Sorotan

Kali Ini Tamparan Keras Buat PAN

Ribut Wijoto.

TAHUN 2020 INI, ujian berat menimpa Partai Amanat Nasional. Beberapa kader potensialnya mengundurkan diri. Tentu saja bukan undur diri yang baik-baik. Tetapi digelibati dengan beragam polemik dan konflik.

Ada problem internal di tingkat elit partai. Dan karenanya, berimbas luas ke tingkat kader di bawahnya. Juga merembet ke wilayah konstituen. Gejolak. Dua kubu berhadap-hadapan. Saling berebut opini kebenaran. Situasi partai pun jauh dari kondusif.

Hanafi Rais tiba-tiba dari mundur dari kepengurusan DPP PAN 2020-2025, Ketua Fraksi PAN DPR RI, serta anggota DPR RI 2019-2024. Semua tahu, dia adalah anak sulung dari Amien Rais, salah satu pendiri sekaligus Ketua Umum PAN periode pertama. Calon Ketum yang kalah –namun sebenarnya memiliki dukungan cukup luas pula- Mulfachri Harahap tiba-tiba diturunkan dari jabatan Wakil Ketua Komisi III DPR.

Sedangkan di media massa, wacana berhembus keras, beberapa elit PAN berencana mendirikan partai baru. Wacana yang juga terlontar dari kader-kader PAN.

Konflik internal PAN memang tidak tiba-tiba muncul. Tanda-tanda kurang harmonis di tataran elit sudah merebak dalam beberapa tahun terakhir.

Semisal waktu Pemilihan Presiden RI tahun 2019 lalu. Ketum PAN Zulkifli Hasan telah mengambil kebijakan untuk mendukung Calon Presiden Joko Widodo (Jokowi). Tetapi Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais secara terang-terangan menolak. Amien Rais menjatuhkan dukungan ke Calon Presiden Prabowo Subianto.

Konflik memuncak saat kongres pada Februari 2020 lalu. Zulkifli Hasan yang maju bertarung sebagai ketua umum mendapat perlawanan keras dari kubu Amien Rais yang mengusung Mulfachri Harahap. Perlawanan kandas. Zulkifli Hasan akhirnya kembali terpilih sebagai Ketua Umum untuk masa jabatan 2020-2025.

Kekalahan kubu Amien Rais meninggalkan luka mendalam. Mereka merasa dicurangi. Maka, konflik pun menjadi berkepanjangan. Titik temu entah berada di ruang sebelah mana.

Konflik berkepanjangan ini memunculkan pertanyaan pelik. Bagaimana nasib PAN ke depan?

Konflik internal di tataran elit memang ibarat ‘tamparan keras’ bagi sebuah partai. Tidak terkecuali dengan PAN. Tetapi tamparan keras itu bisa pula dipahami sebagai dinamika.

Hampir semua partai besar di Indonesia pernah mengalaminya. Justru, tamparan keras di tataran elit dapat dimanfaatkan untuk konsolidasi ulang. Membangun kekuatan yang lebih solid. Untuk itu, PAN perlu belajar pada partai-partai lain yang telah melewati masa-masa sulit berupa tamparan keras berwujud konflik internal.

Golkar adalah partai penguasa di sepanjang Orde Baru. Ketika memasuki era Reformasi, bahkan hingga sekarang, Golkar kenyang dengan konflik internal. Tetapi lihat saja, Golkar mampu melewati secara cantik. Golkar tak sekalipun terpental dari posisi 3 besar pada tiap Pemilu.

Golkar pernah mengalami periode dualisme. Kepengurusan ganda dengan dua ketua umum. Saling adu kekuatan yang berlarat-larat. Mulai dari adu argumentasi di media sosial hingga saling lapor di meja hijau (baca: pengadilan).

Perpecahan di elit Golkar bahkan berujung pada pendirian partai baru. Kemunculan partai seperti Gerindra, NasDem, Hanura dan lain-lain tidak lepas dari campur tangan elit-elit Golkar yang memisahkan diri.

Sekali lagi, konflik-konflik itu tidak menyurutkan status Golkar sebagai partai besar.

Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan justru mengalami konflik keras sejak awal berdiri. Perjuangan tanpa lelah untuk mendapatkan legalitas sehingga bisa mengikuti Pemilu tahun 1999. Beberapa elit PDI Perjuangan juga berkonflik sampai kemudian mendirikan partai baru.

Dengan kadar dan pola yang berbeda-beda, konflik internal elit partai pernah melanda Partai Demokrat, Partai NasDem, Partai Hanura, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), maupun Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Toh hingga kini, kesemua partai itu mampu melewati konflik dan tetap bertahan di jajaran partai papan atas di Indonesia.

Kini saatnya PAN melakukan konsolidasi ulang. Jika memang tokoh-tokoh elit bisa diajak kembali rukun, itu sangat patut disyukuri. Tetapi jika memang ngotot memisahkan diri serta membentukpartai baru, itu tidak pula perlu disesali.

Jajaran petinggi PAN cukup menyikapinya dengan selalu memperkokoh mesin partai. Sebagai partai berusia hampir 22 tahun (berdiri 23 Agustus 1998), jaringan struktural PAN menggurita dari tingkat pusat (Jakarta) dan menjalar ke tingkat provinsi hingga ke daerah-daerah terpencil.

Mesin partai yang telah rapi ini harus diperkokoh kembali. Tiap level kepengurusan perlu diisi dengan kader-kader yang mau berkerja keras dan memiliki loyalitas tinggi. Konsolidasi sekaligus evaluasi.

Penting pula untuk selalu dilakukan, yakni merawat konstituen. PAN telah punya pemilih tradisional. Mereka t idak boleh merasa diabaikan. Kebijakan garis politik PAN adalah juga cerminan aspirasi konstituen.

Untuk itu, kader-kader PAN harus rajin turun ke bawah. Mendatangi konstituen, menyapanya, mendengarkan keluhannya, menangkap mimpi-mimpinya, lalu memperjuangkan secara konkret.

PAN boleh juga belajar pada situasi klub sepak bola. Pada dunia sepak bola, penggemar bisa membedakan kecintaan pada klub dengan kekaguman pada pemain bintang. Semisal klub Manchester United. Penggemar memang mengidolakan dan menggumi David Bechkam atau Cristiano Ronaldo. Tetapi ketika dua pemain itu pindah ke Real Madrid, penggemar tetap mencintai Manchester United. Mereka tidak lantas berpindah mencintai Real Madrid.

Psikologi kejiwaan konstituen partai kurang lebih sama. Mereka berada pada garis antara mencintai institusi pertai dan mengagumi kader-kader terbaik partai. Nah, kecintaan konstituen terhadap institusi partai ini harus dirawat serta dijaga. Agar bila kader-kader terbaik berpindah partai atau mendirikan partai baru, cinta konstituen tidak turut berpaling.

PAN adalah salah satu partai besar di Indonesia. Konflik internal bukan alasan yang menjadikan PAN bakal terpuruk. Ketua Umum dan jajarannya harus mampu membuktikan itu. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar