Sorotan

Kegiatan Seni Rupa di Surabaya Tahun 1974 – 1991

Ribut Wijoto.

Kegiatan seni rupa di kota Surabaya mungkin masih belum terlalu semarak dibanding Yogyakarta dan Jakarta. Namun bukan berarti seni rupa Surabaya mati suri. Kegiatan berupa pameran maupun diskusi masih ajek digelar.

Tulisan berikut adalah catatan kegiatan seni rupa di Surabaya, khususnya yang melibatkan Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Catatan kegiatan yang mayoritas digelar di Galeri DKS, dulu bernama Galeri Surabaya.

Tanggal 22 – 25 Juli 1974, Dewan Kesenian Surabaya menggelar pameran lukisan bertajuk ‘Pameran Perkembangan Seni Lukis Surabaya’. Pemeran ini bertempat di Balai Pertemuan Maranatha.

Tahun 1975, Dewan Kesenian Surabaya menerbitkan buku yang ditulis oleh Rudi Isbandi. Berjudul ‘Perkembangan Seni Lukis di Surabaya Sampai 1975. Buku setebal 112 halaman ini mencatat berbagai gejala dan peristiwa seni rupa di Surabaya. Termasuk konflik antara seniman Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dengan Manikebu (Manifestasi Kebudayaan) hingga terbentuk Aksera.

Pada tahun 1978, Dewan Kesenian Surabaya menggelar Pekan Seni Surabaya. Acara pembukaan tanggal 11 Desember 1978. Selama 5 hari sejak 16 Desember 1978, Pekan Seni diisi oleh pameran seni rupa. Pameran bertempat di Loka Seni. Selain pameran, tanggal 17 Desember 1978, digeber Sarasehan Seni Rupa dengan pembicara M Dardjono. Dia mengusung tema ‘Problema Seni Rupa Surabaya’.

Tanggal 17 – 23 Mei 1985, Tedja Suminar menggelar pameran lukisan bertajuk ‘Citra Irian’ di Galeri DKS. Lelaki kelahiran Ngawi itu mengusung 35 lukisan hasil perjalanannya ke Irian Jaya (kini Papua). Dalam diskusi, Tedja Suminar mengaku bahwa hatinya terharu saat melihat masyarkat Wamena. “Kehidupan begitu polos, dengan alam kehidupan yang begitu keras,” ujarnya.

Lukisan dengan latar kehidupan di Irian Jaya kembali terulang dalam pameran dari Rudi Isbandi, 16 – 21 September 1985, di Galeri DKS. Rudi Isbandi memang datang ke Irian bersama Tedja Suminar. Keduanya sempat pula berpameran lukisan di sana. Menurut beberapa pengamat, karakter lukisan Rudi Isbandi adalah warna-warna transparan yang disapukan secara impresif. Karakter ini dijuluki ‘nuansa warna bening’.

Pekerja seni asal Austria, Herbert Bayer, berpameran di Galeri DKS, rentang waktu 29 Oktober – 1 November 1985. Dia membawa 43 karya seni yang terdiri dari 21 fotomontase, 8 fotografi murni, dan 14 lukisan. Herbert Bayer dalam karya fotomontase memperlihatkan kecermatan teknis proses cetak. Kombinasi antara objek dan fantasi membuat karyanya menjadi penuh warna dan berwatak surealis.

Koempoel Soeyatno akhirnya menggelar pameran tunggal juga, di Galeri DKS, 14– 20 Agustus 1986. Itu pameran lukisan pertama kali setelah ia berusia 74 tahun. Pria kelahiran Madiun, 24 Nvoember 1912, ini mendedahkan tema ‘Soerabaja Tempo Doeloe’. Objek lukisan memang tempat-tempat di Surabaya sebelum kemerdekaan. Semisal Kembang Jepun, Pegirian, Pasar Pabean, Pasar Kembang, Kayuun, dan lain sebagainya.

Koempoel Soeyatno sendiri sebenarnya sudah tidak memiliki lukisan. Semua karyanya selalu langsung terjual. Kerap kali dijual dengan harga sangat murah. Sekadar pengganti cat dan kanvas. Adapun yang dipamerkan di Galeri DKS adalah lukisan Koempoel milik Khudori. Kolektor lukisan ini memiliki sekitar 1.000 karya Koempoel.

Topeng-topeng berukuran besar berkesan primitif menjadi pilihan objek estetik lukisan Abdo Brada. Sakral, kadang juga gelombang jiwa yang meledak-ledak, suasana suram serta mistis. Itulah kesan yang digeber oleh Amdo Brada. Kesakralan juga tersaji dalam karya lukis Harryadjie. Pelukis yang gemar berpetualang di dunia gaib ini mengambil objek binatang. Namun, binatang ditampilkan sebagai sebuah lambang dari kedalaman jiwa dan misteri semesta. Karya kedua pelukis dipamerkan di Galeri Surabaya, 25 hingga (?) Agustus 1986.

Untuk tujuan pembinaan bidang seni rupa, Dewan Kesenian Surabaya membuka Sekolah Menulis Minggu. Pendaftaran dibuka sejak 10 Januari 1985. Uang pangkal sebesar Rp 500 dan iuran rutin sebesar Rp 250. Namun dengan berjalannya waktu, siswa tidak lagi ditarik iuran. Semua peralatan menggambar ditanggung oleh Harryadjie BS. “Sekolah ini merupakan dharma bagi saya untuk kehidupan seni rupa di Surabaya,” kata Harryadjie.

Siswa sekolah ini diajari pembuatan arca maupun lukisan. Dan begitulah, setiap Minggu pagi, anak-anak usia SD dan SMP tampak sibuk belajar melukis di teras DKS. Ada dari mereka yang duduk-duduk, tiduran berselonjor, dan kadang mondar-mandir. Harryadjie sendiri memandu siswanya secara longgar namun tertib. Dia memberi kebebasan murid-muridnya dalam berekspresi namun dilarang mengabaikan pelajaran di sekolah. Jika diketahui nilai rapor di sekolah sampai turun, sang murid diskors sementara.

Kembali ke soal pameran lukisan di Galeri DKS. Pelukis Cak Kandar ternyata tidak hanya melukis bulu. Tanggal 9 – 15 November 1986 buktinya. Cak Kandar memamerkan 23 lukisan yang bukan dari bulu tetapi dari cat minyak. Menurutnya, melukis dengan cat minyak sekadar untuk mengisi kejenuhan. Maka, dia tidak memiliki motivasi ekonomi. Hasil penjualan lukisan dari pameran itu disumbangkan ke DKS.

Pasar Seni di halaman DKS. Kelompok Seniman Surabaya menggelar Pasar Seni untuk menandai pergantian tahun 1986 ke tahun 1987, selama tiga hari, yaitu 29 Desember – 1 Januari. Setiap seniman diberi ruang untuk menjual semua bentuk karya seni. Mulai dari lukisan, kaos, patung, maupun buku.

Pasar Seni dilengkapi dengan diskusi yang menampilkan Dwidjo Sekatmo, Muhammad Ali, dan Soetanto Suphiady. Pembacaan puisi oleh Eka Budianta. Ada pula pentas drama berjudul ‘Taman’ oleh Bengkel Muda Surabaya (BMS). Sedangkan tepat malam tahun barunya, disajikan seni tradisional reyog.

Sebanyak 11 mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) menggelar pameran lukisan di Galeri DKS, 1 -8 Agustus 1987. Mereka mengusung aliran surealisme. Salah satunya mahasiswa bernama Kukuh Nusantara (putra dari pelukis OH Supono) yang menonjolkan teknik olesan jari. Terkait teknik surealisme ini, beberapa pengamat menyatakan, sebagian besar dari karya mahasiswa itu tampak masih coba-coba.

Tedja Suminar kembali menggelar pameran di Galeri DKS, yaitu 15 – 19 September 1987. Kali ini, dia berpameran bersama Lim Keng. Pameran kedua tokoh ini patut mendapat catatan tersendiri. Sebab, keduanya adalah pelukis sketsa asal Surabaya yang telah punya reputasi nasional. Terlebih, keduanya telah puluhan tahun menekuni sketsa, sebuah kesetiaan estetik yang jarang ditemukan di Indonesia.

Harian Surabaya Post, Kamis (8 Oktober 1987), memberitakan tentang pameran retrospektif dari pelukis Doyo Prawito di Galeri DKS, tanggal 5 – 10 Oktober 1987. Pada berita ini, lukisan Doyo disebut membawa aliran movisme, sebuah aliran lukis yang banyak mengandalkan unsur gerak cahaya. Sayangnya, lukisan Doyo tersebut dinilai gagal menggabungkan antara cahaya dengan dengan objek (modelnya): “Namun yang terjadi, model manusia itu ternyata tidak tunduk dengan hukum cahaya. Gambar manusia yang ada di situ seolah-olah seperti tempelan belaka”.

Meski begitu, berita di Surabaya Post tersebu tetap masih mengapresiasi beberapa lukisan Doyo Prawito. Tertulis seperti ini: “Ada sejumlah lukisan yang dipajang di Galeri DKS kali ini yang bisa disebut berhasil. Tetapi tak ada gambar wanita telanjang dipajang sebagaimana halnya pameran di Hotel Garden dua pekan lalu”.

Dua pelukis muda Surabaya, Setyoko dan Tiko Hamzah, menggelar pameran di Galeri DKS, 10 – 15 Oktober 1988. Kedua pelukis yang sama-sama dari IKIP PGRI Surabaya ini punya kecenderungan bercorak surealisme.

Sejak hari Jumat (21 Oktober 1988), Galeri DKS ditutup sementara oleh Pemerintah Daerah Surabaya. Pentupan dilakukan karena penyangga atap dan gentengnya telah rusak parah. Persoalannya, sebelum ada pemberitahuan penutupan, Biro Seni Rupa DKS telah menjadwalkan pameran lukis dari Kris AW dan Mas Dibyo. Sebagai solusi, pameran kedua pelukis akhirnya dipindahkan ke Loka Seni sehingga masih tetap di area Balai Pemuda Surabaya.

Dewan Kesenian Surabaya dinilai sukses ketika mengadakan Bursa Lukisan ’91 di Galeri DKS, 14 – 31 Agustus 1991. Bursa diikuti oleh puluhan pelukis Surabaya. Ada 79 karya lukis yang dipajang di dalam maupun di lobi Galeri DKS. Tiap malam jumlah pengunjung mencapai ratusan orang. Uniknya, dalam bursa ini, Biro Seni Rupa DKS memasang aturan bahwa harga lukisan tidak boleh lebih dari Rp 300 ribu.

Oleh sebab antusias masyarakat sangat besar, pelaksanaan Bursa Lukisan ’91 diperpanjang beberapa hari. Rencana awal ditutup 31 Agustus menjadi diundur 4 September 1991. Pada ajang ini lukisan Thalib Prasojo terjual dengan harga Rp 150 ribu, lukisan Syamsul terjual Rp 200 ribu, lukisan S Purnomo laku Rp 250 ribu, lukisan Amang Rahman laku Rp 300 ribu.

Menyambut Hari Pahlawan, Galeri DKS menjadi tempat pameran dari 15 pelukis wanita, 3 – 11 November 1991. Ada 8 pelukis wanita asal Surabaya. Terdiri dari Utut Hartono, Sri Rahayu, Siti Riyati, Billaningsih, Dwi Hadiah, Yuliascana, Nunung Bachtiar, dan Hening Purnamawati. Selebihnya pelukis wanita asal Jakarta. Terdiri dari Yuriah Tanzil, Sri Robustina, Dewa Retno, Patricia Lanny Andrianti, Diany A Sinung, Kismaini, dan K Djiwito. Keindahan bunga mendominasi karya para pelukis wanita ini. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar