Sorotan

Karanggayam Bukan Melwood

Surabaya (beritajatim.com) – Melwood di kawasan West Derby menutup gerbangnya untuk terakhir kali, 9 November 2020, setelah selama 70 tahun menjadi pusat pelatihan klub sepak bola Liverpool, Penguasaan lahan diserahkan kepada Torus, sebuah perusahaan pengembang perumahan, dengan harga jual 10 juta pound. Manajemen Liverpool memindahkan fasilitas pelatihan di Kirkby, jadi satu dengan akademi yang lebih dulu berada di sana pada 1998.

Melwood adalah bagian dari sejarah panjang Liverpool, selain Stadion Anfield, The Kop, dan boot room. Anfield masih menjadi kandang Liverpool untuk semua pertandingan resmi dan uji coba. Sementara boot room, sebuah ruang penyimpanan sepatu yang legendaris dan mitis itu, sudah digusur. The Kop sudah tak lagi menjadi tribun berdiri karena sudah direnovasi pada 1994.

Manajemen Liverpool membeli lahan di Melwood dari Sekolah St Francis Xavier. Nama Melwood adalah akronim dari nama sepasang pendeta yang berjasa mengembangkan sepak bola di sekolah tersebut, Melling dan Woodlock.

Para pemain biasa berlari bolak-balik dari Anfield ke Melwood yang berjarak kurang lebih 4,5 kilometer. Bill Shankly, manajer legendaris Liverpool, memulai revolusinya dengan membenahi Melwood yang berantakan. Rumput-rumput liar begitu tinggi. Batu-batu, kerikil, dan pecahan beling di sana-sini.

Saking berantakannya, Shankly sempat berkata kepada istrinya, Nessie: ‘Apakah aku telah membuat kesalahan dengan meninggalkan Huddersfield untuk melatih Liverpool?’.

Bersama staf pelatih kepercayaannya, Bob Paisley, Joe Fagan, Reuben Bennett, dan tukang rawat lapangan Eli Wass membersihkan dan membenahi Melwood agar layak menjadi tempat berlatih. Pemain diantar dari Melwood ke Anfield dan sebaliknya dengan bus. Tak ada lagi sesi berlari pergi-pulang yang menghabiskan stamina sia-sia. Mereka kini berlatih lebih teratur dan tersistematis. Sementara itu, para fans dan warga lokal berusaha mengintip latihan dengan memanjat atau menyandarkan tangga ke tembok.

Tahun 2001, Manajer Gerard Houllier dan Arsitek Atherden Fuller Leng bekerjasama memperbarui fasilitas latihan di Melwood. Mereka memodernisasinya dengan meniru model Camp Nou Barcelona.

Di bawah rezim kepemilikan John W. Henry dan Fenway Sports Group, sebuah fasilitas pelatihan modern baru mulai dibangun pada September 2018 di Kirkby senilai 50 juta poundsterling. Jaraknya sekitar 12 kilometer dari pusat kota Liverpool.

Tom Werner, pejabat klub, menyebut ini era baru. Dan mereka menandai berakhirnya era lama dengan elegan dan historis: mengubur sebuah kapsul waktu di Axa Training Centre, Kirkby, untuk dibuka lagi pada 2070. Ada 26 barang yang dikubur di dalamnya, antara lain sepasang kacamata manajer Jurgen Klopp, sepasang sepatu Virgil Van Dijk, sepasang sarung tangan Alisson Becker.

Sementara di Liverpool, kapsul waktu menjadi penanda era baru, era baru Persebaya ditandai dengan sengketa perebutan hak milik atas Wisma Eri Irianto dan Lapangan Persebaya di Karanggayam, Surabaya, antara PT Persebaya Indonesia dengan pemerintah kota. Persebaya memenangi pertempuran di pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. Namun ini masih jauh dari final, jika Pemkot Surabaya mengajukan kasasi.

Mungkin terlalu jauh membandingkannya, namun antara Melwood dan Karanggayam, ada jejak semangat sejarah yang sama pada sebuah klub: pembinaan. Penyatuan lokasi akademi dan pusat latihan tim senior Liverpool adalah keinginan Jurgen Klopp agar dekat dengan 170 pemain muda yang berlatih di Kirkby.

Pelatih asal Jerman itu ingin melihat sendiri anak-anak muda berlatih di akademi dan berkompetisi agar bisa masuk tim profesional Liverpool. Selain itu, dengan berdekatannya pusat pelatihan dan akademi, Klopp berharap para pemain muda bisa melihat langsung pemain-pemain bintang Liverpool, sehingga bisa meningkatkan motivasi.

Klopp mendesain kompleks pelatihan tim senior tersebut sedemikian rupa, sehingga tak ada akses langsung bagi para pemain muda untuk memasukinya. Para pemain muda harus menunjukkan prestasi lebih dulu agar bisa masuk ke sana. Ada nilai-nilai yang ingin diajarkan: bahwa untuk meraih sesuatu, kalian harus berusaha keras. Tak ada makan siang gratis.

Nilai-nilai ini yang sebenarnya sudah tertanam secara kultural di Karanggayam, walau dari aspek modernisasi pelatihan sepakbola jelas jauh dari ideal. Tak ada akademi sepak bola sebagaimana layaknya klub sepak bola di Eropa memang. Namun selama puluhan tahun ada kompetisi internal dan kelompok umur rutin yang diikuti klub-klub sepak bola amatir di Lapangan Persebaya.

Terakhir, ada 10 klub yang menjadi peserta kompetisi internal Seri A Senior, 10 klub Seri A U15, 10 klub Seri B Senior, dan 10 klub Seri B U15. Kompetisi ini memasok pemain-pemain untuk Persebaya, persis seperti akademi di Kirkby yang memasok pemain muda untuk Liverpool.

Lapangan Persebaya berada satu kompleks dengan Wisma Eri Irianto atau Mes Persebaya. Sebelum PT Persebaya Indonesia mengambil alih kepemilikan klub, sebagian besar pemain Persebaya tinggal di wisma. Interaksi pemain dengan warga sekitar dan suporter sangat dekat. Pemain-pemain yunior juga bisa bertemu dengan para pemain senior. Tak ada jarak.

Bonek-bonek kecil sering duduk mengelilingi lapangan untuk menyaksikan para idola mereka bermain. Nama-nama pemain Persebaya sama nyaringnya di telinga dengan nama-nama pemain sepak bola Eropa. Sebagian pemain Persebaya pernah merasakan bagaimana menjadi Bonek dan mendukung klub mereka di Stadion Gelora 10 Nopember yang berada di sebelah Wisma Eri Irianto.

Saat pemain asing datang, mendadak jumlah penonton latihan tim meningkat. Bahkan pernah suatu waktu, latihan gagal digelar karena penonton terlalu banyak.

Saat nama klub disengketakan, Wisma Eri Irianto dan Lapangan Persebaya menjadi benteng pertahanan identitas terakhir yang dijaga oleh para Bonek. Mereka berjaga untuk mencegah pihak yang bersebrangan mengambil alih lokasi tersebut.

Hingga sengketa berakhir dan dimenangi PT Persebaya Indonesia yang didukung Bonek, tak ada yang mengambil alih wisma dan Lapangan Persebaya. Pemerintah Kota Surabaya justru melakukannya, setelah Persebaya kembali ke Liga 1. Satuan polisi pamong praja datang untuk mengosongkan tempat itu, Rabu (15/5/2019). Wali Kota Tri Rismaharini menyatakan pihaknya ingin menyelamatkan aset, dengan dalih izin penggunaan wisma itu oleh Persebaya sudah berakhir dalam tiga tahun terakhir.

Konflik ini berlanjut ke pengadilan. Namun kompetisi internal pun terkena imbasnya. Publik sebenarnya dirugikan. Namun urusan di Karanggayam tak terlalu menyita perhatian masyarakat sekitar, karena konflik dilokalisir pada Persebaya dan Pemkot Surabaya.

Ini berbeda dengan isu perpindahan Melwood. Warga sekitar dan wakil rakyat menggelar kampanye ‘Selamatkan Melwood’. Mereka menginginkan agar fasilitas sepak bola di sana tetap dibuka untuk digunakan komunitas masyarakat setempat. Namun alih-alih demikian, Melwood akan dibuldoser dan dijadikan perumahan.

Modernisasi sepak bola memang menghadirkan konsekuensi meninggalkan yang tua dan mungkin lapuk. Perubahan adalah keniscayaan, dan mereka di Liverpool meninggalkan yang lampau dengan penuh rasa hormat. Mungkin Persebaya menempuh jalur yang agak berbeda. Pertanyaannya: masa depan bagaimana yang hendak dirancang setelah sengketa Wisma Eri Irianto dan Lapangan Persebaya benar-benar selesai? Hidup, tentu saja, tak akan berhenti setelah pertempuran usai. [wir]





Apa Reaksi Anda?

Komentar