Sorotan

Gagasan Kiri Baru di Balik Kemenangan PDI Perjuangan

Ribut Wijoto.

TIDAK MUDAH MEMPERTAHANKAN KEMENANGAN. Kadang orang meyakini, merebut kemenangan tantangannya lebih rendah dibanding mempertahankan. Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan membuktikan diri untuk mampu melewati rintangan tajam kerasnya kompetisi Pemilihan Umum (Pemilu).

Seluruh hitung cepat (quick count) lembaga survei yang kredibel menempatkan PDI Perjuangan sebagai pemuncak perolehan suara Pemilu yang digelar 17 April 2019 kemarin. Kemenangan di kisaran 20 hingga 23 persen.

Perolehan suara PDI Perjuangan jauh melampaui Partai Gerindra, Golkar, PKB, PKS, PAN, NasDem, dan PPP. Apalagi suara partai-partai baru seperti Perindo, PSI, Berkarya, maupun Partai Garuda.

Sekali lagi, kemenangan PDI Perjuangan tidak diperoleh dengan mudah. Dalam rentang 5 tahun terakhir, partai berlogo banteng moncong putih ini diterpa beragam isu serius. Semisal kedekatannya dengan paham komunisme, pertentangannya dengan umat Islam, maupun dugaan-dugaan korupsi.

Tapi, PDI Perjuangan tetap mendapatkan kepercayaan besar dari rakyat Indonesia. Itu artinya, terpaan isu-isu tersebut tidak mampu menggoyahkan kekokohan rumah tangga besar yang dinahkodai oleh Ketua Umum Megawati Soekarno Putri.

Sebagai partai lama, dulunya PDI di masa Orde Baru, dan kelanjutan PNI di Orde Lama, PDI Perjuangan memang diuntungkan oleh sejarah. Ibaratnya, tanpa kampanye pun, orang telah mengenal PDI Perjuangan.

Terlebih, sebagai partai lama, struktur kepengurusan PDI Perjuangan telah terbentuk hingga tingkat desa. Tersusun rapi dari DPP, DPD Provinsi, DPC Kabupaten/ Kota, PAC Kecamatan, Ranting, dan Anak Ranting. Mesin partai yang tersebar se antero Nusantara. Dari Jakarta hingga pelosok desa.

Kaderisasi juga tidak terlalu menjadi persoalan. Ada organisasi pendukung di tingkat perguruan tinggi (GMNI) maupun di tingkat pelajar (GSNI). Keberadaan organisasi-organisasi tersebut membuat PDIP tidak pernah kekurangan kader usia muda. Terlebih, badan diklat juga jalan.

Namun sebenarnya, bukan kebesaran mesin partai yang perlu mendapat apresiasi dari kemenangan PDI Perjuangan dalam Pemilu 2019. PDI Perjuangan memperoleh kepercayaan besar dari rakyat Indonesia karena para kepala daerah yang diusungnya berhasil menerapkan gagasan-gagasan Kiri Baru.

Anthony Giddens pada buku The Third Way: The Renewal of Social Democracy (1998) atau Jalan Ketiga; Pembaruan Demokrasi Sosial. Giddens menunjukkan bahwa pengembangan “jalan ketiga” (antara sosialisme dan kapitalisme) tidak hanya mungkin, tapi suatu keharusan. Jalan ketiga merepresentasikan pembaruan demokrasi sosial dalam sebuah dunia di mana pandangan golongan kiri lama telah usang, sementara pandangan kelompok kanan baru tidak memadai dan kontradiktif.

Partai Kiri walau mengaku berpihak pada kelas bawah tetapi sering diejek karena identik dengan pajak tinggi, boros, dan tentu saja bermental birokratis. Partai Kanan yang memperjuangkan kapitalisme kerap dituduh menyengsarakan rakyat, tidak berpihak pada rakyat kecil. Sebaliknya, masyarakat merasa bahwa keduanya sama-sama tidak menyentuh persoalan yang mereka hadapi secara nyata dalam kehidupan. Ini menandai adanya sebuah zaman tentang berakhirnya politik.

Giddens lantas memaparkan partai atau pemerintahan yang mengusung Jalan Ketiga. Beberapa wilayah kerja dari partai politik ini adalah isu-isu ekologi, menciptakan ruang publik, mendukung sumber daya manusia melalui pendidikan, penyediaan infrastruktur, menekankan pentingnya keluarga yang demokratis, penciptaan rasa aman dan nyaman dengan mengurasi aksi kejahatan,

Klop sudah. Lihat saja kinerja pemerintahan yang dipimpin oleh Jokowi (yang nota bene kader PDI Perjuangan) selama menjabat Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta, dan Presideng RI. Sebagai Walikota Solo, Jokowi dicintai warganya karena mampu membangun kota secara humanis. Sangat menghindari penggusuran. Kerap menyapa masyarakat kelas pinggiran. Dia pun banjir penghargaan atas kinerja apiknya.

Dalam jangka waktu 1,5 tahun memimpin Jakarta, Jokowi melakukan pembenahan terhadap waduk Pluit, menata Tanah Abang (sekaligus memerangi premannya), mempermudah layanan KTP, mengeluarkan Kartu Jakarta Sehat, memberi perhatian terhadap transportasi massal, melakukan lelang jabatan camat. Pendekatan dan gaya kepemimpinannya yang merakyat, tegas, dan responsif, menjadikan rakyat DKI mencintai sosok Jokowi. Dia juga secara konsisten melakukan blusukan, mendatangi kampung-kampung dan tempat-tempat bermasalah.

Lima tahun menjadi Presiden RI, Jokowi rajin keliling Indonesia. Mendatangi proyek-proyek yang didanai pemerintah. Dia menggelontorkan dana besar bagi pembangunan di pedesaan. Program infrastrukturnya sukses membuat saluran irigasi lebih lancar, jalan-jalan beraspal hingga pedalaman, waduk, dan jembatan dibangun.

Jokowi juga berjuang keras untuk menerapkan sistem online bagi berbagai pelayanan masyarakat. Tujuannya tentu saja agar masyarakat lebih nyaman dan tidak ribet.

Di kota Surabaya, PDI Perjuangan memiliki kader Tri Rismaharini yang menjabat Walikota. Dua periode kepemimpinannya, Risma banyak menggarap isu populis, mulai menata drainase kota secara besar-besaran untuk antisipasi banjir, menata taman kota, memperbaiki sekolah, rumah sakit, memulangkan PSK, memperkokoh taman mangrove, memperbanyak trotoar, dan lain-lain.

Sama seperti Jokowi, Risma juga gemar blusukan. Masyarakat Surabaya tidak kaget kalau melihat Risma menyapu di trotoar, mengoperasikan selang air pemadam kebakaran (PMK), bahkan mengakat batu-batu agar aliran air tidak tersumbat.

Di Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas berhasil mengusung potensi wisata sebagai salah satu lokomotif pembangunan daerah. Usaha itu terbukti berhasil. Pertumbuhan ekonomi Banyuwangi bergerak pesat. Wisatawan berduyun-duyun datang, festival digeber bergelombang, hotel-hotel berdiri megah, bandara udara selalu dibanjiri penumpang, dan lantas Banyuwangi kerap dijadikan percontohan bagi pola pembangunan daerah lain.

Oleh sebab ini ranah politik, di mana persaingan dan perebutan kekuasaan tak kunjung berakhir, selalu saja ada yang mencibir pencapaian-pencapaian para kader PDI Perjuangan. Apalagi memang, di dunia yang fana ini, segalanya  tidak ada yang sempurna.

Dan kini, selamat untuk PDI Perjungan.

Tapi ingat, semuanya harus menunggu penghitungan manual dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Terlebih, tidak ada suara mayoritas dalam Pemilu saat ini. Gerak dan arah tuju di DPR RI tetap ditentukan oleh koalisi. Ingat pula, pada Pemilu 2014, PDI Perjungan ketika itu mendapatkan suara terbanyak. Toh ternyata, kader PDI Perjuangan sama sekali tidak kebagian kursi pimpinan dewan. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar