Sorotan

India Lockdown

Ainur Rohim Ketua PWI Jawa Timur

Berpenduduk sebesar 1,3 miliar jiwa, India menerapkan kebijakan lockdown menghadapi wabah virus corona(Covid-19). Hingga hari Selasa (31/3/2020), jumlah warga India yang positif corona sebanyak 1.251 jiwa dengan jumlah korban meninggal dunia 32 orang.

India negara berpenduduk terbesar kedua di dunia setelah Republik Rakyat China (RRC). India dalam beberapa tahun terakhir ini dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi yang berasal dari Bharatiya Janata Party (BJP), Partai Nasionalis Hindu.

Pada Pemilu 2019, Koalisi National Democratic Alliance (NDA) yang dipimpin partai Modi, Bharatiya Janata Party (BJP), unggul dengan mendapatkan 324 kursi. Sedang barisan oposisi koalisi United Progressive Alliance di bawah pimpinan Partai Kongres (Congress Party) pimpinan Rahul Gandhi, meraih 111 kursi.

Ketika pertama kali diumumkan kebijakan lockdown oleh PM Narendra Modi, jumlah kasus positif corona di India tercatat 519 kasus dengan 10 kematian. Karantina wilayah atau lockdown berlaku selama tiga pekan dan secara nasional. Artinya, bukan hanya wilayah-wilayah tertentu di India yang dikenai kebijakan lockdown.

“Akan ada larangan total untuk keluar dari rumah Anda,” kata Modi dalam pidato yang disiarkan televisi, Selasa (24/3/2020). “Seluruh negeri akan lockdown, lockdown total,” tegas Narendra Modi.

Narendra Modi mengatakan, jika India tak menangani 21 hari ini dengan baik, maka negaranya akan mundur 21 tahun. Dan India siap membayar biaya ekonomi atas kebijakan lockdown yang dilakukan untuk meredam wabah virus corona. Untuk mengatasi ini, India menyediakan anggaran sebesar USD 2 miliar atau setara Rp 30 triliun (kurs Rp 15 ribu/1 USD).

Hingga Selasa (31/3/2020), saat posisi warga positif corona di India mencapai 1.251 jiwa, dengan jumlah korban meninggal dunia 32 orang, jumlah warga positif corona di Indonesia mencapai 1.414 jiwa, dengan jumlah korban meninggal dunia sebanyak 122 orang.

Lonjakan kenaikan jumlah korban meninggal dunia di India sekitar 210 persen dibanding jumlah korban wafat saat kebijakan lockdown diumumkan seminggu lalu. Namun demikian, total jumlah korban meninggal dunia di India jauh lebih sedikit dibandingkan di Indonesia, termasuk warga yang dilaporkan positif terpapar corona.

Mengutip laporan BBC, Selasa (31/3/2020) malam, Amerika Serikat berada di ranking pertama jumlah warga yang positif terpapar corona dengan 164.371 warga dan korban meninggal dunia dengan 3.162 warga.

Italia dengan jumlah warga positif terpapar corona 101.739 orang dan meninggal dunia 11.591 orang, Spanyol sebanyak 87.956 warga positif terpapar corona dan 7.716 warga dilaporkan meninggal dunia, China dengan 82.240 warga positif corona dan sebanyak 3.309 warga di antaranya dilaporkan meninggal dunia, dan Iran dilaporkan sebanyak 41.495 warga positif terpapar corona dan sebanyak 2.757 warga meninggal dunia.

Negara India menarik dicermati dalam konteks ini, selain karena negara ini memiliki jumlah demografi sangat besar: 1,3 miliar jiwa, sekaligus India negara berkembang yang sedang bergerak ke level negara maju. Negara ini juga memiliki heterogenitas kultur yang tinggi. Kebudayaan India penuh dengan sinkretisme, pluralisme budaya, dan stratifikasi sosial yang rigid.

Hal itu ditandai dengan sistem kasta yang masih eksisting hingga sekarang. Sebagai negara berkembang yang bergerak ke arah negara maju, volume cadangan devisa India jauh lebih tinggi dibanding Indonesia. Cadangan devisa India pada Januari 2020 sebesar USD 437,24 miliar. Pada Desember 2019, cadangan devisa India sebesar USD 426,88 miliar dan di bulan Nopember 2019 sebesar USD 419,44 miliar.

Di sisi lain, Indonesia cadangan devisa per Desember 2019 sekitar USD 127 miliar-USD 127,5 miliar dibanding bulan sebelumnya USD 126,63 miliar. Pada akhir bulan Februari 2020, tingkat cadangan devisa Indonesia diperkirakan sebesar USD 130 miliar.


Para pekerja informal adalah tulang punggung perekonomian kota-kota besar di India. [Foto: Getty Images/BBC]
Hal itu penting diketahui dan dipahami publik untuk menunjukkan kesiapan dan kapasitas politik dan ekonomi satu negara menghadapi kondisi darurat, maka cadangan devisa bisa dimanfaatkan untuk kepentingan darurat tersebut. Selain tentu ada kebijakan budgeting lain, seperti realokasi anggaran dari pos tertentu ke pos tanggap darurat.

Sekali pun cadangan devisa India 2,5 kali cadangan devisa Indonesia, tapi tingkat besaran demografi India 3 kali lebih besar dari jumlah penduduk Indonesia. Konsekuensinya, tentu beban negara di bidang sosial, kesejahteraan rakyat, penyediaan sarana dan prasarana publik, seperti perumahan, transportasi umum, rumah sakit, farmasi, dan lainnya di India jauh lebih tinggi dan kompleks vis a vis di Indonesia.

Amerika Serikat dan China adalah dua negara dengan cadangan devisa paling besar. Sehingga negara ini terlihat tak begitu memusingkan anggaran dalam menghadapi wabah virus corona. Data Bank Central China menunjukkan cadangan devisa China pada Agustus sebesar USD 3,107 triliun. Cadangan devisa Amerika Serikat dilaporkan sebesar USD 41,2 triliun pada Januari 2020. Rekor ini turun dibanding sebelumnya yaitu USD 41,5 triliun di bulan Desember 2019.

Sedang cadangan devisa Rusia di bulan Februari 2020 sebesar USD 440,0 miliar. Satu negara dengan jumlah penduduk kecil dan tetangga Indonesia, yakni Singapura, ternyata volume cadangan devisanya jauh lebih tinggi dibanding Indonesia. Di akhir Februari 2020, kapasitas cadangan devisa Singapura mencapai USD 280,5 miliar.

Sejumlah media internasional melaporkan, kebijakan lockdown di India mengakibatkan panic buying, kekacauan massal, dan menjadi tragedi kemanusiaan. Ada ribuan penduduk, karena akses ekonomi cupet dan sarana angkutan umum yang terbatas, terpaksa berjalan kaki beratus-ratus kilometer untuk pulang ke kampung halamannya.

Yang penting dicatat dalam konteks ini, setelah kebijakan lockdown diterapkan di India, lonjakan korban meninggal dunia karena virus corona bergerak moderat. Dari 10 korban menjadi 31 korban meninggal dunia dalam tempo seminggu. Untuk korban terpapar positif corona dari tercatat 519 kasus (pra-lockdown) jadi 1.251 warga positif terpapar corona (pasca-lockdown). Padahal, volume penduduk India sangat besar: 1,3 miliar jiwa.

Kebijakan lockdown bisa jadi menjadi pilihan paling jelek dan mungkin dilakukan di India. Negara ini tak mungkin menerapkan kebijakan social distancing atau physical distancing, mengingat besarnya populasi penduduknya.

Penting dicatat, kultur dan kesadaran kesiplinan di India mungkin belum sebaik dan sekuat di Korea Selatan (Korsel), Jepang, Taiwan, Singapura, dan negara-negara Asia Timur lainnya. Pilihan terhadap kebijakan lockdown dipandang menjadi cara terbaik bagi rezim politik Modi untuk menyelamatkan India dari kemungkinan dampak terparah wabah virus corona.

Dalam konteks ini, India dan China menerapkan prinsip dan pola policy serupa mengatasi wabah virus corona: Lockdown. Sekali pun kedua ini menganut sistem politik berbeda. China menganut sistem politik totaliter dengan partai tunggal: Partai Komunis China (PKC).

India sejak merdeka dari Inggris telah memilih sistem demokrasi sebagai jalan hidup di ranah politik. Bahkan, kepartaian di India sistemnya multipartai ekstrim, di mana partai yang eksist dan ikut pemilihan umum lebih dari 10 partai.

Banyak kajian dari lembaga internasional kredibel menempatkan India sebagai negara dengan akselerasi pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, setelah Korsel, Jepang, dan China dari Benua Asia. Seperti riset yang dipublikasikan Harvard University, menyebutkan, India berada di urutan teratas negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat. Pertumbuhan India berada di angka 7,9% per tahun, selain kemajuan ilmu pengetahuan India yang berkembang secara berkelanjutan dan konsisten.

Karena itu, India dipandang sebagai negara yang berada di track yang benar menuju negara maju dan kuat. Ada banyak argumentasi kuat yang mendukung realitas di atas. Selain secara konsisten pertumbuhan ekonomi India sangat meyakinkan dalam beberapa tahun terakhir (selalu di atas 6 persen/tahun), saat ini India memiliki ekonomi senilai USD 2,6 triliun.

Sain dan teknologi India juga berkembang pesat. Sejumlah perusahaan teknologi dunia dipimpin orang-orang berdarah India. Misalnya, CEO Google Sundar Pichai dan CEO Microsoft Satya Nadella. Orang India dikenal ulet dan berotak encer.

Sejumlah fakta obyektif ini yang ingin diselamatkan PM Modi dari serangan wabah virus corona. Tentu saja yang paling prinsip adalah menyelamatkan nyawa warga India. Karena itu, kebijakan keras dan tegas mengatasi wabah virus corona dipandang cara terbaik menyelamatkan masa depan rakyat dan bangsa India.

PM Modi tak ingin setback 21 tahun lagi karena virus corona. Sekalipun kebijakan itu mengakibatkan tragedi kemanusiaan, di mana ratusan ribu dan mungkin jutaan warga India jalan kaki ratusan kilometer pulang ke kampung halamannya. Yang terpenting nyawa warga India terselamatkan. [air]

Penulis adalah Ketua PWI Jatim dan Penanggung Jawab beritajatim.com





Apa Reaksi Anda?

Komentar