Sorotan

Liga 1 Pekan 23

Jalan (Buntu) Sang Serigala di Persebaya

Pelatih Persebaya Wolfgang Pikal

Sesungguhnya dari aspek nama, Wolfgang Pikal pas benar menangani Persebaya. Dalam tradisi Jerman, Wolfgang berarti ‘Jalan Sang Serigala’. Nama ini jamak ditemui di Eropa Utara dan populer di Jerman dan Austria: sebuah nama yang menyimbolkan kekuatan.

Namun menangani sepak bola tak ada urusan dengan primbon dan weton. Hari-hari ini ‘Sang Serigala’ justru tengah kesulitan mencari jalannya sendiri agar tidak hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah Persebaya. Satu-satunya jalan adalah kemenangan, yang sejauh ini tak mudah, panjang, dan berliku bagi pelatih kelahiran Austria tersebut.

Pikal semula sama sekali tak dinominasikan untuk melatih Persebaya. Selepas manajemen memutus kontrak Djajang Nurjaman, kursi kepelatihan Persebaya kembali diduduki Bejo Sugiantoro. Namun belum terpenuhinya syarat administratif kepelatihan Liga 1 membuat mantan pemain Persebaya ini hanya bisa menangani tim dalam tiga pertandingan, yakni saat melawan Arema, Perseru Badak Lampung, dan Persija.

Alfred Riedl, mantan pelatih tim nasional Indonesia, terpilih untuk menangani Bajul Ijo hingga Liga 1 2019 berakhir. Namun faktor kesehatan membuatnya mundur teratur. Pikal yang selama ini dikenal sebagai asisten dan penerjamah Riedl akhirnya menjadi pilihan berikutnya. Tapi dia tak bisa langsung tancap gas, karena terkendala dokumen administrasi yang harus dituntaskan di Kementerian Tenaga Kerja.

Pikal pun hanya bisa menyaksikan dari tribun. Setelah melakukan observasi dalam pertandingan melawan Bhayangkara, ia berduet dengan Bejo pertama kali saat melawan Kalteng Putra. Tentu saja hanya Bejo yang bisa duduk di bangku cadangan saat itu untuk memberikan instruksi dari tepi lapangan.

“Kombinasi ini sudah menunjukkan performa luar biasa dalam beberapa pertandingan transisi kemarin. Kemampuan teknis serta sikap disiplin Pikal menjadi seimbang dengan gaya permainan menarik yang ditonjolkan Bejo. Semoga tren kami bisa terus naik di sisa musim ini,” ujar Candra Wahyudi, manajer Persebaya, sebagaimana dilansir dari laman situs resmi klub.

Laman situs resmi klub juga menuliskan ekspektasi tinggi untuk duet ini.

‘Pikal memiliki pengalaman membesut timnas bersama Riedl. Dia memiliki disiplin, metodologi, dan struktur kepelatihan yang bagus. Sedangkan Bejo, sebagai legenda hidup Persebaya mampu membentuk karakter permainan Persebaya yang ngeyel, ngosek, dan wani.’

Namun ekspektasi tinggi itu terbanting ke bumi setelah pertandingan kandang melawan Borneo FC dan tandang melawan Persib di Bali. Persebaya tampil bak Arsenal era 1980-an yang masyhur dengan julukan ‘Boring Boring Arsenal‘: membosankan dan sama sekali tidak enak ditonton.

Setelah hanya bermain imbang 0-0 melawan Borneo, Persebaya dihajar Persib 1-4 di Stadion I Wayan Dipta; Gianyar, Bali, Jumat (18/10/2019). Lini masa media sosial saya mendadak dipenuhi caci-maki penuh pesimisme dari Bonek terhadap Pikal dan Persebaya.

Tak ada yang bisa menyalahkan kekecewaan Bonek, jika menyaksikan bagaimana Persebaya bermain tanpa skema jelas. Di lini belakang, Pikal memainkan formasi tiga bek Hansamu Yama, Andri Muladi, dan M. Syaifuddin. Sementara dua bek Abu Rizal Maulana di kanan dan Novan Sasongko di kiri didorong untuk lebih banyak maju membantu serangan dan memadati lini tengah.

Namun lini serang Persebaya sendiri sedang tak prima. Sejumlah peluang yang diciptakan duet Diogo Campos dan David da Silva tak berujung gol.

Menit keempat, Diogo melakukan sprint membawa bola dari daerah Persebaya, melintasi garis tengah, merobek sisi kanan Persib dengan melepaskan umpan datar kepada Oktafianus Fernando. Pemain bernomor punggung 8 ini merangsek kotak penalti tanpa terkawal. Bukannya mengoperkan bola kepada Da Silva yang berdiri bebas, ia justru memilih menembakkan bola dalam posisi tak ideal dengan kaki kiri. Bola melambung.

Persebaya sangat mengandalkan Diogo untuk melakukan counter attack. Diogo sendiri bermain dengan mobilitas tinggi; bergerak dari sisi kiri maupun kanan. Ia dikawal ketat Ardi Idrus.

Menit-menit awal pertandingan, pressing pemain-pemain Persebaya cukup ketat dan disiplin. Para pemain Persib kesulitan membangun serangan setelah menguasai bola dan mengalirkannya melewati garis tengah, karena Persebaya menekan sejak zona pertahanan lawan.

Namun tekanan sejak lini depan tak bertahan lama. Para pemain Persebaya akhirnya lebih suka menunggu serangan Persib dan membangun tembok di muka kotak penalti. Kegagalan demi kegagalan dua tim membuat hingga menit 23 tak ada satu pun shot on target.

Absennya tujuh pemain karena cedera, tidak fit, dan dipanggil timnas berpengaruh pula terhadap kekuatan Persebaya. Novan Sasongko yang berada di sisi bek kiri menggantikan Ruben Sanadi kerepotan menghadapi Febri Haryadi.

Gol Persib pada menit 31 tak lepas dari kegagalan Novan menempel Febri. Ia terpeleset kena gocekan Febri dan membuka ruang bagi pemain Persib itu bisa menendang bola keras tanpa bisa bisa ditahan kiper Miswar Saputra.

Bukan hanya open play. Bola mati Persib juga menghantui lini belakang Persebaya. Gol kedua Persib pada menit 40 berawal dari tendangan bebas Bernard van Kippersluis. Bola yang melambung ke kotak penalti Persebaya bisa ditanduk Nick Kuipers yang tak terjaga dengan baik oleh Hansamu Yama. Bola memantul ke tanah dan bisa dimanfaatkan Ahmad Jufriyanto yang gagal ditutup Mokhamad Syaifuddin.

Gol ketiga Persib pada 60 yang dicetak Van Kippersluis bikin berdecak kagum. Dia mengirimkan bola tendangan bebas langsung menembus sisi kanan gawang Miswar.

Tertinggal 0-2 pada babak pertama memang membuat para pemain Persebaya makin tak disiplin dan frustrasi. Mereka membiarkan para pemain Persib bebas berkeliaran dan memainkan bola, terutama Febri Haryadi yang memiliki kecepatan.

Menit 54, Febri dibiarkan melepaskan tembakan jarak jauh tanpa tekanan. Semenit kemudian, ia juga dibiarkan melepaskan umpan matang untuk Van Kippersluis. Namun bola tendangan voli Van Kippersluis mengenai mistar gawang.

Pemain Persebaya masih mengulangi kesalahan yang sama seperti saat melawan Borneo. Mereka melepaskan bola-bola langsung ke daerah pertahanan Persib dengan target Da Silva. Tentu saja, operan-operan jarak jauh ini tak akurat. Statoskop mencatat akurasi operan Persebaya hanya 78 persen. Sementara Persib mencapai 85 persen.

Entah mengapa Persebaya tak berani melakukan build up play dengan sabar. Padahal gol balasan Persebaya pada menit 71 yang dicetak Diogo Campos melalui titik putih penalti, juga tak lepas dari permainan oper jarak pendek yang membuat bola mengenai tangan Kuipers.

Diogo mencetak gol untuk Persebaya. Namun dua kartu kuning untuknya membuat Persebaya harus bermain dengan 10 pemain pada posisi tertinggal. Ini bukan kisah dalam komik atau film India di mana sang pahlawan bakal bangkit menang setelah babak belur dihajar musuh.

Menuit 84, Persib semakin bikin Persebaya babak belur setelah Ezechiel sukses merebut bola dari Hidayat dan mengawali serangan balik cepat. Hanya ada dua pemain Persebaya di lini belakang saat bola diteruskan kepada Febri yang berlari kencang.

Andri Muladi terjatuh saat mencoba menghadang Febri. Sementara Alwi Slamat tertinggal jauh. Miswar berusaha mempersempit ruang tembak. Namun Febri lebih cerdik dalam menempatkan bola.

Ini kekalahan terbesar kedua Persebaya musim ini setelah 0-4 di kandang Arema. “Kita kesulitan dengan cross dan set play Persib yang punya beberapa pemain bertubuh tinggi,” kata Pikal. Ironis, karena ia memasang tiga bek tengah untuk mencegah umpan-umpan silang dari sayap Persib ke jantung pertahanan Persebaya. Namun gol-gol Persib menunjukkan taktik itu tak berjalan baik.

Apa lagi yang akan dilakukan Pikal pada pertandingan berikutnya? ‘Sang Serigala Austria’ harus segera menemukan jalannya sebelum orang benar-benar meragukan kapasitasnya sebagai pelatih, mengingat Persebaya justru bermain jelek saat dia berada di tepi lapangan. Waktu akan membuktikan apakah Pikal akan menemukan jalan keluar ataukah jalan buntu. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar