Sorotan

Tak Hanya Indonesia, Semua Negara Tak Siap Hadapi Virus Corona

Ribut Wijoto.

HARUS KITA DIAKUI, Pemerintah Republik Indonesia tidak siap menghadapi virus Corona. Dari hari ke hari, sejak pertama kali datang tanggal 2 Maret 2020, gejala wabah yang berasal dari Wuhan negeri China itu bukannya surut namun semakin meningkat.

Jumlah orang dalam pemantauan (OPD), jumlah pasien dalam pengawasan (PDP), dan jumlah pasien yang positif terjangkit virus Corona bertambah banyak. Per hari ini, Jumat (10/4/2020), berdasarakan info Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Badan Nasional Penanggulangan Bencana, di seluruh Indonesia jumlah pasien positif sebanyak 3.293 orang, jumlah PDP sebanyak 2.761 orang. Di antara mereka, sebanyak 250 pasien telah sembuh dan 280 pasien meninggal dunia.

Puluhan rumah sakit mengeluh karena kekurangan alat pelindung diri (APD) medis. Padahal pasien yang harus dirawat terus berdatangan. Juga, berdasarkan standar operasional prosedur (SOP), mayoritas APD hanya bisa sekali pakai.

Salah satunya dengan alasan biaya yang mahal, Pemerintah juga melalukan pembatasan terhadap warga yang ingin memastikan dirinya sehat dari virus Corona. Hanya warga dengan kriteria tertentu yang mendapat pelayanan rapid test dan swab gratis. Warga yang tidak masuk dalam kriteria, mereka terpaksa merogoh kantong pribadi untuk mendapatkan layanan medis demi memastikan negatif atau positif Covid-19.

Padahal idealnya, secara berkala, seluruh warga Indonesia bergiliran diperiksa status kesehatannya. Itu karena banyak pasien positif Covid-19 yang tidak menunjukkan gejala klinis. Tidak batuk, tidak demam, tidak bersin-bersin, tidak sesak napas. Pasien dengan ketahanan tubuh yang prima tetap bisa beraktivitas normal meski positif Covid-19. Mereka-mereka ini justru berbahaya bagi orang lain. Sebab, tanpa tes medis, dia tidak tahu kalau terjangkit virus Corona. Dia berhubungan dengan orang-orang sekitar. Dan tanpa sadar, dia menularkan virus Corona ke orang-orang lain.

Hasil tes pun tidak selalu valid. Misalnya salah satu pasien positif Corona dari Tulungagung. Sepulang dari ibadah Umrah, dia sempat demam tinggi namun dinyatakan negatif. Maka, dia pun diperbolehkan pulang. Berinteraksi dengan keluarga dan warga sekitar. Hasil tes yang menyatakan dia positif Covid19 justru keluar ketika dia telah sehat. Begitu hasil tes itu keluar, keluarga dan warga sekitar pun geger. Apalagi orang-orang yang, secara fisik, sempat berhubungan dekat atau sekadar bersalaman.

Di Kediri, kasusnya beda lagi. Hasil tes positif Covid-19 baru keluar satu hari setelah pasien meninggal dunia. Ironisnya, beberapa hari sebelum wafat, dia sempat memberi pelatihan kepada calon jemaah haji di Surabaya. Dia juga memberi pendampingan kepada beberapa mahasiswa magang.

Jadi, meski pahit, kita harus mengakui bahwa Pemerintah Republik Indonesia tidak siap menghadapi wabah virus Corona. Ini fakta yang tidak terbantahkan.

Namun ada pula fakta lain. Fakta yang lebih luas. Berupa sebuah pertanyaan singkat: Negara mana yang siap menghadapi virus Corona? Jawabnya, semua negara tidak siap.

Kita ambil contoh dua negara paling maju di Asia, yaitu Jepang dan Korea Selatan. Kedua negara itu juga kewalahan membendung penjalaran wabah virus Corona. Sehingga jumlah warga yang terjangkit virus Corona dari kedua negara maju itu justru melampaui Indonesia. Per hari ini, sebanyak 5.530 warga Jepang bersatus positif Covid-19. Sedangkan Korea Selatan, jumlah warganya yang terjangkit virus Corona sebanyak 10.450 orang.

Negara-negara maju di Eropa juga kelabakan menghadapi wabah virus Corona. Virus mematikan ini merajalela seakan tanpa kendali. Per hari ini, virus Corona menyerang lebih dari 150 ribu warga Spanyol, 140 ribu lebih warga Italia, menjangkiti lebih dari 100 ribu warga Perancis dan Jerman.

Negara adidaya Amerika Serikat sempat percaya diri. Presiden Donald Trump pernah menyatakan bahwa virus Corona tidak bakal berpengaruh besar di wilayah Amerika Serikat. Faktanya? Negara dengan kemapanan ekonomi dan kecanggihan teknologi itu justru dibuat tak berdaya menghadapi merebaknya virus Corona.

Tiap hari, penambahan jumlah warga Amerika Serikat yang terjangkit Covid-19 sebanyak 20 hingga 30 ribu orang. Tiap hari, lebih dari seribu warga Amerika Serikat meninggal dunia karena terjangkit virus Corona. Sehingga total warga Amerika Serikat yang positif Corona sebanyak 466.299 orang. Total sebanyak 16.686 warga Amerika Serikat meninggal dunia akibat virus Corona.

Kita di Indonesia patut bersyukur. Kita tidak mengalami kondisi seperti di negara Ekuador, Amerika Tengah. BBC melansir, di Ekuador, puluhan orang meninggal di rumah akibat virus Corona. Jenazah tak terurus, ambulans tidak ada, bahkan hingga lebih dari 1 hari. Pihak keluarga lalu mengusung jenazah, sekalian tempat tidurnya, ke pinggir jalan.

“Pamanku meninggal 28 Maret, dan tiada yang membantu mengurus jenazahnya. Kata rumah sakit, mereka tak punya pengangkut jenazah, dan kami tak bisa meminjam karena ia meninggal di rumah. Kami memanggil ambulans, tapi cuma diminta bersabar. Sekarang jenazahnya masih di tempat tidur, sama seperti waktu dia meninggal. Tak ada yang berani menyentuhnya,” kata Jésica Castañeda, salah satu warga Ekuador.

“Ketika ada yang meninggal di rumah, tak ada yang berani memegang jenazahnya. Kota ini panas dan menyebabkan jenazah cepat membusuk. Saya mendengar kasus jenazah yang diletakkan di pinggir jalan bersama kasurnya sekaligus karena anggota keluarga tak tahan,” kata dr Navarrete, salah satu dokter di Ekuador.

Begitulah, tidak ada negara yang siap menghadapi wabah virus Corona.

Meski begitu, masing-masing dari kita bisa membantu mencegah atau memutus penularan virus Corona. Caranya dengan lebih banyak tinggal di rumah. Kita hanya keluar rumah oleh sebab kebutuhan mendesak. Itu pun dengan sangat menjaga jarak.

Walau mungkin dinilai tidak menghormati tradisi ketimuran, kita hindari bersalaman tangan. Bentuk penghormatan kepada orang lain cukup dengan sedikit membungkukkan kepala atau berucap ‘say hello’. Jangan lupa pakai masker dan pulang ke rumah membasuh diri serta menyemprotkan hand sanitizer.

Selebihnya kita berdoa. Meminta kepada Sang Pencipta agar senantiasa memberi kesehatan dan agar segera menghentikan wabah virus Corona. Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan. Amin. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar