Sorotan

Seri Artikel tentang Ulama (1)

KH Hasyim Asy’ari dan Pemikiran Rasionalitas Muhammad Abduh

KH Hasyim Asy’ari (Foto: NU.or.id]

Mendapat sebutan Rais Akbar (Ketua Agung), nama KH Hasyim Asy’ari begitu lekat dengan kalangan Islam Tradisional (NU) di Indonesia.  Dia pendiri ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) dan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang: Lembaga pendidikan keagamaan Islam yang banyak melahirkan pemimpin dan tokoh penting NU.

Dari Pondok Tebuireng dan pondok milik kiai Islam Tradisional lainnya, banyak lahir pemimpin dan kiai NU sejak kelahirannya pada 1926 hingga sekarang. Banyak artikel dan buku yang mengupas tentang sosok Kiai Hasyim Asy’ari. Intinnya, kakek KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ditempatkan sebagai tokoh sentral NU.

Jika KH Abdul Wahab Chasbullah diposisikan sebagai kiai administrator yang berperan besar dalam proses pembentukan dan kelahiran NU,  Kiai Hasyim adalah ulama sepuh yang memberikan legitimasi teologis,  moral, dan sosiologis atas kelahiran jam’iyyah NU pada 31 Januari 1926 di Kota Surabaya.

Sekali pun sebagai pendiri ormas Islam NU, relasi Kiai Hasyim tak sekadar dengan ulama dan elite Islam Tradisional. Kiai Hasyim juga pernah duduk sebagai elite dan tokoh sentral Partai Masyumi, yang didirikan di Yogyakarta pada Nopember 1945.

Partai Masyumi merupakan ikhtiar politik tokoh Islam dari berbagai organisasi sebagai perwujudan sintesa politik antara kekuatan Islam Modernis (Muhammadiyah, Persis, dan lainnya) dengan kekuatan Islam Tradisional (NU) pasca-kemerdekaan 17 Agustus 1945.

“Manusia harus bersatu…Agar tercipta kebaikan dan kesejahteraan dan terhindar dari bahaya…Persatuan telah mendorong kesejahteraan negara, meningkatkan status rakyat, dan mencapai kemajuan, kekuatan, dan kesempurnaan pemerintah. Janganlah hal-hal yang sepele menyebabkan kamu bercerai-berai, bertengkar dan bermusuhan…serta jangan kamu meneruskan budaya saling bertikai dan mencaci…”

Itulah sekilas kutipan pernyataan Kiai Hasyim yang disampaikan tak berselang lama setelah pendirian NU. Tentu saja, pernyataan tersebut tak bisa dilepaskan dari konteks kehidupan politik, sosiologis, kultural, dan keagamaan saat itu.

Pada saat Belanda makin menancapkan penjajahannya di bumi Nusantara, justru bangsa Indonesia makin sibuk dengan fanatisme suku, golongan, stratifikasi sosial, dan agama yang membabi buta. Dari kalangan umat Islam sendiri, perbedaan furu’iyyah cukup menjadi amunisi yang mengakibatkan kondisi masyarakat  makin centang perenang dan nyaris tanpa perekat persatuan yang kokoh.

Bagi Kiai Hasyim, perjuangan akan sia-sia tanpa persatuan. Yang mesti ditekankan kepada umat Islam adalah nilai-nilai ukhuwah, bukan persatean. Mesti bertempat tinggal dan memimpin Pondok Pesantren Tebuireng yang berada di pelosok desa di Jombang, namun Kiai Hasyim memiliki perhatian besar terhadap aspek keagamaan dan sosial politik umat yang saat itu di bawah penjajahan kolonial Belanda.

Setelah mendirikan NU, Kiai Hasyim menggalang antar-organisasi Islam yang ada di Tanah Air dalam organisasi bernama Majlisul Islam A’la Indonesia semasa penjajahan Belanda.  Ketika Jepang menguasai Indonesia, Kiai Hasyim dipercaya memimpin sebuah kantor ‘Kementerian’ yang mengurusi masalah-masalah agama di Indonesia.

Selain itu, Kiai Hasyim yang merupakan cucu KH Usman ini,  aktif menggalang persatuan di kalangan umat Islam melalui organisasi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yang menjadi wadah bersama berbagai organisasi Islam.

Sejak muda, Kiai Hasyim dikenal sebagai pemuda yang haus ilmu pengetahuan, terutama ilmu-ilmu agama. Sejumlah pondok di Tanah Jawa pernah didatangi dan Kiai Hasyim belajar ilmu agama kepada kiai pemangku pondok tersebut. Di antara pondok yang pernah jadi tempat nyantri Kiai Hasyim adalah Pondok Langitan di Tuban, Pondok Wonokoyo di Probolinggo, Pondok Trenggilis dan Kademangan di Bangkalan Madura, dan Pondok Siwalan Panji di Sidoarjo.

Yang patut dicatat adalah Kiai Hasyim pernah satu perguruan dalam pengembaraan mencari ilmu pengetahuan agama Islam dengan tokoh sentral ormas Islam Muhammadiyah: KH Ahmad Dahlan. Di pondok yang dipimpin Kiai Saleh Darat di Kota Semarang, kedua ulama besar itu sama-sama belajar mengaji dan nyantri kepada Kiai Saleh Darat.

Tak hanya di Indonesia, Kiai Hasyim menimba ilmu pengetahuan keagamaan Islam di Tanah Suci Makkah. Banyak ulama-ulama dari Makkah dan sejumlah negara lain yang ditimba ilmunya oleh Kiai Hasyim. Di antaranya, di bawah bimbingan Syaikh Mahfudz dari Termas, Pacitan yang menjadi guru agama bagi banyak pemuda dari berbagai negara berpenduduk Islam. Dari Syaikh Mahfudz,  Kiai Hasyim belajar tentang Hadits Sahih Bukhari.

Dari Syaikh Mahfudz pula, Kiai Hasyim belajar tentang tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah. Ilmu tarekat ini merupakan peninggalan dari Syaikh Nawawi Banten dan Syaikh Ahmad Khatib Sambas.

Selain itu, dari Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Kiai Hasyim belajar tentang tafsir Al Manar karya tokoh reformis Islam Muhammad Abduh. Syaikh Ahmad Khatib dikenal sebagai ulama kaum reformis dan anti-tarekat.

“Dari ulama ini, Kiai Hasyim memperoleh kecenderungan reformis. Sebagai  contoh, meski tak setuju terhadap sikap Abduh yang mencemooh ulama, Kiai Hasyim sangat memuji rasionalitas berpikir Abduh. Meski tak melarang tarekat dan tasawuf, Kiai Hasyim juga mengecam praktek-praktek tarekat yang menyimpang dari tradisi Nabi Muhammad SAW. Ketika kembali ke Indonesia, Kiai Hasyim melarang santrinya mengamalkan tarekat. Ia juga menentang praktik pemujaan yang berlebihan terhadap guru tarekat yang terjadi di Indonesia,” tulis Lathiful Khuluq dalam buku berjudul: Transformasi Otoritas Keagamaan, yang disunting Jajat Burhanudin dan Ahmad Baedowi (2003).

Pengayaan ilmu pengetahuan agama dan ilmu lain yang didapatkan Kiai Hasyim, baik saat nyantri di berbagai pondok di Pulau Jawa dan syaikh di Tanah Suci Makkah, menjadikan Kiai Hasyim sebagai pribadi paripurna dengan kapasitas keilmuan mumpuni. Kiai Hasyim tak sekadar ahli ilmu Hadits, banyak kecabangan keilmuan agama yang lain yang dia kuasai dengan perfect, seperti ilmu tafsir, falakh, tarekat, dan lainnya.

Dalam relasinya dengan pendirian ormas Islam NU di Surabaya pada 31 Januari 1926, Kiai Hasyim yang merumuskan dasar-dasar ideologis dan khittah perjuangan ormas ini.  Memang, Kiai Wahab Chasbullah, pendiri dan pimpinan Pondok Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, yang berjasa besar menggalang kehadiran ulama Islam Tradisional untuk membentuk barisan melalui instrumen bernama ormas Islam NU.

“Tapi tanpa restu Kiai Hasyim, pembentukan organisasi Nadhlatul Ulama (NU) tidak dapat dilaksanakan. Dalam tradisi pesantren murid tidak berani menentang gurunya. Selain itu, berkat kharisma dan kedalaman ilmu Kiai Hasyim, para ulama dari berbagai pesantren berbondong-bondong menggabungkan diri ke dalam organisasi ini. Mereka menganggap Kiai Hasyim sebagai panutan dan guru besar,” tulis Lathiful Khuluq.

Di bagian lain artikelnya, Khuluq mengutarakan bahwa sebagai Raisul Akbar (Ketua Agung), Kiai Hasyim tidak hanya berjasa dalam mengarahkan dan memperluas jaringan NU, tapi juga menjaga keutuhan dan mempromosikan NU, sehingga ormas kaum Islam Tradisional ini menjadi organisasi yang tersebar luas dan memiliki banyak cabang di Indonesia tak lama setelah didirikan.

Berkat kharisma, keluasan dan kedalaman ilmunya, banyak kiai dan pesantren di Pulau Jawa dan Madura menggabungkan diri ke dalam NU. Ormas Islam ini layaknya sebagai pondok pesantren besar, karena sifatnya menghimpun berbagai macam pesantren yang banyak tersebar di Pulau Jawa dan Madura. Relasi guru dan murid, kekerabatan, perdagangan, dan perkawanan ikut memperkuat kohesitas dan integrasi sosial NU.

Nilai penting lain dalam konteks nasionalisme yang diperjuangkan dan terus dikampanyekan Kiai Hasyim adalah persatuan. Seruan agar umat Islam bersatu (ittihad), saling mengenal (ta’aruf), dan tenggang rasa (ta’alluf) dikemukakannya saat muktamar NU tahun 1930. Ajakan tersebut terus diulang, termasuk dalam pembukaan muktamar NU di Kota Malang pada 1937, yang juga dihadiri kiai dan banyak tokoh kalangan Islam Modernis.

Sebab, Kiai Hasyim prihatin dengan kondisi umat Islam yang tercerai-berai dan saling memaki yang disebabkan masalah-masalah khilafiyah. Dalam konteks ini, Kiai Hasyim mengatakan: Telah sampai kepadaku kabar bahwa di antara kalian sampai kini ada yang sibuk menyulutkan api fitnah dan pertentangan. Kalian menjadikan saudara-saudara kalian sebagai musuh. Kalian tidak bersedia berdamai, tapi malah merusak. Wahai para ulama yang fanatik terhadap mazhab atau pendapat tertentu, tinggalkanlah sikap fanatisme kalian terhadap masalah furu’, yang dalam hal ini ulama terpecah dalam dua pendapat. Tinggalkanlah sikap fanatis, lepaskanlah, dan tanggalkanlah kepentingan-kepentingan yang merusak, pertahankan agama Islam. [air/bersambung]


Apa Reaksi Anda?

Komentar