Sorotan

Hujan Bulan Juni, Sapardi Pergi pada Bulan Juli

Foto diambil dari kover buku 'Bilang Begini Maksudnya Begitu'

Sapardi Djoko Darmono pergi pada bulan Juli. Saya tidak tahu apakah langit yang menaungi rumahnya mendung, lalu gerimis. Tapi di pusat kota Jember, Minggu sore (19/7/2020) hujan turun. Gerimis. Rintik saja. Lalu saya teringat puisi-puisinya: tentang hujan yang turun pada bulan Juni, tentang cara mencintai dengan sederhana. Juga cerpennya tentang wartawan yang masih bertugas di alam barzah.

Seorang penyair bukanlah pahlawan yang dikuburkan dengan diiringi tembakan salvo tentu saja. Dia menghidupan kata-kata dan dihidupkan dengan kata-kata. Penyair tua seperti Sapardi menggunakan kata-kata yang menjadi kekayaan bahasa Indonesia untuk merangkum kalimat reflektif dan imajinatif. Bahasa adalah makna kemerdekaan itu sendiri. Kita boleh dipaksa untuk tunduk dan dipenjarakan, tapi dengan dan melalui bahasa, kita melawan, seperti yang ditunjukkan Soekarno di hadapan pengadilan orang-orang Belanda.

Sapardi yakin, bahwa sajak yang baik tidak bercerita. Ia memberi ruang kepada pembacanya untuk berimajinasi. “Ia hanya menyatakan perasaan yang samar-samar dengan cara yang sederhana: menyatukannya dengan alam…Sajak…adalah hasil pengamatan yang cermat terhadap perasaan serta alam sekitar,” tulisnya di Majalah Horison pada medio 1970.

aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa
di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang.
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa
di antara kami yang harus berjalan di depan.
(Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari)

Imajinasi. Mungkin itu problem bangsa kita hari ini. Kita tak punya cukup imajinasi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan. Kita lupa, bahwa solusi seringkali datang ketika kita berpikir melampaui apa yang lazim untuk menjawab deretan pertanyaan-pertanyaan. Imajinasi meninggalkan teks, meninggalkan apa yang dibakukan dan dibekukan dengan norma yang mematok yang normal.

Tanpa imajinasi, bahasa Indonesia mati dalam pidato pejabat dan janji-janji politisi, menjadi alat gali lubang jebakan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik di media sosial, dan merasionalisasi kebijakan politik melalui kuasa atas tafsir kata yang arbitrer. Bahasa Indonesia kehilangan dayanya, tak lagi menjadi senjata sebagaimana dulu digunakan Soekarno, Bung Tomo, Hatta, Sjahrir, Chairil Anwar, Tan Malaka, Pramudya Ananta Toer untuk mendefinisikan bangsa ini, sekaligus mempertautkan cita-cita bersama tentang sebuah negara-bangsa.

Itulah kenapa kita layak berduka, ketika para penyair pergi, walau kita juga seharusnya bersyukur, karena mereka mewariskan kata-kata yang bersenyawa dan meneguhkan bahasa Indonesia. “Kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi,” kata Sapardi dalam sebuah orasi di Taman Ismail Marzuki, pada 1960.

Sapardi tumbuh dan berpuisi di tengah pertempuran ideologi, di mana negara memaksakan semua sendi, bahkan seni, menjadi pengabdi revolusi. Mungkin itulah kenapa kemudian, dalam istilah Ajip Rosidi, Sapardi menolak tema atau pengalaman apapun selain kata sebagai batu ukur puisi. “Menulis puisi adalah usaha untuk menunjukkan bahwa bahasa harus terus-menerus disegarkan agar makna hidup yang selalu baru bisa diungkapkan, kalau bisa dengan siratan dan sugesti,” katanya dalam buku apresiasi puisi ‘Bilang Begini Maksudnya Begitu’.

Siratan dan sugesti dalam puisi menunjukkan konsistensi sikap Sapardi untuk memberikan ruang kemerdekaan bagi publik untuk berimajinasi dalam membaca puisi. Dalam bukunya, dia mengibaratkan pengalaman membaca puisi seperti orang makan. “Menikmati makanan tidak pernah ada kaitannya dengan rasa kenyang; disuapi makanan kita bisa kenyang, tetapi tidak merasa menikmatinya.”

Dengan prinsip itu, Sapardi menampik sosok penyair, pujangga, penulis menjadi pemberi amanat bagi pembaca. “Pujangga bukan kiai, bukan pendeta, bukan juru dakwah, dan bukan guru budi pekerti. Pujangga atau sastrawan pada zaman kita ini adalah orang yang menyusun karangan untuk menanggapi berbagai masalah kehidupan.”

“Sebaiknya kita tidak usah beranggapan bahwa penyair adalah nabi yang diutus-Nya untuk membebaskan umat manusia dari malapetaka…Kalaupun ia dianggap berjasa, maka jasanya…pada kenyataan bahwa ia telah berusaha terus-menerus untuk menyegarkan bahasanya.”

Sapardi mengingatkan, bahwa bahasa diciptakan agar manusia bisa menanggapi masalah yang ada di sekitar dan dalam dirinya. Dan itulah kenapa seorang penyair akan senantiasa berjarak dengan politisi, birokrat, atau pendakwah umat. Mereka menggunakan bahasa untuk menjawab masalah dan menyelesaikannya. “Penyair menggunakan bahasa justru untuk mempertanyakan segala yang ada,” katanya.

“Puisi, dengan demikian, adalah pertanyaan yang diciptakan untuk menjawab pertanyaan. Hanya dengan demikian komunikasi bisa terus berlangsung, dan komunikasi adalah kebudayaan.”

Terima kasih, Eyang Pardi. Sugeng tindak. [wir/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar