Sorotan

Ganjar Pranowo Bukan Satrio Piningit dan Bukan Ratu Adil

Ribut Wijoto

Masyarakat suku Jawa, juga masyarakat suku lain di Indonesia, hampir selalu dalam bayang-bayang mitologi Satrio Piningit dan Ratu Adil. Apalagi isu suksesi atawa pergantian kekuasaan senantiasa hangat. Seperti cinta yang keras kepala, kobarannya tak pernah padam. Pembicaraan tentang politik terus memanas seakan-akan coblosan akan digelar besok pagi.

Dalam beberapa minggu terakhir, terkait Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2024, nama Ganjar Pranowo menyeruak dan menduduki peringkat teratas. Nah, bagi pemeluk teguh mitologi Satrio Piningit, kalian harus bersiap-siap kecewa. Sebab Ganjar Pranowo jauh dari persyaratan sebagai Satrio Piningit, Ganjar juga bukan sosok Ratu Adil.

Secara tercatat, mitologi tentang datangnya Ratu Adil ini berasal dari Prabu Jayabaya, Raja Kediri 1135-1157, yang kemudian diteruskan oleh pujangga Kraton Surakarta, Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802-1873). Tetapi sebenarnya, mitologi Ratu Adil sudah jauh lebih tua dari catatan sejarah.

Sebagai sebuah negara dunia ketiga, betapa pun pesat pembangunan, ekonomi Indonesia tidak pernah sejajar negara-negara maju di Eropa. Jangankan sejajar, mendekati saja belum pernah. Maka, dillihat dari kacamata Eropa, ekonomi Indonesia selalu ketinggalan. Tidak pernah mapan.

Ekonomi Indonesia selalu dalam situasi zaman Kalabendu. Zaman pra sejahtera. Pra kemapanan. Dan pada situasi itu, masyarakat memimpikan datangnya Ratu Adil. Sosok yang sekonyong-konyong datang membawa masyarakat Indonesia melompati kemajuan negara-negara Eropa.

Siapakah Ratu Adil?

Dalam mitologi, Ratu Adil adalah sosok misterius. Satrio Piningit. Tersembunyi. Disembunyikan. Sampai pada saatnya ia akan muncul tepat pada waktunya.

Ronggowarsito menuliskan, Satrio Piningit adalah anak dewa yang berwujud manusia. Wujudnya tidak berbeda sebagaimana manusia pada umumnya. Bila waktunya tiba Satrio Piningit akan muncul menampakkan jati dirinya.

Lantas bagaimana dengan Ganjar Pranowo?

Sejauh ini, Ganjar Pranowo sama sekali bukan sosok tersembunyi. Sejak kecil, dia sudah biasa tampil di depan. Ketika sekolah dasar (SD), Ganjar Pranowo selalu menjadi ketua kelas. Memimpin teman-teman sebaya.

Semasa mahasiswa, dia aktif di GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia). Selanjutnya menjadi kader PDI Perjuangan. Menjadi anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) Republik Indonesia. Kini menjadi Gubernur Jawa Tengah.

Sehingga bisa dipastikan, Ganjar Pranowo bukanlah Satrio Piningit. Bukan tokoh kunci yang tersembunyi. Sekali lagi bukan. Ganjar Pranowo sudah biasa berbicara di depan publik. Nama dan fotonya sudah ribuan kali masuk media massa.

Ganjar Pranowo juga jauh dari tampilan sempurna seorang Ratu Adil. Sebagai orang yang bertahun-tahun di wilayah kekuasaan. Dua periode di legislatif dan dua periode di eksekutif, Ganjar Pranowo tetap seperti manusia biasa. Terbiasa diterpa isu dan biasa jadi sorotan.

Dia pernah disangkutpautkan dengan dugaan korupsi, yakni menerima uang dalam proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP). Dia juga pernahdicerca aktivis lingkungan karena dinilai lebih berpihak pada pengusaha dibandingkan membela kepentingan warga Rembang.

Sekali lagi, Ganjar Pranowo bukan Satrio Piningit dan bukan Ratu Adil. Ganjar Pranowo manusia biasa.

Kalaulah sekarang nama Ganjar Pranowo dinilai memiliki elektabilitas atau tingkat keterpilihan tertinggi, itu semua berkat rekam jejak. Berkat hasil-hasil pekerjaannya. Hasil-hasil pekerjaan yang dengan mudah bisa diakses oleh publik. Selama dia duduk di legislatif dan utamanya setelah menjabat posisi Gubernur Jateng.

Semisal, Ganjar dinilai berhasil melakukan reformasi birokrasi sehingga meningkatkan mutu pelayanan publik. Dia dinilai berhasil mengembangkan UMKM melalui program kredit bunga rendah. Ganjar dinilai berhasil di bidang pendidikan, kesehatan, kebudayaan, dan pertanian.

Artinya, kemunculan Ganjar sebagai kandidat Presiden Indonesia bukanlah seperti memilih kucing dalam karung. Masyarakat bisa mengetahui sisi positif dan negatif dari lelaki kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah, 28 Oktober 1968 itu.

Sebaliknya, Ganjar juga bukan tokoh yang ditempa di tempat tersembunyi sebagaimana Satrio Pininigit. Ganjar sudah terbiasa bertempur di tempat terbuka. Dia dua kali bertarung untuk memerebutkan kursi DPR RI, dua kali bertarung untuk menduduki jabatan gubernur.

Apakah nantinya Ganjar Pranowo bakal bertarung di ajang yang lebih tinggi, yakni Pilpres 2024?

Untuk bisa ke sana, Ganjar masih harus bersaing dengan kader-kader lain (juga tokoh non kader) agar mendapatkan rekomendasi dari PDI Perjuangan. Jalan masih panjang dan waktunya juga masih lama. Segala kemungkinkan masih terbuka lebar. [but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar