Sorotan

Pekan 9 Liga 1

Hanya Bek Tangguh yang akan Menyelamatkan Persebaya

Sebelum pertandingan tandang Persebaya ke Stadion Mattoanging, Makassar, Rabu (17/7/2019), saya sempat membuat jajak pendapat kecil-kecilan di Twitter. Pertanyaannya sederhana saja: Persebaya butuh tambahan pemain di sektor mana.

Dari 162 suara yang masuk, 41 persen menunjuk sektor pertahanan atau bek. Sisanya 24 persen sektor depan, 22 persen sektot gelandang, dan 14 persen kiper. Dari jajak pendapat ini terlihat jelas, bahwa para pendukung pun paham problem utama yang dihadapi Djajang Nurjaman.

Selama sembilan pekan pertandingan Liga 1, Persebaya sudah kebobolan 13 gol. Jika dirata-rata, dalam satu pertandingan Persebaya kebobolan 1,44 gol. Ini terburuk kedua di antara klub yang masuk tujuh besar klasemen setelah PSM (1,5).

Persebaya hanya sekali clean sheet saat menghadapi Persib di Gelora Bung Tomo. Sisanya, selain mencetak gol, Persebaya selalu kebobolan. Besarnya jumlah bola yang dipungut Miswar Saputra membuat ketajaman di lini depan seperti tak berguna. Padahal, Persebaya mencetak 16 gol, terbanyak kedua setelah PS Tira Kabo (19 gol) dan sama banyaknya dengan Bhayangkara.

Parahnya lini belakang terlihat dalam pertandingan melawan PSM. Dua gol tuan rumah praktis disebabkan kesalahan mendasar pemain Persebaya dalam bertahan.

Gol pertama dicetak Guy Junior pada menit 18. Tak ada yang melakukan ‘pressing’ terhadap William J. Pluim yang menerima bola lambung dari Bayu Gatra di dalam kotak penalti. Umpan kunci juga berasal dari Pluim yang mengawali serangan efektif hanya dengan Guy Junior dan Bayu. Usai mengoper bola ke Guy, Pluim tak berhenti bergerak. Demikian pula Junior yang begitu mengoper bola datar ke Bayu, juga langsung bergerak. Pergerakan tanpa bola dua pemain PSM ini membuat enam pemain Persebaya di kotak penalti tak berdaya.

Pemain Persebaya terdekat dengan Pluim adalah Mukhamad Syaifuddin yang memilih menunggu tanpa mencoba merebut bola. Pluim dengan nyaman bisa mengambil ancang-ancang dan mengirimkan bola lambung pendek terukur ke arah Junior yang gagal dikawal Novan Setya. Tercatat ada Rahmat Irianto dan Otavio Dutra di mulut gawang. Namun praktis mereka tak melakukan apa-apa, dan seperti biasa setelah kebobolan, Dutra hanya bisa mengangkat tangan mengharapkan ada tanda pelanggaran atau offside dari hakim garis.

Gol kedua yang dicetak Ferdinand Sinaga pada menit 68 juga terhitung gol mudah. M. Rahmat berlari menyisir sisi kanan pertahanan Persebaya. Syaifuddin lagi-lagi memilih menanti dan tidak melakukan pressing. Tekanan justru dilakukan Manu Jalilov yang memilih mundur untuk mengikuti jejak Rahmat.

Namun Rahmat tak terbendung mengirimkan bola lambung ke arah Sinaga yang berdiri di depan gawang tanpa kawalan. Dutra tidak cukup melakukan tugasnya untuk mem-pressing Sinaga di udara. Dia terlalu lambat bereaksi. Bek terdekat lainnya justru bukan Rahmat Irianto, melainkan Novan Setya yang juga hanya bisa menyaksikan Sinaga menyundul bola ke sudut atas gawang Miswar. Nikmat sekali gol itu, senikmat Coto Makassar.

Dua kesalahan pemain belakang menjadi sempurna jika melihat gaya main Persebaya yang minim pressing. Para pemain Bajuk Ijo membiarkan begitu saja pemain-pemain PSM merangsek ke pertahanan. Praktis lini tengah PSM yang dikomandani Pluim, Bayu Gatra, dan M. Rahmat yang bergerak di belakang Junior membuat gelandang bertahan M. Hidayat bekerja keras setengah mati.

Misteri peran Misbakus Solikin masih terpampang di depan mata. Misbakus yang turun bersama Damian Lizio dan Hidayat di lini tengah, praktis tak berdaya berhadapan dengan Pluim. Sementara Lizio meneror lini pertahanan PSM dengan gocekannya, Misbakus justru tak begitu tampak perannya. Dan ini bukan sekali saja terjadi.

Namun fans Persebaya patut berbahagia melihat penampilan Irfan Jaya yang trengginas dan ngeyel mengejar bola ke mana pun. Sejak menit awal, pemain kelahiran Sulawesi Selatan itu sudah mengancam gawang PSM yang dijaga Hilman Syah.

Gol Persebaya pada menit 41 juga terjadi karena kengototan Irfan. Ia sempat kehilangan bola operan dari M. Syaifuddin. Namun Rahmat Irianto yang maju ke pertahanan PSM berhasil merebut bola kembali dan mengoperkannya ke Irfan.

Irfan yang dikelilingi pemain-pemain bertahan PSM masih sempat mengoper bola ke Amido Balde. Balde melepaskan umpan silang kepada Jalilov yang berhasil mengontrolnya dan mengoperkan kembali kepada Irfan. Bola datar itu langsung dieksekusi Irfan. Bek PSM Aaron M. Evans gagal menekelnya.

Irfan memilih tidak merayakan gol itu. Namun Bonek layak merayakan kembali ‘on fire’-nya pemain bernomor punggung 41 itu.

Dhion Prasetya alias StatsDhion, seorang Bonek yang mengkhususkan diri pada aspek-aspek statistik Persebaya, mencatat bahwa Irfan malam itu bermain efektif. Dia hanya melepaskan dua tembakan dan satu on target berupa gol balasan Persebaya. Akurasi operannya mencapai 84 persen dan dua kali dilanggar pemain lawan. Kengototannya tampak dari dua tekel yang dimenangkannya

Salah satu pelanggaran terhadap Irfan seharusnya berbuah penalti pada menit 61 saat Marc Klok menghantamnya dari belakang. Namun wasit menyatakan tak ada pelanggaran.

Namun mengharapkan hanya kepada Irfan Jaya, Amido Balde, atau Manu Jalilov sekali pun untuk memetik tiga poin dalam setiap pertandingan adalah hal absurd bagi Persebaya. Persebaya butuh merekrut pemain belakang, terutama bek tengah. Sejauh ini belum ada tanda-tanda siapa pemain yang bakal direkrut untuk menambal lini pertahanan. Persebaya baru memastikan kembalinya pemain depan David da Silva pada putaran kedua.

Manajemen Persebaya mungkin perlu belajar dari bagaimana cara Jurgen Klopp membangun Liverpool. Pemain termahal sejak Klopp datang ke Liverpool pada Oktober 2015 adalah dua lini belakang yakni bek tengah Virgil van Dijk dan kiper Alisson Becker. Dia juga jeli membaca dan memanfaatkan talenta macam Joe Gomez dan Trent Alexander Arnold maupun Robertson. Semuanya berawal dari lini belakang. Pep Guardiola di Manchester City juga menghabiskan banyak uang untuk membeli bek. Hasilnya baik Liverpool maupun City sama-sama produktif dan skema menyerang pun berjalan karena tak ada kecemasan bakal kebobolan gol-gol gampang.

Bagaimana dengan Persebaya? [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar