Sorotan

Liga 1 Pekan 26 Tunda

Kiper Persebaya Seharusnya Pemain yang Kesepian dalam Sunyi

Miswar Saputra

Persebaya memecah kebuntuan. Setelah menahan imbang PS Tira Kabo 2-2, Persebaya mengalahkan PSM Makassar 3-2 (1-1) di Stadion Batakan, Balikpapan, Kamis (14/11./2019). Ini tiga angka pertama, setelah terakhir menekuk PSIS Semarang 4-0 pada 20 September 2019.

Dengan kemenangan ini, Persebaya mengepul 35 angka dari 27 pertandingan. Anak-anak asuhan Aji Santoso butuh minimal 10 angka lagi dari tujuh pertandingan untuk mencapai zona aman dari degradasi.

Sebagaimana saat melawan PS Tira Kabo, penjaga gawang Persebaya kembali menjadi bintang lapangan. Jika saat melawan Tira, Imam Arief menahan bola tendangan penalti Osas Saha dan mencegah keunggulan lawan, kini giliran Miswar Saputra melakukan penyelamatan bola dari titik putih yang dieksekusi Marc Klok.

Pelatih Persebaya Aji Santoso memuji performa Miswar. “Dia beberapa kali melakukan penyelamatan babak pertama dan kedua, terutama penalti,” katanya.

Performa Miswar menuai pujian. Namun dalam sepak bola, penjaga gawang seharusnya menjadi pemain yang kesepian selama pertandingan dan hidup dalam sunyi setelahnya. Saat penjaga gawang terlalu banyak menuai pujian dibandingkan 10 pemain lainnya dan bahkan menjadi bintang lapangan (man of the match), maka ada problem besar dalam cara sebuah tim bertahan. Kiper adalah indikator terakhir persoalan itu: jika dia terlalu banyak bekerja keras dan melakukan penyelamatan (bahkan gemilang), berarti ada lubang dalam pertahanan sebuah tim.

Ini disadari benar Aji Santoso: sistem pertahanan Persebaya masih jauh dari sempurna. Kebobolan empat gol dalam dua pertandingan bukan sesuatu yang membanggakan. “Betul kami menang hari ini, tapi kami kebobolan dua gol,” katanya.

Persebaya sempat unggul lebih dulu melalui kaki David da Silva pada menit 26. Gol ini menunjukkan kepiawaian Da Silva untu menciptakan rute bagi dirinya sendiri. Dari sisi kanan kotak penalti PSM, dia memberikan bola lob jarak pendek kepada Oktafianus Fernando. Lalu dia berlari mendekati Oktafianus yang mencari teman terdekat. Bola dioperkan kembali ke Da Silva yang kemudian melakukan tembakan mendatar jarak jauh ke gawang PSM. Bola melengkung melewati sela-sela kaki bek PSM Aaron Evans dan gagal diantisipasi kiper Rivky Deython Mokodompit.

Gol balasan PSM dicetak Rizky Pellu pada menit 39 melalui sebuah tendangan kerasi. “Pemain seharusnya bisa mereaksi cepat untuk bisa mengantisipasi, karena bola sudah ada dalam penalty box,” kata Aji.

Persebaya kembali unggul 2-1 pada menit 51. Kali ini Aryn William dengan cerdas memberikan umpan daerah kepada Da Silva yang berlari kencang menyelinap di antara Munhar dan Evans. Kedua bek tengah PSM ini gagal mengalahkan langkah-langkah panjang kaki Da Silva. Sebuah tendangan keras dengan kaki kanan menempatkan bola di dalam gawang PSM sebelah kanan.

Jarak kedua tim dipertebal oleh gol dari titik putih yang dieksekusi Diogo Campos pada menit 68. Penalti diberikan setelah tangan Rizky Pellu mengenai bola dalam kemelut yang terjadi akibat tendangan pojok Diogo.

PSM memperpendek ketertinggalan, setelah Amido Balde mencetak gol pada menit 80 melalui tandukan hasil umpan matang dari tendangan penjuru Rasyid Bakrie. “Dalam evaluasi sudah saya tekankan kepada seluruh pemain untuk melakukan duel ketika ada set piece, baik itu tendangan tidak langsung maupun corner kick,” kata Aji.

Sebelum gol terjadi, pemain yang awalnya membayangi Balde adalah Da Silva. Namun, Balde berhasil memisahkan diri dari tempelan ketat Da Silva, dan saat bola datang, tak ada satu pun pemain belakang Persebaya di dekatnya untuk berduel. Praktis Balde dengan nyaman menanduk bola masuk ke gawang Miswar. “Memang sedikit susah mengantisipasi Balde yang memiliki badan cukup tinggi,” kata Aji.

Pertandingan terancam berakhir imbang 3-3, saat pemain Persebaya Andri Muladi menyenggol badan Ferdinand Sinaga di kotak penalti. Saat semua berpikir bola akan dieksekusi mulus oleh Marc Klok pada menit 90, Miswar berhasil membaca arah bola dan menepisnya.

Persebaya memenangkan pertandingan ini dengan status tuan rumah. Ini kemenangan kandang pertama sejak mengalahkan Persipura 1-0 pada 2 Agustus 2019. Ironis, Bajul Ijo justru memetik kemenangan kandang itu saat harus menggelar pertandingan jauh dari Surabaya dan tanpa penonton karena terkena hukuman.

Benarkah pemain memang selama ini justru terbebani saat bermain di hadapan ribuan Bonek? Masih terlalu dini menjawabnya, karena Persebaya masih menyisakan empat pertandingan kandang. Semua laga kandang itu digelar tanpa penonton.

Namun memang pemain Persebaya bermain lebih tenang saat melawan PSM. Mereka memang tertekan. Statistik Statoskop Jawa Pos menunjukkan bagaimana Persebaya hanya menguasai 32 persen permainan, terendah selama Liga 1 musim ini. PSM juga lebih banyak melakukan tembakan (17 kali, 7 di antaranya tepat sasaran) dibandingkan Persebaya yang 11 kali melakukan tembakan, 7 di antaranya akurat.

Rojil Nugroho Bayu Aji, pegiat Bonek Writer Forum, melihat PSM lebih spartan dan disiplin dalam melakukan pressing. Statistik Statoskop juga menunjukkan bagaimana PSM juga lebih berhasil membaca arah serangan Persebaya dengan melakukan 40 kali intersep dibandingkan Persebaya yang hanya 12 kali intersep.

Persebaya beruntung? Pelatih PSM Darije Kalezic menilai keberuntungan menentukan hasil akhir. Dia merasa timnya layak mendapat hasil imbang. Namun apapun itu, tiga angka untuk Persebaya semakin mendongkrak mental pemain. Dua pertandingan terakhir juga memberikan gambaran soal alternatif penjaga gawang yang akan dipilih Aji dalam pertandingan melawan Persipura. Pekerjaan rumah Aji: membuat penjaga gawang yang diturunkan menjadi pemain yang paling kesepian dan tak banyak bekerja keras di lapangan. [wir/ted]  

Apa Reaksi Anda?

Komentar