai Miftah dan alm KH Idris Marzuki Lirboyo , KH Aziz Manshur Jombang di masjid NU DJIE Beijing China 2002

Oleh karena itu dia harus memiliki pemahaman dan pengalaman yang cukup untuk dapat menjalankan roda organisasi, bukan kader karbitan yang mendadak bertengger di level nasional.

Karena sesungguhnya lembaga tanfidziyah itu hanya pelaksana tugas Syuriyah. Sehingga Rais Aam harus memahami tata laksana manajemen organisasi sejak dari level bawah.

Ketiga MUHARRIK atau penggerak, karena NU merupakan gerakan ulama untuk memperbaiki umat dan negara atau istilah beliau harakah al-ulama fi ishlah al-ummah wa ad-daulah.

Karena itu Rais Aam harus menjadi seperti dinamo yang bisa menggerakkan seluruh jaringan di NU. Tidak orang yang hanya bisa bergerak sendiri tapi tidak menggerakkan apa-apa, seperti gasing yang berputar sendirian.

Keempat MUTAWARRI’, atau orang yang terjaga baik pergaulannya, perilakunya, makanannya atau sikap politiknya.

Dari uraian kriteria tersebut penulis berkeyakinan bahwa calon Rais Aam ideal saat ini adalah KH Miftachul Akhyar, karena beliau seorang kyai yang faqih alumni pesantren Tambakberas Jombang, pesantren Sidogiri Pasuruan dan Lasem Jawa tengah. Bahkan diambil menantu oleh gurunya Syaikh Masduki Lasem yang terkenal alim Allamah.

Penulis mengenal baik beliau sejak bersama menjadi anggota lembaga Bahtsul Masail PWNU JATIM tahun 1999, beliau sangat rajin, tekun dan teliti dalam membahas masalah fiqh dan juga mampu menuangkan dalam bentuk tulisan, penguasaan terhadap gramatika bahasa Arab yang bagus membuat beliau sangat jeli dan berwawasan luas dalam membahas mengenai hukum fiqih.

Kyai Miftah juga berpengalaman aktif di jam’iyah Nahdlatul ulama sejak usia muda , menjadi Rois Syuriah PCNU Surabaya tahun 200-2005 kemudian Rois Syuriah PWNU Jatim 2008-2018 dan dilanjutkan dengan Wakil Rois Am PBNU pasca muktamar Jombang.

Jenjang karir khidmat seperti ini sangat penting untuk memahami kondisi kepengurusan NU di setiap tingkatan.

Kyai Miftah juga berpengalaman dalam bidang dakwah, dia tergolong tokoh yang rajin berkeliling ke berbagai daerah, aktif sebagai mubaligh yang mengisi pengajian di kota hingga pelosok-pelosok kampung dan pedesaan, beberapa kali penulis bersama satu podium mengisi pengajian warga NU di daerah, beliau seorang alim punya kemampuan menyampaikan dakwah dalam bahasa sederhana yang mudah dicerna masyarakatnya bawah maupun akademis, pidato beliau didepan konferensi internasional majelis fatwa Mesir beberapa bulan lalu mendapat pujian dan liputan luas dari media utama Mesir.

Sikap wirai beliau sangat menonjol, beliau tidak mudah menerima rayuan lobi politik dari siapapun dan teguh dalam pendirian, beliau juga tidak tergoda untuk ikut berkampanye di panggung politik dan terus kokoh Istiqomah menjaga khittah NU di jalur yang benar.

Di kalangan NU Kiai Miftah juga terkenal tegas dan berani. Saat ramai isu penistaan agama misalnya, Kiai Miftah juga ikut meminta Polri menahan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan menjadi saksi di pengadilan.

Ketegasan Kiai Miftah juga terlihat saat polemik penggunaan ahlul halli wal aqdi (sistem musyawarah) dalam pemilihan Rais Aam PBNU pada muktamar NU di Jombang 2015 lalu.

Kedekatan Kyai Miftah dengan para Kyai sepuh juga sangat bagus, beliau sosok Kyai yang tawadhu dan menghormati para Masyayikh, penulis pernah menemani beliau bersama alm KH Ahmad Idris Marzuki dan beberapa Masyayikh pergi ziarah ke China dan Hongkong tahun 2002, dalam perjalanan sebelas hari itu tampak sekali kedekatan dan sikap tawadhu Kyai Miftah kepada para sesepuh, tak heran dalam beberapa kesempatan terakhir penulis mendengar sendiri dukungan kyai sepuh seperti alm. KH Zainuddin Djazuli dan KH Nawawi Sidogiri agar kyai Miftah bersedia untuk menjadi Rois Aam, meskipun beliau selalu secara halus menolak karena merasa belum pantas mendapatkan jabatan Rois Aam.

Bahkan seingat penulis, ketika Muswil NU di Paiton Probolinggo tahun 2019, sudah dibicarakan dalam forum para kyai sepuh untuk mendukung kyai Miftah agar berkenan maju sebagai calon Rois Am dalam muktamar mendatang.

Penulis berharap semoga muktamar NU ke 34 berlangsung lancar, sejuk dan nyaman, dan Kyai Miftakhul Akhyar terpilih oleh AHWA sebagai Rois Am. Amien. (ted)

Malang 25 Oktober 2021

Dr. H. Ahmad Fahrur Rozi
Penulis adalah Wakil ketua PWNU Jatim, wakil sekjen DPP MUI, Wakil Ketua RMI PBNU 2005-2015, ketua Himasal Jatim 2015 -2019, Pengasuh pondok pesantren Annur 1 Bululawang Malang


Apa Reaksi Anda?

Komentar