Sorotan

Kalau Jurgen Klopp Jadi Calon Wali Kota Surabaya

Politik dan sepak bola sama-sama menjadikan kata-kata sebagai seni dan kekuatan. Mungkin, karena itulah, para calon wali kota dan wakil wali kota Surabaya perlu belajar dari manajer klub sepak bola Liverpool, Jurgen Klopp: kata-kata tak boleh kosong.

Klopp datang menggantikan pelatih Brendan Rodgers pada Oktober 2015. Ia menginjakkan kaki di Stadion Anfield, markas Liverpool, dengan memikul beban ekspektasi besar: mengembalikan klub itu ke masa gemilang.

Liverpool punya patokan capaian prestasi berstandar tinggi pada masa pelatih-pelatih sebelumnya. Bill Shankly membawa klub ini dari divisi kedua ke divisi pertama dan mengangkat tujuh trofi utama selama 15 tahun masa manajerial. Bob Paisley membawa Liverpool mengangkat 20 trofi utama, tiga di antaranya Piala Eropa selama sembilan tahun melatih. Selain mereka, ada Joe Fagan, Kenny Dalglish, Gerard Houllier, maupun Rafa Benitez. Mereka berstatus legenda karena capaian prestasi selama melatih.

Patokan pencapaian yang tinggi juga bakal dipikul wali kota Surabaya pengganti Tri Rismaharini. Survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) menunjukkan angka kepuasan publik kepada Risma mencapai 97 persen. Jika dikomparasikan dengan klub sepak bola, Risma sudah berhak mendapatkan status legenda karena capaian dan kecintaan publik.

Dikomparasikan dengan Risma tentu bukan hal mudah bagi dua kandidat wali kota Surabaya saat ini. Publik sama-sama tidak tahu bagaimana mereka akan mengelola Kota Surabaya, kendati jejak sebagai birokrat dan perwira kepolisian sudah terekam. Namun mengurusi kota sekompleks Surabaya adalah tantangan yang berbeda, terutama setelah kelak salah satu dari mereka menjadi orang nomor satu dengan kewenangan luas untuk membuat kebijakan.

Di sinilah kemudian, kata-kata menjadi penting. Pada dasarnya, pemilih selalu ingin memperbaiki harapan, dan karena itulah mereka datang ke tempat pemungutan suara. Janji dan gambaran tentang bagaimana mengeksekusinya ketika memimpin, membutuhkan kekuatan kata-kata yang diucapkan dengan tepat, rendah hati, dan meninggalkan basa-basi. Seperti yang dilakukan Jurgen Klopp.

1. Memanajemen harapan
Sebelum Klopp datang ke Anfield, orang sudah mencatat kerja-kerja luar biasanya di dua klub Jerman, Mainz 05 dan Borussia Dortmund. Tujuh tahun di Mainz, ia membawa mencatatkan sejarah sebagai orang pertama yang membawa klub itu ke kasta teratas Bundesliga. Tujuh tahun bersama Dortmund, ia membawa dua gelar juara Liga Jerman.

Orang berharap Klopp akan menduplikasi sukses tersebut di Liverpool. Namun harapan berlebihan bisa berbahaya. “A little hope is effective, a lot of hope is dangerous. A spark is fine, as long as it’s contained,” kata Presiden Snow, dalam novel Hunger Games karya Suzanne Collins.

Maka yang dilakukan Klopp saat wawancara pertama sebagai manajer Liverpool dengan wartawan adalah membuat semua orang kembali ke bumi. Ia memanajemen harapan dengan cara mengingatkan banyak orang untuk tidak menjadikan capaian masa lalu sebagai beban. “Sejarah adalah dasar bagi kita. Tapi kita tidak boleh membawa sejarah dalam ransel,” katanya. Setiap masa memiliki tantangannya dan tidak bisa saling diperbandingkan.

Itulah yang perlu dilakukan setiap kandidat wali kota Surabaya, menyadarkan publik bahwa capaian Risma memang hebat. Banyb capaian itu seharusnya menjadi modal, bukan beban maupun sesuatu untuk diabaikan. Karena pada dasarnya, dalam klub sepak bola atau pemerintahan kota, pembangunan adalah kesinambungan, bukan keterputusan. Era baru tak pernah diawali dari nol. Bahkan, seusai perang, sebuah negara dibangun dari puing-puing yang masih tersisa dan bisa diselamatkan.

2. Memperkenalkan Tanpa Menonjolkan Diri
Salah satu yang disukai publik sepak bola Inggris dari Jurgen Klopp adalah keterusterangannya tanpa bermaksud arogan. Orang tahu kapasitasnya sebagai pelatih. Bahkan pelatih legendaris Alex Ferguson mencemaskan kebangkitan Liverpool, rival utama Manchester United, di bawah polesan pelatih asal Hutan Hitam tersebut. Namun Klopp tak pernah menonjolkan dirinya.

Berbeda dengan Mourinho yang menyebut diri sebagai ‘Orang Istimewa’ (Special One), Klopp membiarkan orang menilai sendiri reputasinya. “Saya hanya orang normal (normal one),” katanya.

3. Menghormati Pendahulu dan Menolak Komparasi
Fans Liverpool punya kebiasaan membandingkan setiap pelatih baru dengan sosok mitis Bill Shankly. Shankly dianggap sosok yang berhasil membangkitkan klub dan meletakkan pondasi sukses bagi generasi Liverpool selanjutnya.

Jurgen Klopp selalu menolak dibandingkan Shankly dan pelatih-pelatih Liverpool sebeluimnya. Namun ia menghormati mereka dan menyebut Liverpool dibangun berkat serangkaian keputusan dan kebijakan bagus para pelatih pada masa lampau. “This is a great club because of many good decisions in the past,” katanya.

Sebagaimana fans Liverpool, publik Surabaya akan menjadikan referensi masa lalu sebagai pembanding para calon wali kota. Namun sebagaimana Klopp, para kandidat wali kota tak perlu bersusah payah mengidentifikasikan diri sebagai penerus atau pewaris satu sosok tertentu, karena itu justru akan menjadi beban berat. Seperti kata Klopp, Liverpool besar karena apa yang dilakukan para pelatih pendahulunya dan bukan hanya satu orang. Yang perlu dilakukannya adalah melanjutkan dan memperbaiki keputusan-keputusan itu dan beradaptasi dengan zaman.

4. Mendeskripsikan Tantangan
Klopp tidak mengumbar retorika dan bersembunyi di balik kalimat-kalimat rumit saat bicara soal target dan tantangan yang dihadapi kelak saat melatih Liverpool. Menurutnya, problem terbesar Liverpool adalah menjuarai Liga Inggris, “Liga Primer Inggris adalah salah satu dari liga tersulit di dunia. Ada lima, enam, atau tujuh klub yang berpotensi menjadi juara. Hanya satu yang bisa menang dan lainnya akan kecewa,: katanya.

Dahlan Iskan, mantan pemilik Jawa Pos, menyebut ada tiga isu penting yang dihadapi semua wali kota Surabaya dari waktu ke waktu. “Kemacetan, banjir, dan Persebaya,” katanya.

Kandidat wali kota Surabaya harus bisa melihat tantangan pada tiga isu tersebut dan menjelaskan ke publik. Khusus untuk Persebaya, klub ini sudah dikelola dengan profesional dan terlepas dari pemerintah kota. Namun ada beberapa hal yang masih berhubungan seperti sewa Stadion Gelora Bung Tomo dan, yang terbaru, sengketa Wisma dan Lapangan Persebaya di Karanggayam.

5. Menumbuhkan Kepercayaan dan Menggalang Solidaritas
Jurgen Klopp adalah tipe motivator dan pemimpin pencipta solidaritas. Ia bisa menggerakkan orang-orang di sekitarnya, pemain, staf pelatih, hingga staf rumah tangga Liverpool untuk bersama-sama mencapai tujuan. Kekuatannya ada pada kata-kata yang tidak menekankan capaian kesuksesan pada peran tunggalnya sebagai individu utama, melainkan peran banyak orang.

Salah satu kalimat terkenal Klopp adalah mengubah orang yang ragu-ragu menjadi percaya dan melupakan kegagalan maupun hambatan. “If someone wants to help they have to change from doubter to believer. We have to change our performance because no one is satisfied at the moment,” katanya.

Salah satu problem dari waktu ke waktu dalam pemilihan umum di negeri ini adalah defisit kepercayaan publik terhadap para politisi. Rendahnya angka partisipasi warga dipicu oleh kekecewaan terhadap kepemimpinan hasil pemilu: janji yang diingkari, kasus korupsi, dan patgulipat membuat orang kian ragu (doubter).

Liverpool menghadapi hal yang sama. Klopp datang saat fans Liverpool sudah mengalami ilusi tentang siapa sosok pelatih yang akan membawa gelar juara Liga Inggris untukl pertama kalinya sejak 1990. Maka yang dilakukan Klopp adalah menyerukan agar fans ‘change doubter to believer’.

6. Realistis dalam Janji
Setiap kandidat wali kota tentu memiliki janji. Namun, realistis adalah jalan terbaik untuk diterima. Jurgen Klopp mengatakan, ‘apa kata orang saat Anda datang itu tidak penting, yang penting adalah apa yang akan mereka katakan tentang Anda saat Anda pergi’. Dengan kata lain, seperti pelatih sepak bola, seorang calon wali kota, tidak akan dikenang karena janji-janjinya, melainkan capaiannya saat terpilih dan memimpin Surabaya.

Itulah kenapa kemudian orang tak butuh janji melambung. Jurgen Klopp tidak menjanjikan juara Liga Inggris, Piala Champions, dan sederet trofi waktu lain. Ia hanya meminta waktu untuk berproses dan menjanjikan satu gelar juara. “Saya yakin dalam empat tahun ke depan kami akan memenangi satu gelar. Jika tidak, mungkin saya akan pindah ke Swiss.”

Klopp berjanji setelah mengukur kondisi Liverpool saat itu. Hal serupa juga perlu dilakukan para kandidat wali kota Surabaya: berjanji dengan menakar kondisi dan situasi kota.

7. Menjelaskan Rencana dan Apa yang akan Dilakukan
Tak ada pemimpin yang menggaransi keberhasilan. Keberhasilan dan kegagalan adalah jawaban dari proses. Yang bisa dilakukan oleh seorang pemimpin adalah mengajak setiap orang menghargai proses itu dengan menjelaskan apa yang hendak dilakukan dengan terang benderang.

“Kami akan mencoba memainkan sepak bola yang sangat emosional. Seluruh dunia bicara soal penguasaan bola, tapi kami harus punya rencana bagaimana saat menguasai dan tidak menguasai bola di lapangan. Ini waktunya memulai kembali,” kata Klopp.

Klopp tidak juga merasa paling tahu dan bersiap menerima masukan maupun kritik. “Saya pendengar yang baik,” katanya. Itulah kenapa kemudian Klopp membentuk tim yang memberinya banyak saran dan informasi untuk kemudian diraciknya menjadi taktik di lapangan. Di sebuah kota seperti Surabaya, rasanya jika Klopp menjadi wali kota, itulah yang akan dilakukannya. [wir/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar