Sorotan

Kabar dari Masa Lalu (Siang di Sebuah Toko Buku)

Siang itu saya memasuki toko buku itu untuk pertama kali, setelah belasan atau mungkin puluhan tahun. Sunyi. Hanya ada dua perempuan penjaga di lantai pertama. “Cari apa, Pak?” seorang perempuan berjilbab dan berkacamata menyapa tanpa beranjak dari kursinya dekat kasir.

“Saya mau lihat-lihat. Saya sudah lama tidak ke toko buku ini,” jawab saya.

‘Saya mau lihat-lihat’ sepertinya sebuah jawaban standar dari semua pengunjung toko buku pada masa lampau, kini, dan mungkin masa mendatang. Berapa banyak orang datang ke toko buku dengan tujuan mencari satu atau dua judul buku. Belum ada survei. Jadi saya tidak tahu.

Yang saya tahu, sebuah toko buku tua menyediakan kemungkinan-kemungkinan penemuan harta karun: buku-buku lawas (mungkin juga langka) dari penulis bagus yang tak dijual lagi di toko buku berjaringan hari ini. Saya pernah menemukan buku reportase wartawan Washington Post, Charles Krause, terbitan 1979, berjudul Guyana Massacre: The Eyewitness Account. Sudah apak dan bagian sampulnya agak koyak. Saya menebusnya lima ribu rupiah saja.

Saya naik ke lantai dua toko buku itu dengan semangat yang sama. Dan saya menemukan buku-buku berjajar di rak-rak tak teratur. Sebagian sampul buku-buku itu mencoklat, dan rata-rata berdebu. Apak. Saya tidak yakin ada buku terbitan terbaru di sini. Salah satu ruangan untuk buku-buku ekonomi dan manajemen gelap gulita.

“Mbak, lampunya memang mati atau dimatikan?” tanya saya, menjulurkan kepala ke bawah.

Mbak Penjaga Toko berkacamata tampak agak enggan bergerak. Tapi dia naik juga ke lantai dua. “Bapak mau mencari buku apa?’

Saya tidak terlalu yakin mencari buku apa. “Saya mau cari buku-buku lawas.”

Mbak Penjaga Toko masuk ke salah satu ruangan dan menyalakan beberapa lampu, lalu kembali ke lantai bawah.

Saya merasakan kesunyian yang ganjil. Sendirian. Sejumlah rak buku terlihat mulai kosong. Saya berkeliling. Benar-benar tidak ada buku baru. Saya perkirakan tahun terbitan terbaru di bawah 2018.

Saya keluar dari ruangan itu dan menuju salah satu pojok ruangan lantai dua. Sebuah mesin ketik kuno dan diselimuti debu teronggok di atas meja. Sudah lama saya tidak melihat mesin ketik. Terakhir saya menggunakan mesin ketik saat masih kuliah pada 1996 untuk menulis laporan praktikum.

Tak jauh dari mesin ketik itu ada sebuah rak buku-buku berbahasa Inggris. Saya agak senang, berharap menemukan sesuatu yang langka. Benar saja, ada buku Jimmy Breslin berjudul ‘Forsaking All Others’, terbitan 1982.

Breslin adalah salah satu jurnalis legendaris yang mengubah cara menulis kolom esai di surat kabar. Suatu hari, saat ribuan jurnalis mengambil posisi di sekitar jalur yang dilewati rombongan pembawa peti jenazah Presiden John Kennedy yang mati ditembak, Breslin memilih menemui dua orang penggali makam Kennedy. Artikel pendeknya berjudul It’s An Honor menjadi salah satu karya jurnalisme terbaik Amerika yang berhasil mengungkap sisi lain pemakaman Kennedy.

Breslin juga menulis artikel pandangan mata penanganan Kennedy di ruang gawat darurat rumah sakit Parkland Memorial Hospital berjudul A Death in Emergency Room One. Dia menuliskan adegan demi adegan, ucapan demi ucapan, dialog demi dialog, menjadi mata bagi jutaan pembaca New York Herald Tribune.

‘Forsaking All Others’ adalah sebuah novel fiktif, bercerita tentang kesalahan Departemen Pemasyarakatan Amerika yang memberikan pembebasan bersyarat kepada Teenager, seorang pemuda Puerto Rico yang terlibat kasus narkoba. Zaman sudah berubah, dan saya tahu di internet kemungkinan versi elektronik buku ini sudah tersebar. Namun saya menyukai kertas dan bau apak buku lawas. Toh harga buku itu hanya Rp 7.500.

Saya juga membeli buku memoar Daoed Joesoef berjudul ‘Dia dan Aku – Memoar Pencari Kebenaran’ terbitan Penerbit Buku Kompas tahun 2006. Dapat diskon, jadi sekitar Rp 80 ribuan. Saya belum pernah membaca ulasan soal buku ini sebelumnya. Bahkan saya tidak tahu buku ini ada. Saya hanya tahu buku memoar Daoed Joeosef berjudul Emak yang merupakan penghormatan untuk sang ibu.

Saya membeli buku itu karena ada nama Daoed Joesoef di sana. Nama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan masa Orde Baru itu sering disebutkan pada setiap kursus kader organisasi mahasiswa ekstra kampus, karena keberhasilannya mensterilkan kampus negeri pada 1978. Kedua, saya tertarik buku itu, karena judulnya: memoar. Saya selalu tertarik dengan kisah hidup seseorang, terutama karena saya beberapa kali diminta menuliskan kisah hidup seseorang.

“Sepi ya, Mbak.” Saya berbasa-basi saat membayar di kasir.

Mbak Penjaga Toko tadi tersenyum memamerkan gigi putih yang berkawat. Dia tak berkata apa-apa. Mungkin bingung, ada orang yang mau mampir ke sebuah toko buku tua pada saat ada Gramedia dan toko-toko buku lain yang lebih baru dan lengkap.

Saya selalu menghargai tempat-tempat seperti toko buku itu. Saat gedung-gedung baru bioskop berdiri, saya dan istri saya tetap menonton film di Kusuma Teater, sebuah gedung bioskop tua di Jalan Gatot Subroto, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

RZ Hakim, seorang sejarawan lokal Jember, dalam tulisannya menyebutkan, gedung bioskop itu pertama kali dibuka pada 15 Maret 1952 dengan nama Ambassador. Presiden Soekarno kemudian melarang nama-nama asing dan Ambassador pun berubah nama menjadi Duta. Belakangan, pergantian kepemilikan membuat gedung boskop itu berubah nama menjadi Kusuma dan berubah lagi menjadi New Kusuma.

Terakhir namanya adalah NSC (New Star Cineplex). Saya dan penjaga pintu tidak saling tahu nama. Tapi dia hafal wajah saya dan istri. Dia hafal saya selalu duduk di sebelah mana, dan seringkali hanya berdua dengan istri. Penonton film di sana bisa dihitung dengan jari, namun sempat membludak saat pemutaran film Ada Apa dengan Cinta 2.

Wabah datang. Dan Kusuma tutup sampai saat ini. Setiap kali melintasi Jalan Gatot Subroto, saya menoleh ke sisi kanan jalan, melihat sebuah gedung bioskop yang gelap gulita. Gedung bioskop itu, juga toko buku tua yang saya kunjungi siang itu, tak ubahnya sebuah kabar dari masa lalu: tentang zaman yang bergerak dan hidup yang tak sama. Mungkin itulah kenapa kita menghargai yang telah lampau. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar