Sorotan

Seri Artikel tentang Ulama (2)

KH Ahmad Azhar Basjir dan Kunci Kemajuan Muhammadiyah

KH Ahmad Azhar Basjir. [Foto: Wikipedia]

Menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah ke-11, KH Ahmad Azhar Basjir menjabat sejak tahun 1990-1995. Kiai Azhar menggantikan posisi KH Abdul Rozaq (AR) Fachruddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah paling lama. Kiai AR menduduki jabatan orang pertama di Muhammadiyah sejak tahun 1968 sampai 1990.

Muhammadiyah merupakan ormas Islam yang memayungi kaum Islam Modernis. Didirikan di DI Yogyakarta pada 18 Nopember 1912 oleh KH Ahmad Dahlan, pendirian ormas Islam ini tak bisa dilepaskan dengan perkembangan gerakan pemurnian dan pencerahan Islam yang berlangsung di banyak negara berpenduduk Islam. Khususnya di negara-negara di kawasan Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Selatan, Asia Tengah, Asia Tenggara, dan banyak negara lain berpenduduk muslim.

Gerakan pemurnian (Purifikasi) Islam dan pembaruan tersebut diperjuangkan banyak ulama dan intelektual muslim terkemuka, seperti Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Bin Abdul Wahab, dan lainnya. Poin penting gerakan pencerahan dan pembaruan Islam ini adalah ingin mengembalikan agar umat Islam kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah secara kaffah dalam kehidupannya. Kedua rujukan tersebut menjadi sendi strategis keberadaan dan kehidupan umat Islam.

Ormas Islam Muhammadiyah melakukan gerakan pembaruan Islam di Indonesia di bawah pimpinan KH Ahmad Dahlan. Dari kampung Kauman Kota Yogyakarta, gerakan ini memperoleh apresiasi tinggi di kalangan umat Islam, khususnya kelas menengah muslim di kawasan perkotaan. Orientasi kegiatan paling penting yang dilakukan Muhammadiyah adalah dakwah, pendidikan, kesehatan, aktifitas sosial seperti mengayomi dan menyantuni anak yatim piatu, dan lainnya.

Muhammadiyah sebagai gerakan amar ma’ruf nahi munkar akan terus eksist sepanjang masa. Kiai AR Fachruddin, salah satu Ketua Umum PP Muhammadiyah sempat ditanya salah satu petinggi lembaga pendidikan Taman Siswa, tentang kenapa Muhammadiyah terus berkembang dan maju sebagai gerakan, sedang Taman Siswa cenderung meredup gerakan dan perjuangannya.

Dengan enteng Kiai AR Fachruddin menjawab,” Yang diperjuangkan Muhammadiyah adalah amar ma’ruf nahi munkar, sedangkan Taman Siswa tujuannya adalah mencapai kemerdekaan. Dengan demikian, ketika capaian kemerdekaan nasional tersebut berhasil diraih dan dipertahankan, maka tujuan Taman Siswa telah dicapai dan selesai. Di sisi lain, tujuan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar tak pernah selesai.”

Dalam perspektif lebih dalam, KH Ahmad Azhar Basjir, Ketua Umum PP Muhammadiyah pengganti Kiai AR Fachruddin, mengatakan, Muhammadiyah dapat lestari dan maju karena bernisbah kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Dalam perjalanan sejarahnya, kata Kiai Azhar, Muhammadiyah ingin selalu meneladani Nabi Muhammad SAW, karena Rasulullah SAW adalah uswatun hasanah.

Muhamad Hisyam (2003) dalam artikelnya berjudul: KH Ahmad Azhar Basjir: Sosok Bersahaja Seorang Guru, menulis bahwa ada pandangan yang disampaikan Kiai Azhar tentang syarat seseorang dapat mencontoh pola hidup seperti Nabi Muhammad SAW. Pertama, selalu mengharap ridha Allah, bukan ridha yang lain. Kedua, meyakini kehidupan akhirat kelak merupakan tujuan hidup yang hakiki. Ketiga, senantiasa ingat kepada Allah SWT.

Dalam konteks lain, senantiasa ingat kepada Allah adalah berzikir. Kiai Azhar mengutarakan, makna zikir meliputi tiga dimensi. Pertama, zikir kontemplasi (berpikir). Kedua, zikir verbal (pelafalan). Ketiga zikir aplikatif, yakni mengingat Allah dalam bentuk amalan nyata.

“Karena zikir kepada Allah inilah Muhammadiyah mau berpayah-payah mendirikan sekolah, supaya anak-anak mendapatkan tempat belajar yang baik, dibentuk jiwanya untuk menjadi muslim yang baik,” kata Kiai Azhar seperti dikutip Muhamad Hisyam.

Lahir di Yogyakarta pada 21 Nopember 1928, Kiai Azhar berasal dari keluarga santri. Ayahnya, Kiai Basjir adalah seorang ulama terkenal dan pemuka Muhammadiyah di Kota Gudeg. Yang menarik, salah satu kiai dan guru dari Kiai Basjir adalah KH Hasyim Asy’ari, tokoh penting dan pendiri Nadhlatul Ulama (NU) dari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Kiai Basjir aktif di Muhammadiyah dan Kiai Hasyim sebagai tokoh sentral dan Rais Akbar NU. Yang menarik relasi di antara keduanya tak terputus, antara santri dengan kiainya, antara guru dengan muridnya. KH Zaini Ahmad Nuh memiliki gambaran menarik tentang relasi antara Kiai Basjir dengan Kiai Hasyim.

“Ketika KH Ahmad Dahlan baru mendirikan Muhammadiyah, menghadapi kenyataan ini, Kiai Basjir muda sempat bimbang apakah bergabung dengan perserikatan itu atau tidak,” kata Kiai Zaini sebagaimana dikutip Muhamad Hisyam.

Selanjutnya digambarkan Kiai Zaini, bahwa keragu-raguan yang dialami Kiai Basjir itu dianggap normal, sebab saat itu yang namanya organisasi adalah kenyataan langka. Sarekat Dagang Islam baru berdiri di Solo dan Budi Utomo satu-satunya organisasi yang ada di Yogyakarta, di mana Budi Utomo sebagian besar anggotanya adalah kaum priyayi.

Kiai Basjir merasa tak pantas dan tak mungkin masuk ke Budi Utomo. Dalam kebimbangan itu, Kiai Basjir memerlukan pertimbangan gurunya, KH Hasyim Asy’ari, yang di kemudian hari mendirikan ormas Islam NU dan pimpinan Pondok Tebuireng Jombang. Maka pergilah Kiai Basjir ke Jombang dan kepada gurunya, Kiai Basjir mengatakan, “Kiai Dahlan mendirikan perserikatan Muhammadiyah, apakah menurut pandangan Romo Kiai, saya boleh mengikutinya.”

Mendapat pertanyaan seperti itu, Kiai Hasyim menjawab,” Kalau Kiai Dahlan yang mendirikan, kamu ikut saja. Karena saya tahu siapa Dahlan itu. Dia seorang alim dan amanah.” Seketika itu saat kembali ke Yogyakarta, Kiai Basjir pun bergabung ke Muhammadiyah yang dipimpin KH Ahmad Dahlan. Dan di kemudian hari Kiai Basjir menjadi salah satu tokoh dan pilar ormas Islam Modernis. Bahkan, salah satu putranya, KH Ahmad Azhar Basjir, dipercaya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah menggantikan KH AR Fachruddin.

Sebagai seorang anak kiai dengan perilaku yang dilandasi nilai-nilai keagamaan yang kuat dan istiqomah, Kiai Azhar mendapatkan pendidikan yang lengkap. Pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta, lalu melanjutkan jenjang pendidikan ke Madrasah Al Falah Kauman Yogyakarta. Tamat dari madrasah tersebut, Kiai Azhar nyantri di Pondok Pesantren Tremas di Kabupaten Pacitan.

Saat itu, di akhir tahun 1890-an dan awal 1900-an, Pondok Tremas menjadi ‘kiblat’ penting pendidikan agama Islam bagi banyak kaum santri di Indonesia. Di Pondok yang terletak di Kecamatan Arjosari, Pacitan ini banyak tokoh yang belajar mengaji, nyantri, dan mendalami ilmu-ilmu agama Islam kepada pemangku pondok tersebut.

Selain seorang asal Yogyakarta bersama KH Azhar Basjir, Pondok Tremas menelorkan ulama dan intelektual Islam terkemuka di Indonesia, seperti KH Ali Maksum (pimpinan Pondok Al Munawwir Yogyakarta dan Rais Am PBNU), Prof Dr Mukti Ali (Menteri Agama di awal Kabinet Orde Baru Soeharto tahun 1970-an), dan lainnya.

Saat menimba ilmu di Pondok Tremas, yang memimpin pondok tersebut KH Abdul Hamid Dimyati. Kiai Abdul Hamid ini masih kerabat Syaikh Machfudz Al Tarmasi, yang menjadi guru agama dan syaikh terkemuka di Masjidil Haram Makkah. Kiai Abdul Hamid dikenal sebagai ulama dengan pandangan-pandangan modern dan sistem pendidikan di Pondok Tremas telah disesuaikan dengan sistem sekolah modern. “Kalau hendak menjadi seorang alim, Pondok Tremas adalah tempat paling tepat untuk belajar agama,” kata Kiai Basjir. Dan mulai 1942, Kiai Azhar berangkat ke Pacitan untuk menimba ilmu di Pondok Tremas.

Jenjang pendidikan Kiai Azhar bersifat paripurna. Tak hanya menempuh pendidikan agama di pondok pesantren, Ketua Umum PP Muhammadiyah ke-11 ini juga menyelesaikan gelar sarjananya di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) Yogyakarta, yang kini berubah menjadi IAIN Sunan Kalijaga. Setelah itu, Kiai Azhar mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Baghdad Irak di jurusan Sastra Arab di Fakultas Adab universitas tersebut. Baru setahun belajar di Universitas Baghdad, Kiai Azhar pindak Universitas Al Azhar Kairo, Mesir. Di universitas ternama di dunia ini, Azhar mengambil jurusan Islamic Studies Fakultas Darul Ulum.

Lulus dari Universitas dengan gelar MA, Kiai Azhar tak segera kembali ke Tanah Air. Baru pada tahun 1967, dia kembali ke Yogyakarta karena diwanti-wanti pulang oleh Ayahandanya, KH Basjir. Sekembalinya dari Mesir, Kiai Azhar dipercaya mengajar di Universitas Gadjah Mada dan sejumlah universitas laina di daerah ini. Dia kembali aktif di Muhammadiyah dan dipercaya memimpin Majelis Tarjih ormas Islam Modernis ini.

Dalam struktur organisasi Muhammadiyah, Majelis Tarjih merupakan komponen organisasi yang memiliki strategis. Majelis Tarjih adalah sebuah departemen yang didesain untuk memberikan putusan-putusan hukum berdasarkan metode tarjih. Secara praktis, metode tarjih adalah menentukan hukum mengenai masalah-masalah kontemporer dengan cara meneliti pendapat-pendapat ulama yang telah ada dalam semua mazhab, lalu mengambil keputusan berdasarkan pendapat yang paling dekat dengan Al Qur’an dan Al Hadits.

“Bagi Muhammadiyah yang sejak awal menekankan pembaruan keagamaan, Majelis Tarjih menempati posisi sangat sentral dalam memberantas praktek bermazhab dan membebaskan cara berpikir terikat menuju berpikir merdeka. Majelis Tarjih adalah instrumen tajdid dalam Muhammadiyah,” tulis Muhamad Hisyam.

Majelis Tarjih PP Muhammadiyah di bawah pimpinan Kiai Azhar Basjir terbukti sangat responsif terhadap berbagai problem sosial dan hal-hal lain yang berkembang secara faktual di masyarakat. Majelis Tarjih Muhammadiyah, misalnya, dalam sidang Tanwir PP Muhammadiyah tahun 1989 di Banda Aceh sempat diminta Menteri Agama Munawir Sjadzali untuk berani bersikap dalam menentukan hukum bunga bank. Sebab, dalam pandangan Menag Munawair, sikap Muhammadiyah tentang masalah ini adalah me-mauquf-kannya.

Atas input dan dorongan dari Menag Sjadzali tersebut, Kiai Azhar Basjir kepada pers mengatakan bahwa Muhammadiyah tidak pernah me-mauquf-kan hukum bunga bank. Dia mengutarakan, tahun 1968 saat muktamar Majelis Tarjih PP Muhammadiyah di Kabupaten Sidoarjo, Jatim telah diputuskan bahwa bunga bank ini mutasyabihat, yakni perkara yang belum memperoleh keputusan yang tegas halal dan haramnya. Menghadapi perkara-perkara seperti ini, umat Islam seyogyanya meninggalkannya.

Memang, pandangan-pandangan Kiai Azhar dalam soal fiqh, baik saat menjabat ketua Majelis Tarjih dan Ketua Umum PP Muhammadiyah terkesan konservatif dan prudent dalam penyikapannya. Pendirian Kiai Azhar dalam persoalan fiqh tampak kaku, tapi karena sering dikemas dengan bahasa filsafat sehingga menjadi terkesan luwes. Hal itu disokong penampilan kepribadiannya yang tenang seperti KH AR Fachruddin.

Tentang kepemimpinan Kiai Azhar Basjir di Muhammadiyah ini, ada pandangan menarik yang disampaikan Prof Dr Amien Rais, MA. Dia mengatakan, “Muhammadiyah di bawah Pak Azhar adalah kelanjutan Pak AR yang teduh ditambah kesediaan bekerja sama dengan pihak lain demi kemaslahatan umat. Pak Azhar Basjir adalah tipe orang yang teguh dalam akidah, sejuk dan istiqomah. Di bawah kepemimpinan Pak Azhar, Muhammadiyah tetap teduh, bahkan ukhuwahnya dengan ormas Islam lain meningkat.”

Sampai akhir hayatnya, Kiai Azhar telah menghasilkan karya intelektual sebanyak 32 buku. Kiai Azhar wafat di Yogyakarta pada 28 Juni 1994 dalam usia 66 tahun. Prosesi pemakamannya dihadiri ribuan umat Islam. Melihat fenomena hadirnya ribuan umat menghantarkan Kiai Azhar Basjir ke tempat peristirahatan terakhirnya, publik di Yogyakarta teringat dengan prosesi pemakaman Sultan Hamengkubuwono IX dan KH Ahmad Badawi, seorang tokoh Muhammadiyah lainnya.

“Kita baru mengetahui betapa nama Ahmad Azhar Basjir, Ketua PP Muhammadiyah, bersemayam di hati masyarakat luas ketika menyaksikan massa yang berjubel di Masjid Besar Yogyakarta yang serambi dan halamannya cukup luas. Sungguh luar biasa,” tulis Amien Rais. [air/bersambung]


Apa Reaksi Anda?

Komentar