Sorotan

Jurnalisme, Puisi, Cerpen, dan Zaman Internet

Tentu saja, jurnalisme bukan puisi dan cerita pendek. Ia berangkat dari fakta, bukan berasal dari imajinasi dan daya khayal. Ia harus rigid, tak diperkenankan abu-abu, tak boleh ada tafsir yang arbitrer. Sebuah berita harus terang-benderang menjawab rasa ingin tahu tentang siapa, apa, kapan, di mana, bagaimana, dan mengapa. Sementara puisi tak dimaksudkan untuk menjawab apapun. Begitu pula cerpen yang ditulis tanpa ambisi pengabaran.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa sajak dan cerita pendek itu anarki, lepas dari kaidah dan aturan, karena kita tak bisa meringkus imajinasi. Saya setuju. Namun setiap sajak membutuhkan kata. Itulah kenapa ia harus terikat dengan nalar penikmatnya, karena sajak, apalagi cerita pendek, bukan sandi dan kode yang harus repot-repot dibongkar agen rahasia untuk diketahui maknanya.

Terlebih lagi layaknya berita, penulisan sajak dan cerita pendek membutuhkan ketekunan untuk menatahkan kata-kata, menimang dan menimbang kalimat maupun frasa yang tepat, mengukur koherensi, mengkalkulasi konsistensi. Dengan kata lain: kerja keras intelektual dan akal sehat.

Dari situlah saya meyakini, jurnalis dan jurnalisme yang baik harus senantiasa belajar dari penggunaan kosakata yang bertenaga dari larik-larik puisi dan kelincahan naratif dari cerita pendek. Karena sesungguhnya, berita tak boleh dibekukan dalam kata-kata baku yang kaku. Sesuatu yang mengabarkan tak harus membosankan. Imajinasi tak mesti mengingkari realitas. Itulah kenapa kemudian kita tahu, banyak jurnalis yang juga cakap berkisah khayali dan lihai memainkan kata-kata dalam sajak.

Pada suatu hari, Truman Capote membaca artikel pendek di Harian New York Times tentang satu keluarga di sebuah kota kecil bernama Holcomb yang mati dibunuh. Mulanya, dia hendak menulis pengaruh pembunuhan itu terhadap masyarakat Holcomb. Namun dia melangkah lebih jauh yang menjadikan novel In Cold Blood sebagai salah satu karya jurnalistik terbaik sepanjang masa.

Capote bukan wartawan. Dia lebih dikenal sebagai penulis novel dan cerita-cerita pendek di kalangan selebritas. Novek Breakfast at Tiffany’s menjulangkan namanya sewindu sebelum In Cold Blood terbit. Dia jarang menulis reportase.

The Muses Are Heard adalah karya awal jurnalistiknya yang terbit pada 1956 di Majalah The New Yorker. Setahun kemudian, The New Yorker menerbitkan karya reportasenya tentang biografi aktor Marlon Brando yang berjudul The Duke in His Domain.

Struktur narasi yang digunakan Capote, terutama dalam In Cold Blood, jelas meminjam dari narasi novel dan cerita fiksi. Naskahnya terdiri atas 135 ribu kata dan dimuat bersambung dalam empat edisi New Yorker. Dia menyebutnya: novel nonfiksi. Dia memosisikan diri seperti pengamat, orang ketiga yang berjarak, dan memasukkan dialog antar dua pelaku pembunuhan dengan teknik fly over the wall (terbang di atas dinding) layaknya dalam sebuah cerita pendek atau novel.

Capote percaya, seorang penulis bisa mengambil subyek apapun mejadi tema novel nonfiksi dengan gaya tulisan yang menarik dan populer, tanpa harus terjebak pada pendekatan fakta yang kaku atau bahasa tinggi puitis dalam fiksi.

Oktober 1993, Gabriel Garcia Marquez bertemu pasangan suami istri Alberto Villamizar dan Maruja Pachón. Dia disarankan menulis sebuah buku tentang kisah penculikan dan penyelapan Maruja, serta usaha Alberto membebaskan sang istri. Marquez melakukannya selama tiga tahun, dan hasilnya sebuah buku novel petualangan nonfiksi.

Marquez begitu detail memberikan deskripsi dan narasi. Dia mengawalinya dengan sebuah adegan sekaligus membangun deskripsi suasana: ‘She looked over her shoulder before getting into the car to be sure no one was following her. It was 7:05 in the evening in Bogota. It had been dark for an hour, the Parque Nacional was not well lit, and the silhouettes of leafless trees against a sad, overcast sky seemed ghostly, but nothing appeared to be threatening’.

(Perempuan itu menoleh sebelum masuk ke dalam mobil untuk memastikan tak ada yang mengikutinya. Jam 7 malam lewat lima menit di Bogota. Sejam sudah gelap datang, penerangan di Taman nasional tidak begitu bagus, dan siluet pepohonan tanpa daun berhadapan dengan langit yang mendung, sedih, seperti hantu, tapi tak ada yang terlihat mengancam).

Dalam sebuah wawancara yang dibukukan dan diterjemahkan dengan apik ke dalam bahasa Indonesia oleh Circa, Marquez mengatakan, jurnalisme melengkapi kemampuannya menulis. Jurnalisme mengajarinya cara memberikan ototentisitas pada karya-karyanya. “Bekerja dalam jurnalistik harian memungkinkan kita bersikap longgar dan menghilangkan rasa hormat yang lembut yang kita rasakan terhadap tulisan,” kata Marquez.

Marquez pernah bekerja sebagai jurnalis harian El Espectador in Bogotá, Kolombia. Bekerja sebagai jurnalis memungkinkannya menulis setiap hari. Dalam sepekan, dia terbiasa menulis sedikitnya tiga cerita, dua-tiga catatan editorial setiap hari, dan meninjau film.

Bahkan, Marquez menilai teknik jurnalistik dalam karyanya sangat berguna. “Dalam jangka panjang, fiksi memungkinkan saya untuk meningkatkan kualitas literer karya jurnalistik saya dan jurnalisme membantu saya menyadari berbagai peristiwa sehari-hari atau kehidupan sehari-hari yang sangat membantu fiksi saya,” kata Gabo, sapaan akrabnya.

Marquez menilai, novel dan jurnalisme tak jauh berbeda. “Narasumbernya sama, materinya sama, sumber daya dan bahasanya sama. The Journal of the Plague Year karya Daniel Defoe adalah novel yang bagus dan Hiroshima karya John Hersey adalah karya agung jurnalisme,” katanya dalam wawancara dengan Paris Review.

Hersey sebenarnya adalah seorang novelis, dan telah menulis tiga fiksi perang yakni Men on Bataan, Into the Valley, dan A Bell for Adano. Struktur naratif reportase ‘Hiroshima’ diadaptasi dari novel karya Thornton Wilder 1927 yang dipinjamnya dari perpustakaan kapal, berjudul The Bridge of San Luis Rey.

Hersey memilih enam karakter yang menjadi enam narasumber dalam reportase tentang kehancuran Hiroshima akibat bom atom. Membaca Hiroshima bagaikan membaca novel dan pembaca diajak menyaksikan kekalahan umat manusia melalui mata lima warga Jepang dan seorang pendeta.

Alih-alih membuka artikel layaknya berita peperangan yang menampilkan jumlah korban dan glorifikasi kemenangan Amerika Serikat, Hersey membukanya dengan deskripsi novel yang kuat.

“Tepat pukul delapan lewat lima belas menit pagi, 6 Agustus 1945, waktu Jepang, saat bom atom melesat kilat di atas Hiroshima, Nona Toshiko Sasaki, seorang juru tulis di bagian personalia Pabrik Timah Asia Timur, baru saja duduk di kantor pabrik, dan menoleh untuk berbicara dengan gadis di meja sebelah.”

Lalu Hersey menutup artikel sepanjang 30 ribu kata itu dengan kutipan esai tugas sekolag Toshio Nakamura, bocah 10 tahun yang menjadi salah satu penyintas dalam peristiwa tersebut.

“Pada malam di mana sebuah tangki gas terbakar dan aku melihat pantulannya di sungai. Kami menginap di taman satu malam. Keesokan harinya, aku pergi ke Jembatan Taiko dan bertemu dengan teman-teman perempuanku, Kikuki dan Murakami. Mereka sedang mencari ibu mereka. Tapi ibu Kikuki terluka dan ibu Murakami, sayangnya, telah meninggal.”

“Dalam jurnalisme, satu saja fakta yang salah memicu prasangka pada suatu karya keseluruhan. Sebaliknya, dalam fiksi satu fakta yang benar memberikan legitimasi terhadap karya keseluruhan. Itu satu-satunya perbedaan, dan ini terletak pada komitmen penulis. Seorang novelis bisa melakukan apa saja yang diinginkan selama bisa membuat orang percaya,” kata Marquez.

Menurutnya, ada celah yang sangat kecil antara jurnalisme dan kesustraan yang ingin dibuktikannya. Realitas sehari-hari memiliki nilai sastrawi yang sama dengan puisi.

Saya pikir Gabo benar. Jika tak ada realitas di luar kata-kata, maka puisi juga medium untuk menceritakan dunia. Dari puisi, jurnalisme bisa mencangkok keterampilan berkosakata dan pemilihan diksi yang kaya. Belajar dari puisi akan membantu jurnalis mengatasi keterbatasan pilihan kata untuk menjelaskan realitas saat mengejar tenggat.

Mengapa? “Perkembangan puisi erat kaitannya dengan perkembangan bahasa… Penyair bisa saja kembali ke bahasa klasik untuk mengusahakan kecermatan ekspresi seperti yang dilakukan oleh Amir Hamzah dalam sajak berjudul Satu,” kata Sapardi Djoko Darmono dalam buku apresiasi puisinya.

Problem media massa hari ini adalah sering menggunakan kosakata bahasa asing untuk menjelaskan sesuatu yang sebenarnya ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Kosakata bahasa Indonesia akhirnya berjarak dengan pembaca, karena penggunaannya minim di media, dan lebih banyak ditemukan di jantung puisi.

Dalam buku antologi ‘Puisi Baru’, Sutan Takdir Alisjahbana membuat catatan kaki untuk menjelaskan makna beberapa kosakata seperti ‘terbelam’, ‘ripuk’, dan ‘jemala’. Tentu saja, jurnalisme bukan puisi dan cerita pendek. Tapi realitas dan imajinasi, fakta dan khayali, sama-sama memiliki penjaga bernama bahasa.

Perdebatannya kemudian beringsut pada titik ini: apakah semua keterampilan berbahasa dan menggunakan kata yang dipelajari dari puisi dan cerpen masih relevan untuk berita di zaman internet yang serba cepat, menukik, dan membutuhkan keringkasan. Apakah ruang redaksi masih memiliki waktu bagi berita-berita yang tak terjebak pada repetisi kata sebagaimana yang terjadi pada berita lempang maupun berita keras.

Ini kritik bagi kerja-kerja jurnalisme di Indonesia, tentu saja. Namun, Roy Peter Clark, seorang jurnalis dan ilmuwan di Poynter Institute, Amerika Serikat, menolak mempertentangkan ini pada zaman yang berubah. “Kabar baiknya adalah: tulisan ringkas tidak harus mengorbankan nilai-nilai sastrawi,” katanya dalam buku How to Write Short.

“In literature, the poem does it best, of course: it generates a power in languange out pf proportion to the length of the work. In the end, short work need not be a compromise forced on the writer by technology, evolving social habits, or shrinking resources. The great writer, working in the short form, can look back on the history of writing for sources of inspiration and can build on the tradition of word craft – even in these fast times.” [wir]





Apa Reaksi Anda?

Komentar