Iklan Banner Sukun
Sorotan

Hasan Sentot Cermin Kegigihan dan Kebaikan Wartawan

Surabaya (beritajatim.com) Hansen (Hasan Sentot) meninggal. Itulah pesan yang kembali menghadirkan kesedihan. Padahal rasa sedih atas wafatnya Mas Bondet, Mas dr Wardy Ashari dan Bang Djalil Latuconsina belum sepenuhnya hilang.

Mas Hansen saya kenal begitu ia menginjakkan kaki di Surabaya, pindah dari Karya Darma ke SCTV. Saat berjumpa dia memperkenalkan diri sebagai wartawan yang meliput persoalan hukum yang dihadapi ayah saya.

“Mas, aku yang liputan ke rumah Siliragung, Pesanggaran. Kaget ternyata ayahnya Mas Lucky. Saya tahunya saat liputan bareng dengan teman-teman dari Surabaya,” katanya.

Saya agak lupa tahunnya, waktu itu ayah saya menggugat pemerintah. Gugatan itu dilayangkan ayah karena dianggap punya utang pada pemerintah. Utangnya itu adalah kelebihan gaji selama 2 (dua) tahun. Harusnya pensiun diusia 56, tapi ayah saya baru pensiun 58.

Tidak terima dianggap punya utang, almarhum ayah saya pilih menggugat. Alasannya, sederhana, seumur hidup belum pernah utang. Kedua, saat usia 54 tahun ayah saya sudah mengajukan pengunduran diri dari Departemen Pertanian. Tapi permohonan itu ditolak karena tenaganya sebagai Penyuluh Pertanian Madya (PPM) dibutuhkan.

Di masa Orde Baru keberanian seorang pegawai negeri –apalag tinggal di desa, sekitar 60 KM dari Kota Banyuwangi– menggugat pemerintah langsung menarik perhatian media, termasuk Karya Darma tempat Mas Hasan Sentot bekerja. Mereka menugasi wawancara ayah saya yang tinggal di Desa (sekarang jadi kecamatan) Siliragung, Pesanggaran, Banyuwangi.

Liputan-liputan Mas Hansen itulah yang kemudian menarik perhatian media lainnya, baik cetak dan elektronik. Karena itu media-media ini menugasi wartawannya untuk meliput perkara yang dihadapi ayah saya. Diantara mereka yang ditugasi adalah Mak Agnes Sweta Pandia (Kompas), Mas Bagong (TPI) dan banyak lagi. Mereka pun berangkat menemui ayah saya di desa.

Di tengah wawancara itulah, wartawan-wartawan dari Surabaya ini melihat wajah saya di foto keluarga yang tertempel di tembok ruang tamu. “Lha ternyata bapaknya Lucky Surabaya Post. Kok nggak tahu bicara Lucky pada kita. Tiwas adoh-adoh ke Siliragung,” kata Mak Etak, panggilan Agnes Sweta Pandia.

Itulah yang kemudian Mas Hansen mengenal nama saya dan begitu bertemu dia menjelaskan bagaimana dia meliput perkara ayah saya. “Pak Darmo (nama ayah saya) luar biasa berani. Saya salut mas. Lha mas Lucky kok malah nggak pernah menulis kasus bapak?,” kata Hansen.
Ya selama proses persidangan, saya memang tidak pernah menulis kasus yang dihadapi ayah saya. Saya pecayakan sepenuhnya penanganan kasus ayah saya pada adik ipar Koko Srimulyo yang sudah menunjuk pengacara, Sunarno Edi Wibowo.

Ayah saya adalah klien pertama Mas Edi. Pengacara yang kini lebih dikenal sebagai Bowo adalah pengacara yang memulai karir benar-benar dari bawah. Edi atau Bowo pernah menjadi penjual kue, tukang parkir hingga, pelayan di Universitas Airlangga hingga tergerak untuk keliah dan kemudian menjadi pengacara.

“Saya ngepos di pos politik. Akan aneh jika saya yang menulis, apalagi ini kasus ayah saya sendiri. Takut ada coflict of interest,” kata saya pada Mas Hansen. Itu juga yang saya katakana pada teman-teman wartawan yang juga mewawancarai ayah saya hingga ke rumah kami di Silirangung Banyuwangi yang juga protes karena kaget melihat foto keluarga ada wajah saya.

Nah yang paling seru tentu adalah proses menjelang pembacaan putusan. Isu yang beredar, ayah saya akan kalah. Yang saya tidak duga –saya baru tahu kemudian setelah beberapa tahun–, teman-teman wartawan TV memasang kamera mereka semua seolah-olah mereka meliput pembacaan vonis itu secara live.

Hasilnya, ayah saya memenangkan gugatan. Beliau tidak perlu membayar yang dianggap utang oleh pemerintah atas kelebihan masa kerja selama dua tahun.

Tentu saja, substansi hukumnya benar. Namun perhatian dan inisiatif yang ditunjukkan teman-teman wartawan TV dengan berlagak melakukan liputan live sepanjang sidang pembacaan vonis, ikut mewarnai persidangan.

Ini benar-benar mengharukan keluarga saya. Kemenangan itu yang juga telah mengibarkan nama Mas Edi sebagai pengacara.

Sejak itu, saya dan Mas Hansen berteman akrab. Setelah Mas Hansen tidak menjadi wartawanpun kami masih akrab. Mas Hansen Tanya hanya selalu hadir di setiap ulang tahun beritajatim.com, tetapi juga menjadi penyemangat ketika masa awal beritajatim.com berdiri.

Saya senang sekali ketika Mas Hansen mengatakan sedang merintis media online lokal di Banyuwangi. Ia pun sedang bersiap untuk bisa memenuhi syarat agar bisa diterima menjadi anggota AMSi (Asosiasi Media Siber Indonesia). “Tolong dibantu dan dipandu biar menjadi media online yang disegani di Banyuwangi,” katanya.

Cita-cita untuk menjadi anggota AMSI belum terwujud. Tuhan telah memanggil Mas Hansen. Selamat jalan Mas Hansen. Panjenengan orang baik. Sahabat yang gigih, baik hati dan suka menolong. Doa terbaik dari kami untuk panjenengan mas. (ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar