Sorotan

Hindia Belanda Atasi Wabah Flu Spanyol 1918

Mobil yang digunakan oleh Dinas Kesehatan Rakyat untuk melakukan penerangan atau propaganda mengenai masalah kesehatan dan penyembuhan penyakit. Mobil ini diduga telah ada dan berfungsi sejak tahun 1920-an awal mengingat kendaraan-kendaraan dinas untuk pemerintah kolonial baru banyak dilakukan pada awal tahun 1920. Tugas personil yang ditempatkan pada kendaraan ini adalah mengunjungi pusat-pusat pemukiman dan keramaian masyarakat untuk kemudian melakukan penyiaran dengan pengeras suara. Isi penyiaran itu adalah informasi tentang pencegahan penyakit dan penanggulangan terhadap gejala awal penyakit yang melanda penduduk. Repro: buku yang ter;lupakan Pandemi Influenza 1918 (Flu-Spanyol)

Surabaya (beritajatim) – Pemerintah Hindia Belanda atau penguasa kolonial juga sangat kebingungan ketika terjadi wabah pandemi global flu spanyol yang menyerang Jawa dan pulau lainnya secara massif dan cepat pada pertengahan tahun 1918 atau 1 abad lampau.

Wabah flu tersebut merupakan wabah penyakit yang terganas dalam sejarah umat manusia karena telah meminta korban jutaan orang. Diperkirakan antara 20 hingga 40 juta orang meninggal dunia karena wabah ini. Setidaknya pemerintahan sekarang juga harus belajar dengan pandemi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1918 lalu saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda.

Pandemi Influenza 1918 adalah suatu kondisi dimana virus influenza tipe A dengan subtipe H1N1 berhasil menyebar ke seluruh dunia seperti ditulis dalam buku yang Terlupakan, Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda (2009).

Virus tersebut membunuh lebih banyak orang dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, lebih banyak dibandingkan dengan wabah Black Death yang berlangsung selama empat tahun di abad ke-14. Di Hindia Belanda sekitar 1,5 juta penduduknya meninggal akibat pandemi. Seperti di wilayah pandemi lainnya, kebanyakan yang meninggal berusia antara 20- 40 tahun.

Menurut Frank Macfarlane Burnet, virologis Australia yang mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari influenza, pandemi 1918 bermula di Camp Funston dan Haskell County (Kansas) Amerika Serikat. Sementara menurut North China Daily News, seperti dikutip harian Pewarta Soerabaia, pandemi bermula di Swedia atau Rusia lalu menyebar ke Tiongkok, Jepang, dan Asia Tenggara.

Sementara itu kebanyakan peneliti percaya bahwa pandemi influenza 1918 ini mulai menarik perhatian orang karena dianggap berasal dari Amerika Serikat. Pada bulan Maret 1918, terdapat laporan mengenai sejumlah serdadu yang terkena penyakit influenza di Fort Riley, Kansas.

Dalam waktu singkat, jumlah pasien melebihi 500 orang, bersamaan dengan laporan ditemukannya gejala pneumonia atau radang paru-paru. Pada akhir bulan itu, lebih dari 200 orang lagi dilaporkan terkena pneumonia dan lebih dari 40 orang diantaranya meninggal dunia.

Namun laporan lain yang mengatakan bahwa sebenarnya influenza H1N1-1918 ditemukan pertama kali di Eropa setelah dilaporkannya kasus influenza pada salah satu resimen tentara Amerika Serikat di Perancis pada pertengahan Mei 1918 dan kemudian dengan cepat menulari tentara Perancis dan Inggris. Pada bulan yang sama wabah ini sampai di Spanyol, yang pada masa perang tersebut merupakan negara yang netral, tidak terlibat dalam perang.

Penyebutan Pandemi Influenza 1918 sebagai Flu Spanyol dikarenakan beberapa hal: Pertama karena pada saat itu terjadi Perang Dunia I, negara-negara yang ikut berperang melakukan sensor terhadap segala pemberitaan yang dianggap dapat meruntuhkan moral pasukannya. Oleh karena itu, laporan mengenai penyakit ini tidak dengan serta merta diberitakan kepada masyarakat umum.

Kedua, netralitas Spanyol pada Perang Dunia I menyebabkan negara tersebut tidak melakukan sensor terhadap pers, sehingga publikasi mengenai wabah ini pertama kali dilakukan oleh pers Spanyol. wabah ini dinamakan Flu Spanyol, bukan Flu Amerika, negara yang mencatat korban pertama, atau Flu Perancis, sebagai daerah yang dianggap pertama kali mencatat merebaknya wabah tersebut secara luas.

Sementara Pada tahun 2020 saat ini juga merebak Virus Corona Desease (Covid-19) yang dimulai dari Kota Wuhan Propinsi Hubei China, China menuduh AS yang menyebarkan virus ini karena pada bulan November 2019 mengirimkan tentara saat mengikuti olahraga di kota Wuhan. Sementara AS menuduh China yang membuat senjata biologi kemudian bocor, namun kedua hal masih harus diteliti lebih mendalam. Kasus Covid-19 muncul sejak AS dan China terlibat perang dagang yang panas.

Hindia Belanda Atasi Wabah Flu Spanyol 1918

Tentu saja pandemi global Flu Spanyol ini juga membuat pemerintah hindia Belanda pada masa kolonialisme saat itu kebingungan, apalagi setiap daerah dengan pimpinan residen berjalan sendiri-sendiri tak mematuhi instruksi dari pusat.

Eskalasi penyebaran penyakit ini begitu cepat sering menyulitkan perhitungan kasus yang dilakukan baik oleh para pejabat daerah maupun para dokter yang ditugasi untuk melakukan deteksi atau surveilans (pengamatan kasus).

Hal ini mengakibatkan timbulnya kesimpangsiuran berita dan informasi, terutama bagi mereka yang ingin mendapatkan informasi terkini tentang situasi pandemi flu apalagi di tengah-tengah situasi demikian.

Pada tahun-tahun itu (1918) juga terjadi miss komunikasi antara pemerintah pusat dan daerah seperti dilakukan Asisten Residen Surabaya yang mengadakan konferensi pers secara khusus.

Dalam komunikenya, disebutkan bahwa wilayahnya, Afdeeling Surabaya adalah daerah yang paling parah diserang wabah influenza. Dalam waktu beberapa minggu saja, jumlah korban meninggal akibat wabah tersebut mencapai satu setengah juta orang meninggal. Pernyataan tersebut dengan cepat dimuat dalam beberapa surat kabar, termasuk surat kabar di ibukota, Batavia.

Tentu saja keterangan dari Asisten Residen Surabaya ini menimbulkan kekacauan, khususnya di kalangan para petinggi Hindia Belanda di Batavia. Pemerintah pusat kemudian memberikan instruksi khusus kepada kepala Kantor Dinas Kesehatan Rakyat untuk melakukan penelitian di wilayah Surabaya.

Dr. de Vogel dari Kantor Dinas Kesehatan Pusat yang diutus Gubernur Jenderal van Limburg
Stirrum segera berangkat ke Surabaya pada bulan Desember 1918 dan menemui Residen Surabaya untuk menanyakan kebenaran dari keterangan Asisten Residen Surabaya.

Di samping itu, de Vogel juga mengadakan penelitian ke lapangan dengan mengunjungi sejumlah rumah sakit tempat dimana banyak pasien influenza sedang dirawat.

Setelah beberapa saat tinggal di Surabaya dan berkeliling di sejumlah daerah sekitar kota itu, de Vogel kembali ke Batavia dan melakukan analisis dari hasil-hasil penelitiannya. Dari hasil analisisnya, de Vogel menyimpulkan bahwa keterangan Asisten Residen Surabaya ini tidak benar.

Namun demikian kunjungannya ke Surabaya juga memberikan informasi bagi de Vogel dan jajarannya tentang jumlah korban influenza yang berlangsung selama hampir setahun baik di Jawa Timur, Jawa Barat maupun Jawa Tengah, bahkan hingga Bali dan Lombok. Namun de Vogel tidak dapat menemukan kepastian jumlah korban influenza di seluruh Hindia Belanda.

Angka-angka yang diperoleh de Vogel memang cukup mengejutkan bagi para pejabat Belanda di Batavia. Jumlah mereka yang terkena penyakit influenza dalam waktu setahun mencapai puluhan ribu orang. Dari jumlah itu sebagian telah meninggal sehingga dalam waktu singkat, jumlah korban influenza ini segera melebihi jumlah wabah pasien yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Selain itu, de Vogel juga menemukan bahwa koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah masih dianggap kurang, yang terbukti bahwa masing-masing pejabat daerah mengambil tindakan sendiri-sendiri dalam menghadapi kondisi darurat di wilayahnya. Hal tersebut mempersulit pelaksanaan instruksi dari pusat untuk dilaksanakan di daerah.

Namun demikian alasan para pejabat daerah juga cukup kuat: mereka belum mendapatkan dasar hukum yang kuat untuk melaksanakan instruksi dari pusat dalam mencegah dan menanggulangi epidemi influenza di wilayah mereka.

Bertolak dari situasi itu, de Vogel sebagai pimpinan tim khusus influenza, memutuskan untuk membuat usulan bagi rancangan peraturan khusus penanganan dan penanggulangan influenza. Peraturan ini akan diserahkan kepada Gubernur Jenderal dan akan dikeluarkan sebagai sebuah undang-undang (Ordonnantie).

Gubernur Jenderal van Limburg Stirrum membuat rancangan peraturan untuk memudahkan koordinasi dan memberikan informasi. Stirrum membagikan rancangan itu kepada sejumlah instansi yang terkait dalam pelaksanaan peraturan tersebut.

Pada bulan Maret 1919, rancangan itu kemudian dibagikan kepada sejumlah kepala dinas dan instansi, bahkan beberapa institusi di luar pemerintahan juga menerimanya. Institusi tersebut juga berasal dari kalangan swasta, yaitu mereka yang terkait langsung dengan penerapan peraturan baru ini.

Rujukan peraturan tersebut yang paling utama adalah Peraturan Karantina yang dikeluarkan pada
tahun 1911 dan dimuat dalam Staatsblad van Nederlandsch Indie nomor 277. Peraturan ini memberikan wewenang kepada pejabat pemerintah untuk melakukan karantina terhadap daerah tertentu yang dinyatakan terkena wabah penyakit.

Tujuannya adalah untuk menghindari penularan dan penyebaran penyakit itu kepada orang lain dan ke daerah lain. Sebagai resiko dari penerapan peraturan ini, orang yang dicurigai berasal dari daerah terjangkit dilarang meninggalkan tempat itu atau memasuki daerah yang dinyatakan masih sehat. Bagi mereka yang melakukan pelanggaran, resikonya akan dikenakan hukuman pidana.(ted)

 

Daftar Bacaan

1.Buku yang Terlupakan Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda
Kerjsama Departemen Sejarah FIB UI-UNICEF-KOMNAS FBPI
(2009)

2. Seabad Flu Spanyol https://historia.id/sains/articles/seabad-flu-spanyol-DBKbm

3. Pejabat China Tuduh AS sebarkan Virus https://internasional.kontan.co.id/news/pejabat-china-tuduh-militer-as-sebagai-pembawa-virus-corona-ke-wuhan?page=all

Apa Reaksi Anda?

Komentar