Iklan Banner Sukun
Sorotan

Kopiah Bapak

Kopiah itu tertinggal di rumah saya. Punya Bapak. Anak sulung saya yang menemukannya di kamar. “Punya Eyangkung ya?”

Ayah saya memang baru saja pulang setelah menginap di rumah saya di Jember dua hari.

“Iya kelihatannya,” saya menjawab sekenanya. Kopiah itu saya taruh di meja kerja. Bersanding dengan komputer jinjing.

Bapak mengingatkan kembali soal kopiah itu beberapa hari setelah beliau kembali ke Surabaya. “Tolong kirimkan ke Surabaya,” kata beliau.

Kopiah itu pemberian Pak Udin, tetangga kami dan sesama jemaah masjid di kampung di Surabaya. Pak Udin menghadiahkan kopiah itu setelah merawat janji selama dua tahun.

Mulanya adalah ketidaksengajaan. “Pak Udin menyenggol kopiahku sehingga jatuh ke parit kecil tempat berwudu di masjid,” kata Bapak.

Bapak tentu saja sudah melupakan kejadian itu. Hidup berjalan terus dan masih banyak yang lebih penting daripada peci yang basah.

Dua tahun berselang, Pak Udin menemui Bapak di masjid dan menyodorkan kopiah baru. “Aku dulu tidak sengaja menyenggol kopiah Pak Budi sehingga jatuh. Lalu dalam hati saya berjanji akan membelikan Pak Budi kopiah baru.”

Bapak bahagia.

Bung Karno dalam buku autobiografinya menyebut kopiah sebagai lambang kebangsaan. “Kita memerlukan suatu lambang daripada kepribadian Indonesia. Peci yang memberikan sifat khas perorangan ini, seperti yang dipakai oleh pekerja‐pekerja dari bangsa Melayu, adalah asli kepunyaan rakyat kita. Namanya malahan berasal dari penakluk kita. Perkataan Belanda ‘pet’ berarti kupiah. ‘Je’ maksudnya kecil. Perkataan itu sebenarnya ‘petje’. Hayolah saudara-saudara, mari kita angkat kita punya kepala tinggi‐tinggi dan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.”

Pada suatu masa, para polisi kolonial memerintahkan penahanan terhadap siapapun yang mengenakan kopiah. Hari ini Indonesia merdeka, dan saya yakin Pak Toha dan Bapak memandang kopiah tak seheroik itu. Rambut Bapak juga tidak membotak seperti Sukarno yang mengatakan, “Kalau sekarang peci itu bagiku lebih rnerupakan sebagai lambang untuk pertahanan diri.” Beruban iya, botak tidak.

Dua pekan kemudian Pak Udin wafat.

“Kirimkan kopiah itu ke Surabaya, biar bisa kupakai ke masjid setiap salat lima wakfu. Biar amal jariyahnya mengalir terus ke Pak Udin,” kata Bapak.

Mengalir menjadi sungai kecil di surga. Dan kopiah itu mata airnya. [wir/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Monstera Cafe, Tempat Kopi Hits di Puncak Kota Batu

APVI Tanggapi Soal Kenaikan Cukai Rokok Elektrik

Anoa Dataran Rendah Koleksi KBS Mati