Sorotan

Liga 1 Pekan 18

Kabut Asap dalam Sejarah Sepak Bola

Bejo Sugiantoro

Kabut asap adalah bagian dari sejarah sepak bola. Bagi Liverpool. Bagi Ajax Amsterdam. Juga bagi Persebaya.

Rabu, 7 Desember 1966, Liverpool berhadapan dengan Ajax di Stadium Olimpiade Amsterdam, dalam pertandingan pertama putaran kedua Piala Eropa. Ini pertemuan pertama kedua klub sepanjang sejarah kompetisi level benua. Ini juga pertempuran pertama dua pelatih yang kelak menjadi legenda: Bill Shankly di Liverpool dan Rinus Michels di Ajax.

Liverpool tengah percaya diri. Shankly menyebut Ajax tengah berproses menjadi tim hebat, namun belum sepenuhnya bisa disebut dahsyat sebagaimana diketahui pada era 1970-an. “Pertandingan itu seharusnya tak pernah dilaksanakan. Kabut asapnya buruk sekali,” kata Shankly dalam otobiografinya.

Shankly dalam posisi dilematis. Jika mereka menunda pertandingan untuk digelar sehari kemudian, maka Liverpool tak punya cukup waktu untuk memulihkan tenaga sebelum menghadapi Manchester United dalam pertandingan Liga Inggris pada Sabtu. Leo Horne, pengawas dari UEFA mengatakan, pertandingan bisa diadakan. “Di belanda, jika kita bisa melihat dari garis tengah ke gawang, maka kita bertanding.”

Pertandingan akhirnya digelar dan pemain-pemain Liverpool kesulitan melihat bola. Apalagi pemain-pemain Ajax memakai seragam putih dan bergerak bagai hantu. Mereka mencetak tiga gol dalam waktu 15 menit.

Lengkaplah derita Shankly. Taktik tak berjalan. Mereka dihajar 1-5. Shankly menyebut Ajax menang dengan bantuan kabut asap.

Sepak bola memang tak selamanya dimainkan dalam situasi ideal. Kemampuan tim beradaptasi dengan situasi tak ideal menjadi kunci, dan itulah kenapa pertandingan di dalam kepungan kabut asap menjadi salah satu yang dikenang di level Eropa. Dan ketika pertandingan Persebaya melawan Kalteng putra di Stadion Tuah Pahoe, Palangka Raya, terancam digelar di bawah kepungan asap, Jumat (13/9/2019), saya mendadak teringat ‘Fog Game’ atau ‘Mistwedstrijd’ itu.

Tentu saja ada beda antara Amsterdam dan Palangka Raya. Amsterdam lebih bisa disebut kabut ketimbang asap yang berasal dari pembakaran. Sementara asap yang mengepung langit Tuah Pahoe berasal dari terbakarnya hutan. Apa yang terjadi di Tuah Pahoe lebih membahayakan kesehatan pemain.

Namun yang terpenting, bagaimana Persebaya akan beradaptasi? Orang Inggris bilang: adapt or die. Beradaptasi atau mati. Aspek kesehatan menjadi bagian dari adaptasi itu. Ini bukan kondisi lazim. Tim dokter Persebaya meminta pemain sering mengenakan masker di luar ruangan. Pola makan pun harus dijaga, termasuk asupan cairan.

Sementara untuk taktik, kuncinya ada pada fokus. “Kami fokus pada pertandingan. Masalah cuaca, stadion, itu lain hal. Cuaca mungkin tak bersahabat untuk semua. Tak hanya Persebaya,” kata Bejo Sugiantoro, asisten pelatih Persebaya.

Misbakus Solikin, gelandang Persebaya, menyebut asap mengganggu pandangan. “Tapi kami sudah bertekad tak mau ada alasan apapun. Kami kerja keras sampai menit akhir,” katanya.

Hasilnya: satu poin dari hasil imbang 1-1. Bejo benar. Kalteng Putra pun tak nyaman dengan situasi penuh asap dan sebagai tuan rumah belum menemukan cara untuk menjadikannya sebuah keuntungan (advantage). Pertandingan berjalan seimbang. Statoskop Jawa Pos mencatat kedua tim berbagi penguasaan bola 50-50. Bahkan jumlah tembakan tak berbeda jauh: Persebaya menembak 14 kali, tiga di antaranya tepat sasaran dan Kalteng Putra menembak 13 kali ke gawang lawan dan enam di antaranya akurat.

Persebaya dan Kalteng Putra sama-sama menurunkan formasi dasar 4-3-3. Persebaya langsung memainkan pola ofensif sejak awal. Menit 14, Osvaldo Haay mencetak gol pembuka malam itu memanfaatkan umpan matang Oktafianus Fernando. Serangan cepat dibangun oleh Rendi Irwan yang mengoper bola kepada Oktafianus.

Rendi berlari vertikal membuka ruang dan mengacaukan konsentrasi pemain bertahan tuan rumah. Oktafianus memilih mengirimkan bola lob ke depan gawang Kalteng Putra yang dijaga Reky Rahayu. Ada penyerang Persebaya David da Silva yang dikawal pemain bertahan OK John dan ada bek kanan Wasyiat Hasbullah. Namun bola menggelinding dan tak satu pun dari John dan Wasyiat yang bisa menyapunya. Bola bergulir menuju kaki Osvaldo. Sebuah tendangan ringan itu mengubah skor.

Kedua tim bermain terbuka. Menit 21, bola tendangan Wasyiat berhasil ditepis kiper Persebaya asal Aceh Miswar Saputra. Sementara dengan bermain direct, pemain-pemain depan Persebaya yang punya kecepatan cukup beradu lari dengan bek-bek Kalteng Putra. Namun mereka kurang tenang dalam penyelesaian akhir.

Menit 29, giliran kecerobohan barisan belakang Persebaya dihukum oleh Diogo. Dia berlari dari belakang menerima bola datar terobosan dari Patrich Wanggai. Tak ada pemain Persebaya yang bisa membaca pergerakan Diogo.

Ferinando Pahabol dan Irfan Jaya sama-sama menghantamkan bola ke mistar gawang masing-masing pada menit 45+2 dan 68. Andai saja bola tendangan Irfan dari luar kotak penalti masuk ke gawang Kalteng Putra, gol itu akan layak dikenang karena keapikannya.

Bejo bisa menerima hasil ini. Di tengah asap yang mengapung di udara, hasil imbang cukup bagus bagi Persebaya sebelum bertandang ke kandang PSIS Semarang dan menjamu Bali United. Namun hasil imbang ini membuat Persebaya menjadi klub terbanyak yang memetik satu poin bersama Borneo FC, yakni delapan kali. [wir/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar