Iklan Banner Sukun
Sorotan

Menyoroti Lima Kandidat Presiden (3)

Ganjar Pranowo Menapaki Jalan Joko Widodo

Ganjar Pranowo. Foto: ayosemarang.com

Kehadiran Ganjar Pranowo membuat kubu banteng terbelah. Gubernur Jawa Tengah itu mengusik posisi Puan Maharani untuk menjadi opsi kandidat presiden yang dijagokan PDI Perjuangan dalam Pemilihan Umum 2024.

“Ganjar sangat menghancurkan legitimasi Puan,” kata Suko Widodo, akademisi ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga di Surabaya.

Suko tidak sedang omong kosong. Ganjar berhasil menarik pendukung militan dari konstituen PDI Perjuangan sendiri. Ratusan orang di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mendeklarasikan diri sebagai Ganjarist, sebutan untuk pendukung Ganjar. Mereka mengklaim mayoritas adalah kader dan mantan pengurus PDI Perjuangan di level kecamatan maupum kabupaten.

Mereka dengan terang-terangan menggunakan atribut warna merah, sementara di tempat lain deklarasi lebih dominan dengan warna biru dan hitam. Pekik ‘merdeka’ juga terdengar, sebagaimana bisa dikumandangkan dalam kegiatan-kegiatan PDI Perjuangan.

“Seandainya PDI Perjuangan tidak merekomendasi, kami akan tetap ke Ganjar asalkan Ganjar mendapat rekom dari partai apapun,” kata Agus Hadi Santoso, Kooerdinator Ganjarist Jember yang juga mantan legislator PDI Perjuangan.

Bahkan mereka siap mendapat sanksi dari Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan atas sikap tersebut. “Siap untuk disanksi,” kata Agus berapi-api.

Apa yang membuat Ganjar menarik? Suko menyebut pria kelahiran Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, 28 Oktober 1968 itu, memiliki kapasitas politik ala Indonesia yang bisa diterima publik. “Orang Indonesia ini punya karakter komunal. Komunal itu kebersamaan, saling bersaudara. Itu diambil Mas Ganjar dengan simbol-simbol kebanyakan orang,” katanya.

Ganjar menggunakan atribut kebanyakan orang. “Dia tidak pernah main golf. Suka naik sepeda. Dengan didukung media sosial, posisi dia menang,” kata Suko.

“Gaya komunikasi publiknya cenderung low profile, merakyat. Tidak kaku, dan bisa menerima beragam lapisan masyarakat. Ini seolah-olah ‘copy cat’ dengan Joko Widodo,” sahut Muhammad Iqbal, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Suko membenarkan anggapan model pencitraan Ganjar mengulangi apa yang dilakukan Joko Widodo saat menuju kursi presiden. Kebetulan mereka juga sama-sama kader banteng dari Jawa Tengah. “Semacam itu di zaman berbeda. Pak Jokowi media darling. Sekarang citra Pak Ganjar sebagai media sosial darling kuat banget,” katanya.

Iqbal menyebut Ganjar unik. “Basis massanya ada di Jawa Tengah khususnya, dan Pulau Jawa umumnya. Namun berkat posisinya sebagai aktivis social media platform, baik Tiktok, Youtube, Twitter, dan Instagram, membuat ketersukaan terhadap Mas Ganjar di kalangan warganet relatif tinggi. Di situlah dia punya modal sosial kuat,” katanya.

Kuatnya posisi Ganjar ini yang dipercaya oleh Suko dan Iqbal akan menjadi pertimbangan kuat PDI Perjuangan dalam menentukan calon presiden. “Pada saatnya saya kok cenderung PDIP akan lebih condong ke Ganjar. Tidak mungkin mereka memaksakan kehendak mendukung Puan, karena bakal kehulangan peluang untuk menang. Dia (Megawati) harus mendengar suara masyarakat,” kata Suko.

Suko memprediksi Puan akan maju menjadi Ketua Umum PDIP dan Ganjar mencalonkan diri jadi presiden. “Kalau terpilih, Ganjar jadi petugas partainya Mbak Puan,” katanya.

Iqbal melihat DPP PDI Perjuangan akan benar-benar melihat pergerakan suara masyarakat berdasarkan hasil survei lembaga-lembaga sigi sebelum memutuskan dukungan. “Saya kira Mas Ganjar tetap saja pada posisi kerja yang akuntabel, progresif, dan transparan sebagai gubernur Jawa Tengah,” katanya.

Ujian utama yang dihadapi Ganjar adalah penyelesaian konflik agraria di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Masyarakat di sana menolak penambangan andesit di desa mereka. “Bagaimana kepentingan politik dan ekonomi proyek strategis nasional bisa dimediasi oleh Ganjar Pranowo sebagai gubernur bisa mewakili kepentingan masyarakat Wadas,” kata Iqbal.

Iqbal percaya, Wadas akan menjadi batu sandungan yang bisa menggerus popularitas maupun elektabilitas Ganjar. “Memang ini hanya terjadi di Wadas. Tapi bahaya viral media sosial daripada virus. Ketika banyak konten dari Wadas diviralkan di media sosial dan mayoritas sentimen negatif, dan Mas Ganjar hanya mendasarkan diri pada kepentingan pemerintah pusat dan tidak mampu menyelesaikan persoalan dengan piawai, itu akan lebih lama sembuhnya ketimbang kasus-kasus politik lainnya,” katanya.

Namun Suko menilai persoalan Wadas tak akan mengganjal Ganjar. “Itu kan juga ada yang ‘memainkan’. Tidak akan berpengaruh signifikan ke Ganjar,” katanya. Dia justru lebih melihat kasus skandal dugaan korupsi E-KTP saat Ganjar menjadi anggota DPR RI yang berpotensi menjadi peluru tembak. [wir/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar