Sorotan

Karena Aroma Buku Itu Seksi…

Paket tebal berisi sejumlah buku itu tiba di rumah mertua Elita Sitorini beberapa jam setelah suaminya, Adi Winarno, dimakamkan. Adi memesan buku-buku itu semasa hidup. Semasa sedang melawan penyakit yang menyebabkan benjolan bertengger di lehernya.

Ada dua buku Eka Kurniawan: Lelaki Harimau dan O. Lupakan Payung dan Biarkan Hujan, kumpulan puisi Hasan Aspahani. Anjing Gunung karya Irma Agryanti. Dinding Diwani, kumpulan puisi Kiki Sulistyo. Buku tentang Ruang karya Avianti Armand.

Buku adalah bagian dari cinta Elita dan Adi dalam perjalanan rumah tangga mereka yang singkat. Tujuh tahun. Mereka sama-sama suka membaca, dan sama-sama pemburu buku dengan tema yang berbeda. Elita lebih menyukai buku-buku novel karya sastawan luar negeri abad pertengahan seperti Jane Austen, novel pop macam Harry Potter karya JK Rowling, atau novel petualangan karya Dan Brown. Sementara Adi lebih menyukai buku-buku puisi. Ia biasa menulis puisi untuk Elita dan menyapa istrinya dengan sapaan kesayangan Bunga Hitam.

Selain dua anak perempuan yang masih berusia balita, Adi meninggalkan tumpukan buku kepada istrinya. Sebagian buku itu hilang dalam perjalanan pindah rumah dari Kabupaten Jember ke Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. “Ada satu kardus yang jatuh dari truk. Rasanya ingin marah dan menangis,” kata Elita yang pernah menangis gara-gara buku Libri di Luca yang baru dibelinya tertinggal di kedai makan.

Dengan bantuan teman, Elita memasang pengumuman kehilangan di media sosial. Siapa tahu ada yang menemukan di jalan. Hasilnya: nihil.

Orang mungkin tertawa. Buat apa menangisi buku yang hilang? Lagipula, seandainya ditemukan pun, orang yang menemukan tak akan merasa terlalu beruntung. Mungkin buku-buku itu langsung ditimbang dan dijual kepada pedagang barang loakan. Dan bukankah sudah bukan masanya lagi buku cetak? Ini era buku digital. E-book.

Mediaindonesia.com edisi 18 November 2020 melaporkan, selama masa pandemi, penjualan buku digital di Inggris naik 17 persen dengan kisaran pendapatan £144 juta atau Rp2,4 triliun pada paruh pertama. Sementara penjualan buku cetak turun sebesar 17 persen atau menjadi £1,1 miliar di paruh pertama.

Tren penurunan penjualan buku cetak ini dibenarkan Sirajudin Hasbi, manajer penerbit buku Fandom. “Bisnis buku di Indonesia sebenarnya belum menjadi bisnis yang menggiurkan. Dari sepuluh judul yang diterbitkan, dua buku saja jadi best seller sudah cukup untuk menjalankan operasional,” katanya.

Dukungan pemerintah terhadap bisnis buku juga masih minim. Tanpa ada subsidi, harga kertas terus naik dan otomatis mempengaruhi harga buku. “Per Februari kemarin ada kenaikan harga produksi, karena ada kenaikan harga kertas. Kalau ada subsidi akan menekan biaya cetak akan sangat membantu,” kata Hasbi.

Hasbi masih belum begitu tertarik menjual dalam bentuk buku digital. Ini karena penjualan di Google Playbook mensyaratkan pembagian keuntungan yang terlalu besar. “Kami masih belum berani secara hitung-hitungan. Kalau dijual langsung secara sistem (sendiri), kami belum siap. Takutnya justru pembajakan akan lebih tinggi, karena orang lebih suka cari gratisan kalau online.”

“Jadi kami cari duitnya dari penjualan buku cetak. Revenue tetap paling mudah dan memungkinkan. Pasar Indonesia masih pasar buku cetak, meski kami harus berdarah-darah,” kata Hasbi.

Situasi ini diperparah kondisi pandemi. Penjualan buku anjlok seiring dengan minimnya orang ke toko buku. Bahkan saat awal pandemi, ada penerbit yang mengeluhkan ketiadaan sama sekali buku yang terjual di toko buku.

Penerbit agak terselamatkan dengan penjualan buku dalam jaringan. Namun mereka harus banting harga melalui model penjualan sejumlah buku dalam satu paket alias paket hemat. Hasbi menyebut penjualam buku dalam jaringan ini adalah masa depan bisnis buku cetak di Indonesia.

Nur Elya Anggraini, penggemar dan pembaca buku dari Kabupaten Bangkalan, Madura, juga lebih banyak membeli buku cetak secara daring. Ia tak begitu suka membaca buku digital. “Saya sudah terbiasa baca buku fisik sejak kecil. Lagipula kalau saya membaca buku di depan laptop atau ponsel terlalu lama, leher dan mata rasanya tidak enak. Kalau ada yang mengirimkan e-book, biasanya saya cetak,” kata alumnus Fisip Universitas Jember ini.

Elita setali tiga uang. Lebih nikmat membaca buku cetak daripada buku digital. “Aroma buku cetak seksi. Aku merasa seperti berada di tengah perpustakaan kuno ketika membaca,” katanya, tertawa.

“Buku cetak juga ramah di mata, apalagi kalau kualitas kertasnya bagus. Saya berkacamata. Baca buku setebal 900 halaman lebih kalau pakai online menyiksa banget di mata. Selain itu kalau baca buku digital butuh biaya untuk online. Kalau pun diunduh, harus ada perangkat penyimpan di ponsel. Kalau isinya penuh, susah,” kata mantan pegawai rumah sakit daerah di Jember ini.

Mengoleksi buku cetak memang berisiko. Rayap, kemungkinan hilang, dan kelembaban jadi musuh utama. Namun, menurut Elita, itu bisa diminimalisasi. Salah satunya seperti yang dilakukan Elya agar buku tak raib. “Meminjamkan buku hanya kepada orang-orang yang dipercaya,” katanya.

Elita dan Nur Elya sama-sama menyediakan anggaran setiap bulan untuk membeli buku dsan membangun perpustakaan pribadi. “Saya mulai membaca buku sejak SD dan SMP. Biasanya dulu saya ambil dari uang jajan untuk beli atau sewa buku saat masih di pondok pesantren. Kalau saya kekurangan uang, saya selalu minta ibu, dan ibu biasanya marah. Orang tua saya kan dulu PNS guru yang tidak seperti PNS sekarang tingkat kesejahteraannya,” kata Elya.

‘Perpustakaan pribadi penting buat saya, karena saya seperti punya nyawa tambahan dan untuk memperkenalkan buku atau dunia literasi kepada anak-anak saya. Warisan bukan hanya soal harta benda, tapi juga bahan bacaan yang bagus. Mudah-mudahan anak-anak saya juga suka baca buku,” kata Elya.

Bagaimana memilih buku yang bagus untruk dibeli? Elita menilai tak ada buku yang bagus dan jelek. “Yang ada adalah buku yang bisa dinikmati dan tidak,” katanya.

Elita punya tips untuk penghobi buku pemula: sesuaikan dengan minat. “Awal kita membaca buku adalah dasar untuk selanjutnya. Kalau awal baca kita sudah tidak suka, mau tidak mau selanjutnya akan malas membaca. Kalau suka novel, ya baca yang ringan-ringan dulu. Kalau suka K-pop, ya baca saja K-pop,” katanya.

“Kalau saya baca buku random, acak saja. Kalau judulnya membuat saya tertarik, saya akan beli dan baca. Tapi semakin lama saya menyadari kalau saya menyukai buku-buku sastra, terutama novel. Tips saya: lihat judul, baca resensi, baca sekilas, baca daftar isi, atau ada di bagian buku yang saya butuhkan, ya saya beli,” kata Nur Elya.

Elita menyarankan pembaca buku untuk ikut klub buku di internet seperti Good Reads. Ia juga menyarankan agar lebih sering berkomunikasi dengan penyuka buku lainnya untuk saling berbagi informasi.

“Jangan takut kena book shaming atau jangan melakukan book shaming,” kata Elita. Book shaming adalah bentuk pelecehan terhadap minat baca buku orang lain. Elita pernah kena book shaming, karena suka novel-novel seperti Harry Potter atau buku-buku imajinatif ala kanak-kanak yang disebut orang lain tak sesuai dengan usianya yang memasuki 38 tahun.

Bagi Nur Elya, membaca buku adalah masalah kenikmatan. Tidak ada yang perlu dikompetisikan atau dibuat adu gengsi. “Kalau sudah baca buku, yang namanya capek dan stres hilang. Kemudian kita ketemu banyak hal baru, banyak cara berpikir baru,” katanya.

Buku juga berarti kenangan. Nur Elya terkenang bagaimana ayahnya merawat buku-bukunya di rumah, bahkan buku hariannya. “Dulu saya curhat di buku itu. Saya jatuh cinta sama siapa, naksir siapa. Surat-surat cinta monyet sampai sekarang masih ada. Kalau saya baca ketawa-ketawa,” katanya.

Elita juga berbagi kenangan tentang suaminya pada Hari Buku Sedunia, Jumat (23/4/2021). Dia hadiahkan Buku tentang Ruang dan Lelaki Harimau kepada siapapun yang bersedia mampir dan menjawab pertanyaannya soal buku di akun Facebook dan Instagram pribadinya. [wir/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar