Sorotan

Kisah Laskar Ijo, Relawan Pemakaman Covid dari NU Kencong Jember

Laskar Ijo NU Kencong Jember Memakamkan jenazah Covid-19

Jember (beritajatim.com) – Mereka menamakan diri Laskar Ijo. Pasukan hijau, warna yang identik dengan Nahdlatul Ulama. Semula mereka hanya melakukan penyemprotan disinfektan dan pembagian masker di Kecamatan Jombang, Kencong, Gumukmas, Puger, dan Umbulsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, bekerjasama dengan Lazisnu (Lembaga Amil Zakat Infak Sedekah NU).

Saat pandemi semakin parah dan makin banyak pasien yang meninggal pada medio Mei 2021, Miskat memutuskan untuk bergerak lebih jauh. Dia kumpulkan sepuluh orang temannya di Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Kencong yang diketuainya, untuk membantu pemakaman pasien Covid-19 bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten.

Mereka tak hanya bertugas di lima kecamatan yang menjadi wilayah NU Cabang Kencong, namun juga di Kecamatan Tanggul, Semboro, dan Balung. Akhir-akhir ini setiap hari mereka memakamkan minimal tiga jenazah. “Pernah lima sampai delapan pemakaman sehari,” kata guru madrasah ibtidaiyah ini.

Mereka bergerak di tengah masyarakat yang apatis, dan cenderung masih mengabaikan bahaya Covid-19. Jelang tengah malam pada suatu hari, Miskat dan kawan-kawan sudah bersiap di pemakaman menunggu mobil jenazah datang di Kecamatan Puger. Keluarga almarhum menolak pemakaman secara Covid dan menginginkan peti jenazah dibuka. Mereka tidak percaya jenazah terinfeksi virus corona.

“Saya mau melawan keluarga kan tidak enak. Saat itu kami hanya berenam. Ya akhirnya dibiarkan,” kata Miskat.

Lain waktu, mereka menjadi sasaran sinisme. “Wah ini, dapat uang banyak. Ini dana pemakaman besar,” salah satu warga enteng saja mengucapkan itu di muka Miskat pada suatu hari.

Miskat jengkel bukan kepalang. “Ya monggo, kalau panjenengan (anda) ingin tahu keadaan kami, silakan ikut. Satu minggu saja. Sampeyan pakai APD (Alat Pelindung Diri) dan ikut memakamkan,” katanya. Tentu saja sang pencibir memilih minggir.

Para anggota Laskar Ijo layak jengkel. Mereka sama sekali tak menerima sepeser pun imbalan untuk memakamkan jenazah pasien Covid. Bahkan, ajakan untuk perjamuan makan alakadarnya dari keluarga almarhum pun ditolak dengan halus. “Kami tidak enak sendiri, wong orang sudah meninggal, keadaan seperti itu, orang tak mau mendekat,” kata Miskat.

Anggota Laskar Ijo berasal dari kalangan menengah ke bawah: guru, pedagang kaki lima, penjual tahu goreng, buruh tani. Namun harga diri mereka terlalu tebal untuk meminta upah. “Yang memberi honor Gusti Allah,” kata Miskat.

“Kami bergerak atas panggilan hati. Yang penting niat kami adalah bertakziah,” kata Jaenal Abidin, Bendahara LPBI NU Kencong yang juga salah satu anggota Laskar Ijo. Mereka tak hanya memakamkan, namun juga menyalati dan mengumandangkan azan terakhir untuk jenazah.

Ucapan terima kasih dari keluarga almarhum sudah lebih dari cukup bagi mereka. “Merinding,” kata Miskat menceritakan bagaimana ucapan terima kasih itu dilontarkan dengan penuh takzim.

Miskat bersyukur belum pernah memakamkan tetangga atau kerabat sendiri. “Mudah-mudahan tidak pernah,” kata pria kelahiran 30 Desember 1973 ini.

Miskat tidak tahu sampai kapan Laskar Ijo akan bergerak. Pemerintah Kecamatan Kencong sudah mengangkat mereka menjadi tim relawan pemakaman Covid-19 yang bertugas di sana. “Mungkin sampai Covid sudah tak ada lagi,” katanya.

Namun mengharapkan Covid sirna sama sekali bukan urusan mudah. Jaenal malah berpendapat warga harus siap berdampingan dengan virus itu dalam jangka waktu yang tak terbatas. “Virus ini tidak kelihatan. Kita harus hidup berdampingan dengan Covid. Kalau kesadaran masyarakat tak ada, selamanya tak selesai. Seharusnya kita sadar, saling memahami, saling mengerti. Insya allah selesai. Masalahnya kan ada masyarakat yang tidak percaya kemudian diadu dengan yang lain, dimanfaatkan dan sebagainya,” katanya.

Jaenal pernah berdiskusi dengan warga yang menyebut corona tidak ada. “Ya memang corona tidak ada, karena anda kuat. Tapi bagaimana dengan yang di rumah. Kalau anda tidak bisa mencium bau, makanan tidak ada rasanya, bingung tidak?” katanya.

Jaenal pernah selama tiga hari mengalami anosmia. Tidak bisa mencium bau dan mengecap rasa makanan apapun. “Memang pasti tekanan pikiran yang kena. Berpikir, aduh kenapa?” Ia memilih untuk memeriksakan diri di puskemas. Ia percaya diri imunitas tubuhnya kuat, terutama karena sudah dua kali disuntik vaksin.

Sementara Miskat memilih pasrah. “Saya tidak merasa khawatir tertular. Pertama, jenazah itu sudah ditangani ahli. Otomatis mayat itu sudah steril. Kedua, saya serahkan kepada Allah. Semua Allah yang menentukan,” katanya. [wir/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar