Iklan Banner Sukun
Sorotan

King Faisal, Putin, dan Ancaman Krisis Energi Global

Ainur Rohim (Penanggung Jawab beritajatim.com)

Sesuai perkiraan. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia akhirnya terjadi. BBM jenis Pertamax (RON 92) naik cukup tinggi. Dari Rp9.000 menjadi Rp12.500 per liter. Kenaikan harganya di atas 30 persen.

Kenaikan harga minyak tersebut tak mungkin dilepaskan dari pasar minyak di level global. Sebelum Rusia menyerang dan berperang dengan Ukraina, harga minyak mental di pasar internasional berkisar USD80 per barel.

Perang Rusia versus Ukraina menggerek harga minyak mentah global ke level USD110 per barel. Pada penutupan 31 Maret 2022 (Kamis), minyak Brent ditransaksikan seharga USD106,38 per barel, naik empat persen dibandingkan perdagangan hari sebelumnya.


Sementara itu, untuk minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan pada harga USD102,08 per barel, naik lima persen. Mengutip Investing.com, harga minyak mulai mengalami kenaikan sejak Kamis pagi.

Sebelum Rusia menyerang Ukraina, harga minyak mentah di pasar internasional bergerak di level USD80 sampai USD85 per barel. Perang Rusia versus Ukraina menjadi penyebab dan pendorong utama kenaikan harga minyak di pasar global.

Bahkan, di akhir bulan Februari 2022 lalu, harga minyak mentah sempat menyentuh hampir USD130 per barel.

Secara faktual, Rusia merupakan negara produsen minyak besar di pasar global. Posisinya di urutan ketiga di bawah Amerika Serikat (USA) dan Arab Saudi. Rusia bukan anggota OPEC, organisasi negara-negara pengeksport minyak yang sebagian besar anggotanya adalah negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Kendati demikian, dengan tingkat lifting (minyak siap jual) mencapai 10,7 juta barel per hari, menempatkan Rusia di posisi strategis dalam lanskap pemenuhan kebutuhan energi global.

Belum termasuk tingkat lifting gas Rusia yang mampu memenuhi kebutuhan 40 persen kebutuhas gas sejumlah negara di Eropa Barat, terutama Italia, Jerman, Finlandia, Latvia, Macedonia, dan banyak negara Eropa Barat lainnya.

Lifting minyak USA tertinggi di dunia di era sekarang dengan besaran 16,5 juta barel per hari, diikuti Arab Saudi di posisi kedua dengan lifting mencapai 11 juta barel per hari. Lima besar negara produsen minyak dunia setelah USA, Saudi, dan Rusia adalah Kanada dengan tingkat lifting 5,1 juta barel per hari dan Irak dengan lifting 4,1 juta barel per hari.

Dengan tingkat harga minyak mentah di atas USD100 per barel seperti sekarang, diperkirakan miliaran dolar masuk ke kas negara-negara produsen utama minyak, terutama Arab Saudi dan Irak, dua negara yang tingkat produksi dan lifting minyak mereka jauh di bawah demand minyak di pasar domestik.

Sehingga eksport minyak mereka dipastikan bakal memperkuat budget capacity kedua negara itu. Sedang Amerika Serikat merupakan negara produsen sekaligus konsumen minyak yang besar, mengingat tingginya demand minyak untuk menghidupi industri manufaktur, jenis industri nonmanufaktur, dan aktifitas perekonomian lain di negara Paman Sam tersebut.

Rusia menghadapi tekanan politik dan ekonomi yang kuat dari banyak negara-negara Eropa Barat dan sejumlah negara industri maju di Asia, seperti Jepang, Singapura, dan Australia. Negara-negara di kawasan Asia yang sikap dan perilaku politiknya banyak merujuk kepada policy politik dan ekonomi Washington itu menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia, setelah negara Beruang Merah tersebut menginvansi Ukraina.

Politik energi telah dimainkan Presiden Rusia, Vladimir Putin, dalam menghadapi tekanan ekonomi dan politik setelah berperang dengan Ukraina. Pasokan Rusia ke sejumlah negara di Eropa Barat dibatasi. Negara pengimport gas Rusia diwajibkan membayar dalam mata uang Rubel, mata uang Rusia, sehingga Rubel tak begitu terpukul angka depresiasinya setelah sanksi ekonomi dijatuhkan USA dan banyak negara-negara Barat kepada Rusia.

Kombinasi kekuatan politik energi dan keunggulan industri militer pertahanan Rusia merupakan dua instrumen penting bagi eksistensi dan political bargain Rusia terkait dengan Ukraina dalam menghadapi Amerika Serikat dan negara-negara Barat lain.

Besarnya pasokan energi Rusia ke sejumlah Eropa Barat, terutama Jerman dan Italia, adalah realitas ekonomi dan politik yang bisa menjadi senjata politik bagi Rusia.
Dalam sebuah pernyataan, Deputi Perdana Menteri (PM) Rusia, Alexander Novak, mengatakan rencana pemotongan akan dilakukan pada pipa gas Nord Stream 1. Pipa gas ini merupakan pipa yang membentang di wilayah Laut Baltik.

“Kami memiliki hak untuk mengambil keputusan yang cocok dan memberlakukan embargo pada pemompaan gas melalui pipa gas Nord Stream 1,” ujar Novak pada sesi pers pekan lalu sebagaimana dimuat Reuters (CNBC, 18 Maret 2022).

Banyak negara Eropa meggantungkan pasokan energinya dari Rusia. Pada 2020, gas Rusia yang mengalir ke Eropa mencapai 167,7 miliar meter kubik. Jumlah ini setara 37,5 persen total impor gas alam Eropa, menurut BP Statistics. Data dari Badan Uni Eropa untuk Kerjasama Regulator Energi menunjukkan pasokan beberapa negara bisa jeblok jika terjadi pembekuan atau embargo gas Rusia.

Mengutip CNN International, Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan, Eropa tidak dapat mengamankan pasokan energinya tanpa impor dari Rusia. Sekitar 40 persen gas Eropa berasal dari Beruang Merah, di mana Jerman, mendapatkan 32 persen sumber gas dari Rusia.

Negara Eropa lainnya, seperti Italia, Finlandia, dan Latvia yang memiliki ketergantungan di atas 90 persen pada gas Rusia. Risiko krisis energi ditanggung lebih besar negara-negara yang lebih kecil seperti Makedonia Utara, Bosnia dan Herzegovina, dan Moldova.

Masih mengutip CNBC, Rusia sendiri adalah raja gas alam dunia. Seperempat lebih kebutuhan gas dunia dipasok Rusia. Tepatnya, Rusia memiliki 26,2 persen pangsa ekspor di seluruh dunia dengan jumlah 197,7 miliar meter kubik, menurut data BP Statistical. Rusia juga merupakan produsen gas alam terbesar kedua di dunia dengan kontribusi mencapai 16,6 persen produksi gas alam pada tahun 2020, dengan jumlah 638,5 miliar meter kubik. Cadangannya mencapai 1.320,5 miliar meter kubik, setara dengan 19,9 persen cadangan dunia.

Apa yang terjadi sekarang, ancaman krisis energi global akibat perang Rusia versus Ukraina, tentu mengingatkan kita kepada fenomena krisis energi global pada tahun 1970-an, ketika King Faisal ibn Abdul Aziz Al Saud, Raja Saudi yang menggantikan Raja Saud Ibn Abdul Aziz Al Saud, jadi pelopor embargo minyak yang dilakukan negara-negara Arab terhadap Amerika Serikat pada bulan November 1973.

Langkah politik ini dilakukan sebagai dukungan terhadap serangan yang dilakukan Mesir dan Syiria terhadap Israel yang berakhir dengan kemenangan pihak Arab. Di mana Gurun Sinai kembali ke pangkuan Mesir dan Dataran Tinggi Golan ke pangkuan Syiria. Sebelumnya, 4 wilayah Arab ini (Sinai, Golan, Jalur Gaza dan Pantai Barat) dikuasai Israel melalui perang 6 hari pada tahun 1967.

Kemenangan negara-negara Arab tak bisa bisa dilepaskan dari politik King Faisal, mengingat Arab Saudi adalah penghasil minyak terbesar di dunia, dengan 25 persen cadangan dunia berada di negeri gurun ini.

Embargo minyak kepada Amerika Serikat dilakukan setelah Presiden Richard Nixon mengirimkan bantuan kepada Israel berupa 566 pesawat tempur dan 22 ribu ton bahan peledak.

Embargo minyak yang dilakukan Saudi kepada Amerika Serikat membuat banyak sektor ekonomi dan publik sektor lainnya, seperti rumah sakit, rumah-rumah warga kekurangan pemanas, pabrik, sekolah, dan ekonomi AS lumpuh. Saat itu, negeri Paman Sam tersebut mengkonsumsi sekitar 22,4 persen minyak dunia, disusul China (9 persen), dan Jepang (7 persen).

Energi merupakan senjata politik selain alutsista militer, kapasitas ekonomi, kemajuan teknologi, dan besaran demografi yang disokong daya beli tinggi yang dimiliki satu negara.

Realitas fenomena Rusia di tahun 2022 jauh lebih siap, paripurna, dan konfiden dibanding Arab Saudi di tahun 1970-an dalam menghadapi tekanan negara Barat dan USA terkait isu global. Apakah negara Barat dan USA akan mengendorkan tekanan ekonomi dan politik kepada Rusia seperti yang pernah mereka lakukan pada Arab Saudi di tahun 1970-an. [air]

Oleh: Ainur Rohim (Penanggung Jawab beritajatim.com)


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Shin Tae Yong Puji Rumput Lapangan Thor Surabaya

Menjajal Mobil Listrik Wuling Air ev