Sorotan

Seri Artikel tentang Ulama (3)

KH Imam Zarkasyi, Filosofi Pendidikan, dan Prinsip Non-afiliasi Pondok Gontor

Berlokasi di Kabupaten Ponorogo, Jatim, Pondok Modern Darussalam Gontor berada di kawasan Mataraman. Di wilayah ini, pengaruh budaya Jawa, khususnya dari Solo dan Yogyakarta, sangat kental. Nilai-nilai Sinkretisme, ajaran Islam yang bercampur dengan kultur Jawa, terasa kuat di kawasan Mataraman Jatim dibandingkan di kawasan Tapal Kuda, dan kawasan budaya lainnya di Jatim.

Manajemen Pondok Modern Gontor mulai berkiprah, mengembangkan menyampaikan dakwah, pendidikan, dan aksi-aksi sosial lain bergerak bagai spiral. Artinya, gerakan dakwah itu  dari wilayah-wilayah  terdekat dengan lingkungan yang menjadi target group dakwah, terutama dalam memberantas praktek Mo Limo. Dari waktu ke waktu, proses dakwah dan pencerahan kepada umat itu meluas di wilayah lainnya dari jauh dari lingkungan fisik Pondok Gontor.

Adalah KH Ahmad Sahal sebagai saudara sulung dari KH Imam Zarkasyi dan KH Zainuddin Fannani, merupakan perintis Pondok Modern Gontor baru. Selama 10 tahun sejak didirikan pada 9 Oktober 1926, manajemen Pondok Gontor berada penuh di tangan kepemimpinannya.

Sebab, kedua adiknya sedang menempuh ilmu pengetahuan agama di berbagai sekolah di Jawa, Sumatera dan sejumlah pondok pesantren. Kiai Sahal memulai dakwah dan pendidikan kepada masyarakat sekitar pondok, dari mulai anak-anak sampai orang tua. Terutama untuk memberantas praktek Mo Limo yang begitu kuat menenggelamkan akhlak warga sekitar pondok.

Istilah Trimurti dalam relasinya dengan manajemen Pondok Gontor menggambarkan kepemimpinan dari ketiga kiai tersebut. KH Ahmad Sahal, KH Imam Zarkasyi, dan KH Zainuddin Fannani yang menata dan mengembangkan Pondok Gontor sampai besar dan ternama seperti sekarang.

Berbagai program pendidikan diselenggarakan di pondok ini, seperti Tarbiyatul Athfal, Tarbiyatul Ikhwan, Tarbiyatul Mar’ah, Miftahus Sa’adah, dan lainnya. Selain itu, proses pendidikan di pondok ini sejak lama dilengkapi dengan kegiatan lain, seperti kepanduan, sepak bola, drama, dan lainnya.

Di masa inilah sebutan ‘Modern’ diberikan kepada para tamu yang datang ke Pondok Gontor. Sebutan tersebut sejak tahun 1936 diadopsi menjadi nama resmi Pondok Gontor, yang bernama asli Darussalam.

Tanpa bermaksud menafikan peran dua kiai lainnya: KH Ahmad Sahal dan KH Zainuddin Fannani, kiprah KH Imam Zarkasyi dalam pengembangan Pondok Gontor dan pendidikan Islam di Indonesia tak mungkin dinafikan. Kiai Imam Zarkasyi lama menjabat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama (MP3A) Departemen Agama (kini berubah menjadi Kementerian Agama).

Jabatan itu dia pegang sejak 27 Nopember 1953 sampai 30 April 1985. Organ Kementerian Agama ini yang memberikan banyak masukan tentang berbagai policy pendidikan agama Islam di Kementerian Agama maupun instansi lain.

Kiai Imam Zarkasyi yang lahir di Ponorogo pada 21 Maret 1910 juga pernah menduduki sebagai Kepala Bagian Pendidikan dan Pengajaran pada Kantor Urusan Agama Pusat (Shumubu) di Jakarta di masa penjajajahn Jepang. Pimpinan puncak Shumubu adalah KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU dan pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Jalan hidup Kiai Imam Zarkasyi tak hanya bersentuhan dengan Pondok Gontor semata. Ide, pemikiran, dan inovasinya dalam perumusan kebijakan tentang pengajaran dan pendidikan agama Islam di Kemenag dan Indonesia tak bisa disepelekan.

Hal itu tak mungkin dilepaskan dari kapasitas keilmuannya yang tinggi, akhlak pribadinya layak menjadi teladan, dan konsistensi sikapnya tak diragukan sekalipun mengemban jabatan mentereng di satu kementerian negara.

Ayah dan ibu Kiai Imam Zarkasyi adalah tokoh yang lama bergerak di ranah pergerakan keagamaan dan pemerintahan. Ayahnya bernama Santausa Annam Bashari adalah generasi ketiga dari pimpinan Pondok Gontor lama dan generasi kelima dari Pangeran Hadiraja Adipati Anom, putra Sultan Kasepuhan Cirebon. Sedangkan ibunya adalah keturunan Bupati Suriadiningrat, yang terkenal pada zaman Babad Mangkubumen dan Penambangan (Mangkunegaran).

Dari ibunya yang terkenal salihah dan taat beribadah itulah, Kiai Imam Zarkarsyi banyak menerima pengajaran dan pendidikan agama Islam. Tak lupa, sentuhan untuk menumbuhkan semangat menuntut ilmu pengetahuan, baik ilmu agama Islam dan ilmu pengetahuan umum, terus dipompakan ibunya kepada Kiai Imam Zarkasyi.

Dalam konteks ini, Kiai Imam Zarkasyi sangat terkenang dengan petuah ibunya. “Kamu harus menjadi alim dan salih. Daripada mempunyai harta lebih baik mempunyai ilmu,” begitu isi pesan Ibunda Kiai Imam Zarkasyi seperti ditulis Hery Noer Aly (2003) dalam artikelnya berjudul: KH Imam Zarmasyi: Tafsir Modern Pendidikan Islam.

Perpaduan lembaga pendidikan Islam lama, seperti pondok pesantren, dan sekolah modern keagamaan, adalah dua kanal pendidikan yang ditempuh dan membangun kapasitas keilmuan Kiai Imam Zarkasyi muda. Belum genap berusia 12 tahun, Kiai Imam Zarkasyi nyantri di Pondok Joresan sekaligus belajar di Sekolah Desa Nglumpang.  Berselang beberapa tahun kemudian, Kiai Imam Zarkasyi melanjutkan pendidikan di Sekolah Ongko Loro di Jetis, Ponorogo selama dua tahun.  Dan bersamaan dengan itu, Kiai Imam juga nyantri di Pondok Josari, di mana pelajaran utama di pondok ini adalah tauhid, khatm Al Qur’an, barzanji, dan khitabah.

Tahun 1925, tulis Hery Noer Aly, Kiai Imam Zarkasyi melanjutkan pendidikan di Kota Solo. Di sini ada tiga lembaga pendidikan sekaligus yang diikuti Kiai Imam Zarkasyi, yakni nyantri di Pondok  Jamsaren, sekolah di Madrasah Mambaul Ulum, dan Madrasah Arabiyah Islamiyah. Di ketiga lembaga pendidikan tersebut, Kiai Imam Zarkasyi belajar selama lima tahun.

Di Pondok Jamsaren inilah, pandangan keagamaan dan kepemimpinan Kiai Imam Zarkasyi diasah dan diperkuat. Salah satu kegiatan penting yang digelar di pondok adalah diskusi keagamaan, yang pesertanya dari berbagai daerah dengan  orientasi dan  aliran keagamaan dalam Islam yang beragam.

Tema yang dibahas selain terkait perkembangan Islam di level nasional dan global, tak menutup kemungkinan masalah-masalah khilafiyah. Di mana relasi antargolongan dalam komunitas Islam tak jarang diwarnai dengan konflik ide dan ketegangan, karena perbedaan pandangan terkait masalah khilafiyah. Masing-masing penganut orientasi dan aliran keagamaan ini berusaha keras menyebarkan ajarannya di antara santri lainnya di Pondok Jamsaren.

“Di tengah persaingan itu, Kiai Imam Zarkasyi memilih bersikap bebas, tidak terikat kepada satu golongan. Bahkan, dalam kelompok diskusinya, dia menjadi penengah dan pemersatu. Independensi dan kegandrungannya kepada persatuan umat Islam telah menjadi pilihan sikapnya sejak muda,” tulis Hery Noer Aly.

“Karena itu, sejak dulu sampai sekarang, Pondok Gontor mempunyai prinsip untuk tidak berafiliasi kepada organisasi keagamaan mana pun,” tambah Hery Noer Aly dalam artikelnya.

Secara faktual, banyak tokoh nasional dari beragam aliran dan orientasi keagamaan dalam Islam yang pernah nyantri di Pondok Gontor. Misalnya, KH Idham Chalid dan KH Hasyim Muzadi, kedua tokoh ini pernah menduduki posisi sebagai Ketua Umum PBNU. Lalu, Prof Dr Dien Syamsuddin, MA  adalah alumni Pondok Gontor yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah. Dr Hidayat Nur Wahid merupakan santri Pondok Gontor yang kemudian berkiprah sebagai politikus di Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Masih banyak tokoh agama dan pemerintahan lain yang merupakan alumni Pondok Gontor. Lembaga pendidikan ini memayungi semua aliran dalam Islam secara equal dan mencerdaskan.

Hal itu dibuktikan dengan sikap dan tindakan faktual yang dilakukan KH Zainuddin Fannani. Kendati peran KH Zainuddin tak begitu tampak sekuat dan sekental kedua saudaranya: KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi, tapi Kiai Zainuddin tak melepaskan tanggung jawab dalam pengelolaan dan pengembangan Pondok Gontor.

Karena mempertimbangkan posisinya sebagai sebagai aktivis Muhammadiyah, tepatnya sebagai Konsul Jenderal Muhammadiyah  Sumatera Bagian Selatan, Kiai Zainuddin lebih memilih bertempat tinggal di luar Pondok Gontor. Kendati demikian, pemikiran-pemikiran Kiai Zainuddin tetap dibutuhkan, terutama apabila terjadi perbedaan pandangan antara Kiai Sahal dan Kiai Imam Zarkasyi dalam pengelolaan Pondok Gontor.

Peran penting dan kepemimpinan Kiai Imam Zarkasyi dalam proses belajar mengajar dan pengembangan pendidikan di Pondok Gontor dimulai pada 1936, ketika sang kiai berusia 26 tahun. Kiai Sahal sebagai saudara sulung memanggil adiknya yang saat itu menjabat sebagai Kepala Sekolah Muhammadiyah di Padang Sidempuan.

Tugas sebagai kepala sekolah itu diamanatkan oleh gurunya, Mahmud Junus, merupakan pimpinan sekolah Kulliyyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) Padang. Mahmud Junus dikenal sebagai ulama dan intelektual di Padang yang pernah berkuliah di Universitas Al Azhar Mesir. Sebelum itu, Kiai Imam Zarkasyi pernah menempuh pendidikan dan nyantri di Sumatra Thawalib School di bawah pimpinan Haji Abdul Karim Amrullah atau yang terkenal dengan sebutan Haji Rasul.

Saat dipanggil pulang ke Ponorogo untuk mengelola dan mengembangkan Pondok Gontor, Kiai Imam Zarkasyi mengusulkan  program Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI). Usulan itu diterima kedua saudaranya dan Kiai Imam Zarkasyi diminta mengelola dan memimpin KMI Pondok Gontor. “Sejak saat itulah, pembagian peran di antara Trimurti tampak dengan jelas,” tulis Hery Noer Aly.

Dalam konteks ini, ada pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas serta terarah antara ketiga kiai tersebut. Kiai Sahal sebagai pengasuh yang bertanggung jawab atas pendidikan para santri (Kepesantrenan), Kiai Zainuddin sebagai penasihat yang bertindak layaknya konsultan dan penyeimbang di antara kedua pimpinan. Dan Kiai Imam Zarkasyi menjadi direktur KMI yang bertanggung jawab atas pendidikan siswa (urusan persekolahan). Dalam menjalankan perannya itulah, Kiai Zarkasyi melahirkan banyak gagasan penting bagi pengembangan pendidikan di Pondok Gontor.

Di mata Kiai Imam Zarkasyi, pendidikan merupakan bagian terpenting bagi kehidupan dan kemajuan umat Islam. Salah satu kelemahan pendidikan di pesantren saat itu, menurut Kiai Imam Zarkasyi,  tidak adanya rumusan tentang tujuan pendidikan yang jelas, yang dituangkan dalam program kerja. Pendidikan pesantren hanya seakan mengikuti arus keahlian kiai.

Dalam kerangka inilah, Kiai Imam Zarkasyi merumuskan tujuan Pondok Gontor sebagai berikut, “Yang jelas hanya satu saja, yaitu untuk menjadi orang…Jadi bersifat umum dan belum menjurus, belum calon dokter, belum calon kusir, belum calon apa-apa. Katakanlah calon manusia.  Manusia itu apa kerjanya? Dari pendidikan yang kami berikan itu mereka akan tahu nanti di masyarakat apa yang akan dikerjakan…Jadi, persiapan untuk masuk masyarakat dan bukan untuk masuk perguruan tinggi. Maka dari itu, kami namakan pendidikannya, pendidikan kemasyarakatan. Dan itu yang kami utamakan.”

Secara eksplisit dan implisit, pendidikan di Pondok Gontor untuk mempersiapkan lulusannya mampu hidup dan memberikan kontribusi dan  manfaat kepada masyarakat. Tentu saja, tujuan tersebut dilandasi filosofi yang bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadits.

Dalam konteks ini, Kiai Imam Zarkasyi menjadikan Hadits Rasulullah Muhammad SAW yang berbunyi: Khair al nas anfa’uhum li al-nas (Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang banyak), sebagai pedoman dan rujukan utamanya.

Dalam perspektif obyektif dan praksis, pendidikan KMI Pondok Gontor yang dipimpin Kiai Imam Zarkasyi berisi pengetahuan agama dan pengetahuan umum dengan formula 100%:100%. Perimbangan tersebut tentu tidak bisa dipahami secara dikotomis.

“Dalam pandangan Kiai Imam Zarkasyi, pengetahuan umum yang bersumber pada penelitian empiris-rasional bukan saja tidak bertentangan, melainkan juga merupakan bagian dari ajaran agama Islam. Pengetahuan umum diberikan karena manusia dalam hidupnya tak cukup dengan ilmu-ilmu normatif, tetapi juga dengan ilmu-ilmu positif yang merupakan bekal untuk mempertimbangkan keadaan dalam masyarakat. Selain itu, pengetahuan umum dibutuhkan oleh ulama untuk menghadapi berbagai masalah yang terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman,” ingat Kiai Imam Zarkasyi sebagaimana dikutip dalam artikel Hery Noer Aly (2003). [air/bersambung]



Apa Reaksi Anda?

Komentar