Sorotan

Kala Persebaya Minus ‘Makalele Role’ dan Surplus Blunder Kiper

Suatu hari pemain Real Madrid Zinedine Zidane mengeluhkan sikap petinggi klub yang membuang Claude Makelele, seorang gelandang Prancis kelahiran Zaire. “Mereka membuat mobil rolls-royce, tapi membuang mesinnya,” katanya.

Makelele dianggap tidak cukup keren untuk ukuran seorang pemain sepak bola. Petinggi Real Madrid menganggapnya tidak berguna: tidak punya skill dan hanya bisa mengoper ke samping. Mereka lupa bahwa dalam sepak bola, sebagaimana bisnis lainnya, harus ada pemain yang mengerjakan hal-hal ‘kotor’ dan tidak dipuji karenanya: merebut bola, melakukan tekel keras, memangkas serangan lawan secepat mungkin. Makelele melakukan itu semua dalam 94 pertandingannya bersama Madrid.

Kelak, orang menghargai perannya sebagai ‘gelandang tukang angkut air’ dengan sebutan ‘Makelele Role’. Setelah Makelele, semua tim semakin menyadari betapa pentingnya posisinya. Sebuah tim bisa menghabiskan uang untuk membeli penyerang-penyerang dan pemain-pemain belakang yang mahal. Sebuah tim juga bisa merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli playmaker karismatik dan berteknik individu tinggi. Namun sebuah tim akan berlubang, tanpa seorang yang memainkan peran seperti Makelele, dan itu yang terjadi pada Persebaya saat pertandingan pertama final Piala Presiden di Stadion Gelora Bung Tomo, Selasa (9/4/2019).

Pertandingan melawan Arema berakhir 2-2. Persebaya dua kali unggul melalui kaki Irfan Jaya pada menit 7 dan Damian Emanuel Lizio pada menit 72. Namun dua kali pula Arema membalas melalui Hendro Siswanto pada menit 32 dan Makan Konate pada menit 79. Dua gol Arema yang semuanya berawal dari blunder atau personal error pemain.

Gol pertama Arema terjadi setelah Fandi Eko Utomo gagal mengontrol bola hasil operan Otavio Dutra di separuh lapangan zona Persebaya. Bola diserobot Hendo Siswanto yang berlari kencang tanpa bisa dihadang, memasuki kotak penalti, dan menghajarkan bola ke gawang Miswar Saputra.

Gol kedua Arema seharusnya tak terjadi jika Miswar Saputra tak terlalu maju meninggalkan gawang. Bola parabola tendangan bebas Makan Konate seharusnya bisa ditepis seandainya dia tetap berada di bawah mistar gawang.

Dua gol Arema ke gawang Miswar memperjelas problem Persebaya hari itu: minusnya ‘Makelele Role’ dan surplusnya blunder kiper. Pelatih Djajang Nurjaman sudah benar ketika menempatkan Muhammad Hidayat menjadi duet pivot Misbakus Solikin di lapangan tengah Persebaya dengan formasi 4-2-3-1. Misbakus punya keahlian menyuplai bola-bola matang untuk trio gelandang serang: Damian Lizio, Irfan Jaya, dan Manu Jalilov.

Sementara Hidayat adalah tipe ‘breaker’, ‘ball winner’, perebut bola yang tangguh yang menghancurkan alur serangan lawan. Pentingnya peran Hidayat bisa dilihat dalam gol ketiga Persebaya saat melawan PS Tira Kabo. Gol itu berawal dari tekling bersih Hidayat. Bola dikuasai dan dioperkan kepada Oktafianus Fernando yang berhasil lolos dari jebakan offside, yang kemudian memberikan assist untuk Amido Balde.

Hidayat membuat serangan Arema juga terhambat. Dia mengejar bola, menekel, menyapu semua serangan lawan selama 13 menit babak pertama. Cedera membuatnya harus digantikan Fandi Eko Utomo, seorang gelandang tengah dan tak begitu memiliki naluri defensif.

Jika mengacu beberapa pertandingan besar yang dimenangi Persebaya saat Liga 1 (4-1 melawan Persib, 3-0 melawan PSM, 3-0 melawan Persija 3-0, dan 5-2 atas Bali United), tak ada persoalan saat Fandi dan Misbakus diturunkan bersama. Namun dalam semua pertandingan itu, Djajang memakai formasi 4-3-3 dan menempatkan Rendi Irwan beroperasi di tengah bersama mereka. Rendi memiliki kemampuan ofensif dan cukup punya paru-paru (biasanya) selama 70 menit untuk naik-turun membantu pertahanan.

Namun hari itu Persebaya memainkan formasi 4-2-3-1 ofensif yang merupakan varian dari 4-2-4. Empat pemain Persebaya (tiga gelandang serang dan Balde sebagai ujung tombak tunggal) memiliki naluri menyerang lebih besar daripada bertahan. Kendati ‘work rate’ untuk defensif juga dimiliki Jalilov dan Irfan, namun bermain di kandang dengan target menang, membuat mereka lebih berkonsentrasi di depan. Itulah kenapa kemudian double pivot menjadi berguna untuk mengantisipasi serangan lawan, sekaligus penghubung saat Persebaya membangun serangan dari kaki ke kaki sejak dari belakang.

Skenario hanya berjalan 13 menit. Setelah Hidayat ditarik keluar, Arema mulai bebas menyerang. Fandi yang diharapkan bisa membantu Misbakus justru keteteran. Susah payahnya para pemain Persebaya membendung serangan Arema terlihat dari banyaknya pelanggaran yang dilakukan di zona pertahanan sendiri: 19 kali. Bandingkan dengan Arema yang hanya melakukan tujuh kali pelanggaran. Penguasaan bola justru berimbang dan Arema unggul sedikit (51 persen), yang menunjukkan betapa nyamannya Singo Edan bermain di bawah tekanan 50 ribu Bonek.

Serangan Arema juga lebih efektif. Mereka berhasil melepaskan 10 tembakan ke gawang Miswar Saputra, enam di antaranya akurat. Sementara Persebaya hanya melepaskan empat tembakan, dan dua di antaranya akurat. Hanif Sjahbandi sukses mengganggu Damian Lizio, dan membuka ruang bagi Makan Konate di tengah. Sementara di belakang, Arthur Cunha sukses mematikan Balde.

Sulitnya barisan depan Persebaya memasuki area penalti Arema dan melepaskan tembakan diperparah dengan kondisi barisan pertahanan. Setidaknya dua blunder fatal dilakukan Miswar. Selain kesalahan mengantisipasi bola tendangan bebas Konate yang menghasilkan gol, Miswar nyaris memberikan gol gratis untuk Ricky Kayame saat menyapu bola dengan panik. Bola justru jatuh di kaki Kayame dan beruntung masih bisa diganggu oleh bek tengah Persebaya, Hansamu Yama Pranata.

Sepanjang Piala Presiden, bukan sekali ini saja Miswar melakukan blunder. Saat melawan Perseru Serui dalam penyisihan Grup A di Bandung, kesalahannya berujung pada gol untuk anak-anak Papua itu. Karakter permainan ‘sweeper keeper’ tak sepenuhnya dikuasai Miswar. Seorang ‘sweeper keeper’ tak boleh gampang panik, pandai membaca arah permainan, memiliki kemampuan komunikasi yang bagus, dan tahu kapan keluar meninggalkan gawang untuk menghalau serangan.

Miswar lemah menghadapi bola-bola atas. Ini terlihat dalam beberapa kali pertandingan Liga 1 tahun lalu. Gol Makan Konate menunjukkan lemahnya kemampuan antisipasi kiper asal Aceh ini terhadap bola atas. Dia terburu-buru melemparkan bola ke Irfan Jaya tanpa ada komunikasi lebih dulu pada menit 60, sehingga bola direbut pemain Arema.

Djajang Nurjaman harus melakukan evaluasi besar-besaran untuk menyongsong pertandingan kedua melawan Arema di Stadion Kanjuruhan, Jumat (12/4/2019). “Mungkin ada rotasi, pasti evaluasi tim,” katanya.

Jika mengacu kemenangan Persebaya 1-0 melawan Arema saat Liga 1 2018 di Surabaya, dalam formasi 4-3-3, Nelson Alom diturunkan sebagai gelandang bertahan mendampingi Robertino Pugliara dan Rendi Irwan. Jika Hidayat pulih dari cedera dan bisa dimainkan, maka dengan formasi 4-2-3-1 atau 4-3-3 sekali pun, Persebaya akan tangguh di lini tengah. Sementara untuk penjaga gawang, dengan karakter kiper ‘shot stopper’, Abdul Rohim paling tepat untuk menjadi palang pintu terakhir Persebaya di kandang Singa. [wir/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar