Sorotan

Kisah Penyintas Covid-19, Terpaksa Pinjam Online, dan Masih Ada Orang Baik

Aza sedang mengedit video di depan komputer miliknya.

Surabaya (beritajatim.com) – Aza Ruvidyansah adalah seorang warga Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya, yang pernah terpapar dan kemudian berhasil sembuh dari Covid-19. Awal mula ia dinyatakan positif Covid-19 adalah ketika perusahaan tempatnya bekerja menginstruksikan seluruh karyawannya untuk melakukan vaksin tahap pertama. Namun sebelum divaksin, semua karyawan harus melewati tahap screening dengan mengikuti tes PCR.

Aza terbukti positif pada tanggal 03 Juli 2021. Ia pun melakukan isolasi mandiri di rumahnya, serta seluruh keluarganya harus melakukan swab PCR.

“Awal mulanya itu disuruh ikut vaksin sama perusahaan, tapi harus PCR dulu. Eh ternyata saya dinyatakan positif yang OTG (Orang Tanpa Gejala). Beberapa hari kemudian saya merasa kurang enak badan. Kepala saya pusing, batuk-batuk dan mual,” tutur Aza, Senin (26/7/2021).

Respons Perusahaan dan RT Setempat

Meski positif Covid-19, Aza tetap bekerja sebagai seorang editor video di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa. Sejak masuk perusahaan tersebut, ia sudah bekerja secara WFH (Work From Home).

Namun sejak bulan November 2020 lalu, status karyawan internalnya berubah menjadi karyawan eksternal (outsourcing). Sehingga, gaji yang ia dapat pun dipangkas menjadi upah per video yang dapat ia selesaikan.

“Sebelumnya, saya ada gaji pokok. Dan kalau dirata-rata penghasilan saya Rp 4-5 juta per bulan. Tapi semenjak November lalu, status pekerja saya berubah, saya hanya diberi upah per video. Satu videonya 175.000. Jika saya rata-rata sebulan ada 10 video. Itupun belum dipotong pajak dari perusahaan,” jelas Aza.

Dua minggu Aza melakukan isolasi mandiri di rumah. Ia pun mengaku tak mendapat bantuan sepeserpun dari perusahaan tempat ia bekerja. Ia justru harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli obat-obatan dan makanan yang bernutrisi agar ia kembali pulih.

“Nggak ada bantuan dari perusahaan. Kalau saya hitung-hitung selama isolasi mandiri di rumah semenjak dinyatakan positif covid-19 sampai sembuh, saya sudah keluar uang sekitar 800ribu. Itu untuk beli vitamin, obat-obatan, buah dan makanan yang bergizi,” terang Aza.

Melakukan Pinjaman Online

Aza tinggal bersama kedua orang tuanya, dan kedua adiknya. Ayahnya berprofesi sebagai driver online dan antar jemput anak sekolah. Namun karena pandemi dan kebijakan PPKM, semakin hari pendapatannya semakin lesu.

Ibunya adalah penjual Cakwe, namun karena pandemi, penjualan Cakwenya turun drastis. Sehingga modal untuk membuat Cakwe dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Alhasil kini usaha berjualan Cakwenya terhenti.

Adik Aza, yang satu baru saja lulus sekolah, dan yang satunya masih sekolah. Selama pandemi ini, Aza mengungkap bahwa terpaksa untuk melakukan pinjaman online melalui sebuah aplikasi sebesar Rp 1.500.000 dengan cicilan selama 6 bulan. Hal ini ia lakukan karena memang didasarkan oleh desakan ekonomi.

“Sebetulnya terpaksa harus pinjam online. Karena mau bagaimana lagi, salah satu yang memberatkan itu biaya tes PCR satu keluaraga. Satu orang saja Rp 150 ribu, dikali 5 orang jadi Rp 750 ribu. Itu semua biaya mandiri, tidak ada bantuan sama sekali, baik dari perusahaan maupun dari yang lain,” ungkap Aza dengan suara yang agak parau.

Masih Ada Orang Baik

Selama isolasi mandiri di rumah, Aza juga menerima bantuan dari orang-orang baik, meski tak setiap hari. Bantuan berupa vitamin kerap ia dapat dalam bungkusan plastik di depan pintu rumahnya. Aza pun juga mendapat perhatian dari perangkat RT setempat dengan ditanyai kabar dan perkembangan kesehatan seluruh keluarganya melalui Whatsapp.

Setelah waktu isolasi mandiri dua minggu berlalu, ia sekeluarga pun melakukan tes PCR ulang dan menerima hasil negatif.

“Ya Alhamdulillah sudah negatif semua. Bagi saya, momen pandemi ini adalah mengajari kita untuk berusaha dan memutar otak. Kalau penghasilan dibilang kurang ya kurang, kalau dibilang cukup ya cukup. Semoga saja pandemi ini bisa segera berlalu,” pungkas Aza. [but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar